
"Baiklah, cukup untuk hari ini!" Pak Putut setengah berteriak untuk meredam kegaduhan Mahasiswa yang ikut menyaksikan reka adegan Wila.
"Semua bubar, kosongkan area ini !" katanya lagi. Satu persatu Mahasiswa mulai meninggalkan area Parkiran ". Tinggalah Wila
yang masih terduduk lemas dan Hamzah yang berdiri disampingnya.
Cepat - cepat Hamzah memburu Wila dan menuntunnya berdiri, 'Sudah - sudah, jangan begini!" Dengan refleks Wila memeluk Hamzah
"Terima kasih sudah membantu," katanya dengan menahan tangis. Hamzah diam saja, tak menyangka Wila akan memeluknya.
Dengan menahan gelora yang tiba - tiba muncul, Hamzah memberanikan diri mengusap kepala Wila yang saat ini ada dipundaknya. "Sudah, semua pasti baik - baik saja!"
Seolah sadar dengan posisinya, Wila terperanjat melepaskan pelukannya. "Ma - maaf". Katanya sambil melangkah mundur menjauhi Hamzah. Terlihat pipinya memerah .
Ia menunduk malu. Dalam hati tak henti - henti memaki dirinya sendiri, kok sampai bisa melakukan hal memalukan di tempat umum .
"Sialan dasar orang udik, makin berani saja dia! dasar ga tahu malu!" cerocos Sarah yang melihat adegan tersebut. Ia berlalu dengan kemarahan diikuti sahabatnya Susi.
Ia tidak ingin berlama - lama melihat adegan yang membakar hatinya. Dan makin menambah kebenciannya kepada Wila.
Keduanya saling diam , seolah ingin mencerna kejadian yang baru saja dialami. "Maaf, tadi aku refleks!" Wila mengulangi ucapannya tadi.
Hamzah hanya tersenyum, " Nggak apa - apa, Aku selalu siap menjadi sandaranmu!".
Sayup - sayup terdengar adzan dzuhur di Masjid belakang Kampus. Mereka berdua saling pandang, seolah ingin mengutarakan hal yang sama.
"Ke Madrasah aja yuk!" Suara Hamzah menyadarkan Wila. "Iya" katanya dengan suara lirih.
Hamzah berjalan menuju kantin. " Kenapa ke sini, bukannya mau ke Madrasah?" Wila bertanya sambil mengikuti langkah Hamzah.
Hamzah berjalan menuju gerbang Kampus yang ada di belakang Kantin. Ia buka tas yang disandangnya dan keluarkan kunci gembok untuk membuka pagarnya.
Wila menyunggingkan senyuman. "Ternyata orang ini kuncinya, kunci yang selama ini memudahkan semua kesulitanku". Batinnya bicara.
Setelah kembali mengunci gerbang, Hamzah berjalan menuju Masjid. "Kalau sudah selasai shalat, tunggu di warung Bu Dati ya!" Ucap Hamzah saat akan memasuki Masjid. Wila mengangguk.
Selesai menjadi Imam shalat, Hamzah bergegas menuju warung Bu Dati. Ia celingukan mencari Wila, " tidak ada, kemana dia?" gumamnya.
"Mencari siapa, hayo?" suara Bu Dati mengagetkan Hamzah. "Eeehh Ibu, Wila sudah ke sini Bu?" tanyanya. "Neng Wila! Belum, Ibu belum melihat ke sini!".
"Kemana ya? Tadi habis shalat, janjian di sini, apa mungkin masih di Masjid?". Ucap Hamzah melihat ke arah Masjid.
" Coba biar Ibu lihat ke Masjid!" kata Bu Dati melangkah menuju tempat shalat wanita. Tak lama Ia kembali dengan seutas senyuman.
__ADS_1
"Bagaimana Bu, ada?"tanya Hamzah. "Ada, masih di Masjid". Kata Bu Dati. "Neng Wila kayaknya ketiduran di sana." katanya lagi sambil tersenyum.
"Ketiduran? Kasihan Dia, pasti kecapean". Kata Hamzah. " Biarkan saja Bu, buatin saya baso saja!"
Hamzah menikmati pesanannya sambil senyum - senyum mengingat kejadian di Parkiran tadi. Rasanya jantungnya berhenti berdetak saat Wila memeluknya. Terlepas dari sengaja atau tidak sengaja.
"Mungkin ini saatnya ". Hamzah bergumam. Ia sudah tidak bisa menahan rasa. Ia sudah tidak bisa menyembunyikan isi hatinya kepada Wila.
Ia lihat arloji di tangan kirinya, waktu Asar masih setengah jam lagi. Tambah jenuh Ia ambil sebuah buku dari tasnya. Ia sedikit menorehkan tulisan di dalamnya.
Duhai Anisa Kau cantik jelita
Lirikkan matamu memandang
Aduhai mempesona
Tiba - tiba Hand Phone nya berbunyi, " Pak Putut!" katanya. Ia menjawab teleponnya agak menjauh dari warung Bu Dati.
" Iya Pak, terima kasih informasinya". Kata Hamzah menutup pembicaraannya dan kembali ke dalam warung.
