Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Inilah Takdirku


__ADS_3

"Astaghfirullah,Bu Rahmi", Andi menghampiri.


"Sini ,sayang , gendong sama Ibu, Ibu kangen, Ibu kesepian", Celoteh Bu Rahmi dengan mata yang masih terpejam, ia mengadahkan tangan ke arah Hamzah yang sedang menggendong Hazel.


Andi mencoba memegang tangan Bu Rahmi, "Bu sadar, Istighfar. Bi, tolong saya, pegangi Bu Rahmi!", pinta Andi, lalu dia membacakan ayat-ayat al-Qur'an di depan Bu Rahmi.


Mata Bu Rahmi tampak terbeliak melihat tidak suka kepada Andi. "Sarah, pulanglah!, kasihan Mami kamu, kasihan Hazel, pulanglah ke tempatmu!, yang tenang di sana. Di sini kami juga akan selalu mendo'akanmu",Andi mencoba memegang tangan Bu Rahmi.


Terdengar isakan dari Bu Rahmi, "Aku belum minta maaf kepada Wila, tolong, mintakan maaf untukku kepada Wila", suara Bu Rahmi terdengar serak dan parau.


"Jadi ini itu siapa?", tanya Bi Marni memberanikan diri.


"Emh...hi....hi......hi....hi......, Bi...Bibi..., hiks...hiks...hiks.....", Bu Rahmi tertawa , lalu menangis, dengan mata tetap terpejam dan kepala geleng-geleng, bikin merinding yang mendengar dan yang melihat.


Sementara Hazel masih terus menangis. Hamzah pun tak lepas membacakan ayat-ayat Al-Qur'an.


"Sarah, aku tahu itu kamu, aku akan memintakan maaf untukmu kepada Wila, sekarang pulanglah!, lihat !, kasihan Hazel, kasihan Mami kamu", Hamzah memandang tajam Bu Rahmi yang sedang kerasukan Sarah.


"Bi, sini!, tolong pegang dulu Hazel", pinta Hamzah, Bi Marni mendekat dan mengambil Hazel.


"Astaghfirullah , Non Sarah", isak Bi Marni. Ia merasa sedih melihatnya.


Hamzah duduk disamping kanan Bu Rahmi, dan Andi ada di samping kirinya. Mereka sedang berusaha menyadarkan Bu Rahmi. Hamzah menjamahi wajah Bu Rahmi dengan tangannya sambil membacakan ayat-ayat Al-Qur'an.


Bu Rahmi tampak lemas, ia terkulai lemas dalam apitan Hamzah dan Andi, lalu setelah beberapa saat, ia pun tersadar.


Matanya mengerjap-ngerjap seperti baru bangun tidur, "Ada apa ini", ia melirik ke kiri dan ke kanannya.


Hamzah dan Andi saling menatap. "Ah, tidak ada apa-apa, tadi Ibu seperti mau pingsan", senyum Andi. Ia mencari alasan.


"Iya, Mami sepertinya kecapean, istirahat di kamar saja ya!, Bi, tolong antar Mami ke kamar, sini, biar Hazel sama saya saja", pinta Hamzah.


"Ba....ba...baik, Tuan", Bi Marni mendekat, ia memberikan Hazel kepada Hamzah, dan memapah Bu Rahmi menuju kamarnya dengan sikap yang masih takut, takut Bu Rahmi seperti tadi lagi.


Hamzah menidurkan Hazel di boks bayi, ia putarkan murotal Al -Qur'an dari ponselnya dan beranjak membuatkan susu untuk Hazel.

__ADS_1


Andi memperhatikannya dengan hati terrenyuh, Hamzah, Kakak angkatnya harus melewati kehidupan rumah tangga yang rumit. Dan kini, setelah Sarah tiada pun, ia harus merawat putri tunggalnya, Haura. Dan di satu sisi, ia pun harus kembali melanjutkan kehidupan rumah tangganya dengan Wila.


Dan sebentar lagi, ia pun akan mulai meniti tangga pernikahan, ia sudah berencana untuk meminang gadis pilihannya, yang masih dirahasiakan identitasnya.


Hamzah sedang menenangkan Haura dengan memberikannya susu dan memperdengarkan murotal Al-Qur'an.


Andi tampak tersenyum begitu membuka ponselnya, sepertinya ada pesan dari seseorang yang istimewa. Ia ketikkan sebuah pesan "Tunggu aku, Inshaa Allah aku akan datang untuk melamarmu setelah wisudamu!",


Andi masih saling balas chat, dengan terus senyam senyum sendiri. Hamzah pun memperhatikan itu dengan mengulum senyum, ia tahu kalau saat ini Andi sedang bucin terhadap seseorang.


