Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Jalani dan Hadapi


__ADS_3

Sehari setelah tragedi di gang yang hampir membuatnya celaka, Wila menjadi sedikit trauma .


Yeni yang mendengar kronologis kejadiannya dari Wila, merasa khawatir hal yang sama akan terjadi lagi.


Yeni bingung harus meminta tolong kepada siapa untuk bisa melindungi Wila, sementara Hamzah, entah ada di mana.


Semenjak menikahi Wila, Hamzah tidak pernah mendampinginya. Hamzah lebih memilih bersama Sarah, walau pasti ada alasan kuat yang membuat Hamzah bertindak seperti itu.


Kini, saat Wila memerlukan perlindungan, kepada siapa harus meminta?


Yeni termenung sambil menunggu pembeli. Wila menghampirinya sekalian pamit pergi ke Kampus.


"Bi, Wila pergi dulu",


Yeni terperanjat kaget. "Neng, berangkat dengan siapa?", tanyai Yeni khawatir.


"Sebentar lagi Lela akan datang, kami berangkat bareng Bi",


"Alhamdulillah, kalau ada teman, Bibi Khawatir kejadian kemarin terulang lagi",


"Wila berangkat dulu Bi, Assalamu'alaikum", Wila pamit.


"Wa'alaikumsalam", Yeni memandangi punggung Wila.


Baru sampai halaman, tampak Andi sudah ada di sana menunggunya.


Yeni melihatnya, ia merasa lega, karena Wila ada yang menjaganya. 'Coba kalau Wila berjodoh dengan Andi', pikir Yeni.


' Kenapa Hamzah sampai tega meninggalkan Wila, padahal jelas Wila sedang menggandung anaknya'.


'Kalau boleh memilih, aku lebih suka Andi yang menjadi teman hidup Wila', Yeni menerawang.


Dari pertama bertemu, Yeni lebih menyukai Andi, dan dia mengira Andi dan Wila memiliki hubungan istimewa, tapi ternyata Hamzah lah orang yang disukai Wila.


Padahal sejak awal, Andi yang selalu berbuat baik kepada Wila, bukan Hamzah.


Cinta memang penuh rahasia, datangnya tidak bisa di tebak, dan kepada siapa ia akan berlabuh. Cinta tidak memandang harta dan rupa.


Datangnya tiba-tiba, dan pergi tanpa kata-kata.


Itulah yang terjadi kepada Wila, ia terpesona pada pandangan pertama, hingga tergoda dan terpedaya olehnya.


Kini setelah semuanya tercapai, dan benih pun sudah tersemai, ia tercampakkan.


"Alhamdulillah , ada Andi", Yeni tersenyum memperhatikan kepergian mereka , hatinya berharap besar kepada Andi.


"Maaf tadi aku menyuruh Lela langsung ke Kampus", ucap Andi.


"Maksudnya", Wila loading.


"Tadi itu, Lela yang akan ke rumah kamu, tapi aku larang, karena aku yang akan menjemput kamu", jelas Andi.


"Ooh, kasihan," gumam Wila.


"Kamu marah?", Andi melirik kepada Wila.


"Oohh, nggak", senyum Wila.


"Kenapa?, kok sepertinya kamu kurang fokus gitu", Andi heran melihat Wila yang seperti melamun.


"Ehhmm, sebenarnya aku takut Di, hari ini akan menghadap Pak Suparman", Wila menunduk.

__ADS_1


Andi melirik Wila, ia melihat wajah ayu itu kini berubah sendu . Ada segores luka yang ingin ia tutupi oleh tawa dan canda.


Bagaimana tidak, di saat ingin di manja dan dibelai mesra, sang pujaan pergi tanpa kabar berita.


Ingin rasanya Andi memegang tangan Wila , namun ia tahan .


"Tak perlu takut, katakan saja yang sebenarnya, kalau sudah jujur, setidaknya kamu tidak berdosa", jelas Andi.


"Bukan masalah berkata jujurnya yang aku takuti, tapi konsekuensi dari kejujuranku, kalau sampai aku di DO, gimana?",


"Bismillah saja, kalau diawali dengan kebaikan, bagaimana pun hasil akhirnya, itu pasti yang terbaik menurut Allah , bagi kita, itu yang terpenting", senyum Andi.


