
"Ping", hand phone Wila berbunyi, Wila yang lagi sibuk melayani pembeli sejenak mengabaikannya. Ia melayani dulu pembeli yang masih antri.
Sementara Bi Yeni pun sibuk menyiapkan gorengan. Setelah semua pembeli terlayani, baru Wila mengambil hand phone dan membukanya.
Betapa terkejut bercampur senang saat ia membaca dan melihat pesan dari Hamzah. Tapi ia juga sedikit termenung, berarti harus meninggalkan Bi Yeni di rumah sendirian.
Bi Yeni menghampirinya,"Ada apa Neng?",
"Lihat ini Bi!", Wila memperlihatkan hand phone nya sambil tersenyum.
"Ini tuh Hamzah ya?", Bi Yeni mendekatkan wajahnya ke hand phone Wila ingin memperjelas penglihatannya.
"Itu seperti di rumah, sama bapakmu kan itu?", Bi Yeni balik bertanya.
"Iya Bi, sekarang Hamzah ada di rumah Ciamis, dan Bapak menyuruh Wila pulang", jelaskan Wila.
"Oohh, ya sok attu, mumpung masih pagi!",
"Terus Bibi bagaimana?",
"Gak apa-apa, Bibi bisa sendiri, ayo cepetan siap-siap!", Yeni mendesak Wila.
Dengan segera Wila menyiapkan diri, setelah itu pamit dan pergi meninggalkan Bi Yeni yang masih melayani pembeli.
Secepatnya Wila naik angkot, dan tidak perlu menunggu lama, setelah turun dari angkot, ia langsung mendapatkan bis jurusan ke Kampungnya.
Alhamdulillah di jalan pun lancar. Sepanjang perjalanan hati Wila terus bertanya-tanya, kenapa Hamzah tiba-tiba datang ke rumahnya.
"Ping", hand phone Wila kembali berbunyi, ada sebaris pesan dari Hamzah, "Tunggu di Cisaga, nanti aku jemput!", Wila tersenyum membacanya, ada rasa yang membuncah di hatinya.
Wila senyum-senyum sendiri sambil menyandarkan tubuhnya di jok bis yang ditumpanginya.
*
*
*
Sejak kakinya sakit, Sarah hanya bisa berkutat di rumah saja, aktifitasnya menjadi terbatas. Kalau materi kuliah selalu update tiap hari, dosennya yang selalu share materi-materi kuliahnya.
Namun yang membuat ia bosen dan kesal karena sejak kemarin Hamzah tidak pernah membalas chatnya. Di telepon pun tidak pernah diangkat.
__ADS_1
Apalagi akhir-akhir ini ia sering merasa tiba-tiba pusing, tubuhnya lemas dan menjadi malas makan.
Kalau mencium aroma masakan , rasanya mual.
Hanya buah-buahan segar yang masih ia konsumsi.
Untuk melawan rasa mualnya, tak jarang ia mengkonsumsi makanan yang pedas-pedas.
Dan rasa mmualnya akan menjadi jadi saat pagi hari.
Seperti hari ini, saat bangun tidur, ia langsung merasakan mual , rasanya ada yang mau keluar dari perutnya, tapi tidak ada.
Hanya rasa enek saja, Bi Marni yang sedang mengepel sampai mendengarnya dan mengetuk pintu kamar Sarah.
"Non sudah bangun, ada apa?",Bi Marni kembali mengetuk pintu kamar Sarah karena tidak ada jawaban.
Sarah yang keluar dari kamar mandi, baru mendengar Bi Marni yang memanggilnya.
"Masuk Bi tidak di kunci!", teriak Sarah dari dalam kamarnya.
Bi Marni segera membuka pintu, ia khawatir takut Sarah kenapa-napa. Di dalam Sarah terlihat pucat, ia sedang menahan rasa mual dengan menutup mulutnya dengan tangan kanan.
"Ini Bi saya mual lagi, kepala juga pusing, bantu buat tiduran lagi aja. Badan juga lemas sekali", kata Sarah.
"Kalau begitu, Non sarapan dulu, terus minum obatnya, sebantar Bibi ambilkan makanannya", Bi Marni kembali ke dapur, dan tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa nampan berisi makanan.
Sepiring nasi dan semangkok sayur yang masih panas, mengeluarkan aroma sedap yang bisa menggugah selera siapa pun yang menciumnya.
Tapi tidak dengan Sarah, justru aroma itu makin membuatnya mual dan ingin muntah. Segera ia tutup hidung dan mulutnya,"Aduh, jauhkan sana Bi, baunya bikin enek", katanya sambil mengibaskan tangan menyuruh Bi Marni menjauh.
