
Hamzah tidak menyangka, Mertuanya benar-benar mewujudkan ucapannya, ia sudah membawa tiga koper besar berisi pakaian.
Satu miliknya, satu milik Sarah, dan satu koper lagi milik Hamzah.
"Kita tunggu Visit dokter dulu, kalau Sarah sudah bisa pulang hari ini, kita langsung ke Bogor", ucap Bu Rahmi.
Sarah tampak sumringah, hatinya senang, setidaknya ia berhasil menjauhkan Wila dari Hamzah.
"Sudah, jangan khawatir, nanti Ibu yang hubungi Dekan kalian langsung", Bu Rahmi berusaha menenangkan Hamzah.
Hamzah merogoh tasnya, ia mencari hand Phone, berniat mengabari Wila, namun setelah di ubek-ubek, tidak ketemu, ia buka tasnya dan dikeluarkan isinya satu per satu, ternyata tidak ada.
Hamzah mulai panik, ia pergi ke luar kamar, mencari keberadaan hand phone nya, siapa tahu semalam terjatuh.
'Oh iya, semalam saat ketiduran di sini, tasku sempat terjatuh', pikir Hamzah . Ia kembali mencari sampai ke bawah kursi, namun tetap tidak ada.
Bu Rahmi memperhatikan tingkah Hamzah dengan heran," Apa yang hilang?", tanyanya sambil menghampiri Hamzah yang masih sibuk mencari.
"Hand phone aku Bu", Hamzah masih tampak panik, ia kembali mencari sampai ke tempat sampah.
"Ketinggalan di rumah nggak?", Bu Rahmi ikut mencari.
"Nggak, Bu , semalam masih saya pakai di sini, tapi kok tadi di cari di tas, sudah tidak ada",
"Apa mungkin hilang, atau terjatuh?", ya Sudah , gampang, nanti bisa beli lagi",
" Bukan itu Bu, tapi banyak nomer penting di sana", ungkap Hamzah ia masih panik.
"Itu bisa diatur, sekarang siap-siaplah!", kita langsung pulang ke rumah Ibu di Bogor ",
"Kok buru-buru?, apa tidak bisa menunggu sampai Sarah betul-betul sehat?",
"Nggak, usah, Ibu sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan ibu, lagi pula Sarah juga mau berobat di sana", kekeh Bu Rahmi.
"Ayo cepetan, mumpung masih pagi, nanti keburu terjebak macet" ,
Bu Rahmi kembali ke ruangan Sarah, ia membereskan semua barang, dan menyuruh sopir untuk segera membawanya ke mobil.
Sarah juga sudah berkemas, ia tampak segar, dan ceria.
Ia tidak peduli dengan Hamzah yang tampak masih kesal . Ya, Hamzah kesal karena Hand phone nya hilang , jadi ia tidak bisa memberi kabar kepada Wila, Bi Yeni atau pun Andi akan kepergiannya.
__ADS_1
"Akhirnya, pulang juga",Sarah menggandeng tangan Hamzah.
"Aku sudah kangen dengan suasana sejuk di villa Mamy yang ada di Puncak", senyum Sarah.
"Apa ini tidak berkebihan, kalau kita ikut pindah, kuliah kita terganggu, padahal tinggal sebentar lagi, sayang", Hamzah menarik nafas dalam-dalam.
"Kalau aku sudah tidak memikirkan itu, yang terpenting sekarang adalah kamu, aku ingin selalu ada di dekatmu, tanpa ada yang mengganggu", Sarah memeluk Hamzah.
Hamzah berusaha melerai pelukan Sarah, tapi Bu Rahmi keburu masuk," Nggak usah sungkan, Sarah itu istrimu, apalagi ia sedang mengandung, jadi harus mendapat perhatian lebih, terlebih dari kamu, suaminya", Ucap Bu Rahmi.
"Tapi, Bu itu.....", Hamzah belum sempat menyelesaikan ucapannya, Sarah keburu menginjak kakinya dan mengedipkan kelopak matanya.
Hamzah terdiam sambil menahan sakit di kakinya.
"Sudah, ayo berangkat!", semua sudah siap", ajak Bu Rahmi.
Mereka pun berangkat dengan mobil berbeda. Sarah satu mobil dengan Hamzah, sedangkan Bu Rahmi bersama Bi Marni.
Sepanjang jalan , Hamzah terus memikirkan Wila, bagaimana ia tanpa dirinya, pasti ia pun akan merasa kehilangan.
Berbeda dengan Hamzah, Sarah terlihat senang, ia terus melingkarkan tangannya di pinggang Hamzah.