Bi Marni keluar dari kamar Bu Rahmi, "Bagaimana Bi, Mami sudah tenang?", tanyai Hamzah sembari masih memberi susu kepada Hazel.


"Sudah Tuan, barusan sudah minum teh manis hangat, sudah Bibi pijitin pake minyak angin, sekarang sudah tidur", Jelaskan Bi Marni.


"Tuan, memangnya yang tadi itu Non Sarah ya?" , tanyai Bi Marni sambil mendekat kepada Hamzah. "Bibi masih merinding, kasihan Non Sarah", lirih Bi Marni.


"Bantu do'anya saja ya Bi, biar Sarah tenang di alam sana, dan diampuni segala kesalahannya sewaktu hidup", ucap Hamzah.


"Baik Tuan, akan selalu Bibi do'akan, Non Sarah itu sudah seperti anak Bibi sendiri",


Haura masih terlelap tidur diatas tempat tidur ibunya, sementara Wila sedang melipat pakaian Haura ketika ponselnya berbunyi.


"Assalamu'alaikum, Wil, Alhamdulillah, aku senang sekali", Wila terdiam begitu ia angkat ponselnya, yang menelepon langsung nyerocos,


"Wa..wa..'alaikum salam, La, ada apa?, kedengarannya senang sekali", senyum Wila.


"Alhamdulillah Wil, dia tadi bilang mau melamar aku",


"Alhamdulillah, Tabarakallah La, kapan?, eh...siapa dulu nih yang mau melamarnya?, masa masih dirahasiakan sih", kekeh Wila.


"Nanti saja, nanti juga akan tahu sendiri", kekeh Lela.


"Aduh, sepertinya istimewa sekali, sampai disembunyikan terus, tapi dia itu orang baik kan?, kalian sudah lama saling kenal?",


"Emm..., ya begitulah, dia orangnya sangat baik", puji Lela.

__ADS_1


"Ya jelas lah, orang kalau lagi bucin, pasti segalanya terlihat indah dan baik, iya kan?, hati-hati loh, jangan sampai dibutakan oleh dia", kekeh Wila.


"Nggak lah Wil, Inshaa Allah, dia itu orang baik, nanti kalau sudah tahu, pasti kamu juga setuju",


"Iya, aku percaya, pilihanmu tidak akan salah, aku kenal kamu bukan sebentar, kita sudah seperti saudara, malah aku yang sering nginap di rumah kamu", aku Wila.


"Pokoknya, kamu harus datang saat acara lamaranku nanti, awas kalau tidak lho!", ancam Lela, namun diakhiri dengan tawa ringan.


"Iya, akan diusahakan, aku juga penasaran ingin tahu, siapa sih orang yang sudah membuat sahabatku ini meleleh", kekeh Wila.


" Oek...Oek...oek....", Haura terbangun dan menangis.


"La, sebentar ya, Haura bangun, mungkin dia terganggu , aku terlalu ribut", kekeh Wila, ia mendekati Haura, lalu menggendongnya.


"Aduh, Wil, aku juga jadi ingin",


"Ingin apa?",


"Ya ...ingin cepat jadi Ibu lah , nanti anakku mirip siapa ya?,


"Ya, jelas mirip Ayah ibunya, kalau mirip tetangga, bisa ribut sekelurahan", tawa Wila.


"Oek...oek...oek...., Haura menangis lagi, kini lebih kencang , rupanya ia terkejut mendengar tawa ibunya."


"Aduh, Ya Allah , maafkan Ibu Nak!" Wila langsung memberinya asi, obat ampuh bagi Haura, setiap nangis, kalau diberikan asi, bisa langsung diam.


"Aduh maaf De, si ibunya digangguin terus ya?Wila aku pamit , maaf telah merepotkan, awas ditunggu lho, pokoknya kamu harus datang!" ancam Lela sambil kembali tertawa .


"Iya, Inshaa Allah, mudah-mudahan ayahnya Haura cepat pulang, jadi kita bisa hadir di harimu", senyum Wila.


"Aamiin...Aamiin, ya sudah ya, Assalamu'alaikum",


"Wa'alaikumsalam", Wila menaruh kembali ponselnya, ia kembali fokus pada Haura, yang kini sudah kembali tenang dan terlihat kembali tertidur dalam pangkuan ibunya.


'Semoga orang yang melamarmu, laki-laki baik seperti ayahnya Haura, atau seperti Andi', pikir Wila.

__ADS_1


__ADS_2