Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Sarah Kontraksi


__ADS_3

Dengan susah payah Sarah menaiki tangga, ia sampai di kamarnya dengan dipapah oleh Hamzah. "Besok suruh Bi Marni untuk membereskan kamar yang di bawah, biar kamu lebih mudah", ucap Hamzah.


"Iya, kamu saja yang suruh", Sarah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Hamzah menuju meja kerjanya, sudah mau satu bulan dia bekerja membantu mertuanya, Bu Rahmi, untuk men take over semua pesanan makanan. Jadi semua pesanan masuk melalui Hamzah dulu.


Para reseller memesan menu melalui Hamzah, besoknya baru di kirim.


Sarah merasa buang air kecil, tapi ini keluarnya tiba-tiba, sampai ia tidak menyadari, tahu-tahu keluar saja membasahi panties nya.


Ia diam saja, mau bicara sama Hamzah malu, lalu ia berusaha turun sendiri dari atas tempat tidurnya menuju kamar mandi, ia mengganti panties nya yang basah.


Karena terburu-buru, ia tidak memperhatikan keadaan panties nya yang ada bercak merahnya.


Ia buru-buru kembali ke atas tempat tidur, bagian bawah perutnya terasa ada yang menekan, membuatnya kesusahan saat melangkah.


Sarah masih diam, ia masih tidak berani bicara kepada Hamzah.


Sarah masih merasa nyaman tebahan di atas tempat tidurnya, ia sedang menunggu ngantuk, sambil memperhatikan Hamzah dari jauh.


Namun , selang beberapa menit, ia mulai gelisah, pinggangnya terasa panas, pegal, rasanya mau patah, dan perutnya tiba-tiba terasa mulas. Awalnya sih biasa, Sarah masih bisa menetralisir rasa sakitnya, tapi makin lama di tahan, kok rasanya malah makin sakit.


'Aduh..., kenapa ini?', Sarah bicara dalam hati. Keringat mulai mengucur dari tubuhnya . "Aduh..., aww..., "Sarah akhirnya teriak kesakitan.


Hamzah yang sedang fokus ke laptopnya melirik Sarah, dan Hamzah kaget melihat Sarah yang sudah berguling-guling di atas tempat tidur.


Hamzah segera memburu Sarah dengan panik, "Ya Allah, Sarah, kamu kenapa?", Hamzah bingung mau berbuat apa.


"Ng....nggak tahu, ini mulas sekali, sakit....", teriak Sarah.


"Atau jangan -jangan , kamu mau melahirkan?", tebak Hamzah.


"Ng.....nggak tahu..., ini sakit sekali", Sarah menangis.


"Tunggu, aku panggil Bi Marni dulu", Hamzah setengah berlari menuju kamar Bi Marni.


"Bi....Bi Marni, tolong Bi, itu Sarah kenapa?", Hamzah mengetuk pintu kamar Bi Marni dan berteriak dari luar.


Bi Marni yang baru tertidur pulas, terasa mimpi, ia bangun fan duduk di atas tempat tidur.


"Bi, bangun Bi, Itu Sarah kenapa Bi, tolong bangun Bi", Hamzah berteriak lagi di luar, ia hampir putus asa karena Bi Marni belum keluar juga.


Tak lama terdengar kunci pintu di buka, kepala Bi Marni keluar dengan mata menahan kantuk, "Ada apa Tuan?", tanyanya kaget, karena tidak biasanya ia dibangunkan malam-malam.

__ADS_1


"Tolong Sarah Bi", dia kesakitan", mohon Hamzah.


"Non Sarah?, Gusti Allah, kenapa Non Sarah", Bi Marni langsung menuju kamar Sarah.


Hamzah mengikuti dari belakang dengan wajah khawatir.


Sesampai di kamar, Sarah sudah meraung-raung kesakitan, badannya berguling ke kanan dan ke kiri.


"Ya Allah Non, ini mah mau melahirkan Tuan, cepat hubungi ambulans, bawa Non Sarah ke Rumah Sakit!" perintah Bi Marni dengan paniknya.


"Oohh, iya baik Bi", Hamzah segera mengambil telepon dan menghubungi Rumah Sakit.


