Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Rapuh


__ADS_3

Dari kejauhan Wila melihat rumah Bi Yeni ramai oleh pembeli. "Alhamdulillah, banyak pembeli", Wila langsung sumringah,seketika kesedihan dalam hatinya hilang.


Ia mempercepat langkahnya agar segera bisa membantu Bi Yeni. "Assalamu'alaikum", ucapnya saat memasuki rumah, ia langsung menyimpan tas dan kembali ke luar untuk membantu Bi Yeni.


Wila tersenyum saat melihat pembeli masih banyak mengantri , dan segera membantu melayaninya.


Beberapa menit kemudian barulah semua pembeli terlayani semua. Walaupun sedikit menguras tenaga, tetapi melihat jualannya lancar, rasa cape itu hilang.


"Alhamdulillah ya Bi, walau hari pertama tapi pembelinya banyak", senyum Wila sambil memeluk Bi Yeni.


"Iya Alhamdulillah Neng, ini berkah, semoga saja seterusnya lancar", harapkan Yeni.


"Bagaimana kuliahnya, lancar?", Yeni balik bertanya.


"Alhamdulillah, lancar juga", Wila terpaksa bohong, ia tidak mungkin bicara apa adanya, ia tidak mau menambah beban pikiran Yeni.


Hari ini Bi Yeni sedang merasa senang karena jualannya langsung laris di hari pertama. Yati dan Caca yang melihatnya merasa tenang, karena hari ini mereka memutuskan untuk kembali ke Kampung.


"Nanti sore Bapak dan Ibu mau pulang, mumpung hari cerah, lagi pula Bapak lihat jualannya sudah mulai berjalan", ucap Caca.


Wila tidak bisa menahan kedua orangtuanya, ia hanya memohon do'a dari mereka agar semua urusannya di Kampus berjalan lancar sampai lulus nanti.


Mereka saling berpelukan, melepas rindu untuk sementara, setelah itu Caca dan Yati pamit.


Sepeda motor Caca melaju diiringi do'a dari Wila, semoga kedua orang tuanya itu tetap diberi kesehatan dan keselamatan sampai di rumah.


Hari mulai sore, Yeni memutuskan untuk menutup jualannya, lagi pula hanya tinggal beberapa saja yang belum terjual. Itu bisa buat makan mereka berdua saja.


Dibantu Wila, Yeni membereskan jualannya .


"Alhamdulillah Neng, biar yang sisa ini buat makan kita nanti malam",Yeni membawa sisa jualannya ke rumah.


"Iya Bi, uang dapat, buat makan pun ada", ucap Wila sambil tersenyum. Ada secercah bahagia di hatinya melihat Bi Yeni sudah kembali tenang.


Namun berbeda dengan dirinya, yang lagi-lagi tersandung masalah di Kampus, di tambah lagi hubungannya dengan Hamzah yang memburuk.


Dan lagi-lagi Wila hanya memendamnya sendiri, ia tidak mungkin membicarakannya kepada Yeni. Apalagi Yeni baru saja menemukan kembali semangat hidupnya.


Setelah selesai dengan semua urusannya membantu Yeni, Wila segera memasuki kamarnya.


Sebenarnya sudah dari tadi ia ingin menumpahkan semua beban dihatinya, Wila berusaha sekuat tennaga untuk terlihat biasa saja dihadapan Yeni.

__ADS_1


Tapi ketika sendiri, ia tunjukkan kerapuhannya, ia benamkan wajahnya ke dalam bantal dan menangislah sepuasnya.


Hanya dengan cara itu ia melepaskan semua beban dihatinya. Kali ini bukan karena masalahnya dengan Sarah saja, tapi juga Hamzah.


Kalau masalah dengan Sarah , ia masih bisa mengatasinya, tapi tidak dengan Hamzah.


Wila menangis dengan perih, rasanya begitu bertubi-tubi masalah menghampiri, foto-foto mesra Hamzah, sikap Hamzah, dan kini yang paling mengganggu pikirannya adalah ancaman pencabutan beasiswanya.


Bagaimana nasib kuliahnya nanti kalau sampai beasiswanya dihentikan. Malam itu Wila menangis sampai tertidur.


*


*


*


Hamzah tampak gelisah setelah berkali-kali di telepon tidak ada respon. Padahal ia ingin sekali bertanya kabar dan meminta maaf.


Ya , sedari tadi Hamzah berusaha menelepon Wila, tetapi tidak diangkat , di chat pun tidak dibalas.