"Baik menurut kita, belum tentu menurut Allah, tapi kalau sudah baik menurut Allah , pastilah itu hal yang terbaik untuk kita, terlepas dari suka atau tidak suka ".


Tidak terasa mobil Andi sudah memasuki pelataran parkir. Kedatangan mereka sontak menjadi pusat perhatian Mahasiswa yang sudah lebih dulu datang ke Kampus.


"Lihat tuh, sudah mulai berani unjuk gigi mereka", bisik seorang Mahasiswi kepada temannya.


"Biarin aja lah, nggak usah urusin hidup orang, nggak ada ruginya buat kita", jawabnya cuek, dia tetap asik memainkan gawainya.


"Iiihh, kamu itu",


Wila yang menyadari jadi pusat perhatian teman-temannya, merasa risih saat akan keluar dari mobil Andi.


Bahkan ia tidak menyadari saat Andi sudah membukakan pintu untuknya "Kok diam, mau tetap di sini?", senyum Andi.


Wila tidak bergeming. "Ayo lah, cuek aja, anggap saja mereka itu nyamuk", senyum Andi.


Wila turun dari mobil dengan perlahan, bertepatan dengan datangnya angin yang menerpanya. Otomatis saja hijab dan gamisnya ikut tersapu angin.


Dan itu menyebabkan penampakan yang jelas dari perutnya yang kian membesar. Namun dengan sigap Andi memasang badan untuk melindungi Wila.


Sontak hal itu menjadi gunjingan dari teman Mahasiswanya yang sedari tadi lagi memperhatikan.


"Iya ..., bener pantesan kelihatan agak cabi itu pipinya, ternyata perutnya pun makin buncit, gemuk kali",


"Ah....gemuk...apa gemuk...?, jangan -jangan dia lagi hamil kali",


"Hamil?, emangnya dia sudah nikah gitu?, atau jangan-jangan hasil patungan, nabung bersama ha....ha....ha....ha....ha......", tawa pun pecah diantara mereka.


Mereka memperolok-olok Wila, untung saja Wila sudah berlalu agak jauh dari mereka. Entah mendengar atau tidak.


Sepasang Mahasiswa yang sedang duduk , memperhatikan gerak-gerik mereka. "Sial, kalau ada orang itu, akan makin sulit untuk mendekati target kita", ucap yang laki-laki.


"Tenang saja dulu, ini masih hangat, jadi tunggu sampai situasi dingin dulu, lama-lama juga mereka lelah, kalau sudah lelah, kita tunggu sampai lengah", Jawab yang perempuan.


Dari tadi ia terus mengotak-atik gawainya. Ia tampak sedang saling chat dengan seseorang. "Kita ikuti mereka, filling aku mengatakan pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan", si wanita berdiri dan menyambar tangan si laki-laki.


Mereka berdua adalah Joko dan Susi. Mereka mengikuti Wila dan Andi secara diam-diam.


Hari ini Wila diharuskan menghadap kepada Pak Suparman dulu , keberlanjutan kuliahnya tergantung dari keputusan beliau hari ini.


Sudah tersebar kabar dikalangan para Dosen tentang desas-desus kehamilan Wila. Hal ini berawal dari tugas yang diberikan oleh Bu Rida, alat test kehamilan Wila hasilnya garis dua.


Jika ini benar terjadi, maka harus diklarifikasi, memang tidak dilarang seorang Mahasiswi mengandung, asal sudah resmi menikah.


Sedangkan Wila, sampai saat ini, belum ada keterangan kalau dirinya sudah menikah.


Wila dan Andi sudah sampai di depan ruangan Pak Suparman. Ternyata di sana sudah ada Bu Rida dan Pak Putut.


Mereka juga yang akan ikut ke ruangan Pak Suparman, dan Andi yang akan menjadi saksi dari pihak Wila.

__ADS_1


Mereka sudah masuk ke ruangan. Dari balik tembok tampak dua orang berdiri, berpura-pura sedang ngobrol, padahal matanya mengawasi gerak-gerik di depan ruangan Pak Dekan.


Sepertinya mereka ingin menguping pembicaraan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.


Terbukti setelah sepi, mereka berdua semakin mendekat, sampai mereka bisa mendengar suara dari dalam sana, walau tidak begitu jelas. Sudi


Sayup-sayup mulai terdengar pembicaraan di dalam sana.


