Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Dia anakmu


__ADS_3

Malam itu Yeni sengaja tidur menemani Wila. Ia takut Wila berbuat sesuatu yang membahayakan diri dan kandungannya.


Yeni melihat Wila baik-baik saja, setelah shalat shubuh , Yeni berangkat ke pasar, sedang Wila masih berkutat dengan cucian di dapur.


"Neng, Bibi pergi dulu, hati-hati dirumah!",


Tadinya Yeni ingin menemui Hamzah untuk bicara dengannya, tapi ia lupa tidak bertanya alamatnya kepada Wila.


Dan Yeni berharap Hamzah kembali menemui Wila di rumah .


Sepeninggal Yeni, Wila duduk termenung di kursi makan , ia memikirkan bagaimana sebaiknya , hari ini ia harus kembali ke Kampus, bagaimana ia mengakui semua yang terjadi pada dirinya.


Hari ini ia harus kembali ke Kampus. Apalagi ia sudah mengambil banyak SKS untuk semester ini.


Dan sesuatu yang sedang tumbuh dirahimnya tidak bisa disembunyikan lagi, ia akan terus membesar.


Kalau hari ini ia jujur dan mengakui semuanya kepada pihak Kampus, berarti besok ia sudah tidak bisa kuliah lagi.


Mana mungkin Mahasiswi yang hamil diluar nikah masih dibiarkan kuliah.


Seperti sudah janjian saja, saat Yeni mau pulang menunggu angkot ,yang datang ternyata Hamzah. Ia sudah menunggunya di persimpangan jalan.


"Alhamdulillah , kebetulan bertemu di sini", Hamzah tampak senang.


Yeni merasa kaku berhadapan dengan Hamzah, ia marah, ia juga banyak berharap kepadanya untuk bisa mengatasi masalahnya dengan Wila.


"Mari saya antar Bi!", ajaknya.


Yeni tidak banyak bicara, ia langsung saja naik ke atas sepeda motor Hamzah, dengan membawa barang belanjaannnya.


Di jalan tidak terjadi obrolan apa pun. Sampai tiba di halaman rumah, mereka madih saling diam.


Namun Wila merasa terkejut melihat bibinya pulang bersama Hamzah, mau sembunyi tidak sempat mau pergi un tidak bisa.


Karena fokus melamun, jadi Wila tidak menyadari suara deru sepeda motor Hamzah. Tahu-tahu Hamzah sudah ada di teras depan rumah membawakan belanjaan Yeni.


Tak mau membuang waktu, Yeni segera menghampiri Wila dan mengajak Hamzah ikut serta. Mereka kini duduk saling berhadapan di meja makan.


Wila menunduk, menghindari pandangan Hamzah.


"Den, sekarang bagaimana sebaiknya?, Bibi tahu kalian sudah saling mengetahui, dan saatnya memutuskan solusinya.


"Ini bukan main-main lagi, Bibi nggak mau Wila dikucilkan gara-gara ini, dia sedang mengandung anakmu!", terang Yeni.

__ADS_1


Maunya sih Yeni marah , tapi ia masih bisa mengendalikan perasaannya. Ia inginkan solusi yang terbaik, untuk Wila.


"Saya sudah tahu Bi, tapi Wila selaly menolak , saya mau tanggung jawab Bi",


"Bagaimana dengan istrimu?, apa dia tahu?"


Hamzah menggelengkan kepala.


"Jadi maksudnya kamu mau menikahi Wila tanpa sepengetahuan istrimu?", tebak Yeni.


"Sarah juga sedang mengandung Bi", aku Hamzah.


Yeni terkesiap mendengarnya, seketika rasa marahnya memuncak ," Apa-apaan ini, jadi kamu menghamili dua wanita secara bersamaan?", Yeni gemetar menahan marah.


Hampir saja ia menampar Hamzah.


"Ya....Rabb , ampuni!",


"Saya di jebak Bi, Sarah sudah mengandung saat saya nikahi", aku Hamzah.


"Dari mana kamu tahu kalau itu bukan anakmu?",


"Sarah pingsan sesaat setelah ijab qabul , dan hasil diagnosa dokter keluarga menyatakan kalau Sarah sedang mengandung saat itu", jelas Hamzah.


"Bi, aku akan menikahi Wila secepatnya", ucap Hamzah cepat.


"Aku cuma mau status buat anak yang akan lahir nanti, aku tidak menuntut apa pun setelah itu, kalau kamu mau melepaskan aku setelah anak ini lahir pun tidak apa-apa", Wila menunduk.


