Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Hasil Test


__ADS_3

Karena keasikan ngobrol, saling curhat, saling bercanda dan tertawa, waktu tiga jam menjadi terasa singkat.


Saat Mita sudah kembali ke Kampus di antar Juna, Wila dan Lela masih duduk di kursi samping pos satpam.


"Hai, kalian, sudah di sini?", Mita tersenyum menghampiri.


"Bukan sudah di sini, tapi masih di sini", Lela tertawa.


"Jadi kalian dari tadi nunggu di sini?, tidak pulang dulu, atau kemana gitu, biar nggak bosen",


"Iya , tadinya kita mau ke luar, tapi malah terjebak di sini", senyum Wila.


Juna tidak banyak basa-basi, ia langsung pamit setelah mengantar Mita.


"Terima kasih ya, nanti nggak usah dijemput, aku mau ngerjain tugas dulu sama mereka", Mita melirik ke arah Wila dan Lela.


"Ok, aku jalan dulu ya", pamit Juna sambil tangannnya mengucek rambut Mita.


"Iya, hati-hati!", Mita masih berdiri melihat Juna, sampai menghilang di belokan.


"Ayo, ke kelas, sebentar lagi masuk", ajak Lela.


Mereka kembali menuju kelas , tanpa sengaja di lorong, mereka melihat adegan antara Joko dan Susi.


Mereka sampai membalikkan badan , karena merasa tidak pantas melihat adegan itu di Kampus.


"Astaghfirullah, apa mereka sudah hilang akal sehat?", Wila bergidik.


"Gimana kalau sampai diketahui pihak Kampus?,


Lela berbisik kepada Wila.


"Kok, aku baru tahu mereka punya hubungan, Iiih, dasar emang Joko, mau nambah koleksi lagi kayanya", Mita melirik dengan ujung matanya, dan ternyata Susi dan Joko sudah tidak ada di sana.


"Eehh, lihat mereka sudah pada pergi", Mita membalikkan badannya.


Diikuti Wila dan Lela, "Kemana mereka pergi?", Lela melihat sekeliling.


"Ke Hotel kayanya, udah nggak ku...ku....", cicit Mita.


"Iiihh, kamu. Awas jangan sampai begitu ya sama Juna", goda Lela.


"Mit amit ya Allah, semoga selalu di jaga", Mita bergidik.


"Sudah, cepetan ah, sebentar lagi masuk" , ajak Wila.


Lagi-lagi hati Wila menciut, ia juga pernah terjerumus, bahkan kini ia sedang mengandung buahnya.


Walau ia sudah menikah, tapi tetap saja rasa bersalah itu ada.


Sesampainya di kelas, ternyata di sana sudah ada Susi dan Joko. Mereka duduk berdekatan, tangan kiri Joko menempel di pundak Susi, sementara yang kanan, memegang gawai, mereka tampak sedang tertawa cekakakan, entah sedang menonton apa.


Mereka melihat Wila dan kedua temannya memasuki kelas, namun mereka cuek saja, tidak mengganti aktivitasnya. Malah kini tangan Joko berpindah melingkar di pinggang Susi.


Wila , Lela dan Mita sudah duduk di kursinya, mereka sudah tidak nyaman dengan suara cekikikan Susi, namun tidak tahu bagaimana caranya menghentikan mereka.

__ADS_1


Wila terus beristighfar, jangankan Susi dan Joko, dirinya dan Hamzah pun pernah terjatuh dalam perangkap yang sama.


Entah kenapa ada dorongan yang sangat kuat hingga Wila menyerahkan dirinya kepada Hamzah, walau belum sah.


Dengan bertambahnya Mahasiswa yang masuk, Susi dan Joko mulai menghentikan kegiatannya. Mereka kembali duduk di kursinya masing-masing.


Tak lama Bu Rida memasuki kelas. Ia langsung meminta maaf atas perubahan jadwal yang terjadi di awal kuliahnya.


"Oke class, kita mulai , hari ini ada kuis ya", senyum Bu Rida.


Serentak suara riuh terdengar, memang Bu Rida tipe Dosen yang suka bikin kejutan, ia selalu melakukan test secara spontan.


"Oke, ini tolong bagikan form nya!", Bu Rida mengangkat setumpuk form . Dan Wila segera berdiri mengambil form yang diberikan Bu Rida.


Ada tatapan aneh dari Bu Rida saat Wila berdiri dan mengambil form test hari ini. Wila pun merasa insecure dengan tatapan Bu Rida.


Wila sempatkan menelisik dirinya , ia perhatikan baju yang dipakainya , mungkin ada sesuatu yang menempel . Namun tidak ditemukan.


Wila kembalikan form sisa ke Bu Rida, lalu kembali duduk di tempat semula.


"Terima kasih Wila", ucap Bu Rida.


"Sekarang, silahkan kerjakan", senyum Bu Rida.


"Huuuhhh, terdengar suara riuh di kelas, setelahnya hening. Masing-masing fokus mengerjakan.


