Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Aku Ikut Pulang


__ADS_3

Setelah sarapan, Hamzah langsung memanaskan mobil, kali ini dua mobil, yang satunya dibawa oleh Andi. Semua barang yang akan dibawa sudah siap di tata di bagasi.


Bu Rahmi dan Haura satu mobil dengan Hamzah, sedangkan Bi Marni satu mobil dengan Andi. Bu Rahmi memberitahu Pak Satpam bahwa akan ada teman Bu Rahmi yang datang nanti sore, sekalian beliau menitipkan kunci kepadanya.


"Kita mampir dulu ke makam Sarah ya!", pinta Bu Rahmi sebelum kedua mobil itu keluar dari pekarangan Villa.


"Baik Mih ", jawab Hamzah singkat.


Hamzah sempat melihat Hazel yang terlelap di dalam keranjang bayinya. Hazel tampak begitu lucu, makin besar ia tampak makin berbeda dengan Sarah, ia mewarisi hampir semua bentuk fisik Ayah bioligisnya , bahkan kini rambutnya yang mulai tumbuh, terlihat keriting.


Dua mobil beriringan meninggalkan Villa, setelah beberapa saat, berhenti di depan sebuah Pemakaman.


Bu Rahmi turun paling dulu , ia membawa sebuah bucket bunga mawar merah , kesukaan Sarah sewaktu hidupnya.


Hazel digendong oleh Hamzah, mereka berjalan beriringan. Bu Rahmi tampak tegar, ia berjalan paling depan, dan sampailah mereka di depan sebuah makam yang tanahnya dipenuhi bunga warna-warni.


Bu Rahmi meletakkan bucket bunga didepab nisan. Ia tersenyum, seolah sedang berhadapan dengan Sarah.


Setelah itu mereksa tampak memanjatkan do'a, sudah tidak ada lagi air mana yang tertumpah, semua, terutama Bu Rahmi sudah mengikhlaskan kepergian putrinya.


"Sayang, Ibu akan kembali ke rumah kita dulu, Hazel juga Ibu bawa, biar dia bisa bersama ayahnya, Hamzah", Bu Rahmi berbicara seolah Sarah masih ada, dia mengusap nisan Sarah.


"Ibu akan sering ke sini untuk mengunjungimu".


Bu Rahmi mengelus makam Sarah. setelah itu ia bangkit dan melangkah pergi diikuti yang lainnya.


Setelah semua kembali ke mobil, perjalanan pun kembali dilanjutkan. Kedua mobil melesat menuju rumah Bu Rahmi. Sesekali Hamzah melihat melalui kaca spion di depannya, Bu Rahmi tampak sedang bercanda dengan Hazel yang terbangun.


Tampak keceriaan diwajahnya. Hazel benar-benar sudah mengisi kembali ruang hatinya yang kosong pasca ditinggalkan Sarah.


"Tiiit...tiiit..., terdengar bunyi klakson, ada sebuah mobil yang hampir terserempet oleh mobil Hamzah. Seketika Hamzah menginjak rem.


"Astaghfirullah, ada apa ?", kaget Bu Rahmi, ia segera memegangi keranjang bayi Hazel.


"Maaf Mih", sesal Hamzah. Ia kembali fokus mengendarai mobilnya.


"Kalau capek, di depan ada rest area, kita rehat dulu saja, ini Haura juga perlu istirahat, sudah mulai rewel", saran Bu Rahmi.


"Baik Mih", Hamzah segera membelokkan mobilnya ke rest area yang ada didepannya. Mobil Andi pun mengikuti.

__ADS_1


Disana mereka istirahat, sekalian shalat dzuhur.


*****


Wila sedang mengganti popok Haura saat ponselnya berbunyi, "Lela? Wa'alaikumsalam, tumben La ada apa? ",


"Aku kangen, tapi sekarang kamu jauh, jadi susah ketemunya, saat wisuda nanti, kamu ikut kan? ",


"Emh..., nggak tahu, lihat situasi aja , Haura juga masih kecil, nanti rewel di sana malu",


"Haura?, tunggu, jangan bilang kalau Haura itu anak kamu",


"Sayangnya iya, Haura itu anak aku", senyum Wila


"Allahu Akbar Wil, jadi tambah kangen nih, ingin melihat gadis kecilmu, pasti dia lucu dan cantik seperti ibunya".


"Di sini aja ngobrolnya? Ada apa? Penting ya?",desak Wila


"Sebebarnya aku ingin minta pendapat kamu, aku akan dilamar", aku Lela.


"Alhamdulillah, siapa orangnya?", sumringah Wila.


