
Seminggu ini, Hamzah leluasa pulang pergi ke Kampus, karena Sarah kembali mengambil cuti untuk beberapa minggu karena kondisi kesehatannya kembali menurun.
Begitu juga dengan Wila. Hamzah fokus mempersiapkan rencana pernikahannya.
Untuk hal ini, Hamzah belum memberitahu keluarganya, Hamzah tidak ingin membuat suasana menjadi panas. Biarlah dengan berjalannya waktu, mereka akan tahu dengan sendirinya.
Semua persiapan sudah rampung, sejumlah uang pun sudah Hamzah transfer kepada pihak keluarga Wila.
Tinggal dua hari lagi rencana pernikahannya dengan Wila akan dilangsungkan. Sebelum berangkat, Hamzah berencana menemui Pak Suparman.
Karena bagi Hamzah, Pak Suparman bukan saja sebagai Dekan di Kampus, tetapi sudah dianggap sebagai guru, sekaligus walinya. Mengingat ayahnya yang masih berada di Dubai.
Bahkan saat pernikahannya dengan Sarah dulu, ayahnya tidak dapat hadir.
Sengaja Hamzah duduk berdampingan bersama Pak Suparman saat shalat jum'at berjamaah di Masjid Kampus.
Dan ia pun sudah membuat janji dengannya, xuntuk bisa leluasa bicara dengannya. Terus terang saja, masih ada hal yang mengganjal di hati Hamzah dengan dua pernikahan yang akan ia jalani.
Tidak mudah berada diposisi Hamzah. Di satu sisi ia sudah menikah dengan Sarah, dan mengetahui kehamilannya. Hamil anak dari laki-laki lain.
Kedua, ia akan melangsungkan pernikahannya dengan Wila, wanita yang sama sedang mengandung benih darinya.
Hamzah merasa bingung dengan dua status pernikahan yang nanti akan dijalaninya.
Shalat jum'at berjalan dengan khidmat, Hamzah tak henti-hentinya memohon ampun disepanjang shalatnya, ia tidak menyangka akan menghadapi kehidupan yang rumit, ia harus menjalani dua pernikahan .
Khutbah jum'at sudah selesai, jama'ah pun sudah mulai meninggalkan Masjid dengan tertib, hingga hanya ada Hamzah dan Pak Suparman.
Hamzah menengok keseluruh ruangan Masjid, tampak lengang.
Pak Suparman tampak masih berdo'a. Hamzah menunggunya hingga selesai.
"Ada apa?", Pak Suparman langsung menanyakan maksud Hamzah yang dari kemarin ingin menemuinya.
Sebelum menjawab , Hamzah menyalaminya terlebih dahulu.
"Terima kasih Pak, mau meluangkan waktunya , sebenarnya ada hal yang membuat saya bingung, dan saya hanya bisa mengutarakannya kepada Bapak" , Hamzah diam sejenak.
Ia mencari kata-kata yang tepat untuk melanjutkan
"Pak, sebenarnya saya mau menanyakan sesuatu pada Bapak, bagaimana hukumnya jika menikahi wanita yang sudah hamil duluan sama laki-laki lain?", Hamzah bicara hati-hati.
__ADS_1
Pak Suparman melihat Hamzah sambil menautkan kedua alisnya.
"Maksudnya?"
Hamzah mengulangi pertanyaannya.
"Saya ingin tahu, jika seorang laki-laki menikahi wanita yang sudah hamil duluan sama laki-laki lain, bagaimana hukumnya?"
"Apa kasus ini menimpamu?", tebak Pak Suparman.
Hamzah diam.
Seolah mengerti dengan posisi Hamzah, Pak Suparman mengulum senyum, ia memegang pundak Hamzah.
"Mengenai hal ini ada berbagai pendapat. Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad begini, jika seorang laki-laki menikahi wanita yang sedang mengandung anak dari orang lain, hukumnya haram".
"Tetapi kalau menurut Imam Syafi'i, lain lagi. Menurut beliau begini, perkawinan akibat hamil di luar nikah adalah sah hukumnya. Perkawinan boleh dilangsungkan ketika seorang wanita dalam keadaan hamil baik oleh laki-laki yang menghamilinya atau oleh laki-laki yang bukan menghamilinya",
"Itu tergantung kita , mau mengambil pendapat siapa, tapi menurut Pemerintah juga sudah ada aturannya,menurut Keputusan Menteri Agama RI no 154 tahun 1991, yang menyebutkan hukum hamil diluar nikah sebagai berikut;
"Pertama: Seorang wanita hamil diluar nikah, dapat dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya"
"Kedua: Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat pertama, dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya, dan"
Pak Suparman menjelaskan, dan Hamzah tampak manggut-manggut mencerna setiap penjelannya.