Hatinya bertanya-tanya, 'Apakah Wila baik-baik saja, karena ia sudah mengabaikannya dan lebih memilih membawa Sarah ke Klinik'.


Tapi sungguh ia tidak bermaksud mengabaikannya , hannya saja ia lebih mengutamakan Sarah, karena ia terluka.


Ia sambar kunci motornya dan langsung melesat menuju rumah Yeni, ia tidak ingin membiarkan masalahnya dengan Wila berlarut-larut.


Apalagi ia mendapat kabar dari Andi, kalau kali ini beasiswa Wila terancam dicabut jika masalahnya dengan Sarah tidak menemukan titik temu.


Sepeda motor Hamzah memasuki pekarangan rumah Yeni dan terlihat sudah sepi, padahal belum terlalu malam.


Walau ragu, Hamzah mengetuk pintu dengan hati-hati. Tak ada jawaban dari dalam. Ia makin ragu, terbersit untuk pulang kembali.


Namun saat ia membalikkan badan untuk pulang, terdengar suara langkah kaki mendekati pintu , dan kunci pintu berbunyi.


Ternyata yang keluar Bi Yeni, ia masih memakai mukena, "Ehh, Nak Hamzah?" sapanya saat melihat Hamzah sudah hampir berlalu.


"Iya Bi, maaf Wila nya ada?", tanyai Hamzah.


Ia langsung to the point saja, karena melihat hari mulai merayap menuju malam.


"Wila ada , mungkin lagi di kamarnya, silahkan duduk dulu, biar Bibi panggil dulu", persilahkan Bi Yeni.

__ADS_1


Hamzah memilih menunggu di teras , ia duduk di kursi yang ada di sana. Hamzah tampak memperhatikan teras depan.


Ia melihat ada perubahan di sana, 'seperti bekas jualan?', pikirnya.


Bi Yeni segera menuju kamar Wila dan mengetuk pintunya. Berkali-kali Yeni mengetuk pintu karena tidak ada jawaban.


'Apa mungkin sudah tidur?' pikirnya . Ia ketuk sekali lagi dan kini sambil memanggilnya.


"Neng, ada tamu,sudah tidur?", panggil Yeni sambil kembali mengetuk pintu kamarnya.


Wila yang tertidur , terperanjat mendengar suara Bi Yeni. Dan langsung memburu pintu setelah membetulkan posisi kerudungnya.


"Iya Bi, ada siapa", tanyai Wila.


"Itu lihat saja, ada lagi menunggu di teras ", kabari Yeni.


Wila membetulkan dan merapihkan kerudungnya lalu bergegas menuju teras. Ia sama sekali tidak mengira kalau yang sedang menunggunya adalah Hamzah.


Wila berdiri di ambang pintu saat dilihatnya Hamzah ada di sana. Ia mematung, mau kembali masuk, tapi Hamzah keburu melihatnya.


"Assalamu'alaikum", sapa Hamzah saat melihat bidadarinya hanya berdiri saja di sana.


"Wa'alaikumsalam", jawabnya pelan. Entah kenapa saat melihat Hamzah, dadanya kembali sesak, dan air matanya pun terus mendesak keluar.


Wila menangis, dan ia masih berdiri mematung. Hatinya terasa di iris-iris, sakit sekali.


Otomatis pemandangan itu membuat Hamzah kaget bukan main, ia langsung menghampiri Wila, dan hendak memegang tubuh Wila


Namun segera Wila mengangkat kedua tangannya, dan "Stop", katanya. Membuat Hamzah mengurungkan niatnya.


"Ada apa?", tanyai Hamzah, ia tidak tahan melihat Wila menangis, dan ingin rasanya ia memeluk Wila saat ini.


"Tolong, bicaralah , biar aku tahu apa masalahnya", tanyai Hamzah.


Wila tidak menjawab, ia berjalan ke arah kursi dan duduk di sana diikuti Hamzah.


Wila tidak bicara, tapi airmatanya bisa menjawab kalau saat ini ia lagi tidak baik-baik saja.


Hamzah semakin resah, " ada apa, bicaralah!", desak Hamzah.


Wila hanya diam saja, airmatanya yang bicara, ia lantas memberikan hand phone nya kepada Hamzah.

__ADS_1


Jelas saja hal ini semakin membuat dirinya bingung. Tapi ia ambil juga hand phone Wila dan betapa kagetnya saat ia dapati foto-foto mesranya dengan Sarah.


__ADS_2