Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Maafkan Wila


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Wila seperti mati kutu, ia lebih banyak diam. Begitu juga dengan Andi, ia merasa kagok saat mau bertanya, takut membuat Wila tambah sedih


Alhasil mereka jadi saling diam. Sampai akhirnya sepeda motor Andi memasuki Gang dan berhenti di halaman rumah Bi Yeni.


Andi memandang Wila yang baru saja turun dari motor dan berdiri disampingnya. " Cepat masuk dan beristirahatlah !, jangan terlalu difikirkan, utamakan kesehatanmu!".


Wila mengangguk,"Terima kasih", suara Wila terdengar parau. Ia tahu Andi tidak akan mau masuk kalau sudah malam begini, jadi Wila langsung melangkah masuk, setelah mengucap salam terlebih dulu.


Andi memandang punggung Wila sampai ia hilang di balik pintu. Andi merasa aneh, kenapa sampai begitu terguncangnya Wila dengan peristiwa tadi pagi.


Andi berfikir, pasti ada sesuatu antara Wila dan Hamzah. Tapi Andi tidak mau berspekulasi terlalu jauh, ia langsung meninggalkan rumah Bi Yeni dan melesat di Jalanan.


Bi Yeni sedang di kamarnya saat Wila masuk ke rumah. Itu membuat Wila lega, karena ia tidak ingin bibinya melihat dia dalam keadaan yang sekarang, pasti Bi Yeni akan bertanya apa penyebab dirinya menangis.


Wila langsung masuk ke dalam kamarnya, ia melihat dirinya di depan cermin dan hatinya bicara ,'Kamu ini bodoh Wila, kenapa begitu mudah percaya dan kenapa pula begitu mudah jatuh cinta dan menyerahkan segalanya kepada dia'.


'Lihatlah apa yang terjadi sekarang, kamu dicampakkan begitu saja dan dengan mudahnya dia berpaling, melupakan semua janjinya padamu'.


'Sekarang apa yang akan kamu lakukan?, tidak ada yang tahu kejadian antara kamu dan Hamzah di gubuk itu, jika kamu menuntut tanggung jawab Hamzah , itu artinya kamu membuka aibmu sendiri'.


'Apa oran akan percaya?, karena mereka terlanjur tahu kalau Hamzah harus bertanggung jawab kepada Sarah'.


Lagi -lagi butiran bening mendesak keluar dari kelopak matanya yang semakin membuatnya sembab.


Perlahan ia simpan tasnya di atas meja riasnya dan segera memasuki kamar mandi, ia membersihkan diri, melumuri semua bagian tubuhnya dengan sabun.


Tapi itu semua tidak akan membersihkan noda yang telah ia torehkan bersama Hamzah. Wila menjadi begitu jijik dengan dirinya. Laki-laki mana yang mau menerima barang yang sudah retak.


Ingatannya berseliweran kepada kedua orang tuanya, pasti mereka akan sangat kecewa kepadanya.


Tapi kini nasi sudah menjadi bubur, menyesal sudah tidak ada gunanya. Kini ia harus siap dengan semua konsekuensinya.


Ia harus tanggung akibatnya. Karena bagaimana pun , waktu tidak akan kembali, jika saja waktu bisa diulang, Wila tidak akan menuruti keinginan nafsunya.

__ADS_1


Kini ia harus bangkit, walau sangat sakit, ia harus tetap ceria, walau sebenarnya sangat terluka dan begitu berduka. Ia harus bisa menjadikan nasi yang sudah menjadi bubur ini, menjadi bubur yang spesial, yang masih bisa disukai oleh banyak orang.


Segera ia keringkan tubuhnya dan berpakaian, lalu segera menunaikan shalat, terutama shalat tobat. Ia bersimpuh memohon ampun atas kesalahan terbesarnya.


Dan berharap ia bisa menghadapi dunianya yang pasti akan begitu berat. Di luar terdengar suara sepeda motor memasuki pekarangan, Wila mengenali suara sepeda motor itu , itu suara motornya Hamzah.


Wila segera menyelesaikan shalatnya. Ia tidak tahu bagaimana seharusnya menghadapi Hamzah. Di luar terdengar Bi Yeni sedang berbicara dengan Hamzah.