Wila merasa tidak percaya dengan kabar kepergian Hamzah, apalagi tidak ada satu pesan pun dari Hamzah yang mengabarkan kepergiannya.
Sebelum pulang, Wila sempatkan ke Perpustakaan, lalu ke Kantin , dan terakhir ke Masjid Kampus.
Ia berharap bisa bertemu Hamzah . Namun sampai adzan Ashar berkumandang, Hamzah tidak nampak.
Hati Wila mulai resah, ia mulai percaya kalau Hamzah benar-benar sudah pergi meninggalkan dirinya , meninggalkan semua harapannya.
Kenapa dia membawanya terbang tinggi merangkai mimpi, namun menghempaskannya kembali, meninggalkan rasa sakit dan kecewa.
Bukan hanya dirinya tetapi juga orang tuanya.
Wila mengambil wudhu dan ikut shalat berjamaah di sana. Ia sudah tidak kuat menahan derai air matanya.
Wila terisak dalam shalatnya. Rasanya sakit sekali, bahagia yang baru ia rasa , nyatanya hanya sementara saja.
Wila sadar, tidak ada yang akan membuat Hamzah bertahan bersamanya, atau tidak ada satu alasan pun bagi Hamzah untuk mempertahankan dirinya.
Ia kalah segalanya dari Sarah.
__ADS_1
Saat jamaah sudah membubarkan diri, Wila masih duduk ditempatnya, ia meratapi nasibnya.
Sampai satu suara menyadarkannya.
"Sudah sore Neng, kenapa masih di sini?, ada yang lagi di tunggu", seorang Marbot menanyai Wila.
"Wila menyeka pipinya dengan ujung mukena,"Ah... Nggak Pak, ini masih ada yang perlu di hafalkan saja, kalau di rumah ribut, banyak orang", Wila memperlihatkan mushaf yang dipegangnya, ia berusaha mencari alasan.
"Oohh..., kalau begitu, maaf, Bapak mengganggu", Marbot itu kembali meninggalkan Wila
Rasanya malas sekali untuk pulang, Wila ingin menghilang saja, takut tidak bisa menghadapi hari-hari berikutnya sendirian.
"Kenapa masih di sini, ayo pulang sebentar lagi gelap", terdengar suara laki-laki dibelakangnya.
"Ya Allah Hamzah", gumam Wila. Secepat kilat ia menoleh ke belakang.
"Sebentar Pak, tadi ada yang tertinggal," jawab seorang ibu kepada suaminya.
Hati Wila menceos, saat yang dilihatnya bukan apa yang diharapkannya, dia bukan Hamzah, tetapi seorang jamaah yang mencari keberadaan istrinya.
"Astaghfirullah, apa aku sudah tidak waras, pikiranku dipenuhi oleh kamu", Wila menanap ke luar Masjid. Berharap melihat Hamzah di sana sedang tersenyum kepadanya.
'Kenapa kamu perlakukan aku seperti ini Bang, baru kemarin Abang berjanji akan melindungi kami, tapi kenapa , sekarang pergi tanpa bicara apa pun'. Wila kembali menerawang sambil memegangi perutnya, di sana ada buah cintanya dengan Hamzah yang sedang tumbuh.
"Bismillah, aku harus kuat demi kamu, aku harus kuat demi Bapak dan Ibu, Maafkan Wila Pak, Bu, mungkin ini balasan untuk dosa-dosa Wila",
"Kenapa masih di sini?, ini sudah mau malam, hari mulai gelap, apa masih tidak mau pulang", kembali sebuah suara terdengar dibelakangnya.
Wila masih menunduk, ia tidak bergeming. Ia takut seperti tadi, kecewa.
"Wila, apa kamu masih mau di sini sampai malam?", kembali suara seseorang terdengar dibelakangnya.
Kali ini Wila menengok pelan , terlihat seseorang berdiri di ambang pintu. "A......ndi?", Wila hampir saja memenggil "Abang", namun ternyata yang berdiri di sana adalah Andi.
Andi tersenyum melihat Wila, Andi sudah mengetahui kabar kepergian Hamzah ke Bogor, jadi ia mencari Wila, karena sudah pasti Wila akan terpukul mendengarnya.
Benar saja, Ia menemukan Wila di Masjid, sedang menyendiri, sudah pasti Wila sedang memikirkan Hamzah di sana.
"Sudah gelap, ayo aku antar pulang, kasihan Bi Yeni, pasti cemas menunggu kepulanganmu", ajak Andi.
Wila melihat jam yang ada di Masjid, benar saja, hari sudah merangkak malam,
__ADS_1