Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Dia Hamzah


__ADS_3

Kumandang adzan Maghrib menyadarkan mereka. "Alhamdulillah." Wila bergumam.


"Aku ke Masjid , kamu tajil aja dulu, nanti pulangnya bareng, tunggu aku di sini!" kata Hamzah sebelum beranjak menuju Masjid.


"Iya," Wila mengangguk sambil tersenyum. Senyuman yang membuat Hamzah klepek - klepek.


Setelah makan tajil, Wila pun mengikuti Hamzah menuju Masjid.


"Alhamdulillah Ya Allah, sudah memudahkan semua urusanku, sudah mempertemukanku dengan orang - orang baik, semoga semua harapan dan cita - citaku dapat tercapai, Aamiin."


Itulah sepenggal do'a yang dipanjatkan Wila dalam shalatnya.


Setelah itu ia bergegas menuju warung Bu Dati. Pasti Hamzah sudang menunggunya di sana. Benar saja, Hamzah sudah ada di sana terlihat sedang memesan makanan.


"Sudah mau gelap, aku pulang sekarang!" katanya, "Nggak mampir dulu Neng?" Bu Dati menyapa Wila.


"Sudah malam Bu, besok lagi aja!" katanya sambil tersenyum. "Kami pulang dulu Bu!" pamit Hamzah setelah membayar pesanannya.


"Iya, hati - hati kalian!"


"Terima kasih Bu, Assalamu'alaikum." Wila berjalan meninggalkan warung diikuti Hamzah.


"Tunggu di sini , aku ambil motor dulu!" Hamzah berjalan menuju gerbang belakang Kampus. Tak lama kemudian Dia datang dengan motor besarnya.


"Ayo naik biar cepat pulang!" Hamzah mengajak Wila naik motornya. Tidak ada pilihan lain bagi Wila, selain menurutinya.


Di depan rumah Yeni, motor berhenti dan Wila pun turun. "Besok aku tunggu di gang depan, aku mau ajak kamu ke suatu tempat, biar fress saat kuliah nanti!" kata Hamzah.


"Jam sepuluh aku tunggu di depan gang sana !" Hamzah kembali mengingatkan Wila. " Iya, Insya Allah!" kata Wila .


Sesudah motor Hamzah hilang di telan gelapnya malam, Wila melangkah memasuki rumah. Di sana ia dapati Yeni lagi di meja makan. Ia makan dengan menu seadanya.


"Bi ini ada makanan!" Wila mengeluarkan bungkusan makanan yang diberikan Hamzah. Ada paket nasi komplit, bakso dan jus mangga buatan Bu Dati.


"Beli di mana? enak nih baksonya!"


"Di warung dekat Madrasah di belakang sana Bi, tadi pulang dari Kampus, Wila ke sana dulu." Jelas Wila.


"Ooh, " Yeni terlihat menikmati makanannya. "Akhirnya , kamu mulai betah juga di sini! , sudah mau berbaur dengan para tetangga."

__ADS_1


"Begini, Wila ikut mengajar ngaji di Madrasah yang ada di Masjid , di ujung gang anggrek sana Bi."


"Kebetulan di sana juga ada warung bakso yang enak, jadi hampir tiap hari jajan di sana."Kata Wila menjelaskan.


"Alhamdulillah kalau begitu." Yeni menyelesaikan makannya. "Ngomong - ngomong, kapan kamu mau nengok Bapak dan Ibu, ga kangen gitu?"


Wila menarik nafas panjang. "Nanti saja Bi, kalau liburan semester." katanya. Padahal hatinya sudah begitu rindu sama kedua orang tuanya itu.


"Kalau begitu, Bibi istirahat dulu, besok mau ke Kampus sarapan dulu, biar ga pingsan lagi!". Katanya sambil tersenyum menepuk pundak Wila.


"Iya Bi, terima kasih." Wila menatap Bibinya . Ada rasa kasihan dihatinya, Ia tahu kalau Yeni lagi menyembunyikan kesedihan.


Wila merapihkan meja makan dan mencuci semua perabotan yang kotor. Itu semua ia lakukan sebagai tanda terima kasih kepada Yeni yang telah mengijinkan tinggal di rumahnya.


Setelah semua urusannya selesai, ia beranjak menuju kamar, badannya terasa lelah. Setelah membersihkan diri, ia rebahkan badannya di atas kasur.


Ia pejamkan mata. Kejadian tadi siang kembali berkelebatan diingatannya. Hamzah, ternyata selama ini dia yang telah menolongnya.


