
Wila dan Hamzah sudah kembali memasuki mobil untuk melanjutkan perjalanan. Hamzah tampak segar, setelah mendapat suntikan energi dari Wila.
Wila baru mengecek hand phone nya, ia dapati beberapa panggilan tak terjawab dari bibinya. Yeni juga berkali-kali mengirim pesan kepadanya.
Sepertinya mereka sudah menunggu sangat lama . Jelas saja mereka harus menunggu saat Hamzah melakukan dua kali pergulatan panasnya.
"Nanti di persimpangan sana , kita berpisah. Kita biarkan mereka tahu dengan sendirinya. Kita fokus selesaikan kuliah dulu saja, jangan khawatir, Abang akan bertanggung jawab untuk kalian",
Hamzah menghentikan mobilnya di sebuah Masjid yang ada dipersimpangan jalan. Di sana terlihat juga mobil yang tadi dikendarai Andi.
Hamzah turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Wila, "Kalau ada kebutuhan apa pun, hubungi Abang saja, usahakan biar Abang saja yang menghubungimu lebih dulu", pesan Hamzah.
Wila mengangguk.
"Bi, nanti kalau sudah sampai rumah, kabari aku ya!", Hamzah melirik Bi Yeni.
Wila segera berpindah ke mobil yang dikendarai Andi. Sementara Hamzah melanjutkan perjalananya sendiri .
Setelah melakukan perjalanan panjang, Hamzah akhirnya sampai juga di rumah Sarah. Terlihat sepi, padahal belum terlalu malam.
Satpam yang mengenali Hamzah, segera membukakan gerbang dan mengangguk ramah.
Hamzah segera memarkirkan mobilnya . Sampai ia masuk ke rumah, tak dilihatnya Sarah dan ibunya.
Bi Marni pun tidak terlihat.
Hamzah langsung menuju kamarnya mencari keberadaan Sarah. Namun tetap tidak ada.
Hamzah mengecek hand phone nya, terlihat ada beberapa panggilan dari ibu Rahmi, mertuanya.
Namun tidak ada pesan yang ia dapat dari keduanya.
'Kemana mereka', Hamzah mencoba mencari keberadaan Bi Marni. Ia pergi ke dapur , dan ke kamar Bi Marni.
Namun Bi Marni pun tidak ada di sana.
Hamzah kembali ke luar, berniat menanyai Pak Satpam, namun baru juga sampai di ruang tamu, Hand phone bergetar.
"Halo, Assalamu'alaikum ", Hamzah segera menjawab panggilan.
"Wa'alaikum salam, Nak kamu sudah pulang?", terdengar Rahmi menanyakan keberadaannya.
"Sudah Mah, ini baru nyampai rumah, Mamah dimana?, kok rumah sepi?",
__ADS_1
"Sarah masuk rumah sakit, kalau cepetan sini!, Mamah di Rumah Sakit Sartika Asih",
"Iya, aku segera ke sana, Mah",
Hamzah menutuo telepon, ia bergegas kembali ke falam mobilnya dan melaju di jalanan menuju Rumah Sakit.
Tidak ada rasa khawatir sedikit pun, perasaannya datar, walau ia tahu Sarah sedang tidak baik-baik saja.
Tidak seperti kepada Wila, mendengar Wila pingsan saja, ia langsung kelimpungan, khawatir.
Menjelang tengah malam, Hamzah sampai di Rumah sakit, ia langsung menemui meja resepsionis, menanyakan keberadaan Sarah.
"Bu Sarah du rawat di ruang VIP, kamar nomer tujuh B Pak", kabari petugas .
"Iya, terima kasih", Hamzah bergegas menuju ruangan yang di maksud.
Di sana ia berdiri di depan pintu, di dalam tetlihat sepi, sudah tidak terdengar suara orang berbincang.
Hamzah memutar gagang pintu dengan pelan, "Krekk..., daun pintu ia dorong, dan di dalam tampak Sarah sedang berbaring dengan selang infus di tangan kirinya.
Di sofa tampak Bu Rahmi sudah terlelap tidur, dan Bi Marni pun ada di sana.
Takut mengganggu , Hamzah pun kembali ke luar, ia tutup pintu hati-hati dan duduk di kursi tunggu di samping pintu.
Ia buka kembali hand phone nya , mengecek apa Wila dan Bi Yeni sudah kembali ke rumahnya.
