
Sebelum subuh, Wila sudah bangun, dan segera menuju dapur. Ayah dan ibunya tampak belum bangun.
Wila tidak ingin keduluan star seperti kemarin. Ia bangun kesiangan. Wila memasak air untuk mandi suaminya, dan menanak nasi.
Ia lakukan dengan hati-hati, supaya tidak menimbulkan kegaduhan yang bisa membangunkan penghuni rumah lainnya.
ia lihat masih ada lauk sisa kemarin, bisa di makan lagi buat sarapan nanti. Wila hanya tinggal memanaskannya lagi.
Dari kecil, Wila sudah terbiasa hidup sederhana. Kedua orang tuanya mengajarkan begitu. Selama makanan masih bisa dimakan, ya nggak usah membeli yang baru. Uangnya bisa disimpan untuk keperluan yang lainnya.
Hamzah yang terbangun, mendapati Wila sudah tidak ada, ia lihat jam masih pagi, tapi kemana istrinya?.
Hamzah mengendap keluar dari kamar, ia menuju dapur. Di dapatinya Wila sedang sibuk memasak. Hamzah mendekat perlahan dan dengan tiba-tiba memeluk Wila dari belakang.
Hampir saja Wila menjerit karenanya. "Abang bikin kaget saja, untung aku nggak kelepasan memukul pakai ini", Wila mengangkat susuk ke atas.
"Suruh siapa bangunnya masih pagi, Abang kedinginan", Hamzah makin mengeratkan pelukannya.
"Nggak enak sama Ibu, masa selama di sini, ibu terus yang masakin kita, lagi pula ini hari terakhir kita di sini", Wila merenggut.
"Sudah Bang, malu dilihat Ibu, mandi sana!, airnya sudah panas!", Wila melerai pelukan Hamzah.
Dengan malas Hamzah pun pergi ke kamar mandi, tapi sebelumnya ia mendaratkan kecupan di pundak Wila.
Wila memandang nanar punggung Hamzah. Di kota nanti, mungkin sulit walau untuk bisa saling menyapa, apalagi untuk bisa berduaan.
Karena di sana , istri Hamzah adalah Sarah, tidak ada yang mengetahui pernikahannya. Hanya Andi dan Bi Yeni yang mengetahui pernikahannya.
Bahkan Hamzah belum memberitahu kedua orang tuanya.
Tapi yang terpenting bagi Wila adalah status yang jelas buat anaknya.
Wila tersadar dari lamunannya, saat Hamzah keluar dari kamar mandi.
"Cepetan mandi, kok malah bengong gitu, sebentar lagi shalat subuh, kita berjamaah", ajak Hamzah mengagetkan Wila.
Wila tersenyum , merasa bodoh dengan tindakannya. Wila pun segera mandi dan shalat berjamaah bersama suaminya.
Tak lama terdengar orang tuanya bangun. Wila menghampiri ibunya. "Aduh Neng, kok sudah siap semua", Yati melihat nasi dan lauknya yang masih berasap.
Wila tersenyum, "Iya Bu, maaf baru bisa membantu, dari kemarin Ibu terus yang memasak",
__ADS_1
" Itu memang sudah kewajiban bagi Ibu, Neng. Menyiapkan semua kebutuhann anggota keluarga",
"Ya, tapi sekarang Wila sudah bukan anak kecil lagi, Wila juga ingin belajar seperti Ibu, biar bisa mengurus keluarga kecil Wila",
Yati memeluk Wila. " Iya Neng, tidak terasa, kamu sudah besar, sudah berkeluarga, dan mungkin sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, rasanya seperti mimpi, seperti baru kemarin Ibu melahirkanmu",
"Ternyata waktu berlalu begitu cepat ", Yati mengusap lembut kepala Wila.
" Jadi seorang Ibu itu harus serba bisa, harus pintar, harus penyabar, harus kuat menghadapi cobaan",
"Hidup itu akan berjalan tak selamanya menurut pada keinginan kita, saat kita menginginkan sesuatu, belum tentu bisa cepat tercapai, tetapi harus melalui perjuangan dan penantian panjang".
"Apalagi bagi Ibu, yang harus menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan Bapak yang pas-pasan, Ibu harus super hemat dan cermat mengatur keuangan",
"Kalau ibu boros, bisa-bisa, uang cepat habis, tidak cukup sampai waktu gajihan tiba".
