
Wila sengaja pulang lewat gerbang belakang, selain lebih dekat, ia juga sekalian melihat kue-kue yang tadi pagi dititipkannya di Kantin.
Alhamdulillah, semua kuenya habis terjual.
"Assalamu'alaikum Bu, saya mau ngambil ini ", Wila membereskan tempat kuenya yang sudah kosong.
"Iya Neng, besok minta ditambah 10 buah tiap jenisnya ya?", Bu Kantin tersenyum sambil memberikan sejumlah uang kepada Wila.
"Alhamdulillah Bu, jadi masing-masing jadi 30 buah ya Bu?",
"Iya Neng, tadi juga banyak yang tidak kebagian", senyum Ibu Kantin.
"Alhamdulillah kalau banyak yang suka, saya pulang dulu Bu, Assalamu'alaikum", Wila pamit dengan senyuman merekah.
Ternyata masih ada hal yang membuat dirinya senang. Saat melewati Madrasah, ia kembali teringat Hamzah, tempat itu menjadi saksi awal pertautan hari mereka.
Di tempat itu setiap sore setelah Asar, mereka bertemu untuk mengajar mengaji anak-anak. Dulu tak pernah ada cerita duka, mereka selalu ceria dengan tingkah polah anak yang selalu lucu.
Sekarang, karena jadwal kuliahnya mulai padat, Wila sudah tidak mengajar di sana lagi. Sebagai gantinya sudah ada anaknya Bu Dati.
Wila menghentikan langkahnya, ia teringat Bu Dati, jadi kangen sama bakso dan jus mangganya.
Makanan yang selalu Hamzah belikan untuknya.
Wila membelokkan arah kakinya menuju Madrasah. Namun yang ia tuju adalah sebuah warung disampingnya.
Selain kangen baksonya , ia juga kangen sama pedagangnya, Bu Dati. "Assalamu'alaikum", Wila memasuki warung yang tampak sepi, karena anak-anak masih di dalam mengaji.
"Wa'alaikumsalam", seorang wanita setengah baya muncul dari balik gorden. " Alhamdulillah, Neng Wila?", ia sumringah dan langsung memburu Wila.
"Aduh-aduh, serasa mimpi, Neng Wila sendiri?, mana Den Hamzah?", Bu Dati melihat sekeliling.
"Saya ke sini sendiri Bu", senyum Wila. Hatinya bergetar , tempat ini sungguh menambah jelas akan kenangan bersama Hamzah.
"Biasanya berdua", senyum Bu Dati.
Wila melengos, " Iya kebetulan saya tadi ada kuliah tambahan, jadi pulangnya agak sore",
Bu Dati melihat gelagat kalau Wila tidak suka dirinya menyebut-nyebut Hamzah.
"Ya sudah, Bibi buatkan menu kesukaan Neng, ayo duduk dulu!", Bu Dati segera menuju ke dalam untuk membuatkan Wila bakso dan jus mangga.
Wila menerawang, 'sedang apa Hamzah sekarang?, pastinya sedang berbahagia dengan Sarah.
__ADS_1
'Astaghfirullah, kenapa kembali memikirkan dia bukannya aku sendiri yang meminta teman-teman untuk tidak memberikan kabar apa pun tentangku kepada Hamzah'. Wila membatin.
'Aku ingin kamu sendiri yang mencariku, kamu sendiri yang datang kepadaku, dan kamu sendiri yang memintaku untuk kembali', Wila kembali membatin.
"Kok malah melamun, ini makanannya sudah siap", Bu Dati mengagetkan Wila. Ia datang dengan membawa nampan berisi semangkok bakso dan segelas jus mangga.
Wila melirik dan tersenyum, "Nggak Bu, ini lagi mengingat waktu pertama kali ke sini, sekarang sudah banyak perubahan ya Bu, tempat wudhunya sudah diperbaiki",
"Iya Neng, Alhamdulillah, ini sikahkan di makan!, mumpung masih panas", senyum Bu Dati.
"Wah, terima kasih Bu,saya sudah kangen dengan makanan ini", Wila menarik mangkok bakso dan mengaduk -aduknya.
"Hhmm, wanginya masih sama, saya makan ya Bu", Wila mulai menyendok bakso dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Hhmm, rasanya juga masih sama", senyum Wila sanbil melirik Bu Dati yang sedang tersenyum memperhatikannnya.
