Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Janji ke dua


__ADS_3

Sebuah mobil melaju menuju sebuah Desa yang cukup jauh dari pusat keramaian. Hari ini Wila dan kedua orangtuanya memutuskan untuk kembali ke rumah Ciamis sebelum Wila berangkat ke Saudi.


Ya, Wila sudah bulat untuk bekerja di sana, sebenarnya bukan hanya untuk bekerja, tetapi ia mempunyai tujuan lain, ia ingin sekalian menunaikan ibadah umroh.


Wila masih selalu dihantui dosa dimasa lalunya, yang kini buah dari kesalahannya itu sudah lahir, setiap kali ia memandang Haura, anaknya , kelebatan dosanya terus membayangi.


Wila merasa heran saat mobil Andi yang membawanya berhenti di depan sebuah rumah megah.


Kedua orangtuanya turun dari mobil dan memasuki rumah tersebut. Wila pun ikut turun dengan menggendong Haura. Matanya memperhatikan sekeliling, ia merasa asing, ada banyak perubahan yang terjadi, banyak rumah-rumah baru yang berdiri di sana.


Tapi ada satu yang masih dapat ia kenali, warungnya Bu Asih yang ada di sebrang jalan. Wila tersenyum, "Alhamdulillah, setelah sekian lama, kini dapat kembali pulang",


"Ayo masuk Nak!", suara Yati mengagetkkannya.


Ibunya mengintip Haura yang sedang terlelap tidur, "Cucu Nenek sudah sampai rumah", Yati mencium Haura yang masih dalam gendongan Wila.


"Bu, ini rumah kita?", Wila melirik ke arah rumah megah yang ada di depannya.


"Iya Nak, Alhamdulillah sudah beres, ini semua berkat suamimu, Hamzah. Dia yang selalu mengirimi Ibu uang untuk membangun rumah ini.


"Semoga Nak Hamzah segera kembali ke sini, biar kita bisa berkumpul", harap Yati.


"Iya Bu, mudah-mudahan saja", Wila menghela nafas. Iya ragu apa harapan ibunya bisa terwujud, apakah Hamzah masih ingat untuk pulang ke rumahnya .


Wila sempat ragu kepada Hamzah, tapi setelah mengetahui Hamzah selalu mentransfernya uang dan menyelesaikan pembangunan rumahnya , ia kembali percaya kalau Hamzah seorang suami yang bertanggung jawab.


Apalagi setelah melihat Haura, ia akan membutuhkan sosok seorang ayah dalam pertumbuhannya.


Banyak para tetangga yang menemuinya, mereka ikut merasa senang dengan kepulangan Wila. Apalagi sambil membawa Haura.


Wila memasuki kamarnya untuk menidurkan Haura, ini untuk pertama kalinya ia memasuki kamarnya setelah rumahnya di bangun


Wila membuka pintu kamarnya dan tertegun, sungguh sangat berbeda dengan kamarnya yang dulu, yang hanya ada sebuah dipan kecil dan lemari baju sederhana.


Tapi kini, di dalam kamarnya terdapat sebuah ranjang dengan kasur big size. Di dinding atasnya tampak beberapa foto pernikahannya dipajang. Ada sebuah kamar mandi, dan ruangan wall in closet di sana. 'Pasti ini semua rancangan Mas Hamzah', pikir Wila.


Ia tidurkan Haura di atas kasur yang terasa empuk, ia berbaring disamping bayi mungilnya, ĺpĺdan tak terasa ia pun ikut terlelap. Setelah kelelahan di perjalanan, dan malamnya begadang , membuat rasa kantuknya datang.


Bahkan saat Haura bangun dan menangis pun , Wila masih tertidur. Yati yang mendengar tangisan cucunya segera menuju kamar anaknya.


"Aduh Neng, kamu pasti kelelahan", Yati segera memangku Haura ke luar dan memberinya susu formula.

__ADS_1


"Kenapa, mana Wila?", tanya Caca.


"Tidur, biarlah ,pasti dia capek dan lelah, semalam begadang nungguin anaknya",


"Andi kemana Pak?", Yati melihat ke luar.


"Tadi ia pamit ke rumah Bu Asih dulu katanya, kasihan dia, jadi terus-terusan direpotin sama kita", Caca memandang ke luar.


"Bapak jadi merasa nggak enak sama Nak Andi, kalau dulu Wila sama dia, mungkin akan lebih baik",


"Huus, jangan bicara begitu,tidak baik , ini sudah takdir Allah, ", Yati mengingatkan suaminya.


"Dari awal juga Bapak merasa kurang srek sama Hamzah itu, pas nikahan saja dia datang sendiri, mana serba mendadak lagi, waktu itu Bapak kasihan saja sama Wila, cuma Nak Hamzah laki-laki yang dekat dengan dia, lagi pula teman-teman sebayanya sudah pada menikah semua",


"Sudahlah Pak, Hamzah itu orangnya baik, buktinya dia yang sudah membangunkan kita rumah, mungkin benar ada urusan yang penting dengan orang tuanya",


"Lagi pula sudah ada si kecil Haura, cucu kita", Yati mendekap Haura yang kembali tertidur sambil minum susu.


