Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Bibi sakit


__ADS_3

Malam ini sepertinya Wila harus tidur di Klinik menemani Yeni. Karena hanya dirinyalah yang selalu Yeni cari disaat tersadar.


Wila sempatkan mengambil beberapa baju ganti untuk dirinya dan untuk Yeni, di antar Hamzah pastinya.


Entah mengapa Wila bisa membuka hati kepada Hamzah. selama di Klinik , Wila menempati ruang Perawat yang bersebelahan dengan ruang perawatan Yeni.


Dengan begitu semakin banyak waktu untuk bisa bersama dengannya. Dan Ia mencari - cari waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya.


Malam itu Yeni terlihat resah, Ia sering bangun tiba - tiba saat sedang tidur dan ceracau bicara. Kadang menangis, kadang marah.


Wila merasa tidak tega melihatnya. Tiba - tiba Yeni bangun dan memukuli badannya sendiri sambil marah.


Yeni bicara seolah sedang memarahi seseorang. "Kamu tega Mas, kenapa kamu sampai hati memilih wanita lain, hanya karena aku belum bisa memberimu keturunan?!" ceracau Yeni.


Wila menghampiri Yeni dan langsung memeluknya. "Sudah Bi, masih ada Wila di sini, Bibi jangan sedih!"


"Dia menghianati Bibi, dia mau menikah lagi hanya karena Bibi belum bisa memberinya anak" , Yeni kembali menangis.


"Sudah Bi, Bibi harus kuat, harus bangkit, masih banyak yang menyayangi Bibii!" Wila kembali menguatkan Yeni


Sekarang Ia mengerti, ternyata Yeni sampai seperti ini karena suaminya menikah lagi.


Wila membimbing Yeni untuk mengambil wudhu dan mengajaknya shalat malam, setelah itu tilawah Al-Qur'an.


Wila tahu , Yeni adalah seorang yang taat beribadah, dan berharap dengan begitu bisa membuat batinnya lebih tenang.


"Bibi harus kuat, mungkin Bibi sudah tidak berjodoh dengannya, masih banyak laki - laki yang lebih baik dari mang Dirja."


Pagi harinya Yeni kelihatan lebih tenang, ia sudah bisa menerima kenyataan kalau suaminya menikah lagi.


Wila faham mengapa Yeni sampai depresi, karena ia sudah memilih mengikuti suaminya ke kota dan meninggalkan keluarganya, tetapi malah dikhianati.


Wila sudah bersiap untuk pergi ke Kampus. Para Perawat sudah berdatangan. Wila pamit kepada Yeni dan segera menuju Kampus dengan naik angkot.


Hari ini adalah hari pertama ia kembali kuliah setelah terbebas dari masalah kemarin. Ia berharap semuanya kembali seperti semula.


Di lorong Kampus ia disambut oleh Lela yang sudah datang lebih dulu. "Alhamdulillah...selamat datang kembali di Kampus" mereka saling berpelukan melepas rindu.

__ADS_1


"Mana Mita, biasanya selalu berdua?" Wila celingukan mencari keberadaan Mita." Katanya hari ga masuk, ada urusan keluarga?! Lela menjelaskan.


Wila merasa agak jengah dengan pandangan Mahasiswa lain terhadap dirinya, namun Ia tidak peduli, yang terpenting pihak Kampus sudah menyatakan Ia tidak bersalah.


Sarah dan Susi seperti biasa, mereka selalu bersikap judes kepada Wila . Apalagi setelah mengetahui kedekatan Wila dengan Hamzah.


'Aku harus kuat, tujuanku satu, kuliah sampai berhasil'. Batin Wila berbicara.


Sampai kelas berakhir dan Ia duduk - duduk di lorong bersama Lela. Hari ini Ia belum melihat kehadiran Hamzah di Kampus.


Entah mengapa, seperti ada yang kurang bila belum bertemu dengannya. Apakah ini yang dinamakan rindu?


Wila mengajak Lela ke kantin, tujuan utamanya bukan untuk makan, tapi untuk mengecek keberadaan sepeda motor Hamzah yang biasa di parkir di belakang.


"Mencari apa sih? Dari tadi ?" Lela merasa bingung dengan tingkah Wila hari ini.


"Nggak apa - apa," Katanya, padahal hatinya tiba - tiba saja resah. Ia pesan segelas jus alpukat untuk sedikit menenangkan perasaannya.


