Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Dua Rencana


__ADS_3

"Sepertinya dia anak yang baik", ucap Caca setelah Hamzah meninggalkan rumah Yeni.


Wila hanya tersenyum saja, masih ada rasa malu untuk mengatakan yang sebenarnya kepada ayahnya.


"Iya benar, ia itu anak seorang Dokter terkenal, kedua orang tuanya Dokter. Ayahnya itu pemilik klinik tempat Bapak dirawat ", jelaskan Wila.


Caca manggut-manggut mendengar penjelasan Wila, ia juga berfikir, mana mungkin Hamzah diijinkan bersama anaknya yang hanya anak seorang buruh.


Tak lama Yeni datang ikut bergabung di ruang keluarga. Yeni sudah siap untuk memberitahukan kepada Caca mengenai Dirja, suaminya.


Yeni fikir ini moment yang pas, walaupun sakit dan pahit, tapi Caca harus mengetahuinya. Sebagai adik, ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain Caca.


Caca tampak memperhatikan adiknya itu, sudah lama sejak Yeni menikah dengan Dirja, ia jarang bertemu dengan adiknya itu.


"Ni, kamu sakit, Mas lihat kok agak kurusan?", pertanyaan Caca itu sontak membuat Yeni menunduk. Ia berusaha menguatkan dirinya agar tidak sampai menangis.


Wila mendekati Yeni, memegang pundaknya, berusaha memberi dukungan kepada Yeni. Pasti ini berat untuk diungkapkan.


Karena Yeni hanya diam dan menunduk, Akhirnya Wila yang bicara ," Iya Pak, kemrin Bibi sempat sakit dan dirawat hampir lima hari", jelaskan Wila.


Caca dan Yati terlihat kaget mendengar kabar tersebut. " Lah kok gak ngasih kabar, kalau Bibi sakit?', Caca seolah menyalahkan Wila karena tidak memberi kabar tentang sakitnya Yeni.


"Iya maaf, tadinya tidak mau merepotkan Bapak dan Ibu saja, jadi Wila nggak ngasih tahu, itu juga Bibi yang minta",


"Iya Mas, aku yang melarang Wila mengabari Mas , lagi pula nggak parah kok, sekarang juga sudah kembali sehat", Yeni berusaha menjelaskan.


"Terus dimana suamimu?" , tiba-tiba Caca menanyakan keberadaan Dirja. Sejenak Yeni diam, rasanya susah sekali untuk memulai pembicaraan .


Dan akhirnya Yeni pun terisak, ia menangis dalam diam, walau berusaha untuk tidak menangis, tidak bisa. Rasanya begitu menyakitkan.


Melihat Yeni menangis, Caca kaget, pasti ada sesuatu yang disembunyikan darinya.


Yati segera menghampiri Yeni, ia memeluknya, dan Yeni pun menangis dalam pelukan Yati.


"Ngak apa-apa, menangislah!", Yati mengelus rambut dan pundak Yeni. Setelah puas menumpahkan rasa sakit hatinya, perlahan tangis nya mereda.


"Katakanlah, jangan pendam sendiri, siapa tahu Mas bisa membantu", desak Caca.


Sepertinya Yeni sudah tidak sanggup lagi untuk berkata-kata, ia melirik Wila dan menganggukkan kepala.


Wila mengerti , dan segera menceritakan semua yang terjadi pada Yeni. Dari mulai kepulangan Yeni dari tempat suaminya, saat Yeni sakit, dan mengenai keputusan Dirja yang menikah lagi.


Caca mendengarkan dengan geram, ia begitu marah kepada Dirja. Ia tidak menyangka Dirja bisa berbuat setega itu kepada adiknya.

__ADS_1


Padahal dulu, dia begitu memohon-mohon untuk diijinkan menikahi Yeni yang saat itu baru saja lulus dari SMA.


Dan kini , hanya karena Yeni belum bisa memberinya anak, dia begitu saja meninggalkan Yeni.


Bahkan dia sudah tidak memberinya nafkah lahir.


Yeni berusaha untuk berbicara, ia mengusap air matanya dengan tangan, " Mas, rencananya saya mau mencari kerja saja", ucap Yeni masih sesenggukan.


"Kerja...., kerja apa...? Kamu belum pernah kerja dimanapun, tamat sekolah langsung nikah", Caca memandang lekat-lekat wajah adiknya itu, ia begitu iba melihatnya.


"Bagaimana kalau kamu jualan saja?, itu bisa dikerjakan di sini!", usulkan Caca.


Mendengar ucapan ayahnya, Wila begitu sumringah, karena dari kemarin pun ia memikirkan cara untuk menambah penghasilan buat biaya kuliahnya.


Walau saat ini ada kedua orang tuanya, tapi Wila tidak sampai hati memberitahukan kesulitannya itu kepada mereka.


"Iya, Bi, kita jualan saja, di sini saja di teras depan, tapi jualan apa yah?", Wila kembali termenung, 'ide jualan apa yang cocok ', pikirnya.


