Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Wisuda dan Melahirkan


__ADS_3

Wila bercengkrama bersama kedua orang tuanya, hingga ia melupakan hand phonenya, pesan yang dikirim Hamzah belum ia baca.


Sampai pagi menjelang, ia langsung bersiap untuk acara wisudanya hari ini. Tidak banyak persiapan apa-apa yang ia lakukan. Ia sudah cukup senang bisa wisuda lebih cepat dari teman-temannya.


Kedatangannya ke Kampus sudah di tunggu oleh Lela dan Mita, kedua sahabatnya itu terlihat ikut senang.


"Selamat ya,Wila, kita ikut senang, semoga bisa cepat menyusul", Mita memeluk Wila.


"Menyusul yang mana?, Wisudanya apa menikahnya", goda Lela sambil tersenyum.


"Ya, keduanya lah", Mita terkekeh.


Hubyngannya dengan Juna sudah semakin baik, ia pun sudah mendapat restu dari kedua orang tuanya, hanya menunggu waktu, Mita ingin menyelesaikan dulu kuliahnya, baru berencana untuk menikah.


Sementara Lela ia masih memendam rasa kepada Andi . Walau mulai ada sinyal dari Andi, tapi mereka sepertinya masih menunggu kepulangan Hamzah.


Andi masih terikat dengan Wila sebelum Hamzah benar-benar ada disampingnya.


Namun sampai acara wisuda tiba Hamzah belum terlihat juga. Wila sudah berkali-kali melihat ke belakang, mengharap suaminya itu sudah ada duduk di deretan kursi pengantar, namun kursi itu tetap kosong.


"Wila Sasabila, jurusan Keperawatan", MC memanggilnya. Wila berdiri dan berjalan ke arah deretan para Dosen yang sudah berjajar di depan.


Ia sempatkan melihat deretan kursi pengantar, Hamzah masih belum ada di sana. Wila mantap melangkah menuju podium, ia tidak perdulikan lagi kehadiran Hamzah. Ia sudah cukup bahagia dengan kehadiran orang tuanya.


Dengan setelan Toga, ia menghampiri kedua orang tuanya. Wila bergantian memeluk mereka dengan derai air mata yang tidak terasa membasahi kedua pipinya.


Andi membawakannya sebuah bucket bunga, "Selamat ya Wila, sudah wisuda, ini dari Hamzah, ayahnya masuk Rumah Sakit, jadi ia kembali ke Jakarta", kabari Andi.


"Kamu cek Hand phone, dia sudah ngasih kabar dari kemarin", Andi kembali mengabari Wila.


Wila tersenyum, sebisa mungkin ia menerima alasan Hamzah kenapa sampai tidak jadi menemuinya.


Lela dan Mita bergantian memberi selamat. Mereka berfoto bersama sebelum memutuskan untuk pulang.


Andi kembali mengantar mereka pulang, tapi baru setengah jalan, tiba-tiba Wila meringis. Ia memegangi perutnya.


"Kenapa?, Yati yang duduk disampingnya terlihat cemas.

__ADS_1


"Ada apa Bu?", Caca melirik ke belakang, ia memadanf istrinya.


"Ini sepertinya Wila kontraksi Pak, kita harus segera ke Klinik.


Andi dengan sigap memutar balik mobilnya. Ia segera menuju Klinik terdekat, Klinik tempat Yeni dirawat dulu


"Wila segera dipapah menuju ke dalam, ada beberapa Perawat yang masih mengenalinya, mereka segera memeriksa Wila.


"Rupanya, Ibu ini mau melahirkan ya?, mungkin ada keluarga yang mau menemui Ibu?", tanya Perawat saat membawa Wila ke ruang bersalin.


"Ibu...., Ibu temani Wila", dengan meringis Wila memanggil Yati.


"Iya Neng, Ibu akan temani", Yati memeganf erat tangan Wila.


Dengan perasaan yang tidak karuan Caca menunggu di luar ruangan. Hatinya senang dan haru, sebentar lagi ia akan menjadi Kakek.


Andi terlihat menghubungi seseorang, ia mengotak-atik hand phonenya. Sepertinya Andi berusaha menghubungi Hamzah. Ia ingin memberitahunya kalau Wila sedang berjuang melahirkan anaknya.


Selang berapa lama, terdengar suara tangis bayi.