"Bagaimana, jelas?",
"Iya Pak, terus bagaimana, kalau istri kita sudah mengandung anak dari orang lain, apakah kita boleh memberinya hak sebagai seorang istri?"
"Maksudnya, apa boleh kita menyentuhnya , begitu?", jelaskan Pak Suparman.
"I...iya Pak", Hamzah tampak menunduk, ia merasa malu menanyakan hal itu.
Kembali Pak Suparman mengulum senyuman.
"Begini nak mengenai hal itu, ada beberapa dalil,
Nabi SAW, mengatakan : ' Janganlah disetubuhi seorang wanita hamil (karena zina) hingga kelahiran ( HR.Abu Daud dishahihkan Al-Hakim)',
"Ada satu keterangan lagi, 'Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk menyiramkan airnya pada tanaman orang lain (HR.Abu Daud dan Tirmizi)".
__ADS_1
jelaskan Pak Suparman .
"Sudah Jelas?, Kenapa kok tiba-tiba bertanya hal itu", Pak Suparman menatap Hamzah.
Hamzah diam sesaat, ia berpikir apa sebaiknya ia terus terang saja kepada Pak Suparman tentang keadaan yang sebenarnya, tapi ia urungkan.
Karena kedua orang tuanya saja tidak ia kasih tahu.
"Ehm...., enggak Pak, hanya untuk menambah pengetahuan saja, karena sekarang kasus seperti ini banyak terjadi di masyarakat sekitar kita",
"Iya, untuk masalah ini, susah dicegahnya, karena bukan tidak tahu hukum, bukan tidak tahu aturan, tapi ya, memang salah individunya sendiri, mereka tahu , hubungan di luar nikah itu besar resikonya, tapi toh masih banyak generasi muda yang tetap melakukannya",
Seketika rasa panas menyerang wajah Hamzah, ucapan Pak Suparman barusan, telak mengenai dirinya.
Ia telah melakukan kesalahan bersama Wila dan mereka melakukannya dalam keadaan sadar .
Dengan penjelasan dari Pak suparman, Hamzah seolah mendapat pencerahan untuk bersikap kepada Wila dan Sarah.
"Ada lagi yang mau ditanyakan?", tantang Pak Suparman. Ia tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Hamzah.
Dalam hatinya sudah bisa menebak, kenapa Hamzah tiba-tiba bertanya hal itu, tapi ia tidak berani bertanya, karena itu wilayah pripacy Hamzah.
"Bagaimana kabar istrimu?", tanyai Pak Suparman.
"Apa?, kenapa Pak?", Hamzah balik bertanya, ia tadi sedang tidak fokus, jadi kurang menangkap pertanyaan dari Pak Suparman.
"Bagaimana kabar Sarah?", ulang Pak Suparman.
"Oh, Alhamdulillah baik Pak" , Hamzah menjawab sekenanya.
Pak Suparman menautkan alisnya, karena jawaban Hamzah bertentangan, tadi siang ia sendiri yang memintakan cuti buat Sarah, karena kondisi kesehatannya kembali menurun, tapi kini, ia bilang Sarah baik-baik saja.
Pak Suparman menggelengkan kepala, ia merasa ada yang janggal, tapi lagi-lagi, ia tidak berani bertanya lebih jauh lagi.
"Kalau begitu, Bapak duluan, masih ada yang harus diselesaikan", pamit Pak Suparman. Ia bangkit dan beranjak meninggalkan Hamzah yang masih duduk sendirian.
Hamzah sebenarnya sedang mengirim pesan kepada Andi, menanyakan semua persiapan di Kampung halaman Wila.
Walau sederhana, tapi Hamzah ingin prosesi pernikahannya berjalan lancar dan berkesan buat mereka berdua.
Walau tidak menutup kemungkinan akan banyak hal terjadi selepas ia menikahi Wila.
__ADS_1
Ini seperti bom waktu bagi mereka, yang bisa saja tiba-tiba meledak, memporak - porandakan jalinan yang baru saja mereka bina.