Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Mengakui Kesalahan


__ADS_3

Pasca ayahnya di rawat, Hamzah masih tinggal di rumah orang tuanya. Ada rencana ia yang akan menggantikan ayahnya di Rumah Sakit yang ada di Dubai.


Kembali terjadi pertentangan di hatinya, sebenarnya ia ingin segera menemui Wila, ia ingin memperbaiki hubungannya, apalagi setelah anaknya lahir


Namun sebagai anak, ia tidak bisa menolak keinginan ibunya, karena ia anak satu-satunya, hanya dia lah yang diandalkan oleh Ayah dan ibunya.


Mereka sedab menikmati makan malam di rumah, ini untuk yang pertama setelah ayahnya kembali dari Rumah Sakit.


Bi sumi terlihat senang, ia bisa menyaksikan kembali keluarga majikannya lengkap. Setelah hampir satu tahun mereka tinggal terpisah, Pak Zakariya, ayah Hamzah harus bekerja di Dubai, Bu Kalila harus mengurus Klinik yang ada di luar kota, Hamzah sendiri harus tinggal bersama Sarah.


"Sini Bi, ikut makan bersama kami", ajak Pak Zakariya.


"Terima kasih Tuan, Bibi sudah kenyang, maaf tadi sudah makan duluan", senyum Bi Sumi. Ia kembali ke dapur .


"Zah, kata ibumu, Sarah sudah melahirkan?", tanya Pak Zakariya di sela makannya.


"Iya, sudah Pak, bayinya perempuan",


"Keterlaluan nih Pak Hamzah ini, masa sudah mau empat bulan, baru ngasih tahu kemarin waktu di Rumah Sakit", gerutu Bu Kalila.


"Padahal Mamah itu sudah nggak sabar pingin gendong cucu kita, pasti dia mirip Hamzah, anak perempuan itu kebanyakan mirip sama ayahnya, iya kan Pah?" Bu Kalila melirik suaminya.


"Iya,terserah Mamah saja deh", Senyum Pak Zakariya.


Hamzah tidak banyak bicara, ia berpikir, mungkin inilah saatnya ia jujur kepada kedua orang tuanya.


Hamzah terlihat menghabiskan makanan yang ada dipiringnya, setelah minum, ia mengambil sebuah jeruk lalu memakannya, sambil menunggu kedua orang tuanya selesai makan.


'Semoga Mamah dan Papah, bisa menerima ', pikir Hamzah.


Setelah selesai makan, Hamzah memilih duduk di ruang keluarga sambil nonton TV. Kedua orang tuanya mengikuti.


'Mungkin ini saatnya, aku harus jujur',


Mah, Pah, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan", Hamzah menunduk.


"Ada apa?, sepertinya ada yang penting ", Bu Kalila menghampiri anaknya.

__ADS_1


Hamzah terdiam, ia seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk memulai pembicaraan.


"Ada apa?, bicara saja , Zakariya menatap anaknya.


Sekejap Hamzah diam, ia memandang kedua orang tuanya bergantian.


"Ada apa, bicara saja!", Bu Kalila memegang tangan Hamzah. Ia tahu pasti ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh anaknya.


"Pah, Mah, maafkan Zah, mungkin apa yang akan Zah bicarakan bisa membuat Papah dan Mamah kecewa, tapi jangan sampai Papah dan Mamah membenci Zah", Hamzah menunduk.


"Sebenarnya ada apa, kok Papah jadi was-was, hal serius apa sih Zah yang mau kamu bicarakan", Pak Zakariya menatap serius Hamzah.


Hamzah makin menunduk, dirinya merasa semakin kecil dihadapan kedua orang tuanya. Tetapi jika mereka bijak, mereka pasti akan memaafkan dirinya, tidak ada manusia yang sempurna. Yang sempurna pun berawal dari perjuangan dan kerja kerasnya dalam memperbaiki diri.


"Bicara saja sayang, kami orang tuamu, kami akan selalu berada dibelakangmu, apa pun masalahmu", Bu Kalila memeluk anaknya. Sebagai seorang ibu, ia sangat mengerti, pasti anaknya sedang menghadapi masalah serius, tidak biasanya Hamzah seperti ini.


"Mah, Pah,Zah ingin mengulang ijab qabul", suara Hamzah lirih, hampir tidak terdengar oleh Bu Kalila dan Pak Zakariya.


"Mengulang ijab qabul? Dengan Sarah maksudnya?, kenapa?", Pak Zakariya tampak kaget.


Hamzah menggeleng, "Bukan dengan Sarah, tapi dengan Wila", kembali suara Hamzah terdengar lirih.


