
Walaupun disediakan kamar untuk dirinya, Wila tetap saja memilih tidur di ruangan tempat Yeni di rawat.
Ia begitu mengkhawatirkan Yeni, karena di Kota ini hanya mereka berdua. Ia juga tidak berani memberi kabar kepada keluarganya di Kampung.
Ia hanya berharap , Yeni cepat pulih . Sudah hampir tiga hari Yeni di rawat di Klinik.
Ping, hand phone Wila berbunyi, ada sebaris pesan dari Hamzah, "Alhamdulillah, akhirnya aku menemukanmu, dan hati kita sudah ditautkan oleh-Nya, semoga saja bisa sampai tujuan akhir kita" diakhiri oleh emot hati.
Wila mesam mesem sendiri, tak dapat dipungkiri , hatinya pun sedang berbunga bunga. Ia tidak menyangka orang yang selama ini dikaguminya ternyata menyimpan perasaan yang sama.
"Aamiin", Wila balas mengamini .
"Kak, mungkin ini salah, aku menerimamu tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibu "
"Ini kan baru permulaan, nanti kalau kamu pulang, aku bisa ikut untuk bertemu Ayah dan Ibu kamu"
"Tapi sepertinya itu masih jauh Kak, aku mau menyelesaikan kuliah dulu"
"Aku menemui Ayah dan Ibu , bukan berarti mau melamarmu, tapi untuk minta ijin berta'aruf , semoga jalan kita dimudahkan oleh-Nya"
Wila kembali mengamini, mereka saling balas chat . Tak dapat digambarkan betapa bahagianya Wila saat ini.
Mereka akhiri chat mereka dengan saling berucap salam .
Masih banyak yang ingin Wila tanyakan kepada Hamzah, tapi Yeni kelihatan gelisah kembali.
Wila menghampiri dan mencoba menenangkannya , ia kembali membimbingnya untuk tilawah Al-qur'an.
Alhamdulillah setiap kali dibacakan Al-qur'an, Yeni terlihat lebih tenang.
Yeni sudah terlelap kembali. Wila menanap nanar Yeni, ia tak menyangka Dirja , suami Yeni bisa tega meninggalkannya hanya karena belum bisa memberinya anak.
Wila berpikir, bagaimana kalau Hamzah seperti itu?!, "Astaghfirullah, kok jadi su'udzon", Wila mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Setelah dilihatnya Yeni tenang, ia ikut membaringkan badannya di sofa dekat ruang Perawat.
Tanpa Wila ketahui, Hamzah kembali ke Klinik karena ada hal yang harus diselesaikan. Hampir menjelang tengah malam ia sampai di Klinik.
Saat memasuki Klinik, Hamzah sejenak tertegun ketika mendapati Wila tidur di sofa. Ia berjalan mendekat, dipandanginya wajah Wila, tampak lebih bercahaya.
__ADS_1
Hamzah jongkok di samping Wila yang masih terlelap. Tangannya refleks mengusap kepalanya, namun cepat - cepat ia tarik kembali.
"Astaghfirullah", ia hampir tidak bisa menahan gejolak rasa yang begitu menggelora. Bisikan - bisikan jahat pun berseliweran di pikirannya.
Ia cepat -cepat menuju ruangan Perawat, ia ambil sebuah selimut untuk Wila.
Setelah itu ia bergegas menuju ruangan ADM untuk mengambil berkas yang diperlukan. Setelah mendapatkannya, ia duduk sebentar.
Niatnya untuk kembali pulang ia urungkan. Akhirnya ia menginap di Klinik menemani Wila.
*
*
*
Sarah sudah terlihat bete begitu memasuki gerbang Kampus. Susi yang berjalan disampingnya menyadari keadaan itu. Ia pun diam saja tak ingin jadi pelampiasan kekesalan Sarah.
"Pasti belum datang?!" gerutu Sarah saat mendapati kelasnya masih sepi. Susi kembali tidak banyak bicara , ia langsung saja duduk di kursinya.
"Kenapa siih dari tadi diam terus, sariawan?! " Sarah menegur Susi .
"Lihat saja nanti, aku bikin dia gak betah di Kampus ini!", sewot Sarah.
"Lets see! , kita susun rencana buat si gadis kampung itu", Sarah menggusur tangan Susi menuju Perpustakaan.
