
"Kita akan benar-benar jadi saudara La", lirih Wila. Wila begitu senang, ternyata selama ini Andi menaruh hati kepada Lela, sahabat karibnya.
"Aku juga kan?", tiba-tiba Mita hadir diantara mereka.
"Ya Allah, Mita, kangen aku, lama sekali tidak bertemu", Wila memeluk Mita erat.
"Bagaimana kabarnya?, terus mana Juna?", tanyai Wila.
"Mas Juna ada di sana, dia bekerja di EO yang dipesan Lela", tunjuk Mita ke arah Juna yang sedang ada dekat fotografer .
"Tunggu, Mas Juna?, kalian...",
"Iya, kami sudah menikah Mir, tiga bulan sebelum wisuda, kami sudah menikah, ini, sudah jadi aja", kekeh Mita, menunjuk ke arah perutnya.
"Aku sudah isi, mau bulan bulan", bisik Mita kepada Lela sambil terkekeh.
"Alhamdulillah, tek dung ya", kekeh Wila.
Mereka tampak tertawa bersama. "Nah La, belajar tuh sama Mita, biar tek dung juga", kembali Wila terkekeh.
"Sttt..., ingat!, ini acara Lela, jangan bikin ribut, malu ah, tuh pada ngelihatin kita kan", ingatkan Mita.
"Iya, kebiasaan sih, sekarang kita mesti jaga sikap, sudah mau jadi emak-emak, malu ah", Senyum Wila. Mereka bertiga tampak saling bercanda, walau dengan suara yang dipelankan.
"Alhamdulillah, akhirnya semua kesulitan bisa kita lewati, terima kasih buat kalian yang selalu ada saat aku terpuruk", kenang Wila.
"Kita kan sahabat, trio ...trio apa ya ...", Mita menggantung ucapannya.
"Trio happy saja lah, biar selalu senang", celetuk Lela sambil tersenyum.
"Setuju", kompak Wila dan Mita, mereka bertiga saling berpelukan.
Di hari itu juga langsung ditetapkan hari pernikahan Andi dan Lela. Mereka akan menggelar ijab qabul sebulan lagi.
"Bagaimana, apa kalian juga mau mengulang ijab qabul di hari yang sama?", tawari Bu Kalila kepada Hamzah dan Wila.
Wila menatap Hamzah, seolah ia meminta pendapatnya. "Ya..., kami juga akan mengulang ijab qabul dihari yang sama", tegas Hamzah. Ia tersenyum kepada Wila.
__ADS_1
"Bukannya mau dilakukan di rumah anak yatim?", ingatkan Wila.
"Di sini saja, biar nanti bingkisannya saja yang kita kirim ke sana", usul Hamzah.
"Oh..., baik kalau begitu",
"Alhamdulillah, nanti kita akan punya dua pasang pengantin", senyum Bu Kalila.
"Semoga kalian anak-anak Papah, bahagia dan diberi keselamatan di dunia dan akhirat", Pak Zakarya menatap haru Hamzah dan Andi.
"Aamiin...", semua mengaminkan ucapan Pak Zakarya.
Setelah semua acara selesai, mereka menikmati hidangan yang disuguhkan keluarga Lela. Mereka saling bercengkrama.
"Ibu suka keluarga Lela, adiknya banyak, semoga menular, nanti Andi bisa mempunyai banyak anak dari Lela, jadi kita akan punya banyak cucu Pah", senyum Bu Kalila.
Bu Kalila berbisik kepada Pak Zakarya, entah apa yang dibicarakannya , namun Pak Zakarya tampak manggut-manggut .
"Jadi begini, Papah dan Mamah sudah berunding, setelah acara pernikahan kalian selesai, kami akan memberikan hadiah perkawinan pada kalian berdua, hadiahnya yaitu tiket umrah buat kalian berempat", jelas Pak Zakarya.
"Ini sungguh sebuah kejutan bagi saya Bu, tidak pernah terbersit untuk bisa pergi ke Tanah Suci", haru Lela.
"Ini berkat do'a-do'a mu Nak, Ibu yakin kamu anak yang sholeh, Andi tidak akan sembarangan memilih calon istri, Ibu yakin kamu yang terbaik menurut Andi. Semoga kamu yang terbaik menurut Allah untuk anak Ibu, Andi", senyum Bu Kalila.
