
Wila bangkit dari duduknya, ia tersenyum kepada Andi. Lagi-lagi orang ini selalu ada di saat dirinya lemah. Wila terhuyung, merasakan kakinya yang kesemutan, karena terlalu lama duduk.
Dengan sigap Andi menahannya, "Pelan-pelan, coba duduk, selonjorkan dulu kakinya", Perintah Andi, ia memapah Wila untuk kembali duduk meluruskan kakinya.
"Kenapa sendirian di sini, sampai malam lagi, tidak baik, buat perempuan seperti kamu", komentar Andi saat menunggu kaki Wila kembali normal.
Ingin rasanya membantu memijat kaki Wila, namun Andi merasa canggung, dan tidak berani.
Untuk beberapa saat mereka di sana sampai kesemutan Wila mereda, setelah itu baru mereka beranjak pulang.
Mereka memilih berjalan kaki, karena mobil Andi tidak akan bisa masuk gang yang menuju rumah Bi Yeni.
"Sebentar", Andi mampir di tukang martabak dan memesannya.
"Wila duduk di bangku kosong, ia melihat bulan yang mulai menampakkan dirinya, "Abang, kenapa tega meninggalkan aku tanpa pesan", lirihnya. Ia menunduk sambil mengotak -atik Hand Phone, masih berharap Hamzah mengabari keberadaannnnya.
Namun berkali-kali ia cari, tak ada satu pun pesan dari nya . Wila mencoba mendial nomer Hamzah, tidak aktif.
"Hah", Wila menarik nafas panjang.
Wila melirik Andi, dan kebetulan Andi pun sedang memperhatikan Wila, sejenak pandangan mereka terkunci, buru-buru Wila menunduk.
Andi melihat sorot mata kesedihan pada Wila, pandangan yang hampa.
"Ini sudah", pedagang memberikan bungkusan martabak yang sudah jadi.
"Ooh, iya terima kasih", Andi memberikan sejumlah uang untuk membayarnya.
"Ayo pulang, sudah terlalu malam!", Andi berjalan duluan, diikuti Wila.
Tak lama mereka sampai di depan rumah Bi Yeni. Benar saja, Bi Yeni menunggu dengan cemas di teras rumah. "Alhamdulillah, akhirnya kalian pulang", Bi Yeni menyambutnya dengan senyuman mengembang.
"Lo..., kok hanya berdua?, Mana Hamzah?", Bi Yeni melihat sekeliling.
Tanpa menjawab, Wila langsung masuk ke dalam rumah," Wila ganti baju dulu Bi", ia segera masuk meninggalkan Bi Yeni yang keheranan.
"Kenapa kok sampai malam?",
"Tadi ada acara dulu di Masjid Kampus, jadi pulangnya telat", Andi mencari alasan.
__ADS_1
"Ini, Bi", Andi memberikan bungkusan martabak yang dibawanya kepada Bi Yeni.
"Terima kasih, terus kemana Hamzah?, kok malah Nak Andi yang mengantar Wila pulang", Bi Yeni masih penasaran soal Hamzah.
"Biar Wila saja yang menjelaskan, takut salah Bi?", Andi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bi Yeni menautkan kedua alisnya, "Oh iya, mau kopi atau susu?, biar Bibi buatkan", tawari Bi Yeni.
"Nggak usah Bi, terima kasih, saya mau langsung pulang saja, kasihan Bibi juga pasti cape", senyum Andi.
"Saya pulang ya Bi, maaf nggak bisa lama-lama, sudah malam", Andi pamit pulang dan segera meninggalkan rumah Bi Yeni.
"Ya, terima kasih", Bi Yeni berdiri mengiringi kepergian Andi, tak lama ia masuk ke dalam rumah.
Niatnya untuk berbincang dengan Wila ia urungkan, karena melihat pintu kamar Wila yang sudah tertutup, ia tidak ingin memaksa Wila untuk bicara malam ini, biar saja dulu, biar dia tenang dulu, pikirnya.
Lagi pula ia pun sudah mengantuk, seharian menjaga warung sendirian, membuat rasa lelah menyerang tubuhnya, dan ingin segera merebahkan tubuhnya.
***
Hamzah pun sama, hari pertama di rumah Mertuanya membuat dia gelisah. Ia selalu teringat Wila.
'Lagi apa kamu di sana, pasti lagi memikirkan aku juga, maaf aku nggak sempat memberi kabar, hand phone nya hilang' pikiran Hamzah menerawang, melihat ke langit yang kini sudah dipenuhi bintang bertebaran.
