Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Sudah, Pergi Saja


__ADS_3

Semalaman Hamzah tidak bisa memejamkan mata, ia tidak akan tenang sebelum bisa berbicara dengan Wila.


Pagi-pagi sekali ia sudah bersiap , rumah Bi Yeni lah tujuan utamanya. Ia harus bertemu dengan Wila.


Setengah gila ia melajukan sepeda motornya, jalanan masih lengang karena hari masih sangat pagi. Ia melewati rumah Bi Yeni, ia langsung menuju Madrasah tempatnya mengajar mengaji.


Ia parkirkan motornya di sana. Sekkalian shalat shubuh dulu. Setelahnya ia sempatkan sarapan di warung Bu Dati.


"Pagi benar Den", tanya Bu Dati saat mendapati Hamzah di warungnya.


Hamzah tersenyum, "Iya Bu, ada urusan yang harus segera diselesaikan", jawabnya .


Hamzah call nomer Wila, namun seperti kemarin, tidak ada jawaban. Berulang-ulang call lagi, sama tidak ada respon.


"Hah", Hamzah menghempaskan nafasnya kasar. Bu Dati memperhatikannya dengan heran, namun ia tidak berani bertanya.


"Gimana kabarnya Neng Wila?", tiba-tiba Bu Dati bertanya.


"Oh...emm...baik Bu", jawabnya singkat.


Hamzah melihat jam di tangan kirinya, lalu ia berdiri memutuskan untuk ke rumah Bi Yeni .


"Bi, saya titip motor di sini!, ada urusan sebentar!",


"Iya Den",


Setelah itu Hamzah berjalan menuju rumah Bi Yeni. Sengaja ia simpan motornya di Madrasah, supaya Wila tidak curiga dengan kedatangannya.


¹Rumah Bi Yeni tampak sepi, ia mendekati pintu lalu mengetuknya. Ia agak sembunyi di sebelah kiri pintu, biar saat yang punya mengintip ke luar, ²ia tidak kelihatan.


Benar saja , Wila terlihat menyingkap tirai dan mengecek siapa di luar, namun tidak ada siapa pun, dan ia pun berlalu tanpa membuka pintu.


Hamzah kembali mengetuk pintu, dan terdengar Wila menggerutu, " Iihh, siap sii....", dan terdengar suara kunci di buka. Ia membuka pintu, dan hendak menutupnya kembali saat dilihatnya Hamzah berdiri di sana.


Tapi dengan cepat Hamzah menahannya dengan tangan, dan memohon kepada Wila untuk memberinya kesempatan berbicara.


Wila kalah tenaga, akhirnya ia membiarkan Hamzah masuk dan membiarkan pinntu tetap terbuka, karena di rumah hanya ada mereka berdua, Bi Yeni sedang pergi ke Pasar.

__ADS_1


Tanpa dipersikahkan, Hamzah sudah mendahului Wila duduk di ruang tamu.


Wila duduk dengan mengambil jarak agak jauh dari Hamzah. Ia menunduk, sungguh ia tidak ingin bertemu Hamzah. Ia malu, sangat malu.


Kejadian di gubuk kembali berkelebatan, ditambah lagi dengan kejadian di tenda Sarah kemarin, kedua kejadian itu kini berseliweran di benaknya silih berganti.


Hamzah menatap lekat wanita dihadapannya, wanita yang telah ia renggut kehormatannya, wanita yang telah ia janjikan untuk dinikahi, tapi kini , wanita ini juga yang ia hancurkan harapannya.


Sejenak mereka saling diam, hanya hati mereka yang berbicara.


"Sudah selesai?, maaf saya masih banyak kerjaan", Wila bangkit hendak meninggalkan Hamzah.


Hamzah terkejut, ia langsung menghampiri Wila dan menahannya dengan memegang tangan Wila. "Tunggu!",


Namun Wila menghempaskan genggaman tangannya, "Jangan sentuh aku!",


Hamzah beralih dengan bersimpuh dihadapan Wila, ia menundukkan kepala dan menyentuh kakki Wila.


Tapi seketika Wila mundur beberapa langkah. "Apa-apaan ini, ayo bangun!",


"Tidak akan merubah segalanya, kalaupun aku memaafkanmu, kamu pasti tetap lebih memilih Sarah. Jadi tidak ada gunanya", Wila melengos.


"Aku yang salah , kenapa sampai bisa melakukan dosa besar bersamamu, jadi biarlah aku sendiri yang menanggung akibatnya", dengan suara berat Wila bicara, ia sekuat tenaga menahan agar tangisnya tidak pecah.


