Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Selalu gelisah, Ingin Taubat


__ADS_3

"Tidak , jangan, tolong, ampun, maafkan aku, maafkan kami, Hiks...hiks...hiks....", Wila berteriak dan menangis.


Hal itu membangunkan Bi Yeni yang sedang tidur di sebelahnya. Segera ia memburu sumber suara sambil mengucek kedua matanya , ia melihat Wila menepis-nepiskan tangan ke segala arah, sambil mulutnya menceracau tidak jelas.


Yeni segera menghampirinya, ia tepuk-tepuk kedua pipi Wila, "Wil...Wila, bangun, kenapa? , bangun Neng Istighfar!", Yeni berusaha menyadarkan Wila.


Wila terperanjat, nafasnya turun naik, keringat membasahi dahinya,"Ya Allah, Astaghfirullah", Wila terengah- engah.


Yeni memeluk Wila , "Tenang Neng, Astaghfirullah, ayo ikuti!", Yeni membimbing Wila beristighfar sambil mengusap -ngusap punggung Wila lembut.


Untuk beberapa saat Wila terdiam, ia seakan sedang mengembalikan kesadarannya.


"Kamu mimpi buruk Neng?", Yeni mulai bertanya setelah Wila mulai tenang.


Wila mengangguk, ia terisak. "Mimpi apa?", Yeni penasaran.


"Bi, Wila takut, dalam mimpi, Wila melihat ada seorang wanita yang dilempari batu ramai-ramai, wanita itu menjerit, minta ampun, minta tolong, tapi tak seorang pun yang peduli, dan Bibi tahu siapa yang dilempari batu itu?, itu Wila Bi, Wila melihat Wila yang dilempari batu itu..", Wila terisak.


"Astaghfirullah", Yeni lembali mengusap lembut punggung Wila.


"Neng bacakan dulu do'a mimpi buruk, sudah hafal kan?"


Wila mengangguk lalu melafalkan do'a mimpi buruk. "Bismillahirrohmaanirrohiim, Allahumma inni a'Zubika min amalissyaithoni wasayyiati ahlam",


"Ya Allah aku berlindung kepadamu dari perbuatan syaitan dan buruknya mimpi, Aamiin".


"Makanya kalau mau tidur itu jangan langsung plek aja, Bibi lihat Neng ketiduran di sini, sampai nggak tega ngebangunin, jadi Bibi ikut-ikutan tudur di sini", senyum Yeni.


"Gimana, sudah tenang kan ?", besok-besok kalau mau tidur jangan lupa baca do'a dulu, sebaiknya berwudhu dulu, atau bisa juga membaca surat-surat pendek, seperti, surat Al-ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dan ayat kursi, biar kita dijauhkan dari perbuatan syaithon",

__ADS_1


"Iya Bi, tapi ini sering terjadi karena Wila selalu merasa ada kecemasan yang berlebih setelah Wila mengandung, Wila merasa sangat berdosa Bi",


"Neng, tidak ada orang yang tidak berbuat dosa, tetapi sebaiknya ya kalau sudah terlanjur berbuat dosa, segeralah bertobat",


"Taubatan Nasuha, taubat yang bersungguh-sungguh, Bibi pernah dengar, syarat taubat itu ada tiga, pertama, berhenti dari maksiat tersebut, kedua, menyesali kesalahan tersebut, dan ketiga, berjanji tidak akan mengulanginya lagi, itu semua kan sudah Neng lakukan",


"Tapi dosa Wila ini termasuk dosa besar Bi, di mimpi Wila tadi seperti melihat Wila yang sedang dirajam ", Hiks...., Wila menangis lagi.


"Neng, Allah itu Maha Pengampun, tidak ada dosa yang tidak diampuni, asal kita benar-benar bertaubat", Yeni kembali mengelus punggung Wila yang kini terisak.


"Bibi pernah dengar, ada cara bertaubat dari dosa Zina dalamm Islam, pertama shalat taubat, kedua, memperbanyak Dzikir dan Istighfar pada Allah SWT, ketiga, puasa, terutama puasa sunah Arafah dan Asy-Syura, dan yang keempat membaca Al-Qur'an, membaca Al-Qur'an ini dapat membantu menjernihkan hati, dapat mendatangkan ketenangan jiwa dan menghapuskan dosa-dosa",jelaskan Bi Yeni.


"Ayo, mulai dari sekarang, Neng ambil wudhu, dan shalat taubat, terus lakukan amalan-amalan tadi!, mumpung masih ada waktu" , Yeni melirik jam yang baru menunjukkan pukul 02.45.