Wila masih ingat saat di Klinik dulu, ia mencari obat di apotek Hamzah. "Ah, bodohnya aku, kok nggak ngeh, padahal jelas - jelas namanya sama." pikirnya.


Sebelum terlelap, ia cek phone cellnya untuk mereset ulang alarm. Ternyata ada chat masuk yang isinya, " Jangan lupa besok aku tunggu di depan jam sepuluh".


Ada debaran aneh dihatinya, tak dapat di pungkiri kalau hatinya begitu berbunga bunga saat lagi berdua dengannya.


Ia tidak akan rela jika ada orang lain yang mengusik kebersamaannya dengann Hamzah. Termasuk Mita, temannya. Apalagi Sarah.


Ia suka dengan caranya bercanda, ia nyaman dengan semua perhatiannya. Apalagi setelah tahu kalau Hamzah lah orang yang selama ini telah membantunya.


Rasanya ingin sekali waktu cepat berlalu, ia ingin segera bertemu kembali dengan Hamzah.


Tak terasa ia pun terlelap.


Selepas shubuh, seperti biasa ia bergegas menyelesaikan pekerjaan di dapur. Sampai jam sembilan pagi, Yeni belum kelihatan keluar dari kamarnya.


Wila sangat khawatir , ia berniat untuk mengetuk pintu kamar Bibinya .


Wila sudah siap untuk berangkat, tapi Yeni masih belum ke luar kamar juga. Wila semakin khawatir.


Akhirnya ia memberanikan diri mengetuk pintu kamar Yeni

__ADS_1


"Bi..., Bi...,sudah bangun? Wila mau berangkat, makanan sudah siap semua." Tidak ada jawaban . Wila tambah panik.


"Ya Allah, Bibi! Wila setengah teriak memanggil Bibinya.


"Iya Neng, Bibi ga apa - apa! sok aja berangkat!" terdengar suara Yeni dari dalam. "Bibi baik - baik saja?"


"Iya Neng,Bibi ga apa - apa."


Wila ragu . Ia terduduk di kursi untuk beberapa saat. Beberapa kali phone cellnya berdering, namun ia abaikan.


Sampai akhirnya ia dengar suara klakson di halaman rumahnya. "Assalamu'alaikum," terdengar suara di depan pintu.


Wila bangkit menuju pintu. Tampak Hamzah berdiri di sana. "Wa'alaikumsalam." Wila membuka pintu.


" Sampai mau jadi patung aku menunggumu," kata Hamzah sambil tersenyum. "Ada apa?" tanyanya.


"Bi Yeni dari pagi belum ke luar dari kamarnya, aku takut terjadi sesuatu ". Kata Wila. "Tolong ya!" Wila memegang tangan Hamzah.


Hamzah diam terpaku serasa terhipnotis dengan pegangan tangan Wila yang seakan menghentikan denyut jantungnya.


"Ooh ma - maaf." Wila melepaskan pegangan tangannya dan berjalan menuju kamar Yeni . Hamzah mengikuti dari belakang.


"Bi...Bi.., Bibi baik - baik saja?" Wila mengulangi pertanyaannya. "Apa perlu kita dobrak saja pintunya?" tanya Hamzah.


"Bi...Bibi,bisa dengar Wila kan!" kembali Wila memanggil Bibinya. Masih sunyi tidak ada jawaban


"Tadi masih bisa menjawab kok!"


"Minggir, kita dobrak saja pintunya!" kata Hamzah sambil mengambil ancang - ancang mau mendobrak pintu.


"Brakk...brakk...," Hamzah mencoba mendobrak pintu kamar Yeni. Hamzah terlihat meringis kesakitan memegangi pundaknya.


Wila berinisiatif membuka pintu kamar Yeni, ternyata tidak di kunci. Ia dorong daun pintunya dan terlihat Yeni tergeletak di depan pintu kamar mandi.


"Bi...Bibi..." Wila berlari menghampiri Yeni dan mengguncang tubuhnya. "Bibi........" seketika tangisnya pecah sambil memeluk tubuh Yeni.


"Kita bawa ke klinik saja!" Hamzah segera menelpon seseorang. Tak lama kemudian terdengar suara sirine mobil ambulance.


Hamzah bergegas ke luar rumah dan kembali bersama seorang petugas kesehatan dengan membawa blangkar pasien.

__ADS_1


Dengan segera mereka membawa Yeni ke klinik . Wila mengikuti dengan deraian air mata.


Yeni di bawa ke Klinik tempat Caca, ayah Wila pernah di rawat.


__ADS_2