Bu Kalila langsung jatuh hati kepada Lela. Paadahal ini kali pertama ia bertemu dengan Lela.
"Andi sampai merahasiakan kamu, ternyata memang kamu itu istimewa", lagi-lagi Bu Kalila memuji Lela.
"Sudah Bu, dari tadi muji-muji saya terus, saya takut jadi tinggi hati", senyum Lela.
"Memang itu pantas untuk kamu, sayang",
Setelah bercengkrama ke sana ke sini, Pak Zakarya mohon pamit, dan mereka akan kembali ke tempat ini satu bulan lagi pada tanggal dan hari yang telah ditentukan.
Rombongan ketiga mobil kembali beriringan , kini mereka kembali menuju ke rumah Wila. Untuk satu bulan ini mereka akan menetap di sana, sampai semua urusan selesai.
Pak Zakarya dan Bu Kalila sudah memutuskan untuk menetap di Kampung Wila. Selain untuk menghabiskan masa tuanya di sana, ia juga ingin mengabdikan masa pensiunnya di sana dengan membuka sebuah Klinik Kesehatan di sana.
__ADS_1
Tanpa di duga, Pak Putut pun ikut mengantar Bi Yeni pulang . Dan yang lebih mengagetkan lagi ternyata Pak Putut Pun mengutarakan niatnya untuk melamar Bi Yeni sebagai istrinya.
"Alhamdulillah, ini sungguh sebuah kabar yang mengejutkan, dan membahagiakan", sumringah Pak Caca. Sebagai wali dari Bi Yeni, Pak Caca menitipkan Bi Yeni kepada Pak Putut.
"Atau jangan-jangan, Pak Putut juga mau mengambil tanggal yang sama dengan Andi, biar nanti ada tiga pasang pengantin sekaligus", senyum Pak Zakarya.
"Ah, nggak usah Pak, kami sudah berumur, yang sederhana saja, mungkin minggu depan saja", ucap Pak Putut.
"Minggu depan?, Wah..., keduluan star kita Zah, yang diam-diam saja, eh..., akadnya paling dulu", kekeh Andi.
"Sebenarnya sudah lama ada niat seperti ini, tapi baru sekarang bisa diutarakan", senyum Pak Putut.
"Alhamdulillah, ini sudah jalan-Nya, kita syukuri saja", senyum Bu Yati.
"Iya, akhirnya kalian sudah menemukan takdir jodohnya masing-masing, semoga ini jodoh jodoh pasti dari Allah, yang hanya bisa terpisah oleh pati(pati\=kematian)", harap Caca.
Semua mengaminkan ucapan Caca.
"Kalau begitu, Papah harus tambah dua tiket lagi ya buat Pak Putut, dan Bi Yeni, biar sekalian umroh", senyum Pak Zakarya.
"Alhamdulillah, kenapa tidak sama Papah dan Mamah saja umrohnya", lirik Hamzah.
"Kalau Papah dan Mamah kan jagain Haura, lagi pula ini masih ada kerjaan belum beres, Papah dan Mamah juga sudah pernah umroh kan", senyum Bu Kalila.
"Nanti kalau sudah di Masjidil Haram, Mami titip do'a, tolong do'akan Sarah dari sana, katanya di sana itu tempat yang mustajab", pinta Bu Rahmi.
"Iya mih, pasti!, akan saya do'akan", sambar Hamzah.
"Nanti setelah semua selesai, Mamih mau kembali mengurus bisnis Mamih, sayang, sudah lama Mamih tinggalkan, dan Mamih juga akan mengurus surat-surat kepemilikan semua harta Mamih, nantinya akan dialihkan kepada Hazel". Jelas Bu Rahmi.
"Mamih serahkan pengasuhannya kepada Hamzah, jangan biarkan ayah biologisnya mengambil alih, Mamih percaya sama kamu Zah", lirih Bu Rahmi, kembali ia merasa terharu.
"Iya Mih, jangan khawatir", ucap Hamzah
"Ibu jangan khawatir, kami di sini juga akan ikut menjaga Hazel, ia juga sama, cucu kami", timpa Bu Kalila.
"Terima kasih, inilah yang Hazel butuhkan, kehangatan keluarga", isak Bu Rahmi. Lagi-lagi ia merasa terharu. Kehangatan keluarga seperti inilah yang tidak Sarah dapatkan, sehingga mencarinya di luar rumah dengan cara yang salah.
__ADS_1