
Hari ini semua sudah siap mengantar Andi wisuda, ada dua mobil yang akan meluncur menuju Kampus, satu mobil di kendarai Hamzah, dan satu lagi oleh Pak Zakarya.
Setelah beberapa jam meluncur dijalanan, akhirnya kedua mobil itu menepi ke sebuah Kampus yang tampak sudah ramai. Di luar tampak dipenuhi para pedagang cinderamata dsn para fotografer , kendaraan pengantar pun lalu lalang.
Wila merasa terharu begitu memasuki kampus tempat kuliahnya ini, berbagai kenangan kembali bermunculan.
Tapi Haura yang kini hadir menjadi obat yang ampuh untuk Wila agar bisa tetap tegar. Di dalam Wila sempat bertemu dengan Bu Rida dan Pak Putut, mereka senang bisa bertemu kembali dengan Wila.
Sayangnya, hari itu Wila tidak bisa bertemu dengan Lela dan Mita, karena ia tidak berani membawa Haura ke dalam, takut Haura mengganggu acara wisuda dengan tangisannya.
Wila hanya bisa berkirim pesan saja, kalau dirinya sudah ada di Kampus, tapi tidak berani masuk ke ruang Wisuda, karena membawa Haura.
'Semoga Lela membaca pesannya', pikir Wila. Ia hanya bisa duduk di depan taman Kampus.
"Ya, Allah, Bi Yeni?", kenapa tadi tidak minta di antar ke rumah Bi Yeni saja?", Wila menepuk jidatnya. Ia ambil ponsel di tasnya dan mencoba mengirim pesan kepada Bi Yeni.
Wila tidak berani menelepon , takut mengagetkan Haura yang ada digendongannya.
"Ping", sebuah notifikasi terdengar dari ponselnya.
Ia dapati pesan balasan dari Bi Yeni. Ia mengatakan kalau nanti saat mau kembali ke Ciamis, Bi Yeni mau ikut pulang, tapi ia tidak bisa ikut dalam acara lamaran Andi, masih ada pesanan yang harus diselesaikan katanya.
"Alhamdulillah Bi, akhirnya usaha Bibi terus berkembang",gumam Wila.
Bi Yeni lah saksi perjuangan Wila dalam menggapai cinta dan cita-cita. Bagaimana Wila jatuh bangun demi tetap bisa kuliah dengan biaya seadanya. Tapi semua itu sudah berlalu, kenangan pahit di masa lalu, akan menjadi pelajaran berharga untuk masa depan yang sedang Wila jalani bersama Hamzah.
Suara riuh terdengar di dalam ruangan, acara wisudanya sudah selesai. Wila masih tetap duduk menunggu, sesekali ia ciumi kepala Haura yang menempel di dadanya.
Sungguh sebuah anugerah terindah , Haura, lahirnya memberikan banyak kebahagiaan bagi Wila dan keluarganya.
"Kenapa tidak masuk ke dalam?", tanyai Hamzah begitu ada di depan Wila.
"Takut Haura rewel, nanti kalau menangis di dalam, kan malu",senyum Wila.
"Kalau ke rumah calonnya Andi , mau ikut?", senyum Hamzah.
"Ya mau, aku ini penasaran, siapa sih calonnya andi?, sampai dirrahasiakan", senyum Wila.
__ADS_1
"Aduh, jadi nggak enak nih sana Lela, kok nggak ketemu ya?", cemberut Wila.
"Iya, ini kan wisuda semua jurusan, jadi pasti sulit ketemu, di dalam juga banyak orang, apalagi dari tadi di luar terus, gerbang belakang juga di buka, kemungkinan Lela lewat sana", jelas Hamzah.
"Ini anteung , si cantik Ayah", Hamzah mengelus kepala Haura yang mulai bangun",
"Sayang, aku ini kangen sekali sama kamu", Hamzah memandang lekat Wila.
"Sabar", senyum Wila, " Sebentar lagi kita akan mengulang ijab qabul", Wila menunduk dengan wajah memerah.
"Kalian ternyata di sini?", Bu Kalila menghampiri,
"Iya Mah, dari tadi menunggu di sini, mau masuk, takut Haura rewel", senyum Wila.
"Ini, Andi mau lamaran katanya, kok mendadak ya?, Mamah tidak menyiapkan apa pun",
"Mamah tenang saja, Andi sudah mempersiapkan semuanya", senyum Hamzah.