Bi Marni tampak bingung, 'Bau..., bau apa?', pikir Bi Marni, ia tampak bingung sambil berjalan mundur menjauhi Sarah.
"Terus Non Sarah maunya makan apa? Biar Bibi siapkan", tawarkan Bi Marni.
"Belikan buah-buahan saja Bi, biar segar", jawab Sarah sambil kembali merebahkan tubuhnya.
"Buah, pagi-pagi begini", gumam Bi Marni sambil ke luar kamar bermaksud membawakan pesanan Sarah, seingatnya masih ada stok buah-buahan di kulkas.
Segera ia siapkan buah-buahan yang masih ada, jeruk, mangga, dan apel. Semuanya sudah siap di piring dan kembali Bi Marni mengantarnya ke kamar Sarah.
"Ini Non, yang ada cuma ini", Bi Marni menyerahkan piring berisi biah-buahan tadi.
__ADS_1
Dengan sumringah Sarah bangkit dan mengambil piring dari tangan Bi Marni.
"Emm sedap, ini baru seger Bi, tapi lebih enak kalau sekalian dibuatin bumbu rujaknya Bi", Sarah melirik Bi Marni.
Walau sedikit bingung dengan permintaan Sarah, tapi Bi Marni kembali ke dapur untuk membuatkan bumbu rujak, dan tak lama ia kembali.
Bi Marni tak ingin banyak bertanya lagi, ia membiarkan Sarah menikmati rujaknya, sementara ia meneruskan beres-beres ddi ka.ar Sarah.
Sudah hampir tiga bulan semenjak kakinya sakit, Sarah tidak keluar malam, mungkin ini hikmah dari kakinya yang sakit, jadi Sarah bisa meninggalkan kebiasaannya ke karaoke.
Setelah makan rujak, mualnya sedikit berkurang, namun pusing dan lemasnya masih ada. Sarah kembali berbaring sambil kembali memantengi hand phone nya.
Rasanya sepi sekali, Hamzah tidak ada kabar. Iseng Sarah mengirim pesan kepada Susi , menyuruh datang ke rumahnya.
Tapi Susi menolak, katanya ia lagi PMS, jadi males kemana-mana. PMS??? Sarah agak termenung, kapan terakhir dirinya PMS?,
Sarah mencari buku agenda di tasnya, ia melihat kalender yang biasa ia tandai setiap bulannya saat PMS datang.
Betapa kagetnya ia saat mendapati, ternyata ia sudah dua bulan telat. Terakhir ia dapat saat seminggu sebelum pergi ke Karaoke bersama Susi waktu itu.
Hatinya mulai resah, tiba-tiba saja tubuhnya panas dingin, ia taķut dan cemas sekali, jangan-jangan apa yang terjadi di Karaoke waktu itu berakibat fatal bagi dirinya.
Sarah tidak mungkin menceritakan hal ini kepada siapa pun, tapi ia harus segera mencari tahu apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
'jangan-jangan aku ini...', Sarah menebaķ-nebak sendiri dalam hatinya. Ia coba mencari tahu di goegle, ia baca artikel tentang tanda-tanda orang hamil.
Ia baca dengan hati yang berdebar, ternyata banyak kesamaan dengan apa yang ia alami akhir-akhir ini.
'Tes kehamilan, itu yang paling akurat, tapi bagaimana mendapatkannya , orang akan curiga kalau ia membelinya, kalau ditanya buat siapa? Bagaimana menjawabnya?', kembali hati Sarah bertanya-tanya.
'Apa suruh Bi Marni saja, bilang saja buat tugas penelitian di Kampus', pikir Sarah.
Tak mau lama menunggu, Sarah akhirnya memanggil Bi Marni, ia menyuruhnya membelikan sensitif, salah satu merek alat tes kehamilan.
Bi Marni yang tidak tahu apa-apa, menurut saja, ia pergi ke apotek untuk membelinya, dan segera diberikan kepada Sarah yang sudah menunggunya.
Setelah Bi Marni pergi, Sarah segera menuju kamar mandi , dengan susah payah ia menaiki kursi rodanya.
Dengsn hati yang dag dig dug, ia segera melakukan tes, dan setelah beberapa saat, ia teliti dan dapati dua garis merah di alat tes tersebut.
Sarah terduduk lemas, ternyata dugaannya tepat. Ia sedang dalam masalah saat ini, lama ia terduduk lemas, dan segera ia kembali ke tempat tidurnya.
__ADS_1
Ia membaringkan tubuhnya dan segera memutar otak , ia harus cepat mencari solusi untuk masalahnya sebelum semua orang mencium aibnya.