
Setelah sepakat, Hamzah dan ibunya pamit. Karena mereka pun harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari jum'at besok.
Sesampainya di rumah, Hamzah melemparkan tubuhnya di sofa ruang keluarga, tinggal beberapa hari lagi ia akan benar-benar berpisah dengan Wila.
Sementara ibunya disambut gembira oleh Bi Sumi. Ia tidak menyangka majikannya akan pulang tiba-tiba.
"Maaf Nyonya, saya tidak menyiapkan apa-apa, karena Nyonya tidak memberi kabar kalau mau pulang sekarang",
"Nggak apa-apa Bi, memang semuanya mendadak, saya juga tidak ada persiapan apa pun untuk pulang". Jelas Bu Kalila.
"Maaf Nyonya, Bibi hanya memasak seadanya", aku Bi Sumi.
"Nggak apa-apa Bi, sekarang siap-siaplah, kita pergi ke Swalayan untuk membeli keperluan akad hari Jum'at besok",
Bi Sumi melongo,"Akad?", siapa yang mau menikah?", tanyanya heran.
"Hamzah Bi, Jum'at Hamzah mau nikah, walau cuma akad, tapi harus dipersiapkan juga segala sesuatunya", jelas Kalila.
"Alhamdulillah, Bibi ikut senang, Bibi setuju Den, Neng Wila anaknya baik, sopan, pintar masak lagi", Bi Sumi tersenyum bahagia.
"Bukan sama Wila Bi, tapi sama Sarah", jelas Kalila.
Bi Sumi melongo, " Sarah?, ganti lagi ya Den?, kirain Neng Wila yang pernah memasak dengan Bibi waktu itu", Bi Sumi menerawang.
"Iya, saya juga mengira dengan Wila, saya sudah jatuh hati sama dia, tapi entah kenapa jadinya sama Sarah", Bu Kalila memandang lekat Hamzah, meminta penjelasan anaknya.
Hamzah menarik nafas panjang, ia ingin menghempaskan beban berat yang terasa menghimpit dadanya.
Ia membetulkan posisi duduknya, ia menatap nanar ibunya , merasa bersalah dengan perbuatannya.
Ia menunduk, menguatkan keberanian untuk mulai berbicara.
"Maafkan Hamzah Bu, sudah membuat kecewa", Hamzah menunduk.
"Sebenarnya ada suatu accident yang terjadi di Kampus. Waktu ada acara Pop Art Weeks, Hamzah tidak tahu awalnya, tapi setelah acara selesai, pagi-pagi Hamzah sudah berada di tenda berdua dengan Sarah, dalam keadaan setengah telanjang", jelas Hamzah.
"Maafkan, sungguh Hamzah tidak menyadari semuanya", sesal Hamzah.
Kalila dan Bi Sumi melongo, mereka begitu kaget dengan penjelasan Hamzah.
"Maafkan Hamzah Bu",
Hamzah terlihat frustasi.
"Ya Allah sayang, kenapa baru cerita?", Kalila mendekatii anaknya , ia mengusap punggung Hamzah, mencoba menenangkan Hamzah.
__ADS_1
Begitu pun dengan Bi Sumi, ia merasa tidak percaya kalau Hamzah melakukan hal seperti itu, Bi Sumi mengenal Hamzah dari kecil.
"Hamzah bingung Bu, Hamzah mencintai Wila, bukan Sarah", aku Hamzah.
Kalila faham dengan apa yang dirasakan anaknya, "Sayang, Ibu juga bingung, harus bagaimana?,
"Tapi kamu harus berfikir bijak, jangan jadi laki-laki pengecut! , bagaimanapun juga ini aib sayang, tidak cukup diselesaikan hanya dengan kata maaf saja",
"Terlepas dari apa pun perasaanmu, walau cinta sama Wila, tapi kamu harus tanggung jawab sama Sarah",
"Apalagi, Sarah itu anak dari sahabat Ibu, jangan sampai kamu merusak persahabatan Ibu dengan ibunya Sarah yang sudah terjalin lama", jelas Kalila.
"Kasihan Neng Wila", celetuk Bi Sumi.
Kompak Hamzah dan ibunya melirik ke arah Bi Sumi.
"Iya, bagaimana sekarang Wila, apa dia baik-baik?", selidik Kalila.
"Hah, Hamzah menghempaskan nafas kasar, kasihan, dia marah, dia tidak mau Hamzah temui, dia pasti sangat kecewa", Hamzah berkaca-kaca.
"Aku tidak merasa telah melecehkan Sarah, Ibu percaya kan sama Hamzah?"
Kalila mengangguk sambil kembali memeluk anaknya.
"Ibu percaya, tapi ini bukan masalah benar atau salah, tapi ini masalah tanggung jawab, bukan cuma sama Sarah, tapi juga sama pihak Kampus", ungkap Kalila.
