Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Kamu adalah Kunci Bahagiaku


__ADS_3

Susi tidak peduli dengan berbagai hal yang membuat dirinya bingung, sikap Joko , sikap Sarah, sungguh membuatnya oleng.


Tapi yang terpenting saat ini adalah ia bisa memanjakan diri dengan semua makanan yang di pesan Sarah, Gratis pula.


Tiba-tiba hand phone Sarah berbunyi, Sarah lihat di layar, "Ya, ampun mamih", cepat-cepat ia mengangkatnya dan langsung curhat sama maminya.


Ia katakan kalau saat ini ia lagi bete, lagi bosan, lagi jenuh dengan semua rutinitas di Kampus. Sarah berbicara manja, tak ubahnya seperti anak kecil.


Sesekali ia merajuk pingin dibeliin ini itu sama maminya.


Susi yang lagi menikmati makanannya sesekali melirik, dan mencibir dalam hati, 'Dasar manja, segala diadukan'.


"Oke Mih, jangan lupa transfer ya, bye", Sarah menutup pembicaraannya. Ia kembali tampak hapy, cengar cengir tak karuan.


'Iihh..., lama - lama bikin illfeel ', Susi membatin.


*


*


*


Setelah kelas bubar, Wila berniat untuk bicara dengan Mita. Ia tidak betah lama-lama saling diam, ia ingin menghangatkan kembali persahabatannya yang kian hambar.


Wila mengajak dua temannya itu ke rumah Yeni, untuk masak bersama, siapa tahu hal itu bisa memperbaiki jalinan persahabatan di antara mereka bertiga.


Alhamdulillah mereka bersedia, dan hal itu membuat Wila lega. Diam-diam Wila kirim pesan ke Hamzah. Ia memberitahu bahwa ia akan pulang duluan bersama kedua sahabatnya.


"Ping", Hamzah membalas,"Iya, hati-hati", singkat saja balasannya.


Akhirnya mereka bertiga meninggalkan Kampus, menuju rumah Yeni.


Di jalan tak lupa Wila mampir ke warung membeli keperluan untuk memasak.


Sesampainya di rumah, mereka langsung menuju dapur. Suasana tampak berbeda karena telah beberapa hari rumah itu tak berpenghuni.


"Bi Yeni masih belum sembuh?" tanyai Lela


"Iya,tinggal pemulihan saja, semoga besok bisa kembali ke rumah",


Wila berusaha membuat suasana kembali mencair, sambil memasak sesekali diselipi oleh candaan ringan.


Dan akhirnya momen masak bersama itu berhasil mencairkan hati Mita . Ia mulai bisa tertawa dan bercanda lagi.

__ADS_1


Apalagi setelah Wila mengajak serta kedua sahabatnya itu untuk ikut mengajar anak-anak di Madrasah.


Lela begitu antusias dengan ajakan Wila, tapi ia tidak mempunyai banyak waktu luang, secara di rumahnya ada enam adiknya yang harus ia jaga.


Sementara Mita, ia tidak pede karena merasa pengetahuan agamanya masih dangkal, lagian ia juga harus membantu ibunya menjaga toko.


"Ping", hand phone Wila berbunyi, ada sebaris pesan dari Hsmzah," Mau dijemput ke rumah, atau langsung ke Madrasah Saja?",


"Langsung aja ke Madrasah", jawaban Wila. Ia tidak ingin Mita kembali salah sangka jika Hamzah menjemputnya ke rumah.


"Oke, jadi gimana, mau ikut ngajar anak-anak gak?" , ajakan Wila kepada dua temannya itu.


"Kayaknya enggak dulu, belum ada persiapan, iya kan La?" Mita balik bertanya kepad Lela.


"Iya, hari ini adik bungsuku lagi demam, mungkin efek imunisasi kemarin", kbari Lela


"Baiklah, kalau begitu aku siap - siap dulu ya !", Wila beranjak ke kamar untuk menyiapkan diri pergi ke Madrasah.


Setelah siap, mereka meninggalkan rumah dan berpisah di gang, Wila ke kiri, menuju Madrasah, sedangkan Lela dan Mita ke kanan, menuju jalan raya.


Mereka berpisah setelah saling salam. Tinggallah Wila, ia masih berdiri memandangi punggung kedua sahabatnya, sampai tak terlihat lagi.


Wila tidak menyadari kalau Hamzah sudah dari tadi menunggunya, hanya saja sedikit sembunyi di balik tembok gapura.


