
Wila sedang memberi asi Haura saat ponselnya bergetar, ia lihat di layar tertera tulisan Ayah Haura, itu dari Hamzah.
"Ya, wa'alaikumsalam, ini sedang memberi asi Haura, kapan pulang?", Wila mulai berbicara dengan Hamzah.
Sejenak Hamzah diam, lalu dia melanjutkan obrolannya."Mungkin seminggu ke depan aku di sini dulu, sampai semuanya beres",
"Oh.., bagaimana dengan Sarah?, apa dia baik-baik saja?",
"Sarah sudah tenang , ia sudah berpulang ke Rahmattullah, Allah lebih sayang kepadanya",
"Innalillahiiwainnalillahiroji'un, kapan?, kenapa baru memberi kabar?",
"Kemarin, ia sempat dirawat di Rumah Sakit, namun tidak tertolong",
"Ya Allah, tidak menyangka, masih muda, memangnya sakit apa?",
"Nanti aku ceritakan setelah pulang, nggak enak dibicarakan sekarang, kalau soal kematian, itu rahasia Allah, kematian bukan milik si tua, kematian bukan milik si sakit, tetapi itu sudah digariskan, kapan?, dimana?, dan penyebabnya hanya Allah yang tahu",
"Mungkin nanti Bu Rahmi dan Bi Marni akan ikut , mereka akan kembali pulang dan tinggal di rumah lama.
"Jaga diri kamu baik-baik, jaga Haura!, sebentar lagi , kita bisa bersama",
"Iya", Wila tidak bisa berbicara apa-apa lagi, ia tidak tahu apa yang kini dirasakannya. Apakah ia harus bahagia mendengar kepergian Sarah?, karena kini sudah tidak ada lagi penghalang untuk kembali bersama dengan Hamzah.
Tapi bagaimana pun Sarah adalah teman kuliahnya, Wila yakin Sarah selalu berbuat tidak baik pada dirinya karena didorong oleh obsesi cintanya kepada Hamzah.
"Kenapa diiam?", suara Hamzah mengagetkan Wila.
"Ah...nggak, kalau begitu sampaikan ucapan ikut berduka cita kepada Bu Rahmi, maaf tidak bisa langsung melayat",
"Iya, Inshaa Allah , nanti disampaikan, bagaimana di sana sehat-sehat semua kan?" ,
"Alhamdulillah, semua sehat, Mamah dan Papah antusias sekali,mereka lagi menyusun rencana untuk pembangunan Klinik Kesehatan di sini, tiap hari juga ada saja tetangga yang berobat ke Papah", kekeh Wila.
"Alhamdulillah, kabar baik itu, semoga cepat terwujud, biar bisa membantu warga di sana juga, maaf sayang, aku tutup dulu teleponnya, nggak enak , di sini masih berduka, nanti kita ngobrol langsung saja, nggak apa-apa kan?",
"Iya..., aku ngerti kok, hati-hati di sana , jaga kesehatan , disini kami menunggu kepulanganmu dalam keadaan selamat",
"Aamiin..., aku tutup ya teleponnya, Assalamu'alaikum",
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam", Wila masih memegang ponselnya dalam keadaan on.
"Kenapa belum, di tutup?", kembali terdengar suara Hamzah.
"Oh.. Kirain ma di tutup dari sana", kekeh Wila.
"Ya sudah, sekarang kita tutup sama-sama ya!",
"Iya, tuuuut", terdengar sambungan terputus, Wila pun memijit logo merah telepon dari ponselnya.
Sejenak ia menerawang, dilihatnya Haura yang sudah terlelap. Ia simpan ponselnya kembali disamping Haura, lalu ia raih tangan mungil Haura dan menciumnya lembut.
"Alhamdulillah sayang, akhirnya hari itu akan segera tiba, kita akan segera berkumpul dengan ayahmu, semoga ini jalan dari Allah, untuk kebahagiaan kita", harap Wila.
"Sudah ada kabar dari Hamzah?", Tetiba Bu Kalila masuk ke kamar Wila.
"Eh.., Mamah. Baru saja Mah, Mas Hamzah mengabarkan kalau seminggu kedepan belum bisa pulang, masih ada urusan di sana",
Bu Kalila mengernyitkan keningnya, "Seminggu?, kok sampai satu minggu?, memangnya ada urusan apa ya?",
"Mah, Sarah kemarin meninggal dunia", kabari Wila.
Wila menatap Bu Kalila .Bu Kalila pun menatap Wila, "Astaghfirullah, salah ya?", senyum Bu Kalila.