Sudah Bi, siap -siap saja, kita ke Swalayan sekarang!"
Kalila beralih keanaknya, " Kamu juga, coba ajak Sarah, buat memilih semua keperluannya, walau mendadak, tapi nggak enak juga kalau kita ke sana dengan tangan hampa", jelas Kalila.
Dengan malas Hamzah mengeluarkan phone cell dari kantong tas selempangnya. Ia terlihat mengetik sesuatu di layar dan mengirimkannya.
Tak lama terdengar phone cellnya kembali bergetar, " Giliran di ajak belanja, cepat sekali responnya" gerutu Hamzah.
"Nanti Sarah ke sini diantar sopirnya Bu", kaba
ri Hamzah.
"Ya sudah, sekarang siap-siap, ayo Bi!" perintah Kalila.
Tak lama terdengar suara mobil memasuki pekarangan sudah bisa ditebak, itu mobilnya Sarah.
Hamzah ,ibunya dan Bi Sumi segera keluar rumah mereka tidak memberi kesempatan kepada Sarah untuk masuk ke dalam rumahnya.
Tidak membuang waktu, mereka bergegas pergi.
__ADS_1
Hamzah ikut dengn mobilnya Sarah , sementara ibunya satu mobil dengan Bi Sumi.
Sarah tampak asik menulis di buku note nya , ia merinci barang-barang yang ingin dan akan dibelinya.
Hamzah tidak banyak bicara, karena fikirannya masih dipenuhi oleh bayangan Wila.
"Aku boleh beli apa pun yang mau?", tanya Sarah dengan senyuman mengembang. Hamzah cukup mengangguk saja, tapi itu sudah membuat Sarah senang.
"Pilihlah barang-barang yanh diperlukan saja", ujar Hamzah.
"Iya", Sarah mendelik melirik Hamzah. 'Dasar pelit!' fikirnya.
Sesampainya di Pusat Perbelanjaan, mereka semua turun, diikuti sopirnya Sarah. Sengaja ia diperintahkan ikut untuk membantu membawakan belanjaan Sarah.
Sarah dan Hamzah masuk ke tempat Fashions, sedangkan Kalila dan Bi Sumi masuk ke stand sembako.
Hamzah mendorong troli mengikuti Sarah yang sibuk memilih barang yang ia suka.
Hamzah hanya menggeleng - gelengkan kepala melihat Sarah yang banyak membeli barang, ada tas, sepatu, baju, dan kosmetik.
Troli yang di dorong Hamzah sudah penuh dengan semua belanjaannya.
"Apa ini nggak salah?", heran Hamzah kepada Sarah,
"Nggak", jawab Sarah denga polosnya.
Bbb
Sarah seolah memanfaaatkan momen ini intuk melampiaskan hobi belanjanya saja.
Bukan saja Hamzah, ibunya pun tak kalah heran melihat belanjaan Sarah. Mereka pun melakukan pembayaran.
Hamzah mendekati ibunya,"Maaf, selalu merepotkan", sesalnya. Ia tahu pasti tidak sedikit uang yang harus dibayarkan ibunya untuk semua belanjaannya hari ini.
Kalila menatap anaknya dengan senyuman ,"Tidak apa-apa", ini masih menjadi kewajiban Ibu", ucapnya. Ia mengusap punggung Hamzah.
Sementara Sarah masih asik memilih kosmetik. Tapi ia berhenti, dan segera menghampiri Hamzah, "Aku mau perhiasan juga", bisiknya.
Hamzah melirik ibunya yang juga sedang melihatnya, seolah mengerti, Kalila mengangguk pelan.
Hamzah kembali mengikuti Sarah menuju tempat perhiasan, di sana ia asik memilih ini dan itu, Hamzah menghampiri dan mendekat seraya berbisik ditelinganya ," Jangan ambil yang mahal-mahal, nggak enak sama Ibu, nanti kalau aku sudah punya penghasilan sendiri, kamu boleh minta apa pun", ucap Hamzah.
Sontak ucapan Hamzah itu membuat Sarah cemberut. "Pilih saja satu set yang tidak terlalu mahal, karena ini memakai uang ibuku", bisik Hamzah lagi.
Sarah kembali cemberut, ia minta diambilkan satu set perhiasan seperti yang dibisikkan Hamzah. Ia disodori kalung, gelang dan cincin yang cukup sederhana , "Ini saja", ucapnya dengan sedikit kesal melihat ke arah Hamzah.
__ADS_1
Malam itu semua perlengkapan buat akad hari jum'at besok sudah siap. Tanpa Hamzah sadari, Sarah mengirim foto mereka yang sedang belanja kepada Wila, Sarah ingin membuat Wila tambah terluka.
Sarah tersenyum puas setelah foto kirimannya dibuka oleh Wila. ' Dia pasti sedang nangis darah malam ini fikirnya' .