"Jangan banyak pikiran Neng, kasihan yang ada di rahimmu, yakin saja, Allah Maha Pengampun",


"Terima kasih Bi, Wila ke kamar dulu", pamit Wila.


Yeni tatap punggung Wila, ia seperti melihat bayangan dirinya dulu saat ia terbujuk oleh Dirja, hingga melakukan hal yang dilarang , sampai ia pun mengandung anak Dirja, namun ia mengikuti anjuran Dirja untuk meluruhkannya. Dan kini, Yeni sangat menyesal, karena kejadian itu, selama pernikahannya dengan Dirja, ia susah untuk mengandung lagi.


Yeni selalu berfikir kalau ini adalah hukuman dari Allah untuk dirinya, karena disaat ia akan dititipkan amanah, malah menghancurkannya. Hakikat anak itu Fitrah, apapun awal kejadiannya, yang salah, yang berdosa itu adalah orang tuanya.


Walau kejadian itu sudah berlalu beberapa tahun , tapi Yeni selalu merasa sangat menyesal jika mengingatnya. Dan sebenarnya Yeni pun sampai saat ini masih berusaha untuk bertaubat. Ia masih melakukan amalan-amalan yang tadi ia bicarakan kepada Wila.


Di dalam kamar, Wila melakukan anjuran dari Bi Yeni, ia shalat sunat taubat. Sepanjang shalat, air matanya terus berderai, Wila merasa malu karena sudah terjerumus melakukan dosa besar.


Wila berdzikir , ia mengucap Subhanallah, Alhamdulillah, Laa illaha illallah, Allahu Akbar, kalimat itu ia baca berulang-ulang, hatinya kembali bergetar, air matanya kembali menetes mengiringi setiap ucapan dzikirnya.


Dan diakhir dzikirnya Wila beristighfar terus-menerus, ia berulang-ulang membaca istighfar, ia memohon ampun atas dosa yang telah dilakukannya.

__ADS_1


Sepeninggal Wila, Yeni pun bergegas menuju kamarnya . Ia pun mengambil wudhu dan melaksanakan shalat sunat tahajud, berdzikir, dan membaca Al-Qur'an . Hal ini sudah rutin ia lakukan, apalagi setelah Dirja meninggalkannya.


Dengan shalat, berdzikir dan memperbanyak membaca Al-Qur'an, membuat Yeni merasa tenang, ia bisa sembuh dari depresi yang dulu menimpanya.


Hal ini tak lepas dari anjuran Wila, sepulang dari Klinik dulu, Yeni sering hadir di pengajian di sekitar tempat tinggalnya, dan saat itu Yeni mendapat bimbingan dari seorang Ustadzah muda, Ustadzah Gina namanya.


Setelah selesai, Yeni beranjak ke dapur, dari tadi ia mendengar suara alat masak yang sedang digunakan. Benar saja, di sana Wila tampak sedang membuat nasi goreng.


"Kamu sudah lapar Neng?, sudah menggoreng nasi?", senyum Yeni.


"Wila mau puasa Bi",


Yeni terkejut dan menghampiri Wila, "Ya Allah Neng, jangan puasa dulu, Bibi khawatir dengan kandunganmu, lakukan saja apa Yang Neng mampu, jangan memaksakan untuk puasa", jelas Yeni.


Wila menghentika kegiatannya. "Lanjutkan saja, buat itu untuk sarapan saja, jangan untuk sahur ya", lanjut Yeni.


Wila mengangguk. Ia melanjutkan memasak dan menaruh nasi goreng buatannya di atas dua piring. Satu untuknya dan satu lagi untuk Yeni.


"Bi, mau ikut sarapan?", Wila memberikan salah satu piring kepada Yeni yang lagi bersiap untuk membuat aneka gorengan.


Yeni menerimanya dengan tersenyum, ia juga merasa lapar , tergoda dengan aroma harum yang dikeluarkan dari nasi goreng yang di buat Wila.


"Sekarang, Neng jangan banyak pikiran, selesaikan dulu kuliahnya, kalau ada apa-apa bicarakan langsung sama Bibi".


Wila mengangguk. "Bi, Bu Rida sudah mengetahui kehamilan Wila", ucap Wila , menghentikan makannya.


"Wila takut Bi",


Yeni melirik, " Nggak usah takut, kalau mereka bertanya?, jawablah dengan jujur, Neng sudah punya buku nikah, katakan saja kalau Neng sudah menikah".

__ADS_1


Wila mengangguk.


__ADS_2