"Iya, semoga saja semuanya cepat membaik, kita bisa berkumpul bersama anak, cucu dan menantu", harap Caca.


Sebuah mobil tampak memasuki pekarangan rumah Caca. Tanpa mereka sadari, orang yang sedang mereka bicarakan, sudah ada di luar rumahnya.


"Ini benar rumahnya?", Bu Kalila memperhatikan sekeliling, seingatnya rumah Wila yang dulu ia kunjungi, masih rumah panggung, berdinding bilik.


"Wah ide bagus tuh Pah", Hamzah melirik ayahnya.


Sayup-sayup terdengar suara tangis bayi dari dalam rumah, "Ya Allah, cucu kita Pah, Mamah sudah sabar ingin menggendongnya",


Mereka melangkah menuju pintu, dan Hamzah mengucap salam sambil mengetuk pintu


"Assalamu'alaikum",


Yati yang sedang menggendong Haura, menghentikan langkah kakinya, "Sepertinya ada tamu Pak",


"Paling juga tetangga kita yang mau menengok Haura Bu", dengan malas Caca bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.


"Wa'alaikumsalam", Caca membuka pintu, dan ia tertegun melihat tamunya.


Begitu pintu terbuka, Hamzah langsung meraih tangan kanan Caca dan mencium punggung tangannya.


"Pak..., apa kabar?",

__ADS_1


"Alhamdulillah, Nak Bapak sehat, mari masuk!", persilahkan Caca.


"Ini Papah dan Mamah", perkenalkan Hamzah, ia menunjuk ke arah Bu Kalila dan Pak Zakarya.


"Alhamdulillsh, Pak, Bu, saya Caca", Caca bersalaman dengan besannya itu.


"Mari attu semua masuk!", kembali Caca mempersilahkan masuk. Ia masuk kembali ke dalam rumah diikuti mereka.


Di dalam, Bu Yati pun tidak kalah kagetnya melihat tamu yang sudah lama ia tunggu kedatangannya.


"Alhamdulillah, ini seperti mimpi, baru saja kita bicarakan", Yati bersalaman dengan mereka.


"Aduh, ini anak Wila Bu?", tanyai Bu Kalila menghampiri Yati.


"Iya Bu, ini cucu Ibu" , Yati mendekatkan Haura kepada Ibu Kalila.


"Aduh, cantiknya, sini saya ingin menggendongnya", Bu Kalila mendekati Yati dan mengambil Haura dari gendongan Bu Yati.


"Iya, saya mau buatkan dulu minum, sebentar ya!", Yati mengalihkan Haura ke dalam gendongan Bu Kalila dan ia bergegas menuju dapur untuk menyiapkan air minum.


Tak lama ia kembali dengan membawa nampan dan memindahkan isinya ke atas meja.


"Wila nya mana Bu?", Hamzah menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Oh, iya, Wila tidur, mungkin kelelahan, hampir tiap malam begadang jagain Haura, ini anak kalau siang anteung tidur, giliran malam, begadang sampai subuh", senyum Yati.


"Masuk saja sana, Wila ada di kamar!", Bu Yati melirik Hamzah.


"Sudah, sana temui dulu istrimu!", desak Bu Kalila.


Hamzah mencubit gemas pipi Haura, setelah itu ia bangkit berjalan menuju kamar. Ia buka pintu perlahan, takut menimbulkan suara yang akan membangunkan orang yang ada di dalam, lalu ia masuk dan berjalan menuju tempat tidur.


Di sana ia mendapati Wila masih terlelap. Hamzah duduk di pinggir tempat tidur, ia pandangi wajah istrinya itu, 'tambah cantik', pikirnya.


Lalu ia genggam lembut tangan kirinya, Hamzah masih melihat sebuah cincin melingkar di jari manisnya, cincin yang ia berikan dulu saat ijab qabul.


Perlahan ia baringkan tubuhnya di atas kasur, tepat di depan Wila. Ia belai lembut wajah putih istrinya itu "Maafkan aku, maafkan aku yang sudah mengabaikanmu", lirih Hamzah.


Matanya mulai berkabut, ia begitu merasa bersalah telah meninggalkan Wila, mungkin sudah banyak kesulitan yang ia hadapi seorang diri saat dirinya tidak ada disampingnya.


Hembusan nafas Hamzah yang menerpa wajah Wila terasa hangat dan membuat mata Wila perlahan terbuka.

__ADS_1


Setengah tidak sadar Wila melihat seseorang di depannya, hal itu membuat dirinya kaget. Wila hampir saja berteriak, namun Hamzah segera memeluknya"Tenang!, ini aku sayang, suamimu",


__ADS_2