Bu Dati sebenarnya mengetahui kejadian malam ketika Hamzah kepergok satu tenda dengan Sarah. Tapi ua tidak berani membicarakannya dengan Wila. Ia takut Wila kembali bersedih karenanya.
Walau Bu Dati pun tahu kalau Wila sedang berusaha melupakan setiap kenangannya bersama Hanzah, terlihat dari raut muka dan tatapannya yang sering kali kosong.
"Gimana, mau nambah?", tawari Bu Dati saat melihat Wila sudah menghabiskan baksonya. "Sudah cukup Bu, terima kasih", senyum Wila.
"Rasanya masih sama Bu, enak", puji Wila.
Ada butiran bening yang mendesak ingin keluar, dan dadanya pun terasa sesak, "Maaf Bi, Wila ke air dulu", pamitnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Bu Dati, Wila sudah langsung memburu kamar mandi yang ada di Samping Mandarah.
Ia kesana bukan kebelet mau buang air kecil, tapi ia sudah tidak tahan menahan sesak di dadanya. Dari suapan pertama sampai terakhir, ingatan akan Hamzah terus bergumul dikepalanya.
Sesampainya di toilet ia buka kran airnya, dan menangislah Wila di sana. Sungguh ia tidak kuasa menahannya.
Kenangan-kenangannya bersama Hamzah waktu di tempat ini, menjebolkan pertahanannya. Wila menangis menumpahkan semua sesak didadanya.
Sampai beberapa saat ia disana, tapi segera ia menyeka air matanya, ia tidak ingin matanya kelihatan sembab, dan yang utama ia tidak ingin membuat sedih calon bayinya.
Ia melihat pantulan wajahnya di cermin, ia mencoba menekan rasa sesaknya. "Astaghfirullah, kuatkan hamba-Mu ", Wila ke luar dan kembali menuju warungnya Bu Dati.
Dan ternyata di sana sudah ada Andi. "Assalamu'alaikum, Andi?, tanyai Wila keheranan.
"Wa'alaikumsalam", senyum Andi.
"Sengaja ke sini?" tanyainya lagi.
__ADS_1
"Iya, ini ada titipan buat Madrasah di sini", Andi memperlihatkan bungkusan besar di meja di depan Bu Dati.
"Oohh", kirain mencari aku", cicit Wila, ia berusaha untuk kelihatan ceria dihadapan Andi dan Bu Dati.
"Iya, mencari kamu juga", senyum Andi.
"Oohh, pasti ada kabar dari Bapak dan Ibu di kampung ya?", Wika mendekat dan duduk di samping Andi.
"Aku belum ke sana lagi sejak acara....., Andi menggantung ucapannya, mengingat ada Bu Dati di sana.
"Sejak acara PKL waktu itu", alasan Andi. Hampir saja ia keceplosan menyebutkan acara akad nikah.
Wila membulatkan kelopak matanya , "Oohh, kirain sudah pulang",
"Oooh, iya ini lupa", Wila menyedot habis jus mangganya.
"Alhamdulillah", Andi dan Bu Dati tersenyum melihatnya .
'Syukurlah, nampaknya dia baik-baik saja", Andi memperhatikan Wila.
"Sudah sore Bu, saya pamit, ini jadi berapa semuanya?" Wila menanyakan harga makanan yang kini sudah berpindah ke perutnya.
"Nggak usah Neng, itu tidak dijual, gratis buat Neng Wila dari Ibu", senyum Bu Dati.
"Aduh, terima kasih Bu, kalau tahu gratis mah tadi minta tambah", goda Wila.
"Baksonya bikin nagih", senyum Wila.
"Ya sudah, Neng bisa makan gratis di sini, kapan pun Neng mau", ucap Bu Dati.
"Duh, terima kasih Bu , nanti saya bikin Ibu rugi",
" Ayo, sekalian kalau mau pulang, bareng saja", ajak Andi.
Wila berpamitan dan langsung berjalan menuju ke depan Madrasah, ia menunggu Andi di sana.
Sementara Andi tampak berbincang dengan Bu Dati , dan ia kembali menyerahkan sebuah amplop kepadanya.
Andi tampak pamit dan meninggalkan Bu Dati.
"Ayo naik , lumayan biar hemat energi", senyum Andi saat sudah ada di samping Wila.
Wila pun nurut. Ia juga sudah merasa lelah, lelah bukan karena sudah berjalan, tapi lelah karena dari tadi terus menekan perasaan sedihnya, dan berusaha selalu menebar senyuman untuk menutupinya.
__ADS_1