
Hari yang dinanti pun tiba, hari akad nikahnya Andi dan Lela, yang juga akan menjadi hari bagi Wila dan Hamzah untuk mengulang ijab qabulnya.
semoga hari ini menjadi awal kebahagiaan bagi mereka, dan terutama bagi Wila dan Hamzah, perjalanan cintanya yang berliku, bermuara di hari yang bahagia ini.
Dalam menjalani hidup, kita harus yakin, apapun yang terjadi, itu sudah takdir kita, mau susah, senang, suka , duka, itu semua harus kita lewati, yakinlah semua akan ada hikmahnya.
Setiap masalah yang menimpa kita, sejatinya adalah jalan Allah untuk lebih membuat kita bersabar,dan senantiasa bersyukur .
Di hari itu semua keluarga berkumpul. Mereka ikut melantunkan do'a untuk kedua pasang pengantin yang sedang berbahagia.
Ada penampakan yang berbeda, pasangan Wila dan Hamzah, mereka sama-sama menggendong bayi , Wila membawa Haura, sementara Hamzah membawa Hazel.
Di hari itu semua bercengkrama bahagia. Semua teman kuliah mereka pada datang, maklum yang menikah kan Pengurus Senat dikampusya.
Undangan pernikahan Andi, tak ubahnya seperti acara reuni kampus saja. Ada pemandangan yang mengharukan bagi Wila, saat ia melihat Susì datang dengan keadaan perut yang membesar. Namun ia datang bersama seorang laki-laki yang sudah agak berumur.
Dari gerak geriknya , laki-laki itu mungkin suaminya, karena sedari tadi ia tidak melepas genggaman tangannya dengan tangan Susi.
"Wila, selamat ya, maafkan aku", Susi menunduk saat menyalami Wila dan Hamzah.
"Iya sama-sama, sudahlah!, semua sudah berlalu", senyum Wila.
"Aku juga baru tahu tentang Sarah, tidak menyangka, kaget sekali saat mengetahuinya sudah tiada, aku sempat lost kontak, jadi tidak mengetahui kalau Sarah sakit",
"Iya ,minta do"anya saja, biar dia tenang di alam sana", senyum Wila.
Susi sempat melihat lekat Hazel, sebelum pergi mengambil makanan.
Menjelang sore para tamu sudah mulai banyak yang pulang. Sampai akhirnya hanya ada keluarga inti saja yang ada di sana.
__ADS_1
"Papah sudah siapkan tiket untuk kalian Umrah, dua minggu lagi berangkatnya", kabari Pak Zakarya.
"Terima kasih Pah, semoga rizkinya tambah berkah", Hamzah memeluk ayahnya, begitu juga Andi.
Setelah acara usai, mereka pulang, kali ini pulang ke rumah Hamzah. Gantian katanya, kemarin, hampir tiga minggu mereka berkumpul di rumah Wila, hingga Andi ijab qabul , kini mereka kembali berkumpul di rumah Hamzah sampai ketiga pasang pengantin baru berangkat umrah.
Sementara Andi, untuk sementaraxakan tinggal di rumah kontrakan, karena kalau tinggal di rumah Lela, sudah tidak ada ruang kosong, karena adiknya banyak.
Hari hampir maghrib, saat mereka sampai di rumah Hamzah. Rumah lantai dua yang luas, cukup menampung mereka.
Sudah ada kamar khusus yang dipersiapkan Bi Sumi untuk Hamzah dan Wila. Layaknya kamar pengantin saja , ruangan persegi empat itu sudah ditata dengan rapi, di lengkapi hiasan dari bunga melati dan bunga sedap malam yang semerbak menyebarkan wangi.
"Hazel biar tidur bersama Mami saja Zah, sebelum Mami kembali ke luar kota ", pinta Bu Rahmi begitu malam mulai merayap gelap.
"Haura juga biar sama Mamah ya , ini kan hari pertama Haura di sini, Mamah ingin bersamanya", pinta Bu Kalila.
Malam itu Hamzah dan Wila benar-benar bisa bersama , tidak ada Hazel dan Haura . Sepertinya memang sudah direncanakan oleh Bu Rahmi dan Bu Kalila, mereka kompak membiarkan Hamzah dan Wila hanya berdua saja , mereka berharap segera hadir adiknya Haura.
