Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Pelajaran Berharga


__ADS_3

Hamzah ke luar dari rumah tanpa sepengetahuan Sarah dan ibunya, ia menuju sebuah kedai yang menjual jagung bakar dan ketan bakar, lagi-lagi ingatannya melayang kepada Wila.


'Maafkan aku, aku tidak bisa memperjuangkan kalian, semoga kalian baik-baik saja di sana', Hamzah membatin.


"Jagung bakarnya Den?", tawari pedagang yang sedang sibuk memainkan kipas, membakar jagung dan ketan.


"Oh, iya Mang, satu ketan bakarnya", Hamzah duduk di samping pedagangnya.


"Baru ya Den?, Mang baru lihat", tanyai pedagang.


"Iya, Mang, saya baru datang kemarin sore",


"Ooohhh, di villa yang mana ?",


"Saya tinggal bersama Bu Rahmi", aku Hamzah.


"Bu Rahmi yang Pengusaha Restoran itu?",


Hamzah mengangguk.


"Aden ini menantunya ya?, sepengetahuan saya, anaknya itu perempuan, satu-satunya lagi",


"Hhmm, iya Mang, saya menantunya", aku Hamzah sambil tersenyum.


"Aduh, beruntung sekali Den, jadi menantu Bu Rahmi itu enak, semua sudah tersedia, kabarnya anaknya itu punya warisan yang banyak dari mendiang ayahnya",


"Saya tidak tahu soal itu Mang , saya menikahinya bukan karena dia anak orang kaya", senyumm Hamzah.


"Iya Den, maaf", Pedagang itu meminta maaf takut ucapannya menyinggung Hamzah.


"Ini enak Mang, bumbunya pas ", Hamzah memuji ketan bakar yang sedang disantapnya.


"Itu buatan saya sendiri, saya belajar dari istri saya, itu resep dari istri saya", aku Pedagang sambil berkaca-kaca.


"Saya itu selalu sedih kalau mengingat istri saya",


"Memangnya kenapa Mang?", Hamzah mulai nyaman ngobrol dengan Pedagang itu, sebut saja Mang Darmat.


Ia mengambil satu lagi ketan bakar dan mulai menyantapnya kembali.


Mang Darmat mulai terisak, "Saya terpisah dengan istri saya, sekarang tidak tahu, ada dimana?",


"Terpisah?, cerai maksudnya Mang?",

__ADS_1


"Bukan Den", Mang Darmat menyeka air matanya yang mulai menghalangi pandangannya.


"Terus?", Hamzah penasara .


Mang Darmat menghentikan kegiatannya, ia pindahkan jagung dan ketan yang sudah matang ke atas nampan. Ia duduk menyandar mensejajarkan dirinya dengan Hamzah.


"Ceritanya panjang Den, sampai sekarang saya terus mencari, tetapi belum juga bertemu",


"Memang istrinya pergi ke mana?",


"Ke sini, ke Jakarta awalnya, saya cari k rumah saudaranya, katanya sudah pindah lagi, ke daerah Bogor, tapi saya sudah hampir tiga bulan di sini, belum menemukan jejaknya", jelas Mang Darmat.


Hamzah mengangguk ngangguk sambil tetap nenikmati ketan bakarnya.


"Memangnya asal Mang dari mana?", tanyai Hamzah.


"Saya dari kampung Den, saya awalnya bertani, tapi karena terkena longsor, saya sekeluarga ikut ke rumah saudara, dan akhirnya ngontrak , karena nggak enak terus-terusan numpang, walau di saudara juga",


"Baru dua bulan di sini, saya mendapat kabar kalau Bapak di Kampung meninggal, saya pulang sendiri , istri dan anak saya masih di sini, tapi dalam perjalanan pulang ke sini, saya mendapat kecelakaan di jalan, kaki saya sempat patah, saya dirawat di sebuah Yayasan hampir tiga bulan, sampai kaki saya pulih.


" ini juga masih harus dioperasi lagi untuk membuka pen , tapi masih belum", Mang Darmat memperlihatkan kaki kanannya , tampak bekas jahitan yang cukup lebar di sana.


Hamzah sampai merinding melihatnya.


Hamzah tertegun mendengar cerita Mang Darmat, ia jadi teringat kepada Wila dan anak yang sedang dikandungnya.


Ia takut nasib anak dan istrinya seperti anak dan istri Mang Darmat.