Lela tidak banyak bertanya, Ia tidak mau terlalu ikut campur dengan masalah temannya, apalagi Wila selalu tertutup.


Mereka menikmati pesanannya masing - masing. Wila lebih banyak diam. "Ada apa?" Lela mencoba bertanya dengan hati - hati.


"Katanya sih karena Bibi belum punya anak juga" Wila berbicara panjang lebar. "Kok ada ya, laki - laki yang begitu?!" Lela menerawang.


"Soal anak itu kan bukan urusan manusia, ada yang dikaruniai banyak anak , ada yang tidak , itu haknya Allah," ucap Lela.


"Mudah mudahan aku diberikan jodoh yang bisa menerima aku dengan segala kekurangannku, " ucap Wila sambil tersenyum.


"Aamiin," Lela mengamini.


"Bagaimana sekarang kamu dengan Hamzah?" tiba - tiba saja Lela bertanya yang membuat Wila sedikit kaget.


" Bagaimana? Maksudnya?" Wila pura - pura tidak mengerti. "Progresnya gitu?" Lela tersenyum.


"Ah, biasa saja" jawab Wila singkat.


Wila menjelaskan kalau kedekatannya dengan Hamzah hanya karena mereka sama -sama mengajar mengaji di Madrasah, jadi mereka bisa ketemu tiap hari di sana.

__ADS_1


'Walau tidak menampik jika mulai tumbuh benih - benih cinta dihatinya untuk Hamzah,' Wila berkata dalam hatinya.


Karena dengan seringnya bertemu, Ia jadi lebih mengenal sifatnya yang selama ini sangat baik.


Setelah berbincang sesaat, mereka beranjak keluar dari Kantin. Di lorong, lagi - lagi Sarah dan Susi mencegat mereka.


Apalagi kalau bukan untuk merundung Wila. Sarah langsung menghadang Wila, " Heh, jangan besar kapala ya, mentang - mentang sudah bebas, gak usah banyak tingkah !"


Susi pun ikut mendelik, apalagi setelah mengetahui kedekatan Wila dengan Hamzah. Susi memang sahabat Sarah, tapi Ia pun menyimpan rasa yang sama kepada Hamzah.


"Dasar udik, jangan banyak berharap, bisa kuliah di sini saja sudah untung!" Susi ikut bicara.


Sarah berjalan hampir menubruk Wila," Ayo, buang - buang waktu saja, bicara sama orang bermuka badak!" sambil berlalu menuju kelas.


"Astaghfirullah, ada masalah apa sih itu orang?! Lela mendelik kepada mereka yang sudah hilang di ujung lorong Kampus.


"Sudah, gak usah diladenin, memang sudah bawaan lahir kayaknya begitu!" Wila masih bisa tersenyum.


Di gerbang Kampus mereka berpisah, Lela menyebrangi jalan dan langsung naik angkot setelah melambaikan tangannya kepada Wila sebelum angkot melaju


Sedangkan Wila masih berdiri mematung seperti orang bingung. Rasanya ada yang hilang. 'Kemana ya?' batinnya bicara.


Sampai akhirnya suara klakson memecahkan lamunannya. Ia kaget saat ada sebuah motor matic menghampirinya. Ia tidak mengenali si pengendara yang wajahnya tertutup helm.


Wila mundur beberapa langkah dengan ketakutan. Si pengendara malah sengaja mendekatkan motornya kembali kepada Wila.


"Mau kemana?" terdengar suara si pengendara. 'Suaranya tidak asing', pikirnya. Pelan - pelan Ia geser ke atas kaca helmnya.


Dan....,"Assalamu'alaikum," katanya sambil tersenyum. Ternyata Dia Hammzah. Dengan refleks Wila memukul pundak Hamzah yang ada di depannya


"Iiih...., bikin kaget aja, kok diganti motornya?!"


"Iya, karena motor yang lama sudah ketahuan," katanya sambil tetap tersenyum. Padahal Hamzah sengaja mmengganti motornya agar Wila tidak kesulitan menaikinya.


Hamzah menukar motor sportnya dengan motor matic.


"Ayo naik?!" ajaknya kepada Wila yang masih berdiri. " Kemana?"

__ADS_1


"Ke tempat kemarin yang aku janjikan".


__ADS_2