"Maaf Pak , itu tasnya terjatuh", seorang Perawat memberitahu Hamzah, tanpa memeriksa isinya, ia langsung memungut tas yang tergeletak di bawah kursi.
"Terima kasih Sus", Hamzah melihat Perawat tersebut telah memeriksa Sarah.
Ia kembali masuk ke dalam, benar saja, Bu Rahmi ,Bi Mirna dan Sarah telah terjaga.
Sarah tampak kesal, ia memasang wajah muram ketika Hamzah memasuki kamar rawatnya.
"Eehh, Aden, sudah datang?", Bi Marni menyapanya.
"Iya Bi, maaf sebenarnya dari tadi juga sampai, tapi melihat sudah pada istirahat, jadi saya menunggu di luar", aku Hamzah.
Ia segera mendekati Bu Rahmi dan menyalaminya dengan hormat.
"Bagaimana keadaanmu, apa yang sakit?", Hamzah mendekati Sarah. Ia tampak canggung saat harus memegang tangan Sarah.
"Kenapa nggak pernah aktifkan Hand phone nya, selama di sana susah sekali aku hubungi kamu", ketus Sarah.
__ADS_1
"Bukan begitu, tapi di sana itu di pedalaman, jadi sinyalnya jelek, tidak ada jaringan", Hamzah mencoba mencari alasan.
"Iya, Ibu ngerti", Bu Rahmi menengahi.
"Ibu juga sudah berkali-kali menjelaskan, Ooh iya dari mana kemarin itu?",
"Itu daerah Ciamis Bu, pedalaman Ciamis",
"Kata Dokter, Sarah ini kenapa?"
Bu Rahmi mendekati putrinya, ia mengusap kepala Sarah yang tampak masih kesal kepada Hamzah.
"Kata Dokter, Sarah harus bed rest, kandungannya lemah", ucap Bu Rahmi.
"Untuk sementara sampai Sarah sehat setelah melahirkan, kuliahnya off saja dulu", Bu Rahmi memandang Hamzah.
"Kalau Boleh, biarkan Sarah tinggal bersama Ibu di Bogor",
"Biar ibu tenang, kalau bisa kamu juga ikut", usul Bu Rahmi.
" Usaha Ibu kan ada di sana, kalau Sarah ikut, Ibu tidak perlu bolak balik ke sini",
Hamzah terdiam, ia bingung harus menjawab apa, bagaimana pun Sarah masih istrinya. Tapi kalau ia ikut ke Bogor, berarti akan lebih sulit untuk bertemu Wila.
"Bagaimana, bisakan?", Bu Rahmi tidak sabar menunggu jawabannya.
"Nanti Bu, saya bicarakan dulu dengan pihak Kampus",
"Kalau tidak bisa jua nggak apa- apa Bu, Masih ada Bi Marni, biar Sarah di sini saja", ucap Sarah.
" Tapi Nak, ibu khawatir, ibu ingin selalu ada dekat cucu Ibu",
"Sudah, nggak usah membantah, Ibu ingin kamu selalu ada di dekat Sarah, kalau perlu pindah saja kuliahnya sekalian,biar tidak bolak balik", tegas Bu Rahmi.
Ia melihat menantunya seperti kurang respect terhadap Sarah, padahal ia sudah tahu kalau Sarah sedang mengandung.
Hamzah kaget mendengar Bu Rahmi yang seperti memaksa. Bagaimana ia harus bicara, kalau menolak, ia takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap kesehatan Bu Rahmi, kalau pun ia menurut, bagaimana dengan Wila.
"Sudah nggak usah dipikirkan lagi, Ibu ingin kalian tinggal bersama Ibu di Bogor. Setidaknya sampai Sarah melahirkan, Ibu tidak bisa terus bolak-balik ke sini, bisnis Ibu bisa terbengkalai",
Sarah senang dengan keputusan ibunya itu, kalau ia pindah, sudah tidak ada yang bisa mengganggu Hamzah lagi.
Sarah ingin membuat Hamzah menjadi miliknya yang sebenarnya, ia bisa membuatnya jatuh cinta bila jauh dari Wila.
__ADS_1
'Satu tahun, apa mampu jauh dari kamu selama itu', pikiran Hamzah menerawang mengingat Wila.
"Sudah , nggak usah dipikirkan lagi, sepulang Sarah keluar dari sini, kita pindah saja ke Bogor, kamu bisa siap-siap dari sekarang", ucap Bu Rahmi .