Pak Suparman meminta penjelasan dari Wila dan meminta Wila menunjukkan bukti-bukti yang sah.


Semua jelas, bukti ada dan sah. Wila menunjukkan buku nikahnya dengan Hamzah. Dan sebagai saksi, Andi pun menunjukkan beberapa dokumentasi saat pernikahan Wila berlangsung.


"Jadi sudah jelas ya, Wila sekarang sedang hamil", ucap Bu Rida.


Kalimat itu jelas terdengar oleh dua penguping yang ada di luar ruangan.


"Hah Wila hamil?", Susi melongo tidak percaya.


"Tadi kamu juga dengar kan?, kalau Wila itu sekarang sedang hamil", tanya Susi kepada Joko untuk memastikan pendengarannya .


"Iya, dengar, memangnya kenapa?, wajar kan kalau wanita hamil",


Susi menatap Joko dongkol, "Kamu ini payah, pikiranmu itu dangkal, dengar ya, kalau Wila itu hamil, itu artinya akan lebih memudahkan kita untuk menyingkirkannya dari sini", Susi menjitak kepala Joko.


" Kita bisa gunakan keadaan ini untuk mengusir dia dari Kampus ini, itu artinya tugas kita beres dan duit akan cepat cair", senyum Susi.


"Kita jadi nggak usah repot-repot lagi , kartu AS nya sudah kita pegang, ayo", Susi kembali menyambar tangan Joko untuk menjauhi ruangan itu.


Sementara di dalam ruangan, semua sudah clear. Dugaan tentang kehamilan Wila di luar nikah terbantahkan oleh bukti yang sah, berupa buku nikah dan kesaksian dari Andi.


Mereka semua saling bersalaman , Wila dan Andi keluar dengan perasaan lega. "Wila, aku mampir ke ruang Senat dulu, nanti biasa, pulangnya tunggu di Masjid Kampus saja", pesan Andi.


"Iya, saya mau ke Perpustakaan sebentar, nanti ba'da Asar di tunggu di Masjid Kampus", ucap Wila.


Mereka berpisah menuju tempat tujuan masing-masing.


Wila melangkah dengan hati lega, dengan senyuman tersungging dibibirnya, ia menuju Perpustakaan.


Tanpa ragu ia memasuki Perpustakaan, namun tanpa di duga , di sana sudah banyak teman-teman Mahasiswa yang sudah berkumpul.


Awalnya biasa saja, tapi lama -lama Susi menghampiri Wila, "Lihatlah ini si pendiam, tau-tau membuncit aja tuh perutnya", teriak Susi. Ia memegangi tubuh Wila dan memegang perutnya. Hingga jelas terlihat bentuk perut buncitnya oleh semua yang ada di sana.


Wila yang kaget seketika meronta, namun pegangan Susi begitu kuat. Wila meringis menahan sakit ditangannya .


Tak sampai di situ, Susi terus mengatainya dengan kata-kata kasar.


"Ini nih yang begini, yang akan mencemarkan nama baik Kampus, ternyata baju lebarnya itu hanya akal-akalan dia saja, buat ngumpetin perbuatan mesumnya", provokasi Susi.


Semua orang yang ada di sana mulai terhasut kata-kata Susi. Mereka juga mulai ikut membully Wila, bahkan ada yang melempari Wila dengan kertas.


Wila melihat sekeliling, tak ada satu pun yang akan membelanya, Lela, Mita, dan Andi tidak nampak ada di sana.


Bukan dirinya yang Wila takutkan terluka, tapi si calon bayinya yang ia khawatirkan. Wila sudah dalam posisi duduk tersimpuh, memegangi perutnya.


"Tolong, jangan sakiti!", isak Wila. Ia tidak berdaya melawan . Hanya berdo'a meminta pertolongan dari Sang Maha Kuasa.


"Usir saja dari sini!,keluarkan dari Kampus ini!, ia akan mencoreng nama baik Kampus kita", teriak teman-temannya.


"Gusur saja dia!", wanita kotor tidak pantas ada di Kampus kita",


"Usir Wila dari Kampun kita",

__ADS_1


Sekerika suasana menjadi ribut tidak terkendali. Semua itu tidak lepas dari provokasi Susi dan Joko.


Wila sudah tidak berdaya, ia berada di tengah-tengah kerumunan .


__ADS_2