"Neng juga harus pintar-pintar mengatur keuangan, walau suamimu memberi uang yang cukup, jangan sampai boros, harus pintar-pintar menyimpan uang",
"Harus ada uang untuk keadaan darurat, karena tidak selamanya kita diberi sehat, kita tidak akan senang terus, akan tiba masanya kedukaan menghampiri hidup kita",
"Ibu yakin, suaminya akan selalu menjagamu, akan selalu mencukupi semua kebutuhanmu, Ibu yakin Neng tidak akan merasa kekurangan seperti Ibu ",
Tampak tanda-tanda penuaan pada wajah ibunya. Kulitnya mulai berkerut, rambutnya mulai memutih, dan tubuh kuatnya mulai ringkih, tidak jarang merasa sakit jika terlalu keras bekerja.
Wila sedih, dirinya belum bisa memberikan apa-apa kepada ibu yang telah membesarkannya .
"Neng, Ibu yakin, Neng tidak akan seperti Ibu yang harus ikut membantu Bapak mencari nafkah",
"Kalau sudah berkeluarga, keberlangsungan hidup bukan hanya tanggung jawab seorang suami, jika kebetulan suami sskit, apa iya , istri harus berpangku tangan?",
"Tidak, tetapi harus bahu-membahu, saling membantu",
"Kalau Neng mau tahu, Ibu pernah ikut bekerja di sawah, di ladang, jualan sayuran, saat Bapak sakit dulu", Yati menerawang.
"Apalagi, kalian masih kuliah,harus pintar-pintar mengatur keuangan, harus pintar-pintar mengatur waktu",
"Jangan sampai waktu kuliah kalian mengganggu kualitas kebersamaan kalian di rumah",
"Jangan sampai di rumah tidak ada makanan!",
"Jangan biarkan suamimu mencari kebutuhannya di luar rumah, kalau suamimu lebih betah, lebih nyaman di luar rumah, Waah...itu bahaya!",
__ADS_1
"Sini kita masak!", Yati menuntun Wila .
"Ibu ada resep rahasia, Wanita itu harus pintar masak, suami itu kalau kebutuhan perutnya penuh, mereka tidak akan lirik kiri, lirik kanan", bisik Yati.
Wila mengulum senyum, ia cerna semua ucapan ibunya.
"Nah, sekarang kita buat sambal kesukaan Bapak, bapakmu itu tidak rewel kalau soal makan , dengan apa pun oke, yang penging ada ini nih, sambal", ucap Yati.
Yati mengambil bahan-bahan untuk membuat sambal, ada bawang merah, bawang putih, kencur, cabe cengek, tomat, terasi sangray, gula merah, dan penyedap rasa.
Lalu diulek, terakhir disiram dengan minyak panas, dan di beri perasan air jeruk.
"Nah, ini sambal istimewanya", Yati membawa sambal yang baru dibuatnya, semerbak harum menggelitik perut lapar.
"Ini ada teman istimewanya, kita goreng dulu", Yati kembali menyiapkan wajan dan menggorengikan asin.
Semerbak harum kembali menyeruak diruang dapur. Menggelitik perut yang mulai keroncongan.
"Wah...harum sekali Bu, jadi ingin cepat-cepat makan", seru Wila.
"Coba di belakang ada lalapan apa?, petik saja!',
"Iya Bu", Wila beranjak ke kebun di belakang rumahnya , tak lama kembali dengan membawa sayuran, ada terong, timun, lobak dan kemangi.
"Ada ini Bu", Wila menuju air dan mencuci sayuran yang baru saja ia petik.
"Harum sekali Bu, Bapak sudah lapar", teriak Caca yang juga sedang ngobrol bersama Hamzah di ruang tengah.
Wila tersenyum,"Tuh Bu, sudah tidak sabar, dari tadi terus menerus diserang oleh aroma harum masakan.
"Iya Pak, sebentar",ucap Yati.
"Lihat kan Neng, bapakmu sudah tidak sabar ingin makan", senyum Yati.
Tak lama Yati sudah sekesai masaknya, ia menata makanannya dimeja kecilyang ada di dapur.
Lalu mengajak semuanya untuk mulai sarapan.
Mereka sarapan dengan menu sederhana yang dibuat dengan penuh cinta oleh Ibunya.
Walau sederhana, namun terasa nikmat.
__ADS_1