Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Kurangkai Mimpi Tanpamu


__ADS_3

Tidak terasa sudah mau seminggu Hamzah berada di Bogor, ia belum mengabari Wila tentang keberadaannya.


Hamzah sudah kembali membeli Hand Phone, namun ia masih belum bisa mengabari Wila, semua nomer teman-temannya sudah bisa dihubungi, tetapi nomer Wila tidak bisa dihubungi.


Hamzah sudah berusaha menghubungi Andi, namun ia juga tidak mengetahui nomer baru Wila.


Wila harus membiasakan diri tanpa Hamzah, sudah sepekan ini ia pulang pergibke Kampus dengan jalan kaki, untung saja ia sudah bisa lewat gerbang belakang, sehingga memperpendek jarak yang harus ditempuhnya.


Wila pun sudah mendapat ijin untuk ikut menjual menu sarapannya di Kantin Kampus, dengan begitu, pendapatannya lebih meningkat.


Wila juga ikut aktif dalam kegiatan kemasyarakatan di daerah sekitar tempat tinggalnya, ia seminggu sekali aktif ikut dalam program pos yandu dan Puskesmas keliling.


Sebisa mungkin ia manfaatkan waktu luangnya untuk kegiatan bermanfaat.


Namun semakin dengan berjalannya waktu, perubahan dalam dirinya pun semakin nampak. Tubuhnya lebih berisi, perutnya pun semakin meruncing. Bagi Bi Yeni , itu hal wajar, tapi bagi para tetangga dan teman-teman kampusnya, itu merupakan hal yang ganjil.


Lela dan Mita pun menyadari hal itu, walau Wila sudah terbiasa memakai pakaian longgar, tetapi tetap saja penampilannya berbeda dengan tubuhnya yang makin berisi.


Hari ini seperti biasa , Wila berangkat ke Kampus, ia menenteng sebuah box berisi kue basah yang akan ia titipkan di Kantin.


"Wila berangkat dulu Bi, pulannya agak sore, mau langsung ke Madrasah",


"Iya, jangan terlalu capek Neng!", Yeni memandangi punggung Wila yang mulai menjauh, ia merasa terenyuh melihatnya, keponakannya itu tetap sabar menjalani rutinitasnya, walau Yeni tahu, Wila sedang menyembunyikan kegalauan hatinya.


Sampai Wila menghilang di ujung gang , Yeni baru kembali melanjutkan aktifitasnya. Ia sibuk menggoreng dan sesekali melayani pembeli.


Alhamdulillah, jualannya tambah lancar. Pesanan tiap harinya ada terus.


Wil sudah sampai di Kantin Kampus, "Assalamu'alaikum Bu, ini saya bawa kue -kue lagi", senyumnya kepada Ibu Kantin, sebut saya Bu Mari.


"Ya, mangga Neng, langsung simpan aja di depan, sudah Ibu sediakan piring-piringnya" ,persilahkan Bu Mari sambil tetap sibuk menata kursi di depan etalase kantinnya.


"Kuenya enak-enak Neng", puji Bbu Mari.


"Terima kasih Bu", senyum Wila.


Wila merasa perutnya sedikit kram, ia meringis menahan sakit,"Bu , saya ikut duduk sebentar", pinta Wila, ia duduk untuk meredakan sakit yang dialaminya.


"Mangga Neng", Bu Mari kembali ke belakang, ia memperhatikan Wila yang tampak meringis memegang perutnya.


Setelah beberapa saat, kramnya mereda. Wila segera beranjak menuju kelas. Di lorong , ia berpapasan dengan Susi dan Joko. Mereka tampak akrab ngobrol dan sesekali tertawa.


"Wiiih, ada Neng Wila, tambah cakep aja", goda Joko.


Wila melengos, tampak tidak suka dengan ucapan Joko.

__ADS_1


"Kasihan banget ya kamu, sekarang sudah tidak ada yang membelamu lagi di sini, pahlawanmu sudah tidak ada lagi, makanya jangan sok cantik, dia itu hanya memanfaatkan keluguan kamu saja, setelah dapat, ya di depak, husss", cerocos Susi .


Dia selalu saja merasa gak suka sama Wila, mulutnya gatal , selalu saja ingin mencacinya .


Susi selalu ingat, kalau Wila yang selalu mendapat perhatian lebih dari Hamzah.


Walau sekarang Hamzah sudah bersama Sarah, tapi itu tidak menghilangkan rasa bencinya kepada Wila.


Wila tidak menanggapi ocehan Susi, ia terus saja berlalu melewati mereka berdua.


"Eehh, dasar kampungan itu orang", Susi merasa kesal, karena Wila mengabaikannya.


"Sudah-sudah, bukannya mau sarapan, kok malah ngomel-ngomel", Joko menuntun tangan Susi menuju Kantin.


