Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Pengakuan


__ADS_3

Wila bangkit dari duduknya, ia lipat dan simpan kembali alat shalatnya. Ia duduk di atas tempat tidur.


Mungkin besok adalah awal dari kahidupan barunya. Ia akan menanggalkan semua harapan dan cita-cita yang sedah lama ia damba.


Ia harus meninggalkan tempat utama untuk mencapai semua cita-citanya, ya, Wila harus meninggalkan Kampusnya, tidak mungkin ia terus bertahan dengan kondisinya saat ini.


Sesuatu yang ada dirahimnya akan terus tumbuh, dan lingkungan di luar sana busa saja menolak kehadirannnya.


Sayup terdengar Bi Yeni mengunci pintu rumah, dan Wila pikir inilah saatnya ia menemui Bi Yeni .


Dan benar saja Wila mendapati Bi Yeni tengah duduk di ruang keluarga. Ia tampak sedang menghitung penghasilannya hari ini


Setumpuk rupiah ia taruh di atas meja. Lembar demi lembar mulai ia hitung. "Alhamdulillah", gumamnya. Bi Yeni memilah uangnya, satu bagian ia masukkan dompet, dan sisanya ia masukkan ke dalam tas yang biasa ia bawa saat ke Pasar.


Wila berjalan menghampiri bibinya. Ia sudah yakin, harus bicara malam ini. Apapun yang terjadi, akan ia hadapi.


"Belum tidur Neng", Bi Yeni lebih dulu menyapanya.


"Belum", jawabnya singkat. Wila duduk di samping Bi Yeni.


Sejenak Wila diam, ia sedang memikirkan kata-kata terbaik yang akan diucapkannya. Tapi percuma, pasti bibinya akan tetap terkejut atau mungkin marah besar saat mendengar pengakuannya.


"Ada apa, kok malah diam?, perlu uang lagi untuk membeli buku?, atau ada tugas lain lagi?", cecar Bi Yeni karena Wila hanya diam saja.


"Bu....bukan itu Bi, tapi, hiks....Wila tak sanggup berkata-kata karena suaranya mulai tercekat oleh tangisannya.


Bi Yeni kaget melihat Wila yang menangis, ia merengkuh tubuhnya, "Ada apa Neng, apa ada yang sakit?", gugup Bi Yeni.


Ia merasa kaget karena baru pertama kali Wila seperti ini. Bi Yeni memegang kedua pundak Wila,"Ada apa Neng, bicarakan sama Bibi!".


Wila menyeka air matanya dengan telapak tangan, lalu ia memeluk bibinya. "Maafkan Wila Bi, Wila khilap, Wila salah", Wila kembali menangis.


Bi Yeni tambah bingung. "Ya sudah , menangislah !, nanti ceritakan semuanya kepada Bibi", Yeni mengelus punggung Wila dan membiarkannya menangis.


Setelah beberapa tangisnya mereda, menyisakan isakan. "Sekarang tenanglah!, ayo ceritakan szma Bibi, ada apa?", Yeni memegang kedua telapak tangan Wila yang terasa dingin.


"Ini minum dulu!", Yeni memberikan Wila segelas air dsn Wila pun meminumnya.


"Terima kasih Bi",

__ADS_1


"Nah, sekarang ceritakan sama Bibi, ada apa?", Yeni menatap Wila lekat.


"Wila takut Bi, pasti Bibi akan marah, atau mungkin akan mengusir Wila dari sini", dan hiks....Wila menangis lagi.


Hal ini menambah Yeni kaget dan bingung, sebenarnya ada apa dengan Wila?


"Ya Allah, ada apa Neng?, jangan bikin Bibi takut , ceritakanlah!",


"Neng...., apa ada yang menyakitimu?"


Wila menggelengkan kepala,


"Apa ada yang sakit, atau HP hilang lagi?", Yeni mencoba menerka- nerka.


"Bukan Bi, Wila pasrah kalau Bibi mau marah atau mengusir Wila dari sini, karena ini semua salah Wila",


"Memangnya ada apa Neng?, ada masalah apa, sampai Bibi harus marah dan mengusirmu dari sini, ingat Neng, semua orang pernah melakukan kesalahan, jadi sekarang beritahu Bibi, apa kesalahanmu?",


Wila menunduk, ia terisak.


"Wila....Wila ....," ia tak sanggup melanjutkan bicaranya, namun ia serahkan sebuah benda kecil kepada Yeni.