Ada beberapa orang Mahasiswa yang sudah ada di sana. Sarah langsung memilih meja di dekat kaca, agar pandangannya bisa sekalian mengawasi ke halaman Kampus.
Ia ambil beberapa buku sekedar untuk membaca baca ringan. Sambil sesekali melempar pandangan ke arah luar.
Susi dari tadi sibuk memainkan hand phone nya sambil mesam mesem sendiri. "Kenapa, ada yang lucu?" Sarah mengagetkan Susi.
"Kebiaasaan banget siih, bikin orang kaget aja", gerutu Susi.
"Punya ide nggak, buat ngerjain si gadis kampung itu?!" Sarah minta pendapat dari Susi.
"Eeemmm, gimana ya?" Susi terlihat sedang berfikir.
Tetiba Sarah langsung berdiri dari duduknya, ia sedikit mendekat ke kaca jendela . Ia tampak sedang memperhatikan sesuatu di luar sana.
__ADS_1
"Ada apa?" Susi menghampiri Sarah yang kini sudah tampak semakin kesal.
Susi melempar pandangan ke luar, dan terlihat dua orang sedang memasuki gerbang Kamus.
"Apa itu si gadis kampung???, dan bukannya itu Hamzah??" Susi agak ragu dengan berjalan lebih mendekat lagi ke kaca.
Memang benar, yang mereka lihat itu adalah Wila dan Hamzah. Mereka baru sampai di Kampus. Mereka tampak berbincang sejenak sebelum berpisah menuju kelasnya masing-masing.
"Huuh, tambah berani saja itu orang", gerutu Sarah. Ia semakin benci saja kepada Wila. Ia kesal karena seharusnya dia yang ada di posisi Wila sekarang.
Ia merasa Wila sudah menjadi penghalangnya untuk mendekati Hamzah. Ia juga tak habis fikir, kenapa Hamzah juga sepertinya welcome banget sama Wila.
Padahal kalau di lihat dan dibandingkan, dari segi apapun Sarah pasti pemenangnya. Ia seorang Mahasiswi yang cantik, anak dari seorang Pengusaha terkenal.
Sedari kecil ia sudah bergelimang kemewahan. Mau apa pun tinggal beli, dengan uang jajan yang cukup besar, dan kartu kredit yang no limit.
Semua fasilitas dan kemewahan itulah yang membuatnya angkuh. Ia berfikir kalau semua yang ia mau, harus ia dapat.
Walau bagaimana pun dan dengan cara apa pun. Sedikit egois memang. Namun semua itu tak lepas dari didikan kedua orang tuanya yang super sibuk.
Sarah sudah terbiasa dari kecil, apa pun maunya pasti selalu di turuti oleh kedua orang tuanya.
Kuliah di Kampus ini pun bisa masuk dengan mudah, no test, secara ayahnya adalah donatur terbesar di kampusnya.
Jajaran pengurus dan para Dosen pun lebih mengutamakannya. Hanya ada beberapa Dosen saja yang bersikap profesional, yaitu Pak Putut dan Bu Rida.
Kebetulan , Wila pun sedang menuju ruang Perpustakaan, sementara Hamzah langsung menuju ke ruang Senat.
Ada beberapa buku yang ingin Wila pinjam, secara ia belum bisa untuk membelinya.
Sarah menyadari kalau Wila lagi berjalan menuju ruang Perpustakaan. Ia segera menuju ke deretan rak buku, tak lupa menyambar tangan Susi.
"Mau ngapain siiih?" Susi setengah terhuyung karena tangannya di gusur paksa oleh Sarah.
Sarah dan Susi setengah bersembunyi di antara deretan rak buku, sambil sesekali mengambil dzn membuka buka buku , padahal matanya lagi fokus ke arah pintu Perpustskaan.
Tak lama Wila muncul diambang pintu. Ia tidak menyadari kalau dirinya lagi diperhatikan. Ia berjalan tepat ke deretan rak buku dimana Sarah dan Susi berada.
Ia tampak memilih milih buku, mencari buku yang ia perlukan. Dan hap , pas ia mau mengambil buku yang di maksud, tangan Sarah mendahului mengambilnya.
__ADS_1
"Aku duluan", dengan wajah innocent Sarah mengambil buku yang akan diambil oleh Wila.