Entah dari kapan Joko bisa mendekati Susi, sepertinya Susi akan menjadi b1targetJokoberikutnya.


Mereka memesan beberapa menu , dan Joko mengambil salah satu kue dan memakannya sambil menunggu pesanan tiba.


"Eemm, ini enak sekali", gumam Joko. Lalu ia meminta pisin, dan mengambil beberapa kue lagi . Ia memakannya kembali sampai sisa i lagi.


Susi yang ada dihadapannya sampai merasa illfeel melihatnya.


"Ih...kamu itu lapar apa kesurupan?, makan pelan-pelan, iihh jorok, makan sampai belepotan gitu", Susi melempar tisu kepada Joko.


"Ini enak tahu", lagi-lagi Joko memasukkan kue ke mulutnya.


Joko memandangi Susi dengan mata liarnya, 'Ini target aku berikutnya', gumamnya dalam hati.


Joko kembali memakan kuenya yang tersisa namun matanya terus memandangi Susi dari atas hingga ke bawah.


"Ranum",celetuk Joko keceplosan.


"Apa? Kamu bilang apa?", Susi melirik Joko


Joko mengulum senyum, itu buah kalau sudah ranum, pasti enak", alasan Joko.


Bu Mari menghampiri membawa pesanan mereka, "Ini Non, Den, silahkan!", ia menata pesanan di atas meja.


"Terima kasih Bu", Susi langsung menyedot jus jeruk pesanannya.


"Oh iya Bu, itu kue-kue beli dari mana?, enak-enak", tanyai Joko.


"Yang itu Den, itu kue dari Neng Wila", aku Bu Mari.


"Oh..., pantesan , enak Bu",

__ADS_1


Susi mencebik, ia tidak suka nama Wila kembali di puji .


Bu Mari meninggalkan Susi dan Joko, ia kembali berkutat di dapur Kantin.


Sementara Joko dan Susi menikmati pesanannya. Susi masih tampak kesal, dan Joko terus memperhatikannya.


Seakan ia ingin menikmati Susi juga.


Wila yang terus berjalan dari hadapan Susi dan Joko tadi, kini sudah sampai di kelas. Ia langsung masuk dan duduk di kursi tempatnya biasa duduk.


Ia keluarkan Hand Phone dan mengecek beberapa pesan masuk. Sengaja ia mengganti nomernya, untuk menghindari Hamzah.


Wila ingin menjalani hidup yang normal, tanpa terus banyak berharap dan menanti sesuatu yang tidak pasti.


Wila tidak ingin terus-terusan dibayangi oleh Hamzah, ia hanya mampir saja dalam hidupnya, tidak untuk bersama untuk selamanya, seperti harapannya.


Biarlah ia yang akan menanggungnya sendiri, wila tidak ingin terus dibayangi oleh bayangan semu.


Ada rasa kesal dan kecewa dihatinya kepada Hamzah. Kenapa Hamzah tidak tegas dalam memperjuangkan dirinya, kenapa Hamzah tidak bisa memilihnya dan melepaskan Sarah.


Malah kini, Hamzah pergi meninggalkannya, dan memilih bersama Sarah.


Bahkan sudah sepekan tidak ada kabar.


'Bismillah, sayang , kita harus kuat, kamu hanyalah milik ibu, kamu tidak akan kekurangan apapun walau hanya punya Ibu', Wila berbicara dalam hati sambil memegang dan mengusap perutnya, seolah ia sedang bicara kepada calon anaknya yang sedang tumbuh di sana.


Tak terasa butiran bening mendesak dari kedua kelopak matanya, tapi cepat- cepat ia menyekanya, 'Maaf sayang, Ibu tidak akan membuatmu sedih lagi, kita pasti bisa bahagia, walau hanya berdua', kembali Wila bicara dalam hatinya.


"Assalamu'alaikum, tumben sudah di sini, biasanya juga datang paling akhir" , suara Lela mengagetkan Wila.


"Wa'alaikumsalam", senyum Wila.


"Iya, lagi semangat nih, jadi datang paling awal, sekalian mengantar kue ke Kantin",


"Alhamdulillah, jadi juga titip di sana?",


Wila mengangguk.


"Mana Mita, kok tidak ada?", Wila melihat ke luar kelas.


"Mita gak masuk hari ini, ngantar adiknya ",


"Sini, aku tertarik untuk ikut magang di Saudi", aku Wila.


"Hah, apa sudah dipikirkan baik-baik?", Lela menatap tajam sahabatnya itu.

__ADS_1


"Iya, sudah", tegas Wila.


Wila tertarik untuk pergi ke Saudi, tapi itu nanti setelah ia lulus.


__ADS_2