Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Bahagiamu, Deritaku


__ADS_3

Wila kembali meneteskan air mata, ia meragu untuk bercerita yang sebenarnya kepada Yeni, ia takut bibinya marah dan kecewa.


Akhirnya Wila hanya bercerita tentang kejadian Hamzah kemarin malam saja. Ia bercerita sambil menahan tangisnya.


Yeni mendengarkan sambil berdecak, ia tidak menyangka, Hamzah yang menurutnya alim, kok sampai bisa berbuat melanggar norma.


Yeni menggandeng pundak Wila, ia sangat mengerti dengan apa yang Wila rasakan. Karena ia pun pernah merasakan sakit yang sama saat suaminya lebih memilih wanita lain.


"Sudahlah Neng, ini jalan terbaik, Neng harus fokus sama kuliahnya, soal jodoh, sudah ada yang mengatur. Sekarang, Neng harus bangkit, jangan terus terpuruk, buktikan kalau Neng bisa hidup lebih baik tanpa mereka ", ucap Yeni panjang lebar.


Wila kembali memeluk Yeni , ia sedikit lega, hatinya sudah mulai tenang. "Wila mohon jangan ceritakan ini kepada Bapak dan Ibu dulu ya Bi!",


Yeni mengangguk sambil terus mengelus kepala Wila. "Sekarang istirahatlah, sudah malam!' besok pagi Bibi harus ke Pasar", Yeni melepaskan pelukannya.


Wila berbaring , setelah Yeni keluar dari kamarnya. Ia berusaha melupakan kejadian kemarin malam dengan memejamkan mata dan berdzikir dalam hatinya.


*


*


*


Sementara Hamzah , ia merasa bingung, dunianya seketika terasa gelap. Ia serasa dihadapkan dengan sebuah gunung tinggi yang terjal.


Ia harus menyiapkan tenaga dan mental baja untuk bisa mendakinya. Ia tidak tahu harus bagaimana, karena sepertinya Wila sudah tidak ingin bertemu dengannya lagi setelah peristiwa kemarin malam.


Sudah hampir tengah malam, namun Hamzah masih berada dijalanan. Ia tidak tahu harus bagaimana.


Hamzah memarkirkan motornya di pinggi sebuah taman kota, ia tampak berbaring di atas sepeda motornya dengan di topang dengan kedua lengannya yang dilipatkan.


Ia memandang bintang-bintang yang bertaburan, ia merasa dirinya begitu kecil melihat ciptaan Yang Maha Kuasa yang terbentang dihadapannya.


Ia memejamkan mata dan mulai flashback ke suasana kemarin malam di Kampusnya. Ia ingin mencari titik terang, ia mencoba mengingat kejadian terakhir sebelum dirinya kepergok berada berdua di tendanya Sarah.


Saat itu Hamzah baru kembali menemui Wila di stand bazarnya, bahkan ia juga diberi sebuah dus berisi kue basah.


Hamzah baru menikmati kue pemberiaan Wila saat acara usai, ia duduk di samping panggung sambil menikmati kue pemberian Wila.

__ADS_1


Hamzah hampir tersedak saat sebuah suara mengagetkannya, dan orang itu segera memberinya sebotol air kemasan.


Orang itu adalah Sarah, setelah berbincang beberapa saat, Hamzah seperti tidak mengingat apa-apa lagi setelah itu, dan baru tersadar setelah dirinya dipergoki berdua di tenda Sarah.


Hamzah bangkit, lalu duduk di atas jok motornya. Ia memijat kedua keningnya yang tiba-tiba terasa pening. Ingin sekali ia berteriak , menghempaskan semua beban di dadanya.


Ia tidak yakin dirinya sudah melecehkan Sarah, karena ia tidak mengingat apa pun. Tapi ia tidak bisa mengelak, apalagi jika sampai kabar ini sampai bocor kemana-mana.


Kalau sampai Kampusnya mendapat sanksi, pasti semua Mahasiswa yang akan menanggungnya.


Tapi jika ia bersama Sarah, bagaimana dengan Wila, yang jelas-jelas sedang menunggu pertanggungjawabannya.


Hamzah mengacak kasar rambutnya.


Tak disangka, sebuah sepeda motor yang berjalan mundur, mendekatinya. Sepeda motor itu tadi melewatinya, tetapi kembali mundur mendekatinya.


Ternyata itu sepeda motor Andi, ia yang baru pulang mengantar Wila, melihat seseorang yang ia kenal, dan benar saja itu Hamzah.