"Sebentar, Wila...., apa itu Wila yang waktu itu Ibu ke rumahnya?", Bu Kalila memandang Hamzah, ia menunggu jawabannya.


"Iya, Wila yang Ibu kenal dulu",


"Ada apa ini, Papah bingung, waktu kamu menikah dengan Sarah saja Papah tidak bisa datang, ini siapa lagi Wila?",


"Ini salah Zah, Pah..., Mah..., semuanya jadi rumit",


"Coba jelaskan sama Papah, biar semuanya jelas", desak Pak Zakarya.


"Pah, Mah, pernikahan Zah dengan Sarah itu hanya rekayasa Sarah, Zah di jebak oleh Sarah di malam kreasi seni waktu di Kampus",


"Di jebak?, di jebak bagaimana?", Bu Kalila penasaran.


"Mah, Pah, tepat di hari pernikahan Zah dengan Sarah, sarah sempat pingsan, Zah pikir karena Sarah kelelahan saja, tapi tanpa sengaja Zah mendengar dari Dokter yang memeriksa Sarah, kalau ternyata Sarah sudah mengandung, dan dia hamil oleh laki-laki yang Sarah sendiri tidak tahu siapa orangnya",

__ADS_1


"Apa?, terus kenapa kamu tidak langsung bicara sama Mamah , Zah",


"Waktu itu, Zah bingung, kalau Zah bicara bisa membuat malu semua, keluarga kita dan keluarga Sarah juga, jadi Zah bertahan, tapi sampai kemarin, Zah tidak menyentuh Sarah",


"Zah sudah mempunyai janji dengan wanita lain, dan Zah sudah melakukan kesalahan terbesar pada dia, dia hamil Mah", Hamzah menunduk.


"Hamil?", Pak Zakarya memandang Hamzah. "Terus bagaimana?, kamu nikahi dia?",


Hamzah mengangguk, "Maafkan Zah, Mah.., Pah..",


"Sebentar, apa wanita yang kamu nikahi setelah Sarah itu Wila?", tebak Bu Kalila .


"Iya, dia Wila Mah",


"Terus, sekarang dia dimana?, kamu menikahi Sarah, setelah mengetahui Wila hamil?", Bu Kalila menatap Hamzah.


"Wila bersama orang tuanya, Zah menikahi Wila setelah menikahi Sarah, dan saat itu Wila juga sedang hamil anak Zah , Mah", Hamzah makin menunduk.


Ia begitu merasa bersalah, ia telah membuat orang tuanya kecewa.


"Aduh Gusti, apa-apaan kamu ini Zah?, kenapa baru bicara sekarang?, kasihan Wila, kasihan juga Sarah", Pak Zakarya meremas kasar rambutnya.


"Jadi sekarang kamu mau mengulang ijab qabul dengan siapa?, dengan Wila atau dengan Sarah?" , tanyai Bu Kalila.


"Dengan Wila Mah, Zah hanya mencintai Wila, dan anak Hamzah kini sudah lahir, kemarin Zah mau menemui Wila ke Bandung, saat Mamah menyuruh putar balik ke sini", aku Hamzah.


"Tadinya Zah mau menghadiri acara wisuda Wila, tapi karena Papah sakit, Zah putar balik lagi ke sini, dan kemarin Wila melahirkan, cucu Mamah dan Papah",


"Jadi yang cucunya Mamah itu, anak dari Wila?, bukan dari Sarah?", Bu Kalila menatap Hamzah.


"Iya Mah",


"Ya Allah, Zah...Zah...,masalah seserius ini kok baru dibicarakan sekarang",


"Maafkan saya Pah, Mah", Hamzah makin menunduk, ia menyembunyikan cairan bening yang mulai mendesak keluar dari kedua matanya.


"Zah, kamu sudah dewasa sekarang, kamu sudah bisa menentukan jalan hidupmu sendiri, kamu sudah melakukan kesalahan, dan kamu sendiri sudah berani mengakui kesalahanmu dan sudah berani bertanggungjawab, ingat!, tidak ada manusia sempurna di dunia ini, semua masalah dan kesalahan lah yang akan menyempurnakan kekurangan kita", Pak Zakarya menepuk pundak Hamzah. Ia tahu anaknya sedang menangis, ia sedang menyesali perbuatannya.

__ADS_1


"Sudah, kita selesaikan semuanya, besok kita ke rumah Wila , sekalian menemui cucu kita ya Mah?", Pak Zakarya menatap istrinya.


"Iya Pah",


__ADS_2