Yeni terperanjat saat menyadari apa yang dipegang dan apa yang dilihatnya.


"Jangan katakan kalau ini milik kamu Neng", Yeni gemetar memegangi benda pemberian Wila.


Wila menunduk, diam seribu bahasa, tubuhnya terasa melayang, kepalanya pusing, dan pandangannya mulai kabur dengan air mata yang kembali membanjir.


"Prak..., tubuhnya tumbang , tergeletak di kursi di samping Bi Yeni yang masih duduk memegangi test pack pemberian Wila.


"Astaghfirullah Neng", Yeni lebih kaget lagi mendapati Wila yang kini tak sadarkan diri, wajahnya pucat, tubuhnya dingin.


Yeni kebingungan , ia menidurkan Wila di kursi dan berusaha menyadarkan Wila sebisanya. Ia cari keberadaan HP Wila.


Ia cari nomer Hamzah untuk memintanya pertolongan.


Untung saja sambungan segera di angkat, Yeni bicara sambil salah satu tangannya memegangi erat tangan Wila.


"Halo, Assalamu'alaikum, ini Den Hamzah?, tolong Den, Wila pingsan, bisa datang ke rumah sekarang?",

__ADS_1


Namun yang menjawab adalah seorang wanita, ia tampak marah,"Maaf salah sambung, kalau sakit telepon rumah sakit, bukan minta tolong sama suami orang", dan sambungan pun ditutup.


Bi Yeni melihat layar HP Wila, tertera nama Hamzah di sana. 'Mungkin istrinya', pikir Yeni. Ia tidak sadar kalau saat ini Hsmzah sudah menikah. Tidak mungkin ia terus merepotkannya.


Yeni bingung harus minta tolong kepada siapa?, namun dalam kebingungannya itu, Wila tersadar.


Wila berusaha duduk dan memegangi kepalanya yang terasa berat.


"Alhamdulillah, sudah sadar Neng", Bi Yeni merasa sedikit tenang.


Bi Yeni membiarkan Wila untuk sementara, ia membantu memijit pundaknya, ia kaget dan juga marah. Tapi melihat kondisi Wila, ia meleleh.


Yeni malah ikut sedih, ia teringat pada masa lalunya, yang pernah mengalami hal yang sama, tapi ia bungkam, malah mengikuti perintah Dirga untuk meluruhkannya, dan akibatnya, sampai hampir sepuluh tahun menikah, ia tidak kunjung dikaruniai keturunan. Dan Dirga malah mencampakkannya dan berpindah ke lain hati.


Yeni mendekap tubuh Wila yang kini bergetar kencang, ia menangis lagi. Penyesalan yang teramat besar melingkupi hatinya.


Ia telah menghancurkan impiannya sendiri. Sudah pasti ia tidak bisa melanjutkan kuliahnya lagi.


"Maafkan Wila Bi, Wila mohon jangan bicarakan hal ini pada Bapak dan Ibu, biar Wila yang menanggungnya, biarkan Bapak dan Ibu mengetahui ini dari Wila",


Yeni mengelus punggung Wila, "Iya, Bibi tidak akan memberitahu ayah dan ibumu dulu, tapi katakan siapa orangnya?, Hamzah kan?", tebak Yeni.


Wila mengangguk. "Pantas saja beberapa kali ia ke sini mencarimu, mungkin ia sudah punya firasat dengan kehamilau ini",


"Apa dia sudah tahu?",


Wila mengangguk lagi.


"Ya sudah , suruh dia tanggung jawab!",


Wila menggelengkan kepala.


"Kenapa? Karena dia kini sudah menikah?, tapi itu bayinya, kamu tidak ingin kan ia tumbuh tanpa sosok ayah?",


"Hamil di luar nikah, tidak akan diterima di mana pun, minimal kamu nikah dulu, selepas itu terserah, yang penting anak yang akan kamu lahirkan statusnya jelas".


"Kamu tidak ingin kan dikucilkan masyarakat gara-gara ini?


Wila terdiam, ia mencerna semua kata-kata bibinya.

__ADS_1


"Sudah, sekarang tenang dulu, jangan banyak pikiran, nanti Bibi pikirkan bagaimana sebaiknya"


"Baik untuk kita semua", harap Yeni . Ia masih memeluk Wila. Ia akan mendukung Wila untuk membiarkan janin itu tumbuh, apalagi ia begitu mendamba seorang anak. Anaknya Wila kelak akan mewakili kerinduannya.


__ADS_2