Tapi tidak sedikit yang gelisah, duduknya nggak bisa diam, tengok kanan, tengok kiri. Itu biasa bagi mereka yang belum siap mendapat test dadakan.


Bu Rida tampak sedang memeriksa tugas, sambil sesekali memerhatikan ke depan. Ia dengan jelas bisa melihat semua dengan aneka tingkah polahnya.


"waktunya tinggal dua puluh menit lagi ya", kabari Bu Rida.


Namun Bi Rida melihatnya, " Joko, kalau sudah , kumpulkan saja!", suara Bu Rida mengagetkan Joko.


"I...iya Bu, sebentar lagi Bu", sahutnya agak kaget.


Lela dan Mita yang mengetahui modus Joko, mengulum senyum.


"Ok, waktunya habis ya, silahkan kumpulkan ke depan!", perintah Bu Rida.


Sebagian ada yang langsung berdiri mengumpulkan, dan ada juga yang masih sibuk meminta jawaban dari temannya.


"Sudah semua?", Bu Rida mengacungkan form soal.


"Sudah Bu",


"Ok, terima kasih, yang lain boleh langsung pulang, tapi Ibu perlu sama Wila, bisa ke ruangan Ibu dulu?", Bu Rida menatap Wila.


"Baik Bu", Wila mengangguk.


"Sekalian ini tolong bawakan ke ruangan Ibu ya!", senyum Bu Rida. Ia memberikan beberapa buku kepada Wila.


"Baik Bu", senyuman Bu Rida sedikit membuat hati Wila tenang. Hatinya bertanya-tanya, ada apa Bu Rida memanggilnya? .


Tetapi seingat Wila, dirinya tidak berbuat kesalahan, jadi kenapa harus takut segala.

__ADS_1


"Wila , aku dan Mita pulang duluan ya", pamit Lela.


"Iya", senyum Wila. Mereka salaman sambil cipika cipiki.


Wila masih duduk menunggu Bu Rida selesai membereskan buku-buku.


"Ayo, ikut ke ruangan Ibu!", ajak Bu Rida.


"Baik Bu", Wila menundukkan kepalanya, ia berjalan mengikuti Bu Rida. Kembali hatinya dag dig dug tak karuan. Ini pertama kali ia dipanggil Dosen ke ruangannya.


Biasanya hal ini akan dilakukan pada Mahasiswa yang bermasalah, baik masalah akademik, atau administrasi.


Sambil berjalan ia coba ingat-ingat, mungkin ada kesalahan yang pernah ia perbuat, tapi tetap nggak kepikiran.


Bu Rida membuka pintu ruangannya dan menaruh buku-buku yang dibawanya di atas meja.


"Silahkan duduk, dan bukunya taruh sini!", perintah Bu Rida.


Wila menurut, ia duduk di kursi di depan mejanya Bu Rida. Mereka duduk berhadap-hadapan.


Sejenak suasana hening, Bu Rida tampak lagi membenahi susunan buku di atas mejanya. Lalu ia mengambil sebuah buku.


Wila yang menunduk , tidak memperhatikan apa yang dilakukan Bu Rida.


"Wila, apa kamu sehat?", tiba-tiba Bu Rida bertanya.


Wila sedikit bingung, "Alhamdulillah Bu, saya sehat",


"Emmmh, apa ini milik kamu?", Bu Rida memperlihatkan sebuah test kehamilan .


Deg...., Wila terkesiap melihatnya.


"Ibu dapat darimana?", Wila bertanya untuk meyakinkan.


"Ini, dari buku tugas kamu", Bu Rida mengangkat buku, dan Wila mengenali kalau itu bukunya.


"Apa benar ini milik kamu?", ulangi Bu Rida.


Wila menunduk, ia tidak mungkin menyangkal, karena cepat atau lambat, perutnya akan memperlihatkan kebenarannya.


"I...iya itu milik saya Bu" lirih Wila.


"Jadi benar, sekarang kamu sekarang mengandung?" Bu Rida menatap Wila.


Wila mengangguk


"Kamu tahu apa konsekuensinya bagi Mahasiswi yang hamil ?", Bu Rida bicara penuh penekanan.


Wila kembali mengangguk.


"Ok, ibu akan bicarakan dulu kasus ini dengan Pak Suparman, kamu tunggu di panggil lagi", jelas Bu Rida.


"Sekarang kamu boleh pulang",


"Baik Bu", Wila sebenarnya ingin mengatakan kalau ia sudah menikah, tetapi saat mengingat Hamzah, ia urungkan. Hamzah lebih memilih Sarah, jadi ia pikir tidak ada gunanya, kalau pun ia berkata jujur.

__ADS_1


Wila melangkah keluar dari ruangan Bu Rida. Hatinya tidak karuan, apa yang akan terjadi besok?, bagaimana reaksi Pak Suparman dan Dosen-dosen lain?.


Wila sudah pasrah ,


__ADS_2