Wila dan Hamzah memasuki kamarnya, aroma harum langsung menusuk indra penciuman mereka , Wila dan Hamzah saling menatap. Berasa mimpi, kini mereka benar-benar sudah menjadi sepasang suami istri.
"Kira-kira, Andi sudah mulai belum ya?", bisik Hamzah sambil memeluk pinggang Wila dari belakang.
"Sudah mulai apa?", senyum Wila, ia memutar tubuhnya hingga kini mereka berhadapan.
"Kita mulai aja yuk?", Hamzah makin mengikis jarak diantara mereka, tangannya mulai membelai rambut dan wajah Wila dengan lembut.
Wila hanya diam, dan terpejam, membiarkan Hamzah mengambil haknya pada tubuhnya. Hingga mereka terbuai dalam gelora rasa dan membuat mereka terlelap.
Begitu pun dengan Andi dan Lela, malam itu mereka rengkuh kesucian cinta yang sudah mendapat restu .
__ADS_1
"Terima kasih sudah setia menunggu , terima kasih sudah sabar menanti , tidak mudah jalan yang harus kita tempuh, untuk bisa bersama seperti ini" , Ucap Hamzah sembari mengecup kening Wila.
Mereka masih saling berpelukan di bawah selimut, Wila tidur di lengan kanan Hamzah.
"Tidak mudah bagi kita untuk bisa sampai di titik ini, banyak rintangan yang menghadang. Dari awal, kita tahu, jalan yang kita tempuh itu banyak tanjakannya, tetapi kalau kita teguh dan yakin dalam menempuhnya, kita akan dihadapkan dengan pemandangan yang indah saat sudah sampai puncak, terima kasih masih mau menerima aku dengan semua kekurangan yang aku miliki, terutama terima kasih untuk hadiah terindah, Haura dan Hazel", Hamzah mengecup pucuk kepala Wila.
"Bagi aku , kamu dan anak-anak adalah hadiah terindah dari perjalanan ini", Hamzah makin mengeratkan pelukanya kepada Wila.
"Tapi tetap ada yang masih mengganjal, yang membuat kebahagiaan ini menjadi hambar", suara Wila terdengar serak.
"Aku ingin ke Baitullah, memohon ampun di sana" , lanjut Wila.
"Inshaa Allah, tinggal beberapa hari kita akan ke sana, maafkan aku, semua ini salah aku",
"Kita yang salah", ralat Wila.
"Sudahlah, tidak ada manusia yang sempurna , kesalahan kita di masa lalu, jadikan suatu pelajaran bagi kita , agar kedepannya bisa lebih baik dalam menjalankan perintah Allah, dan lebih kuat untuk menjauhi larangan Allah, masih jauh, jalan yang akan kita tempuh, semoga aku bisa membimbingmu , ingatkan aku jika aku khilap",
"Iya, kita saling mengingatkan saja",
Tiga hari setelah itu, Bu Rahmi pamit, ia akan kembali ke luar kota untuk mengurus bisnis kulinernya.
Bi Marni pun kembali ke rumah Bu Rahmi untuk menjaganya di sana, ia pun diperbolehkan untuk membawa serta cucunya dari Desa.
Sementara Bu Kalila dan Pak Zakarya akan tinggal di Desa tempat tinggal Wila , pembangunan Klinik Pengobatan di sana sudah hampir selesai.
Sementara Rumah Bu Kalila , akan ditinggali oleh Hamzah dan Andi. Untuk sementara, mereka akan membagi dua rumah tersebut .
Rencananya , sepulangnya ibadah umroh, Wila akan melanjutkan kuliah kebidanan, dan Hamzah akan mengambil S2.
__ADS_1
Begitu juga Andi dan Lela, mereka akan melanjutkan kuliahnya, Lela mengambil jurusan Apoteker, sedangkan Andi akan mengambil spesialis penyakit dalam.
Mereka telah merencanakan secara matang untuk kehidupannya di masa depan. Setelah mereka semua lulus, mereka akan menetap di Desa Ciawi tali, mengelola Klinik Kesehatan di sana.