Anak - anak yang mau mengaji sudah pada datang. Mereka bermain dan berlarian. Suasana seketika jadi gaduh.
Hamzah beberapa kali melirik ke Masjid, berharap Wila muncul. Tapi masih tak terlihat. Ada kekhawatiran dihatinya, " Jangan - jangan pingsan lagi!"
Setelah shalat asar, Hamzah bergegas menuju Madrasah, berharap Wila sudah ada di sana. Madrasah masih sepi, hanya ada beberapa orang anak saja yang sedang duduk membuka buka buku.
Tambah resah saja perasaan Hamzah. Ia bergegas menuju halaman samping Madrasah, "Alhamdulillah". Gumamnya.
Di halaman samping Madrasah, ia melihat Wila sedang bercengkrama dengan anak- anak.
Hamzah memperhatikan mereka dengan tersenyum. Salah seorang anak melihat Hamzah. "Kak Hamzah, sini!" teriaknya. Semua menoleh ke arah Hamzah.
Semua anak - anak berlari ke arah Hamzah, mereka menarik tangannya , membawa Hamzah ke tempat bermain. Di sana mereka tertawa ceria .
" Sudah, sekarang kita belajar, ayo semua masuk kelas !" Hamzah mengajak semua anak masuk kelas.
Setelah selesai dan anak - anak sudah pulang, Hamzah kembali ke warung Bu Dati menunggu Wila.
" Kirain kemana, di tunggu - tunggu ga ada, eehh rupanya ada yang ketiduran". Katanya sambil tersenyum saat Wila memasuki warung.
"Maaf, aku ketiduran, lama menunggu ya?" Wila tersenyum. "Dari tadi belum kelihatan makan, aku pesenin bakso ya?".
"Jangan - jangan, nanti sebentar lagi". Kata Wila sambil melirik arloji ditangannya. "Masya Allah baru ngeh, kamu puasa?" tanya Hamzah.
__ADS_1
Wila tersenyum, "Insya Allah". Katanya. Hamzah terdiam sambil mengotak - atik phone cell nya.
" Maaf, dari tadi aku makan terus". Kata Hamzah.
"Nggak apa- apa!"
"Ooh iya, tadi Pak Putut menelepon, katanya kasusmu di tutup!"
"Ditutup gimana?" tanya Wila. Kamu sudah dibebaskan dari semua tuduhan, karena saksi dan bukti tidak mendukung ". Katanya.
"Alhamdulillah, terima kasih, sudah banyak membantu", Wila berkata lirih. "Ga mau peluk lagi?" goda Hamzah.
"Apaan sih", Wila menunduk menyembunyikan pipinya yang pasti memerah.
"Mulai hari senin, kamu sudah bisa kuliah lagi, dan pihak Kampus akan membersihkan kembali namamu di hadapan Mahasiswa lainnya".
"Iya terima kasih! Semua ini berkat bantuanmu"
"Karena Allah, bukan aku!". Kata Hamzah. "Iya, Alhamdulillahi Robbil 'Aalamiin". Wila menengadahkan tangannya.
Tiba - tiba ada kurir gojek berhenti di depan warung Bu Wila. Ia membawa bungkusan, "Pesanan atas nama Bu Wila." katanya.
"Ini , orangnya!" Hamzah menunjuk ke arah Wila. "Ooh, nggak, saya tidak pesan apa - apa?" salah orang mungkin." Kata Wila
"Tidak Bu, ini masih ada bukti chatnya." Kurir memperlihatkan phone cellnya. Sekilas Wila melirik nomer si pemesan. Wila melihat Hamzah.
"Ya sudah sini Pak, terima kasih ya!" katanya menerima bungkusan tersebut. "Berapa Pak?"
"Sudah lunas Bu!" kata Kurir sambil memarkirkan motornya dan melesat di kegelapan. "Kebiasaan". Gumam Wila.
"Kenapa?" Hamzah bertanya pura - pura tidak tahu. " Kamu kan yang sudah memesan ini!" Wila mengangkat bungkusan yang di bawa kurir tadi.
Hamzah hanya tersenyum saja. " Bikin bingung orang saja tahu!" Wila cemberut. "Marah? Ntar batal lo puasanya." Hamzah makin menggoda Wila.
Kini Wila yang terdiam. Ia berfikir jangan - jangan yang selama ini mengirimi dia lewat kurir itu , Hamzah!
"Sebentar!" Wila menghadap Hamzah. " Selama ini, kamu kan yang suka ngirimin aku barang - barang lewat kurir!"
"Terus, kamu juga yang selama ini selalu menolong aku dengan diam - diam!, waktu mau registrasi, waktu aku di Klinik, dan waktu aku di Apotek?"
Hamzah diam saja. "Tapi kenapa harus diam - diam?" . "Karena aku mengagumimu secara diam-diam." Kata Hamzah.
Deg, tiba - tiba saja jantung Wila seperti berhenti berdetak. Ada sebongkah rasa bahagia di lubuk hatinya.
__ADS_1
Sejenak mereka terdiam.