"Kan tadi suruh tunggu di Madrasah", kok masih di sini?"


"Sudah kangen, dari tadi pagi belum ketemu lagi", akui Hamzah .


"Ayo, cepetan naik!"


Wila segera naik dan motor Hamzah melaju menuju Madrasah. 'Ya Allah, harusnya gak boleh begini,' hati Wila berbicara. Ia tak mampu menahan benih -benih rasa cinta yang makin tumbuh liar.


Wila sudah berusaha untuk menahan dan memendam rasa yang makin tumbuh liar itu, namun pertahanannya runtuh juga.


Ia selalu berdo'a agar rasa yang ada diantara dirinya dan Hamzah, bisa memberinya kebahagiaan .


Bu Dati sepertinya sudah bisa membaca , kebersamaan antara Wila dan Hamzah sudah disertai rasa. Rasa saling menyayangi.


Seperti biasa , setelah selesai mengajar di Madrasah, Hamzah memesan makanan, kali ini tiga porsi, yang satunya lagi untuk Yeni.


"Tumben gak makan di sini?" tanya Bu Dati sedikit heran. "Iya Bu, nanti saja mau langsung ke Klinik, takut keburu hujan", jawab Wila sambil tersenyum.


"Oohh, memangnya siapa yang sakit?"

__ADS_1


"Bibi lagi sakit Bu, sudah beberapa hari di rawat ", jelas Wila.


"Semoga lekas sembuh ya Neng, bibinya",


"Iya, terima kasih Bu, kalau begitu kami pulang, takut keburu hujan", pamit Wila.


"Mangga Neng, hati-hati di jalan, jangan ngebut Den!"


"Iya Bu, Assalamu'alaikum",


"Wa'alaikumsalam...."


Motor Hamzah melaju menuju Klinik. Ia membawanya pelan sekali. Wila heran, "Kok pelan sekali, ada apa?" tanya Wila.


"Nggak apa-apa, biar agak lamaan dikit dijalannya", jawab Hamzah sedikit nakal.


"Iiihh..., modus ", Wila tersenyum , rasanya bahagia bisa bersama Hamzah. Satu demi satu kesulitan yang ia hadapi bisa terselesaikan, hubungannya dengan Mita pun sudah kembali baik.


'Semoga saja Bi Yeni pun cepat pulih dan bisa kembali pulang', Wila membatin.


Tidak terasa motor pun sudah memasuki halaman Klinik. Wila segera masuk dan menuju ruangan Bi Yeni.


Alhamdulillah, Yeni sudah tampak lebih segar. Ia sedang berbincang dengan seorang Perawat.


"Assalamu'alaikum", Wila datang dengan senyuman merekah, ia begitu senang melihat Yeni sudah banyak perubahan. Ia sudah bisa berbicara merespon sekitar dan sorot matanya kembali bersinar.


"Wa'alaikumsalam", Yeni menjawab dan menyunggingkan seutas senyum. "Baru pulang Neng?" tanyanya.


"Iya Bi, ini aku beliin baksonya Bu Dati yang waktu itu aku ceritain, enak lho, mau ya?" , Wila mengambil mangkok dan menuangkan bakso . Ia berniat untuk menyuapi Yeni, tapi di tolak. "Ngak usah Neng, Bibi bisa sendiri",


"Ya udah, ini hati -hati makannya, masih panas!", Wila memberikan mangkok berisi bakso kepada Yeni.


Yeni memakannya dengan lahap. Wila memperhatikannya dengan sendu, hatinya perih melihat Yeni sakit begini, apalagi kalau Bapaknya sampai tahu.


Pasti Caca juga akan ikut sedih melihat adiknya di sia-siakan oleh suaminya.


Tanpa diketahui, Hamzah sudah berdiri disampingnya. Ia bermaksud mengelus kepala Wila, namun keburu ketahuan, Wila melirik ke arahnya.


"Ada apa?


"Nnggak apa-apa, ini tadi ada serangga hinggap di kerudung ", jawab Hamzah sambil tersenyum.


Yeni memperhatikan adegan manis itu dengan senyuman. Ia semakin tenang karena sudah ada orang yang akan melindungi Wila selain dirinya.

__ADS_1


'Semoga ia pemuda yang baik, yang bersedia menerima Wila apa adanya', hati Yeni bicara.


__ADS_2