Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Bimbang


__ADS_3

Wila yang kaget berusaha mengendalikan rasa kagetnya. "Iya, ada kegiatan di Madrasah, kebetulan Kak Hamzah juga DKM di Masjid ini, jadi kita bisa ketemu."Jawab Wila.


Ia tahu pasti Mita akan marah.Tapi kenapa harus marah? , Mita tidak punya hubungan apa apa dengan Hamzah, hanya saja Wila tahu kalau Mita menyukai Hamzah.


Jelas terlihat kekesalan Mita melihat Wila bersama Hamzah. "Jadi, yang semalam aku vidio call juga bener ya kalian?".


Wila hanya diam saja, tidak tahu harus menjelaskan apa kepada Mita, ia tidak ingin dirinya ribut dengan Wila di depan Hamzah. Untung saja Lela datang tepat waktu.


"Sudah mau malam, kita pulang saja!". Ajaknya kepada Mita. "Kalau begitu, aku pulang dulu ya Kak." Pamit Wila kepada Hamzah.


Mereka bertiga pergi meninggalkan Hamzah yang terlihat bingung melihat perdebatan mereka. Sepanjang gang Mita diam saja dengan wajah yang cemberut.


"Kamu itu kenapa ? Sudah tahu aku tuh suka sama Kak Hamzah, malah ngedeketin dia lagi."


Wila menjelaskan, "Aku itu ditawarin mengajar anak anak mengaji di Madrasah, dan Kak Hamzah itu DKM di Masjid, ya otomatis ketemu tiap hari." Alah, alasan !". Mita masih saja kesal.


"Sudah, ga enak tahu, ribut di jalan!" Kata Lela. Merasa tidak enak saat diperhatikan orang orang di jalan.


"Seperti anak kecil saja, gimana kalau Kak Hamzah sudah punya pilihan hati sendiri, buang waktu saja!" Kata Lela.


Wila memilih diam, walau ceracau Mita banyak yang menusuk hatinya. Dari awal juga sengaja ia tidak berterus terang, dan akhirnya sesuatu yang ditakutkan pun terjadi.


Mita mempercepat langkahnya seakan tidak mau berjalan bersama Wila. Bahkan saat melintasi rumah Wila pun, ia tidak menengok dua temannya.


"Aku langsung pulang!, nanti saja kita bicarakan lagi!" Pamit Lela sambil agak berlari mengejar Mita yang sudah ada di ujung gang.


"Mita, tunggu!". Teriak Lela. Akhirnya Lela bisa mengejar Mita. "Cepat banget jalannya!" Lela berhasil meraih tangan Mita.


"Boleh kesal, tapi jangan keterusan marahnya!, belum tentu ada apa apa antara Wila dan Kak Hamzah". Lela berusaha menenangkan Mita.

__ADS_1


"Cobalah berfikir dewasa!". Mita menyetop angkot dan mereka pun naik. Di dalam angkot keduanya diam, ga enak kalau harus membahas masalah tadi , pasti akan di dengar oleh penumpang lainnya.


Di persimpangan mereka turun dan berpisah karena rumahnya berbeda arah."Sampai jumpa besok ya, ingat jangan keterusan marahnya!" Kata Lela sambil tersenyum.


***


sesampai di rumah, Wila langsung membersihkan diri, berwudhu, dan masuk kamar. "Kenapa Bi Yeni belum pulang juga? Katanya hari ini mau pulang." Saat mau terlelap terdengar ada yang mengetuk pintu.


"Ya, tunggu sebentar!" Katanya terburu buru menuju pintu. Ia cek dulu di balik gorden, mengintip siapa yang ada di luar.


"Alhamdulillah, sudah pulang Bi?" Katanya sambil membukakan pintu. "Iya, tolong bawakan tasnya!" Bibi capek ingin cepat cepat istirahat, tadi jalanan macet." Katanya .


"Iya Bi".Wila membawakan semua tas Bi Yeni. Sementara Yeni langsung masuk kamar. Wila duduk sambil nonton TV menunggu Bi Yeni, tapi yang di tunggu ga keluar keluar dari kamarnya.


"Mungkin kecapean, jadi Bibi langsung tidur kayaknya." Pikir Wila." Ga kerasa tinggal sehari lagi di rumah, lusa mulai ke Kampus lagi." Wila bicara sendiri.