"Hanya kita yang tahu tentang dosa itu, hanya aku yang dirugikan. Tapi, kejadian di Kampus kemarin, banyak orang yang tahu, akan fatal akibatnya bagi banyak orang", Wila terisak, ia menangis juga.


"Sudahlah , jangan hiraukan aku!", pergilah ...,Pergi!!!", teriak Wila , ia terhuyung dan terduduk di kursi, ia menunduk menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tubuhnya bergetar, ia menangis lagi.


Hamzah mendongak , melihat nanar , ingin rasanya menjadi sabdaran Wila. Ia bangkit dan duduk di samping Wila.


"Maafkan aku!, aku tidak bisa mengelak dari Sarah, karena kalau tidak, nama baik Kampus akan tercoreng, dan tidak menutup kemungkinan, Kampus akan terkena sanksi dari Dinas",


"Tapi aku ingin kamu tahu yang sebenarnya, cuma kamu satu-satunya wanita yang pernah aku sentuh, maafkan aku!,


"Malam itu,ah... aku tidak bisa mengingat kejadian yang sebenarnya, tahu-tahu sudah berada di tenda bersama Sarah",


"Aku hanya mau kamu percaya, aku tidak melakukannya dengan Sarah, tak pantaslah aku bawa-bawa nama Tuhan ",

__ADS_1


"Yang harus kamu tahu, aku tidak mengkhianati kamu, aku tidak menyentuh Sarah, dan aku bertanggung jawab bukan untuk Sarah, tapi untuk nama baik Kampus",


"Sampai kapan pun, aku hanya mencintai kamu, kalau perlu, aku akan meninggalkan Sarah lagi secepatnya",


Sekilas Hamzah melirik Wila yang kini tangisnya sudah mereda, ia menyeka air matanya dengan ujung kerudung yang dipakainya.


"Maafkan aku", Hamzah terus mengulang-ulang kalimat itu, seolah ingin mewakili betapa menyesalnya ia.


"Sudahlah, cepatan pergi!, sebelum ada orang yang tahu", usir Wila kepada Hamzah , ia bicara datar, tidak melihat sedikit pun ke arah Hamzah.


"Pergilah, aku akan baik-baik saja!, kembali Wila mengusir Hamzah.


Hamzah menatap lekat wanita yang sangat ia cintai, berat rasanya, mungkin ini terakhir kalinya ia ke sini.


Hamzah bangkit bermaksud untuk pulang, namun di depan pintu Bi Yeni sudah berdiri, ia baru saja pulang dari Pasar.


Ia taruh semua bawaannya di lantai, ia geram melihat Hamzah di sana. Setelah teringat kelakuannya yang kemarin Wila ceritakan.


Apalagi melihat Wila yang kini terisak.


"Mau apa lagi kamu ke sini ?, belum cukup menyakiti Wila dengan perbuatan?", Yeni tidak memberi jeda untuk Hamzah berkata.


Hamzah kian menunduk, " Maafkan Bi, semua itu tidak seperti yang Bibi kira, saya juga tidak tahu, kenapa bisa berada di tenda bersama Sarah",


"Alah...., banyak alasan, mana ada maling ngaku, untung saja belum sampai sah, kalau sudah sah, akan banyak orang yang terluka, bukan hanya Wila, tapi seluruh keluarga akan menanggung malunya", Yeni bicara panjang lebar.


Wila bangkit dan menghampiri bibinya, "Sudah Bi, mungkin ini sudah jalannya, Wila nggak apa-apa, Wila cuma butuh waktu", Wila menggigit bibirnya, seakan tidak yakin dengan apa yang barusan dikatakannya.


"Sudahlah, cepat pergi!", sekarang ada orang yang lebih membutuhkan kamu", Wila bicara dengan menahan perih dihatinya.


Sebenarnya apa yang ia katakan, bertentangan dengan apa yang ia inginkan.


Ia ingin , Hamzah bersamanya juga, tapi mana mungkin, apalagi setelah ia serahkan dirinnya pada Hamzah. Tak akan semudah membalikkan tangan untuk bisa melupakan Hamzah.


Wila juga tidak yakin, apa besok setelah Hamzah bersama Sarah, ia masih bisa berdiri tegak? , untuk melanjutkan menggapai mimpi-mimpinya seorang diri. Pasti hari-hari yang akan dilaluinya nanti akan terasa berat.


Tanpa menghiraukan Hamzah, Yeni menggandeng Wila masuk ke kamarnya, meninggalkan Hamzah seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2