Indahnya pemandangan malam di Puncak dan sejuknya suasana di sana tidak membuat Hamzah betah, malah sebaliknya ia makin resah memikirkan Wila.
"Sudah malam, ayo istirahat", Suara Sarah membuyarkan lamunan Hammzah. Tangan Sarah sudah melingkar kuat dipinggangnya.
"Kebiasaan sekali ya, aku tidak suka dengan ini", Hamzah melerai pelukan Sarah.
"Kenapa?, ini halal kok, kita sudah sah", Sarah kembali melingkarkan tangannya dan lebih erat memeluk Hamzah dari belakang, tubuhnya erat menempel di punggung Hamzah.
"Ingat perjanjian kita, aku tidak akan menyentuhmu selama anak itu ada dalam perutmu", tolak Hamzah.
"Kamu yang telah memaksa aku untuk menikah, dengan melakukan tipu daya, aku tidak suka, dan satu hal lagi, aku tidak cinta", aku Hamzah.
"Pelankan suaramu, nanti ada yang dengar", Sarah mengingatkan Hamzah.
"Makanya, kamu jangan banyak tingkah", Hamzah melerai tangan Sarah dan menjauh darinya.
__ADS_1
"Kamu memang raja tega, apa kamu tidak merasa kasihan sama aku?", Sarah tampak memelas.
"Kasihan... Katamu?", apa sebelum menjebak aku, kamu tidak berpikir dulu, akan ada hati yang terluka dengan ulahmu ini, dasar egois", gerutu Hamzah.
"Maksudmu si gadis Kampung itu?, apa istimewanya dia dibanding aku, kok kamu sepertinya tidak bisa move on dari dia, apa mungkin kamu sudah kena pelet?", sinis Sarah
Ia mencibirkan bibirnya, "Dasar aneh, atau matamu sudah rabun?, tidak bisa membedakan mana yang cantik, mana yang asik, mana yang estetik", cibir Sarah.
"Dia itu bukan level kamu, ia lebih segalanya dari kamu, memang kamu cantik, kamu kaya, kamu menarik, tapi semua itu hanya polesan, semuanya semu, palsu , semua yang kamu punya itu milik Mamymu, dasar anak manja", Hamzah meninggalkan Sarah, tidak ingin menambah besar keributanny.
"****, dasar .....", Sarah tidak menyelesaikan ucapannya, katena tiba-tiba Mamy nya masuk dan menghampirinya.
"Kok di sini sih Hany, angin malam tidak baik buat kesehatanmu, mendingan kita makan malam dulu, ajak suamimu!, Mamy tunggu di bawah", Bu Rahmi mengusap kepala putri kesayangannya.
"Iya Mih, nanti Kak Hamzahnya lagi ke air dulu", Sarah mencari alasan, padahal ia tidak tahu ke mana Hamzah pergi.
Sarah mencari di sekitar kamar, Hamzah tidak ada. Ia coba cari di taman belakang pun tidak ada.
Ia langsung ke ruang makan , dan hanya mendapati Mamy nya.
"Ayo duduk!, malan dulu, mana suamimu?", tanyai Bu Rahmi saat Sarah datang sendiri.
"Nggak tahu, tadi nggak bilang mau kemana, tapi di kamar nggak ada", Sarah duduk dengan sedikit cemberut.
"Sudah, makan saja dulu, kamu harus menjaga kesehatan, ingat ada yang butuh makan di sana", Bu Rahmi menunjuk perut Sarah.
"Iya, Mih", dengan malas Sarah menyiduk nasi dan mengambil lauknya.
Ia menyuapkan sendoknya dengan perlahan, dan mengunyahnya asal.
"Ckck.."
"Yang benar makannya", Bu Rahmi kembali mengingatkan Sarah.
"Rasanya tidak ada selera makan", Sarah menaruh sendoknya dan berhenti mengunyah.
"Makan itu jangan menuruti selera, tapi suatu kebutuhan, apalagi buat kamu, ada yang ikut makan di sana, kasihan, masa di kasih makan obat terus", paksa Bu Rahmi.
"Ayolah, makan yang benar!, apa perlu Mamy pesankan makanan?, ayo kamu mau apa?", bujuk Bu Rahmi.
__ADS_1
"Aku itu nggak mau makan, tapi mau Hamzah", Sarah merajuk seperti anak kecil.
Bu Rahmi mengulum senyum, "Sarah....Sarah..., kamu itu ",