"Ngapain masih di sini?" tanya Andi mengagetkan Hamzah.


Hamzah menarik nafas dalam dan menghempaskannya kasar. "Gue bingung!," Hamzah memegang kepala dengan kedua telapak tangannya.


" Sebenarnya kamu sudah berbuat apa sama Wila?", tanyakan Andi.


Hamzah terkejut mendengarnya, jangan-jangan Wila sudah bercerita, tebaknya. " Memangnya kenapa dengan Wila?", ia malah balik bertanya.


Wila terlihat begitu sock kemarin, sepertinya ia terus menangis di Masjid, aku mengantarnya setelah Isya, nggak tega melihatnya", kabari Andi.


Hamzah menunduk, lalu melihat jauh ke depan, ia terlihat nanar, tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Wila saat ini.


"Kamu sudah menemuinya?", Andi melihat Hamzah , ia terlihat begitu galau.


"Tadi aku berniat menjelaskan semuanya, tapi ia menolak menemuiku", sesalkan Hamzah. Kembali ia menarik nafas panjang.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?",


Hamzah terlihat putus asa. " Mau tidak mau, aku harus tanggung jawab sama Sarah, itu semua demi nama baik Kampus kita, bukan untuk Sarah", tegaskan Hamzah.

__ADS_1


"Kamu harus tahu, aku tidak mengingat kejadian malam itu, aku tidak merasa melecehkan Sarah", Hamzah menerawang.


"Aku mau minta tolong sama kamu, selama aku menyelesaikan urusan dengan Sarah, aku titip Wila kepadamu", Hamzah menunduk, apa harus ia berterus terang sama Andi?


Hamzah melihat Andi, apa mungkin ia relakan Wila bersamanya. Ia tidak mungkin menghindar dari Sarah, tapi ia pun tidak mungkin mengabaikan Wila begitu saja.


Andi memegang pundak Hamzah, sahabat yang sudah lama ia kenal, ia pun berhutang nyawa kepadanya, Hamzahlah yang telah menolongnya saat ia terlibat kecelakaan beberapa tahun lalu.


"Kamu tenang saja, aku akan menjaganya, aku akan menjadi kepanjangan tanganmu", Andi meyakinkan Hamzah.


"Thanks ya", Hamzah merasa sedikit lega. Sekarang ia harus segera mengurus masalahnya dengan Sarah, bahkan ia belum memberi kabar apa pun kepada kedua orang tuanya.


"Ya sudah, sekarang sudah malam, lebih baik kita pulang", ajak Andi.


Hamzah dan Andi bersiap untuk pulang , mereka berjalan beriringan membelah gelapnya malam yang makin merayap.


*


*


*


Malam ini Sarah begitu bahagia, semua rencananya berjalan lancar, kini Hamzah sudah berada dalam genggamannya.


Tepat di hari ulang tahunnya, maminya juga pulang, memberikan surprise dengan membelikan barang-barang pesanannya.


Ini adalah hari terindahnya. Ia tidak peduli siapa ayah biologis dari janin yang sedang dikandungnya, karena jika sudah menikah dengan Hamzah, ialah ayah penggantinya.


Bahkan sama maminya pun ia belum berterus terang dengan keadaannya. Lebih baik tidak usah, karena jika sudah menikah, kehamilannya tidah akan menjadi masalah lagi.


Malam ini ia akan benar-benar mimpi indah, semua kegundahannya selama ini hilang sudah. Ia memeluk gulingnya dengan senyum merekah, membayangkan Hamzah yang tinggal satu langkah lagi akan menjadi pendampingnya, untuk selamanya.


Sedangkan Bu Rahmi sedang ngobrol serius dengan Bi Marni. Ia membicarakan persiapan pernikahan Sarah yang mendadak. Bu Rahmi ingin semuanya kelar sebelum ia kembali ke luar kota mengurusi bisnis kulinernya.


Ia percayakan Bi Marni mengurus semuanya, karena Bi Marni lebih mengetahui EO yang terbaik di sini .


Karena acaranya mendadak, jadi persiapannya pun harus serba cepat. Yang terpenting acaranya berlangsung khidmat.

__ADS_1


Bu Rahmi juga hanya mengundang keluarga terdekatnya saja, dan teman-teman Sarah .


Tinggal menunggu kehadiran keluarga Hamzah saja untuk menentukan tanggal dan hari terbaik untuk menggelar akad nikah.


__ADS_2