Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Aku ingin satu satunya


__ADS_3

"Astaghfirullah", Wila bangun dan duduk di atas kasur, ia mengucek-ngucek kedua matanya, lalu memperhatikan dengan seksama, sosok yang ada didepannya.


"Wila ini aku, Hamzah, suamimu", Hamzah kembali meraih kedua tangan Wila.


"Maafkan aku!, aku sudah begitu lama meninggalkanmu, aku telah membiarkanmu melewati semua kesulitan seorang diri"


"Terima kasih..., terima kasih sudah menjaga dzn melahirkan Haura, anak kita", Hamzah menunduk. Ia sudah siap walau Wila akan marah sekalipun .


Wila terdiam, ia merasa mimpi, tertidur karena kelelahan, pas bangun mendakati Hamzah sudah berada di sisinya.


"Aww..., Wila mencubit tangannya, dan terasa sakit.


"Sadar sayang, ini aku", Hamzah menepuk lembut pipi Wila.


Wila kembali mengerjap -ngerjapkan matanya rasanya tidak percaya.


Hamzah mengulum senyum melihat tingkah Wila yang seperti orang linglung.


"Sini", Hamzah menarik kedua lengan Wila, lalu melingkarkannya di pinggangnya.


"Coba rasakan ini asli apa palsu?", senyum Hamzah.


Kemudian dia memeluk Wila, merapatkan tubuhnya ke tubuh Wila, Hamzah mengusap lembut kepala Wila.


"Coba rasakan, apa ini mimpi atau nyata?",


Lalu Hamzah melepaskan pelukannya, ia menatap lekat Wila sampai pandangan mereka pun terkunci. Hamzah kecup pucuk kepala Wila.


"Apa ini belum cukup untuk meyakinkanmu?", Hamzah kembali menatap Wila. Ia dekatkan wajahnya ke wajah Wila, hidung mereka saling beradu, dan saat Hamzah akan mengecup bibirnya, Wila menjauh, Wila melepaskan tangannya dari pinggang Hamzah.


"Kenapa, kamu marah?", tanyai Hamzah. Ia menatap Wila yang kini menunduk.


"Bagaimana dengan Sarah?", suara Wila lirih hampir tidak terdengar.


"Hah", Hamzah membuang nafasnya kasar. "Aku akan mentalaknya", aku Hamzah.


"Kenapa?, apa karena aku?",


"Bukan, sama sekali tidak ada hubungannya denganmu.


"Karena tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami, Sarah hanya menjebakku saja, untuk menutupi aibnya, Sarah sedang mengandung saat aku nikahi, dan dia sendiri tidak tahu ia hamil oleh siapa?",

__ADS_1


"Percaya padaku, selama ini aku tidak pernah menyentuhnya", aku Hamzah.


"Kenapa?, Sarah kan cantik?, laki-laki mana pun akan langsung tergoda saat melihatnya", Wila melengos.


"Kamu cemburu?", senyum Hamzah.


"Kenapa harus cemburu, dia kan sudah dinikahi secara sah, jadi kamu punya hak penuh atas dirinya",


"Aku hanya menginginkan kamu, selamanya, kamu tidak tergantikan sampai kapan pun", Hamzah meraih tangan Wila dan mengecupnya mesra.


Wajah Wila memanas, jantungnya seketika berdebar, debaran yang sama seperti saat pertama.


Hamzah sudah terpancing, matanya kini diliputi gairah, ia hampir memeluk Wila, namun Wila tersenyum sambil meletakkan kedua telapak tangannya di dada Hamzah.


"Tunggu, sabar ya, aku masih dalam masa nifas", Wila berbisik di telinga Hamzah.


Hamzah melengos, ia mengatur ritme nafasnya.


"Iya, aku tahu, lagi pula aku bermaksud ingin mengulang ijab qabul kita, nanti setelah masa nifas selesai, kita ulangi ijsb qabulnya", jelas Hamzah.


"Iya, aku mengerti, tapi sebelumnya Sarah harus dilepaskan dulu, aku tidak ingin menjadi yang pertama atau yang kedua, aku ingin menjadi satu-satunya",


Hamzah menatap Wila, ia tidak menyangka Wila bisa bicara seperti itu, tapi di dalam lubuk hatinya ia merasa senang, karena itu membuktikan dalamnya cinta Wila kepada dirinya.


Di luar terdengar tangis Haura, "Tuh, sepertinya ada yang sudah kangen ", senyum Wila, ia turun dari tempat tidur. Tapi Hamzah kembali meraih tangannya, hingga langkah Wila tertahan. Hamzah kembali memeluknya, "Terima kasih, untuk semuanya", bisik Hamzah


"Di luar ada Mamah sama Papah, mereka juga ingin bertemu dengan cucunya", senyum Hamzah.