"Kok kita malah senang ya?", senyum Bu Kalila.
"Inilah rencana Allah , buat kamu sayang", Bu Kalila mengusap lembut kepala Wila.
Ia ingin menebus semua kesalahan keluarganya kepada Wila, yang telah membiarkan Wila hidup sendiri di saat sudah sah menjadi istri Hamzah, dan berarti sudah menjadi menantunya.
"Iya Mah , tapi kasihan Bu Rahmi, kini jadi seorang diri", terawang Wila.
"Ini sudah takdir dari Allah sayang, semua orang akan berpisah dengan orang-orang yang dicintai, setiap orang akan mengalami kematian, tinggal menunggu waktu, ada yang cepat, ada yang lambat, tapi pasti, kematian akan menghampiri kita", Bu Kalila mendekati Haura dan membelai lembut pipinya.
"Sudah, mumpung Haura tidur, kamu bisa makan dulu, sudah ibumu siapkan, biar Haura Mamah yang jaga, kamu itu harus banyak makan, biar asinya banyak", tawari Bu Kalila.
"Iya Mah, kalau begitu, Wila ke dapur dulu", senyum Wila. Perlahan ia melepaskan pemberian asinya, dan segera bangkit, keluar kamar menuju dapur. Ia membiarkan Bu Kalila berdua dengan Haura.
Semenjak ada dirumahnya, Bu Kalila yang paling intens memperhatikan Haura, terang saja Haura adalah cucu pertamanya.
__ADS_1
Saat menuju dapur, Pak Zakarya sudah ada di meja makan. Ia sedang membuat denah Klinik yang akan dibangunnya, sementara Caca dan Yati masih berada di belakang rumahnya, mereka sedang berkebun.
"Mana Haura?", tanya Pak Zakarya begitu melihat Wila melenggang ke sampingnya.
"Bersama Mamah, Pah", senyum Wila. Ia duduk di kursi di depan mertuanya itu. Lalu ia mengambil piring. "Makan Pah!", tawari Wila. Ia mulai mengisi piringnya dengan makanan.
"Nggak Nak, Papah sudah makan tadi bersama Mamah dan ayah ibumu",
"Oh.. Ya sudah, Wila makan dulu Pah",
"Iya", Pak Zakarya kembali fokus menggambar, sedangkan Wila mulai melahap makanan yang ada dipiringnya.
"Oh iya, tadi Papah sempat membeli ini, kamu makan ya!", Pak Zakarya memberikan sebuah kantong kresek kepada Wila.
"Apa itu?", Wila penasaran.
"Pepaya , ini bagus buat ibu yang baru melahirkan , bisa memperbanyak dan melancarkan asi", jelas Pak Zakarya.
"Iya terima kasih Pah", Wila merasa senang, Ayah dan Ibu mertuanya begitu sayang dan memperhatikannya.
Bahkan mereka berniat membangun sebuah Klinik Kesehatan di samping rumahnya. Sungguh sebuah kebahagian yang dobel-dobel baginya.
Karena sudah menjadi cita-citanya sejak dulu, ia ingin kuliah jurusan keperawatan agar bisa membantu para tetangganya yang kesulitan berobat ke Kota.
Jarak tempat tinggal yang jauh dari jalan protokol, menyulitkan mereka tatkala mau berobat, maka tak jarang ada orang sakit yang sampai tidak tertolong karena terlambat ditangani medis.
"Nanti kalau kaliansudah mengulang ijab qabul, batalkan rencana kamu untuk ke Saudi, kalau mau umroh, nanti saja bisa berangkat bersama Hamzah. Papah ingin kamu kuliah lagi, ambil jurusan kebidanan, biar jika ada orang sini yang mau melahirkan, tidak perlu jauh ke Kota", Pak Zakarya memandang Wila yang masih lahap menikmati makanannya.
Wila memegang sendok di depan mulutnya, "Mau sih Pah, tapi....", Wila menggantung ucapannya.
"Kamu jangan khawatir!, soal biaya, Papah yang tanggung", senyum Pak Zakarya.
"Alhamdulillah, terima kasih Pah", Wila sampai berkaca-kaca, ia merasa diberi berbagai kejutan indah dalam hidupnya.
"Maaf, selama ini kamu sudah banyak diabaikan oleh anak Papah", tatap Pak Zakarya.
"Sekarang, Papah ingin menebus semua kesalahan anak Papah kepadamu, maafkan Zah ya?", pinta Pak Zakarya.
Wila mengangguk, ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi, ia begitu terharu mendengarnya.
__ADS_1