"Iihh...pelit, siapa sih?, tapi dia baik kan orangnya?",


"Emm..., baik",


"Ah..., bikin penasaran saja, tapi aku yakin kok, kamu kan orangnya baik, jadi akan dijodohkan dengan orang yang baik juga, Oh, iya..., kapan acara lamarannya?,


"Inshaa Allah seminggu lagi",


"Alhamdulillah, tapi maaf ya jika pas harinya aku tidak bisa datang, soalnya ayah Haura masih belum pulang",


"Oh iya, nggak apa-apa, aku minta do'anya saja".


"Kalau itu mah, tanpa diminta pun aku akan mendo'akanmu La",


"Terima kasih, maafkan aku yang sempat bersikap buruk padamu",


"Sudahlah jangan di ungkit lagi, semua itu sudah berlalu, aku juga sudah melupakannya".

__ADS_1


"Terima kasih, Wila, aku tutup dulu teleponnya , biasa mau menjemput adik dulu ke pengajian, sudah ya, Assalamu'alaikum",


"Wa'alaikumsalam", Wila kembali menaruh ponselnya di atas nakas, dan ia tersenyum, saat melihat Haura yang kembali tertidur, selama menerima telepon dari Lela tadi, Wila menepuk-nepuk punggung Haura yang tidurnya miring, eh..mungkin karena nyaman, Haura pun akhirnya tertidur kembali.


******


Tidak terasa setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya Hamzah sampai juga ke depan pintu gerbang rumah Bu Rahmi.


Penjaga rumah yang mengenali mobil Hamzah, segera membukakan pintu gerbang. Ia tersenyum rengkuh saat melihat Bu Rahmi .


Kedua mobil pun memasuki pekarangan rumah. Tak ada yang berbeda, suasananya masih sama dengan saat ditinggalkan dulu, tanaman buah-buahan lagi berbuah dan tanaman hias pun lagi berbunga.


Sejenak Bu Rahmi masih diam di dalam mobil, sepertinya dia lagi menyiapkan mental , tidak mudah memang, tidak hanya di Villa, di rumah ini juga banyak kenangan yang tersimpan bersama Sarah, apalagi ini adalah rumah masa kecilnya Sarah.


"Hah", Bu Rahmi mengembuskan nafasnya , ia ingin menghempaskan semua beban perasaan di hatinya.


Hamzah membukakan bagasi dan pintu untuk Bu Rahmi. Bi Marni dan Penjaga rumah sibuk memindahkan barang-barang bawaan dari mobil ke dakam rumah, Andi pun ikut membantu.


"Biar saya saja Bu", Hamzah lebih dulu menggendong Hazel yang masih terlelap tidur. Bu Rahmi turun dari mobil hanya membawa tas selempangnya saja.


Baru beberapa langkah , Hazel menangis tanpa sebab, ia masih berada di dalam pangkuan Hamzah. Ya Allah, kenapa Nak?, haus ya ?", Hamzah segera membawanya ke dalam, Bi Marni yang melihat itu , segera membuatkan susu untuk Hazel.


"Ini Tuan, mungkin Hazel lapar", Bi Marni memberikan botol susu kepada Hamzah. Tapi Hazel tetap menangis, bahkan ia menolak saat diberikan susu, dan terus menangis.


"Mungkin dia pups Tuan, sini Bibi ganti popoknya dulu", Bi Marni mengulurkan tangan untuk mengambil Hazel dari pangkuan Hamzah dan membawanya ke kamar.


Bukannya diam, Hazel malah menangis makin menjadi, Bi Marni setelah mengganti popoknya kembali membawa Hazel ke luar.


"Tuan, Nyonya, ini Dedenya kenapa nangis terus, Bibi sudah ganti popoknya, dikasih susu juga tidak mau",


"Sini Bi, sama saya saja", Bu Rahmi yang sedang duduk di kursi mengulurkan tangannya, tapi saat Bi Marni menghampiri, ada yang aneh, mata Bu Rahmi terpejam, dan sekelebatan Bi Marni melihat bayangan Sarah di wajah Bu Rahmi.


Sontak Bi Marni kaget, "Tuan, ini ada apa dengan Nyonya?" , teriak Bi Marni.


Hamzah dan Andi yang membantu memindahkan barang-barang, sama kagetnya. Mereka segera msnghambur ke dalam.


"Ada apa Bi?", tanyai Andi.


Hamzah segera mengambil Hazel dari pangkuan Bi Rahmi, ia masih tetap menangis.

__ADS_1


"I...itu...Nyonya Tuan", Bi Marni menunjuk ke arah Bu Rahmi.


__ADS_2