"Apa -apaan ini, jangan mempermainkan pernikahan, Bibi lebih setuju Wila jadi istri kedua, nggak apa-apa , dari pada kalian berencana seperti itu", ucap Yeni.


"Tapi Bi, Wila nggak apa-apa",


"Bukan begitu Neng, ini demi anakmu dan masa depanmu juga, kamu akan dikucilkan jika mempertahankan anakmu tanpa ada status pernikahan",


"Sebaiknya kita laksanakan di Kampung saja Neng, biar Bapak dan Ibu bisa menyaksikan, sederhana saja, yang penting ijab qabulnya", saran Yeni.


"Ya sudah Bi, nanti saya transfer uang untuk persiapan semuanya, minggu besok saja kita laksanakan, kebetulan saya ada urusan di daerah Parigi, bisa sekalian", usul Hamzah.


"Baik, lebih cepat lebih baik, nanti Bibi kabari orang-orang di Kampung",


"Baik Bi, saya titip Wila, nanti saya akan mintakan ijin buat Wila, biar bisa istirahat dulu seminggu ini, biar kuliahnya lewat online saja, saya masih ada urusan", ,pamit Hamzah.


Ia segera meninggalkan rumah Yeni, dan melajukan sepeda motornya menuju Kampus.

__ADS_1


Hamzah langsung menuju ruang Dekan , untuk mengurus ijin untuk Wila dan dirinya. Bukan hal sulit melakukan itu bagi Hamzah.


Sebagai ketua Senat dan sebagai seorang anak dari Dokter terkenal yang menjadi guru besar di Kampusnya, membuat hampir semua Dosen menghormatinya.


Tetapi baru sekarang Hamzah memanfaatkan posisinya untuk kepentingan pribadinya.


Tidak ada yang mengetahui rencana Hamzah, dan semoga saja bisa berjalan lancar.


Di ruang Dekan , Pak Putut dan Bu Rida menggoda Hamzah, yang terbilang masih pengantin baru.


Hamzah hanya menjawab seperlunya dan sekenanya saja, karena walau statusnya suami istri, tetapi ia melewatkan malam pertamanya dengan Sarah.


Dan kini ia sedang fokus untuk merencanakan pernikahan keduanya dengan Wila, walau harus dilaksanakan secara diam-diam .


Hamzah rasa ini tidaklah dosa, ia menikahi Sarah karena di jebak dan Sarah sedang mengandung anak dari laki-laki lain. Sedangkan Wila , sudah jelas ia telah mengandung darah dagingnya.


Ia telah berbuat dan ia juga yang harus bertanggung jawab.


Sengaja Hamzah melakukan persiapan ini itu di Kampus, supaya tidak membuat curiga Sarah dan ibunya .


Semua persiapan ia lakukan dengan meminta bantuan teman-teman terdekatnya, termasuk Andi.


Ia meminta bantuan Andi untuk melakukan semua persiapan ijab qabulnya di Kampung halaman Wila.


Drttt....


Hand phone nya bergetar, ia lihat sebuah nomet tidak dikenal memanggilnya. Ia ragu untuk mengangkatnya, 'paling itu orang iseng' pikirnya.


Ia kembali berkutat dengan kegiatannya. Namun kembali nomer itu masuk .


Penasaran, akhirnya ia angkat juga , lalu diam, menunggu si penelepon yang bicara lebih dulu. "Halo, Assalamu'alaukum, Den ini Bapak, Caca ".


Mendengar suara ayahnya Wila, Hamzah langsung menghentikan kegiatannya dan langsung berbicara dengannya.


"Wa'alaikum salam, maaf Pak, saya kira siapa, bagaimana Bapak dan Ibu kabarnya baik?", Hamzah menyapa ramah ayahnya Wila, yang tidak lama lagi menjadi ayah mertuanya.


"Alhamdulillah, sehat. Ini bagaimana kok kesannya mendadak Den, mau akad minggu depan?, apa tidak salah?",


"Tidak Pak, itu sudah kesepakatan saya dengan Wila, biar saya bisa menjaga Wila dengan leluasa di sini, Bapak tinggal ikuti saja. Semua persiapan sudah saya wakilkan kepada Andi, beberapa hari lagi saya dan Wila akan tiba di Kampung",


"Ya sudah, kalau begitu Bapak tunggu kehadiran kalian",


Mereka saling berpamitan dengan nada bahagia.

__ADS_1


__ADS_2