
Hamzah segera membawa Wila menuju rumah Bi Yeni, ia tidak memperdulikan Mahasisw,a lain yang memperhatikan mereka.
Hamzah memapah Wila menuju motornya, tak sedikit temannya yang keheranan melihat penampilan Wila, ia menutup bagian kepalanya dengan jas almamater.
Hamzah tidak peduli dengan keributan di Kampus dengan pingsannya Sarah, dan sakitnya Joko.
Hamzah segera melajukan motornya, ia ingin segera sampai di rumah Bi Yeni untuk mengecek keadaan Wila.
Sesampainya di rumah, nampak Bi Yeni sedang membereskan dagangannya yang sudah habis. Ia merass terkejut dengan kedatangan Hamzah, apalagi melihat penampilan Wila.
"Astaghfirullah Neng, kok jadi begini, kenapa?", tanyanya sambil segera menghampiri Wila dan memapahnya memasuki rumah.
Wila langsung dibawa menuju kamarnya, ia langsung membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Sementara Hamzah sedang ngobrol dengan Bi Yeni di ruang tengah, Hamzah menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Tak lama Wila keluar kamar dengan penampilan yang sudah rapi, ia duduk dekat Bi Yeni, "Terima kasih ya, nanti jasnya aku cuci dulu",
Hamzah merasa lega, melihat keadaan Wila yang tidak apa -apa.
"Aku kan sudah bilang, kalau mau bicara dengan Sarah, aku temenin", keluh Hamzah, ia merasa sedikit kesal karena Wila tidak menurutinya.
"Iya maaf", Wila menunduk. Tadinya ia tidak mau melibatkan Hamzah dalam urusannya dengan Sarah, tapi malah makin merepotkannya.
"Sudah-sudah, sekarang mendingan kita makan dulu, Alhamdulillah dagangannya cepat habis, jadi tadi Bibi sempat masak ", ajak Bi Yeni.
Mereka akhirnya makan bersama dengan menu alakadarnya, walaupun demikian terasa nikmat bagi Hamzah, karena yang terpenting adalah kebersamaannya.
Hamzah tak jarang mencuri pandang sama Wila, ia tidak bisa melupakan kejadian di gubuk kemarin, ia ingin segera menghalalkan Wila.
Wila pun menyadari tingkah Hamzah, sesekali ia melihat Hamzah dengan membulatkan kornea matanya.
"Bi, nanti bisa kalau ada kegiatan di Kampus, bisa saya pesan snack box nya dari sini", Hamzah mengalihkan pembicaraannya.
"Ya boleh attu, Alhamdulillah, dengan senang hati", Bi Yeni nampak sumringah.
Hand phone Hamzah berdering, ia langsung menjawabnya di depan Wila dan Bi Yeni, ia ingin mulai terbuka dengan Wila, biar tidak ada rasa saling curiga.
Ternyata itu telepon dari ART nya Sarah, yang memberitahukan kalau Sarah kini demam di rumah, ia bingung harus menghubungi siapa , dan akhirnya memutuskan menghubungi Hamzah.
__ADS_1
Karena ia merasa tidak mengenal siapa pun teman Sarah, selain Hamzah.
"Ooh iya, nanti saya sempatkan ke sana, sekarang lagi ada urusan dulu" , Hamzah menutup teleponnya.
Hamzah melihat Wila, ia ingin tahu reaksinya, tapi sepertinya Wila datar-datar saja, ia sepertinya tidak terpengaruh dengan obrolan Hamzah tadi.
Kini Hamzah menjadi serba salah, apa ia datangi Sarah atau tidak?, akhirnya chat salah satu Perawat di Kliniknya, ia meminta untuk datang kembali ke rumah Sarah.
Hamzah tidak ingin bertemu dengan Sarah dulu, setelah apa yang dia lakukan kepada Wila tadi siang.
Wila merasa lega, ternyata Hamzah menolak untuk datang ke rumah Sarah. Ia tersenyum lega sambil melirik ke arah Hamzah, dan kembali dua pandangan saling bertemu.
Setelah kejadian kemarin, Wila jadi agak posesif, ia takut Hamzah mengabaikannya.
Hamzah melemparkan senyumnya kepada Wila , seolah ingin meyakinkan Wila kalau dirinya tidak mungkin berpaling.
Bi Yeni pamit untuk menyeselaikan pekerjaan di dapur, ia sengaja meninggalkan Hamzah dan Wila berdua.