Wila dan Hamzah keluar dari kamar, tanpa sadar tangan mereka masih saling bertaut.


"Mah, Pah", Wila menghampiri Ayah dan Ibu mertuanya, ia mencium punggung tangan mereka.


"Bagaimana keadaanmu?, harus banyak istirahat, dan banyak makan juga, supaya cepat pulih", senyum Bu Kalila, ia mengelus punggung Wila yang kini duduk disampingnya.


"Iya, Mah".


"Orang yang habis melahirkan itu, kelihatannya saja sehat, dari luar, tapi di dalam, butuh waktu yang cukup untuk memulihkannya kembali",


"Nih tempat tinggal Haura selama sembilan bulan lebih, tidak akan cepat pulih kalau tidsk dirawat secara benar", timpa Bu Kalila.


"Alhamdulillah Bu, Wila ini prosesnya cepat, sepulang dari wisuda, terasa di jalan, pecah ketuban, langsung mules, beberapa kali kontraksi, langsung lahir", jelas Yati.

__ADS_1


"Iya , maafkan Mamah, Mamah yang meminta Hamzah putar balik ke Jakarta saat akan menemuimu, Mamah panik, saat Papah sakit, tidak ada seorang pun yang bisa Mamah mintai tolong", Bu Kalila kembali mengelus punggung Wila.


"Iya Mah, Wila ngerti, nggak apa-apa, Wila dan Haura sudah selamat",


"Oh iya, Pak, Bu, kemarin Hamzah sempat bicara kepada kami, kalau dia ingin mengulang ijab qabul, bukan begitu Nak?", Pak Zakarya melirik Hamzah.


"Iya Pak, saya juga sudah bicarakan hal ini dengan Wila", aku Hamzah.


"Kenapa harus diulang?, pernikahan kalian sudah sah", Pak Caca keheranan.


"Iya , karena kemarin Hamzah sempat lama meninggalkan Wila karena ada suatu urusan, jadi dia merasa ingin mengulang ijab qabul",


"Nggak apa-apa, rencananya kami akan menggelar acaranya di rumah yatim, sekaligus menyantuni mereka", jelas Pak Zakarya.


Caca melirik istrinya, ia meminta persetujuannya.


"Kalau Ibu sih setuju saja, tidak ada salahnya juga, apalagi sembari menyantuni anak yatim, biar tambah berkah pernikahannya", Yati menatap ,Suaminya.


I


"Ya sudah, kalau begitu, nanti saya kasih tahu lagi, kapan waktunya, setelah urusan Hamzah benar-benar beres" , senyum Pak Zakarya.


Sebenarnya Caca merasa curiga dengan niatan mengulang ijab qabul ini , tapi ia tidak berani menyanggahnya, ia yakin Besannya pasti mempunyai alasan yang kuat .


"Di sini, Bapak dan Ibu nggak usah khawatir, semuanya sudah kami atur, Bapak dan Ibu nggak usah memikirkan apa pun", ucap Bu Kalila .


"Saya mah ikut saja bagaimana baiknya", Yati memandang Wila yang menunduk, ia merasa tidak enak , pasti mereka memikirkan hal jelek 9tent⁵ang dirinya.


Di daerahnya juga pernah ada yang mengulang ijab qabul, karena si perempuan sudah ketahuan hamil saat menikahnya.


"Aduh, sebentar saya siapkan makan dulu, dari tadi keasikan ngobrol", Yati beranjak menuju dapur diikuti Caca.


Mereka menyiapkan makan, walau di hati mereka sama-sama dipenuhi pertanyaan mengenai niatan mengulang ijab qabul Wila dan Hamzah.


Semua hal yang mengganggu pikiran , mereka abaikan. Kehadiran Haura dan kepulangan Hamzah sudah membuat mereka sangat senang.


Di depan terdengar canda tawa, apalagi Andi datang menemui Ayah dan Ibu angkatnya itu. Mereka terdengar saling bercerita, apalagi Andi mengutarakan niatannya untuk melamar gadis pilihannya.


"Bagaimana, kalau langsung dinikahi saja, Ndi, kita sekalian ijab qabulnya bareng Hamzah dan Wila", usul Bu Kalila.


"Aduh, ya jangan attu Bu, Andi kan perdana", senyum Hamzah.

__ADS_1


"Ya sudah kita cari hari baiknya dulu", Pak Zakarya menatap kedua anaknya.


__ADS_2