Dan benar saja, tak lama kemudian terdengar pintu kamarnya di ketuk. Tadi memang Bi Yeni bertemu dengannya, tapi ia tahu kalau Wila sudah pulang, karena sepatunya sudah ada di rak.


Bi Yeni kembali mengetuk pintu kamar Wila, "Masuk Bi", persilahkan Wila. Bi Yeni memasuki kamar Wila dan mendapatinya masih bermukena.


"Ada Hamzah tuh, menunggu di luar", kabari Bi Yeni. Ia belum melihat Wila karen ia masih memunggunginya.


"Sini Bi!", terdengar suara parau Wila.


Yeni tetkejut mendengarnya, ia mendekat dan begitu terkejut melihat Wila, matanya sembab terlihat bekas menangis.


Ia sungguh tak kuasa menahan perih dihatinya, Bi Yeni mengelus-elus kepala Wila, tidak pernah ia melihat Wila seperti ini, pasti ada masalah besar yang sedang dialaminya.


"Ada apa?, bicarakan kepada Bibi, di luar ada Hamzah", kembali Bi Yeni mengabari Wila.


"Suruh pulang saja Bi, Wila nggak mau menemuinya, apalagi ini sudah malam, bilang saja Wila sudah tidur",


"Tapi sepertinya ada hal penting yang ingin ia bicarakan",


"Pokoknya Wila tidak mau menemuinya, Bi, tolong Wila!",


Yeni terdiam, mungkin Hamzah penyebab Wila seperti ini, hingga ia tidak mau menemuinya.


"Ya sudah, Bibi akan suruh dia pulang, tapi janji, nanti bicarakan semuanya sama Bibi!",


Wila mengangguk sambil menyeka air matanya dengan ujung mukena.

__ADS_1


Yeni berlalu dan menemui Hamzah kembali yang terlihat gelisah duduk di kursi tamu.


"Aduh maaf, Wila sudah tidur, lagi nggak enak badan katanya, badannya juga agak demam", Yeni sedikit mengarang cerita agar Hamzah segera meninggalkan rumahnya.


"Besok saja kembali lagi, sudah malam , nggak enak sama tetangga", Yeni mengusir halus Hamzah.


Hamzah menarik nafas dalam, pandangannya tertuju ke kamar Wila. Ia bisa merasakan bagaimana hancurnya Wila saat ini, sampai-sampai ia tidak mau menemuinya.


Dengan langkah berat Hamzah keluar dari rumah Yeni, "Ya sudah, saya pulang dulu, maaf sudah mengganggu", pamitnya pada Yeni, tak lupa ia ucapkan salam.


Yeni mengintip Hamzah dari balik tirai, ia melihat Hamzah begitu lemah, ia berjalan dengan gontai menghampiri sepeda motornya.


Ia duduk di atasnya dan meletakkan kepalanya di atas spedometer di topang dengan kedua lengannya yang dilipat.


Lama sekali, sepertinya ia enggan beranjak dari rumah Yeni.


'Ada apa ini, dasar anak muda, pasti lagi berantem' fikir Yeni. Segera ia kembali ke kamar Wila, karena begitu penasaran ingin mendengar cerita yang sebenarnya dari Wila.


Wila terlihat sedang duduk di pinggir tempat tidurnya , ia sedang memegang Hand phone nya. Hampir seharian ia matikan hand phone nya itu.


Dan berpuluh -puluh panggilan tak terjawab masuk dari Hamzah, chatnya pun berderet , ia berkali-kali bilang ," Maafkan aku, ini tidak seperti yang kamu fikirkan",


Wila menyimpan Hand phone nya samping kiri, saat terlihat Bi Yeni memasuki kamarnya. "Sudah pergi Bi?',


"Sudah, sepertinya Hamzah menyesal sekali tidak bisa bertemu, ia terlihat kacau",


Wila menerawang, berusaha menggali sisi positif Hamzah, selama bersamanya tidak pernah melakukan hal yang mengecewakan dirinya.


Tapi pagi ini, sungguh tidak terduga, ia benar-benar membuatnya kecewa. Wila menghembuskan nafasnya kasar, seolang ingin melepaskan semua sesak di dadanya.


"Kok, malah melamun, katanya mau cerita", Yeni menyadarkan Wila dari lamunannya.


Wila merentangkan tangannya lagi, ia kembali memeluk Yeni, "Maafkan Wila Bi!",

__ADS_1


__ADS_2