"Aduh, rasanya malu harus ketemu teman teman, di tambah lagi Mita lagi ngambek, rasanya malas pergi ke Kampus."


" Laki laki itu perhatian juga. Tiba tiba phone cell nya berdering, ada panggilan masuk. Dilihatnya di layar ternyata nomer yang sering miss call di malam hari.


Ia angkat dan sepergi biasa diam, kali ini si penelepon yang mulai bicara. "Assalamu'alaikum." Katanya.


Rasanya suara ini ga asing, pikirnya. "Wa'alaikumsalam." Besok di harap datang ke Kampus, Kami sudah menemukan bukti baru mengenai kasus pengempesan ban motor di Parkiran kemarin."


"Alhammdulillah, semoga ada kabar baik buat saya." Kata Wila penuh harap. " Iya, besok datang jam 09.00 langsung ke ruang Senat saja!". Katanya lagi .


Setelah itu terdengar panggilan di tutup. "Suara tadi sepertinya tidak asing, suara siapa?". Wila merenung mengingat ingat.


"Kak Hamzah! Itu suara Kak Hamzah, jadi yang selama ini sering miss call malam malam itu Kak Hamzah?".

__ADS_1


Ada segurat senyum bahagia tersungging di bibirnya. Baru beberapa minggu kenal saja Wila sudah menyimpan rasa suka kepada Hamzah.


Apalagi dengan seringnya bertemu dan bersama di Madrasah, rasa itu makin subur saja tumbuh di hatinya.


Tapi bagaimana dengan Mita? Baru melihat bersama saja sudah marah, apalagi kalau sampai tahu Ia menyimpan rasa yang sama kepada Hamzah.


Sampai beberapa jam , Yeni masih belum keluar kamar. Wila merasa sedikit khawatir, tadinya Ia ingin mengajak Bibinya itu makan bersama.


Akhirnya Wila beranjak menuju kamarnya setelah terlebih dahulu mengunci pintu dan mematikan televisi.


Saat melintas di kamar Yeni , Ia berdiri mematung, sepertinya terdengar suara orang menangis . Ia dekatkan telinganya di daun pintu kamar, makin jelas terdengar.


Hatinya bertanya, " Mungkinkah Bi Yeni yang menangis?" Tangannya sudah mau mengetuk pintu, tapi Ia urungkan.


"Biarkan saja dulu, lagi pula Bibi masih capek karena baru pulang. Ia putuskan untuk beristirahat saja karena besok harus ke Kampus.


Ia harus menyiapkan mental baja menghadapi teman temannya, dan untuk menghadapi keputusan terburuk dari kasus yang sedang dihadapinya.


Sebelum tidur, Ia cek Hand Phone, ternyata ada chat masuk dari Andi. Ia juga mengabarkan kalau besok ada pertemuan di ruang Senat , katanya ada bukti baru dari kasus yang dihadapinya.


Orang ini selalu saja ada di saat Ia dalam kesulitan, pikirnya. Hati Wila mulai bimbang. Wila benar benar suka kepada Hamzah, tapi kalau Andi sampai mempunyai rasa kepadanya, Ia tidak tega untuk menolaknya.


Karena selama di kota, Andi lah yang selalu ada di saat saat tersulit dalam hidupnya. Semoga saja kebaikan Andi benar benar tulus.


Namun bagaimana pun juga, Ia merasa banyak berutang budi kepada Andi. Tak terasa akhirnya Ia pun terlelap. Lagi lagi di sepertiga malam, Hand Phone nya berdering, walau cuma miss call, tapi Wila pun mengerti kalau itu suatu alarm baginya untuk bangun dan shalat malam.


Wila bangkit dari tempat tidurnya berniat untuk berwudhu. Setelah shalat tahajud, Ia mencium bau harum dari arah dapur. "Sepertinya Bi Yeni sudah bangun." pikirnya.


Ia bergegas menuju dapur, dan benar saja Bibinya itu sedang memasak. "Pagi sekali sudah masak, Bi?" Katanya sesampai di dapur. "Iya, Bibi mau sahur!" Katanya.

__ADS_1


"Bismillah semoga istiqomah, Bibi ingin membiasakan puasa senin kamis." Katanya. "Alhamdulillah, kalau begitu Wila juga mau ikut Bi!"


__ADS_2