" Tadi Sarah sempat bilang kalau kalian sudah jadian, benarkah?", Wila melirik Hamzah.
Hamzah tersenyum," Sarah dipercaya, dia itu licik, ia akan melakukan apapun agar keinginannya tercapai".
Hamzah mendekati Wila,"Sudahlah , kamu harus yakin, hanya kamu yang selalu mengisi ruang hatiku, dan aku ingin kamu menjadi takdirku", Hamzah memberanikan diri untuk memmegang tangan Wila.
Ia sampai duduk di depan Wila, dan kembali meyakinkannya.
*
*
*
Sementara , Perawat yang disuruh datang memeriksa keadaan Sarah. Baru saja nyampai di rumah Sarah.
Kedatangannya membuat Sarah kecewa, karena ia menginginkan Hamzah yang datang. Walau dengan sikap yang ketus, Sarah diam saja saat Perawat itu memeriksanya.
Sama, Perawat itu juga mendapati hal yang agak janggal, namun ia tidak bisa bicara langsung dengan Sarah, ia masih menghargai Sarah.
"Maaf, apa gejala mual dan pusing ini sudah lama?", tanyai Perawat .
__ADS_1
"Nggak, baru beberapa hari saja, itu juga karena saya sempat terjatuh waktu di Kampus". Sarah mengarang cerita.
Padahal sakitnya itu sudah ia rasakan sejak tiga minggu yang lalu.
Perawat memberikan beberapa obat dan vitamin
untuk Sarah.
"Tolong di jaga agar jangan sampai terjatuh lagi, pola makannya juga dijaga!", pesan Perawat saat meninggalkan Sarah yang masih belum beranjak dari tempat tidurnya.
Sarah hanya meliriknya dengan judes, dan membiarkan Perawat itu keluar dari kamarnya. Sarah mengubah posisi tidurnya sambil mengutuki Hamzah .
Perasaan Sarah sedang kacau, ia seperti diburu oleh waktu, jangan sampai perutnya keburu dung...., ia masih belum mendapatkan Hamzah.
"Ping", tiba-tiba hand phone nya berbunyi, dan antara senang dan sedih, ia mendapati maminya yang sedang menelepon.
Sarah bangkit, duduk di atas tempat tidurnya dan segera menjawab panggilan dari maminya.
"Ya, Mamy aku lagi gak enak badan niih....", manja Sarah , begitu ia terhubung dengan maminya.
"Aduh, honey, kenapa lagi?",tampak maminya Rahmi terlihat khawatir melihat penampilan anaknya yang begitu pucat.
"Iya, Mih, aku sudah beberapa hari ini nggak ada selera makan, pinginnya yang segar-segar terus", jawab Sarah.
"Ya, jangan diturutin dong Honey, biar sedikit, kamu harus tetap makan, apa perlu Mamy tambah uang jajan kamu , biar kamu bisa pesan menu apa pun disukai?",
"Eehmm, boleh" , Sarah terlihat sumringah, setidaknya ia bisa bebas shopping-shopping untuk menghilangkan kegabutannya.
"Ya udah, baik-baik di sana ya!, Mamy langsung transfer nih", ibunya Sarah begitu entengnya, segala urusan anaknya diselesaikan dengan uang.
Sarah langsung cek Mobile Banking, dan senyumnya langsung merekah saat melihat sejumlah rupiah miliknya sudah bertambah.
Ia rebahkan tubuhnya, lalu ia sentuh permukaan perutnya, di dalam sana ada sebuah kehidupan yang tak lama lagi akan tampak, ia harus segera mencarikan calon Bapak yang terbaik untuknya.
'Atau sekalian saja dimusnahkan', tiba-tiba pikiran Sarah mendapat ide gila untuk menggugurkan janinnya.
Tapi ia berfikir lagi, ia tetap ingin menjadikan Hamzah sebagai kambing hitamnya. Ia ingin menjerat Hamzah, sehingga tidak ada alasan lagi bagi Hamzah untuk menolaknya.
Ia sudah tidak peduli dengan ayah biologis dari janin yang sedang dikandungnya. Karena ia tidak ingin menuntut tanggung jawab kepada laki-laki yang tidak dikenalnya, apalagi dicintainya.
__ADS_1
Sarah tidak ingin hidup selamanya bersama orang asing yang baru dikenalnya. Kini Sarah harus memutar otak untuk rencana penjebakan Hamzah.