Yati dan Caca pun terlihat ikut memikirkan , dan akhirnya mereka setuju untuk jualan nasi kuning dan gorengan saja, sepertinya itu tidak banyak membutuhkan modal .


Caca memberikan kembali uang yang diberikan Hamzah kepada Wila,


"Ini pegang saja, kamu lebih membutuhkan dari pada Bapak, gunakan untuk keperluanmu kuliah dan untuk modal usaha juga",


Wila sempat ragu untuk menerimanya, tapi ia tidak punya pilihan lain, memang untuk saat ini ia begitu membutuhkannya.


"Pakai saja, Bapak belum terlalu membutuhkan, lagi pula itu kan uang pemberian Nak Hamzah, lebih baik kamu yang menggunakannya", jelas Caca.


"Baik kalau begitu, lebih baik uang ini Bi Yeni yang memegangnya , biar Bi Yeni yang ke Pasar", Wila menyerahkan kembali amplop tadi kepada Yeni.


Tetapi Yeni menolak, " Nggak usah, biar Wila aja yang pegang, nanti kalau Bibi perlu untuk belanja, tinggal minta saja", jelas Yeni.


"Ya sudah, kalau begitu", sepertinya mereka menyerahkan masalah keuangan kepada Wila.


"Kalau begitu, untuk malam ini Bapak dan Ibu menginap di sini, biar besok bisa membantu persiapan memulai jualan",


"Iya Bu, terima kasih, biar Ibu yang membuatkan resepnya, pasti enak", sahut Wila.


Mereka sepakat untuk membuka warung kecil-kecilan di depan rumahnya. Setelah itu mereka beristirahat di kamarnya masing-masing.


*


*

__ADS_1


*


Sepulang dari rumah Bi Yeni, Hamzah langsung menuju ke Kampus. Tadi ia dapat telepon yang mengabarkan kalau ada insiden kecil di Parkiran.


Sesampainya di Kampus, hari sudah mulai sore, hanya segelintir Mahasiswa saja yang masih ada di sana.


Hamzah langsung menuju ruang Senat, tapi ternyata di sana kosong, tidak ada siapa-siapa. Ia coba menghubungi Pak Putut, tapi tidak ada respon. Di chat lewat whash app pun tidak di balas.


Hamzah kembali cek nomer hand phone yang tadi meneleponnya, ternyata nomer baru , ia mengernyitkan dahinya, kok baru ngeh, kalau ini nomer baru.


Mungkin karena tadi dia begitu gugup saat berhadapan dengan orang tua Wila .


Saat masih kebingungan, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya. "Zah..., masih di sini?, belum pulang?", tanya seseorang di belakangnya.


Hamzah membalikkan badan dan ternyata Sarah sedang berdiri dihadapannya. Dia tersenyum memandangi Hamzah.


"Sudah lama kamu di sini?", tanyai Hamzah, ia sedikit kaget dengan kehadiran Sarah, setahunya hari ini tidak ada jadwal kuliah.


"Nggak, baru datang kok", jawabnya sambil tetap tersenyum dan berjalan mendekati Hamzah.


"Kenapa, gak boleh...? " Sarah makin berani saja , ia semakin mendekat ke arah Hamzah.


"Tunggu, sebentar-sebentar, tadi ada yang menelepon , katanya ada insiden di Kampus?, jangan-jangan ini semua ulah kamu!", sergap Hamzah.


Sarah tidak memperdulikan ucapan Hamzah, ia malah makin berani saja mendekati Hamzah, Hal itu membuat Hamzah mundur beberapa langkah sampai mentok di dinding ruang Senat.


Bukannya berhenti, Sarah malah makin berani mendesak Hamzah sampai tubuhnya menempel dengan tubuh Hamzah.


Hamzah kaget bukan main, dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Sarah dengan marah, "Apa-apaan ini, kamu mabuk ya!" Hamzah mendorong tubuh Sarah dengan kasar hingga tubuh Sarah terjerembab.


"Aaawww", Sarah menjerit.


"Hai, loe kasar banget sih", Sarah berusaha bangun dan membersihkan pakaiannya yang kotor .


Tapi ia kembali menjerit, saat kakinya terasa sakit saat diinjakkan. "Aaaww , tolongin dong, kok malah diam saja, ini juga gara-gara kamu!", teriak Sarah.


Hamzah melihat sekitar, tak ada siapa-siapa selain dirinya. Dengan terpaksa ia menghampiri Sarah dan memapahnya .


Sarah makin berani saja, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hamzah. Dia merengek minta dibawa ke klinik.


Dan tanpa Hamzah ketahui, di balik tembok sana ada seseorang yang mengabadikan kejadian tadi dengan kamera hand phone nya.


Sarah berlalu sambil mengacungkan ibu jarinya yang bersembunyi di balik punggung Hamzah.

__ADS_1


Sepertinya Hamzah sudah masuk ke dalam perangkap jahat Sarah.


.


__ADS_2