Pintu ruangan terbuka, seorang Perawat terlihat keluar dengan tersenyum. "Seorang bayi perempuan telah lahir dengan selamat", kabari perawat itu.


"Saya sudah boleh melihatnya Sus?", Caca berdiri.


"Silahkan Pak!", dengan ramah perawat itu mempersilahkan Caca masuk.


Caca masuk dengan sangat bahagia, ia menghampiri Wila dan istrinya. "Pak, itu cucu kita", Yati menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, ia belum diadzani Pak", Yati memegang tangan suaminya.


Caca menghampiri boks bayi, ia melihat sesosok bayi mungil sedang terpejam di sana. Ia mencoba menggendongnya dan mengumandangkan adzan di telinga kanannya, juga membacakan iqomat di telinga kirinya.


Wila melihat pemndangan itu dengan mata berlinang, harusnya itu semua Hamzah yang melakukannya , tapi ia masih tidak ada disisinya saat hari kelahiran anaknyan.


Mungkin benar, Wila harus mulai melupakan laki-laki yang menjadi ayah dari putrinya itu, ia tidak ingin terus-terusan menyimpan harapan semu, yang pada akhirnya hanya kecewa yang ia dapatkan.


Wila kurang sabar gimana, setengah sebulan menikah, langsung ditinggalkan, walau uang selalu dikirim, tapi itu semua tidak cukup mewakili kehadiran fisiknya.


Selama ini hanya Andi yang menemani dan menjaganya. Wila tidak mungkin terus mengandalkan Andi, karena Andi pun memiliki kehidupan pribadi yang harus ia jalani.

__ADS_1


Wila tidak mungkin terus menjadi penghalang untuk Andi. Andi harus mengejar kehidupan pribadinya bersama wanita yang ia cintai.


Selama ini Andi terus mengabaikan kehidupan pribadinya karena ia terus berada di sisi Wila. Sehingga orang-orang menyangka kalau Andi lah suami Wila.


Itu anggapansemua orang, karena semenjak Wila menikah di kampung bersama Hamzah, mereka tidak pernah terlihat bersama.


"Sebenarnya kemana Hamzah Neng?, masa ke luar kota tidak tahu waktu, istrinya wisuda tidak datang, istrinya melahirkan pun ia tidak ada.


Untung saja kamu melahirkan saat Ayah dan Ibu ada di sini, kalau tidak, bagaimmana?", Caca menatap Wila.


Wila bingung, harus bicara apa kepada irang tuanya, ia tidak mungkin bicara yang sebenarnya, semua begitu rumit, belum tentu kedua orang tuanya bisa menerima.


"Ayah Hanzah sakit, kemarin ia sudah hampir nyampai di sini, tapi ibunya menyuruh dia kembali, jadi Hamzah kembali ke Jakarta", Jelaskan Andi.


Andi bisa memahami kebingungan di wajah Wila, ia sudah mengenal Wila sejak lama, Wila tidak mungkin bicara yang sebenarnya, ia lebih mengutamakan perasaan kedua orangtuanya.


Wila tersenyum ke arah Andi, ia begitu terbantu dengan jawaban Andi.


"Semoga ayahnya bisa cepat pulih, jadi Hamzah segera bisa ke sini", timpa Andi. Ia melirik bayi mungil yang masih terpejam di boks bayi.


"Hamzah junior, ia mirip sekali ayahnya", senyum Andi.


"Haura namanya, itu nama yang diberikan Kak Hamzah", ucap Wila.


"Oh..., Haura, nama yang cantik", Andi tersenyum.


"Kamu tidak apa-apa?", Yati melihat Wila yang terisak,


Yati memegang erat tangan Wila. "Wila bahagia Bu, bisa wisuda dan diberikan seorang putri cantik", ucap Wila menunduk.


"Kalau bahagia, senyum attu, jangan tumpahkan air mata", Yati menyeka sudut mata anaknya.


"Wila akan lebih bahagia jika kita semua bisa berkumpul bersama, merayakan kelulusan dan kelahiran cucu pertama Ibu",


"Iya, Ibu mengerti, kamu yang sabar, semoga waktu cepat berpihak kepada kita, kita bisa berkumpul bersama, terutama dengan suamimu", Yati mengelus lembut kepala anaknya.


Anak yang rasanya baru kemarin ia belai, ia kepang rambutnya saat akan pergi ke sekolah, kini sudah memberinya cucu. Kehidupan terasa begitu cepat bergulir.

__ADS_1


__ADS_2