"Semua?, ini mau melamar anak gadis orang, masa Mamah nggak tahu apa-apa?, Mamah malu ke sana tidak membawa apa-apa", cemas Bu Kalila.
"Mah, itu Papah sudah di parkiran", Hamzah menunjuk ke arah Pak Zakarya yang berdiri di Parkiran melambaikan tangan ke arah mereka.
Ternyata di sana sudah ada Bi Yeni bersama Pak Putut, mereka membawa sebuah mobil lagi yang isinya hantaran Andi untuk calonnya.
Bu Kalila sampai berkaca-kaca, ia tidak menyangka Andi sudah mempersiapkannya sendiri, Bu Kalila tahu, Andi orangnya mandiri, apa pun ia lakukan sendiri, jarang mereporkan orang lain.
"Apa segini cukup Mah?", Andi membuka pintu mobil Pak Putut, memperlihatkan semua hantaran yang akan dibawanya.
Bu Kalila malah menangis haru, "Nak, kenapa nggak bilang Ibu dulu, ini bisa Ibu siapkan",
"Nggak usah Bu, Andi masih bisa, Ibu dan Bapak sudah banyak membantu Andi", senyum Andi.
"Sudah Bu, ini hari istimewa Andi, jangan menangis!", Andi mengelus pundak Bu Kalila.
Wila dan Hamzah pun ikut terharu, mereka tidak menyangka Andi sudah mempersiapkan semuanya seorang diri, dari hasil usahanya sendiri.
"Ini semua sudah cukup ya Mah?, Andi juga di banyak dibantu Bi Yeni" senyum Andi.
__ADS_1
Bu Kalila meneliti barang hantaran yang sudah Andi siapkan, semua lengkap.
"Iya, ini sudah komplit, hebat kamu Nak!, untuk hal sepenting ini tidak melibatkan Papah dan Mamah", senyum Bu Kalila.
"Sudah, kita berangkat sekarang saja", ajak Andi.
Sekarang jadi ada tiga mobil yang beriringan keluar dari Kampus menuju rumah calon pengantinnya Andi.
Mobil Andi berada di depan, sekaligus sebagai petunjuk arah.
Wila yang kelelahan, lelap tertidur, apalagi kini Haura ikut bersama Bu Kalila. Hamzah pun membiarkannya . Padahal kalau Wila bangun, ia pasti langsung tahu, kemana mereka akan pergi, karena ia sudah sering melewati jalan yang kini mereka lalui.
Setelah Melewati sebuah pasar tradisional, mobil melaju pelan melewati sebuah jalan yang di kanan dan kirinya dipenuhi pedagang. Dan ketiga mobil akhirnya berhenti di sebuah lapangan di depan sebuah kecamatan.
Andi yang lebih dulu turun. Ia memandu kedua mobil dibelakangnya parkir.
"Sayang, bangun!", kita sudah sampai nih", Hamzah mengguncangkan bahu Wila pelan. Wila mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Maaf, aku ketiduran", senyum Wila. Ia mengambil cermin dari tasnya, lalu merapikan hijabnya. Ia belum sempat memperhatikan sekitar.
Hamzah membukakan pintu untuk Wila, dan saat Wila keluar, ia merasa kaget, karena ia mengenal tempat ini.
"Tunggu-tunggu, sepertinya aku tahu tempat ini, apa Andi mau melamar dia?", girang Wila.
"Ada apa?", Hamzah heran melihat reaksi Wila.
"Ini itu alamat rumah Lela, teman aku", tegas Wila
"Yang tinggal di sini itu bukan Lela saja, kan?", senyum Hamzah.
"Oh...iya..., tapi semoga saja ke rumah Lela", harap Wila dengan tersenyum.
Setelah beerapa langkah berjalan, dan berhenti di sebuah rumah yang sudah tidak asing baginya, Wila semakin yakin, kalau gadis pilihan Andi itu adalah Lela.
"Tuh kan benar, ini rumah Lela", girang Wila.
Wila begitu senang, ternyata gadis pilihan Andi adalah sahabat karibnya Lela.
__ADS_1
Rombongan diterima dengan ramah, acara pun berlangsung hidmat, sedangkan calonnya Andi belum didatangkan.
"Ya Allah La, kamu ternyata, sekarang kita benar-benar saudara", tangis Wila pun pecah saat memeluk Lela yang sudah resmi dilamar Andi.