"Saya merasa sangat bersalah, kalau dulu saya bawa anak dan istri saya pulang, mungkin kami tidak akan berpisah", kenang Mang Darmat.


"Jangan begitu Mang, ini sudah suratan takdir, kalau dulu Mang Darmat membawa anak dan istri, mungkin mereka akan ikut celaka bersama Mamang", Hamzah menggandeng Mang Darmat.


"Saya sangat mengkhawatirkan mereka, apalagi waktu itu istri saya lagi hamil anak kedua", Mang Darmat kembali menyeka air matanya.


"Sekarang Mang Darmat tinggal dimana?",


"Saya tinggal di sini , di Villa ini Den", Mang Darmat menunjuk Villa di sebelah kedainya.


"Saya bekerja menjaga Villa ini, dan malam harinya jualan di sini, sambil terus mencari keberadaan anak dan istri saya",


"Mamang yang sabar ya, semoga anak dan istrinya cepat ketemu dalam keadaan sehat",


"Aamiin Den, terima kasih",

__ADS_1


"Semoga Aden dan istri juga bahagia, bisa selalu bersama",


Hamzah tersenyum, ia mengaminkan dalam hati, tapi bukan untuk kebersamaannya dengan Sarah, melainkan dengan Wila.


Hamzah makin teringat dengan Wila, cerita Mang Darmat menambah kekhawatirannya terhadap Wila. Ia pun di sini belum bisa mengabari keberadaannya kepada Wila.


"Mang , ini saya ambil sepuluh ya ketan bakarnya", Hamzah memberikan uang seratus ribuan lima lembar kepada Mang Darmat.


"Ini kelebihan Den uangnya, Mang Darmat memberikan kelebihan uangnya kepada Hamzah.


"Sudah Mang, itu buat Mamang, simpan saja buat tabungan ", senyum Hamzah.


"Terima kasih banyak Den",


Hamzah beranjak meninggalkan Mang Darmat yang kembali melakukan aktifitas membakar jagung dan ketannya.


Hamzah berjalan menuju Villa Mertuanya, ia lihat kiri kanan, tidak ada satu pun gerai yang menjual Hand phone .


Ia sangat membutuhkan benda itu, setidaknya ia bisa menghubungi ibunya dan teman-temannya lagi.


Hamzah kembali memasuki gerbang Villa Bu Rahmi, ia memberikan satu bungkusan ketan bakar kepada Satpam yang sedang berjaga.


Dan satu bungkusan lagi ia bawa ke dalam untuk Sarah dan ibunya.


Hamzah mendapati Bu Rahmi sedang duduk di ruang keluarga, tampak Sarah sedang tidur dengan bantal paha ibunya.


"Dari mana saja?, kelayapan terus", gerutu Sarah saat melihat Hamzah memasuki ruangan.


"Shhhtt..., " Bu Rahmi mengguncang pundak Sarah yang ada di bawahnya.


"Ini Bu, saya belikan ketan bakar, tadi saya jalan-jalan sebentar, menikmati suasana malam di sini, maaf tidak mengajak Sarah, angin malam kurang baik untuk kesehatannya", Hamzah melirik Sarah yang tidak bergeming.


"Iya, Ibu ngerti, yang sabar ya, biasa , wanita yang sedang mengandung itu emosinya labil", senyum Bu Rahmi.


"Apaan siih...Mih", Sarah kembali merenggut.


Hamzah mengangguk, ia berbalik setelah memberikan bungkusan kepada Bu Rahmi.


"Mau kemana lagi?", Sarah menghentikan langkah Hamzah.


"Ini, tunggu dulu, mau mencuci tangan dan kaki dulu", Hamzah melirik Sarah, lalu berjalan menuju kamar mandi.


"Jangan begitu, nanti suamimu bisa-bisa minggat jika terus kamu galakkin, biarkan saja, Mamy lihat Hamzah itu orangnya baik, nggak mungkin ia macam-macam dibelakang kamu", Bu Rahmi mengingatkan Sarah.

__ADS_1


Ia mengelus kepala putri kesayangannya dengan lembut, sambil terus menasihatinya. Rahmi tahu, putrinya masih kekanak-kanakan dan manja. Semua itu tidak lepas dari kesalahannya. Sarah tumbuh bersama pengasuhnya, bukan bersama ibunya.


__ADS_2