"Sudah Bi ", Hamzah menghampiri Sarah, ia pegangi tangannya, ia lap keringat yang mengucur di dahinya.


"Masa Tuan tidak tahu, ini tuh proses mau melahirkan, Non Sarah sedang kontraksi", jelas Bi Marni.


Selang beberapa, terdengar suara orang mengetuk pintu. "Siapa?", tanya Hamzah.


Bi Marni membuka pintu dan tampak Satpam rumah sudah berdiri di sana, "Bi, itu mobilnya datang",


"Langsung suruh masuk ke sini saja Pak", perintah Hamzah yang mendengar percakapan mereka.


"Baik Tuan", Satpam turun ke bawah dan kembali dengan diikuti dua orang Petugas berseragam putih-putih membawa blangkar.


Sedangkan Hamzah mengendarai mobil sendirian mengikutinya dari belakang. Sesampainya di Rumah Sakit, petugas cepat menangani Sarah.


Hamzah dan Bi Marni duduk cemas di luar ruangan.


"Siapa keluarga pasien di sini?", seorang Peraway keluar dari ruangan.


"Saya Sus", ucap Hamzah sambil berdiri.


"Mari ikut saya, Dokter mau bicara",


"Baik Sus", Hamzah mengikuti Perawat itu ke dalam, Di sana, Sarah sudah sangat kepayahan, mulutnya seperti meracau tidak jelas.


"Bapak suaminya?", tanya seorang Dokter yang terlihat masih muda.


"Iya Dok", jawab Hamzah singkat.


"Begini Pak, sepertinya Ibu Sarah harus segera di caesar, melihat kondisinya yang sangat lemah, dan cairan ketubannya juga sudah pecah beberapa jam lalu, jadi sudah tidak


Qmemungkinkan untuk persalinan normal", jelas Dokter

__ADS_1


"Iya , lakukan saja yang terbaik untuk Sarah Dok" ,


"Baik, kalau begitu akan kami siapkan prosedurnya agar cepat dilakukan tindakan operasi terhadap Bu Sarah", ucap Dokter.


Sementara Dokter dan Perawat menyiapkan segala sesuatu untuk proses operasi, Hamzah mendekati Sarah, yang kini sudah setengah sadar terlentang di atas bed pasien.


"Sarah ....Sarah....., ini aku, kamu masih bisa mendengar aku kan?", Hamzah menggoyang-goyang tangan Sarah.


Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara rintihan dan racauan tidak jelas.


Hamzah sangat panik, dia terus mengajak bicara Sarah agar dia tidam kehilangan kesadarannya.


"Bapak tolong tandatangani di sini", seorang Perawat membawa sebuah berkas, dan Hamzah segera menandatanganinya.


Hamzah mengantar Sarah sampai ke depan ruang operasi. Hamzah memegang tangan Sarah dan berbisik ditelinganya ,"Kamu pasti bisa, kamu pasti kuat, kamu akan segera jadi ibu".


Sarah hanya diam saja dengan mata terpejam, tapi Hamzah yakin, Sarah masih bisa mendengarnya .


Beberapa Perawat membawa Sarah masuk. Hamzah kembali duduk di kursi tunggu dan dia terlihat menunduk. Ia tidak berani menemani Sarah di dalam.


Kembali ingatannnya menuju Wila, sebentar lagi dia juga akan melahirkan anaknya. Hamzah berharap ia bisa menemani Wila saat melahirkan nanti.


Sayup-sayup terdengar suara tangis bayi dari dalam ruangan, "Alhamdulillah", gumam Hamzah. Ia yakin itu bayinya Sarah.


Benar saja, selang beberapa keluar seorang Perawat, "Pak, bayinya sudah lahir, seorang bayi perempuan, mungkin Bapak mau mengadzaninya", kabari Perawat.


Hamzah memasuki ruangan, terlihat para Dokter masih menangani Sarah, ia langsung menghampiri Perawat yang sedang membersihkan bayinya.


"Masya Allah", gumam Hamzah. Seorang bayi mungil yang tidak berdosa, ia suci, bagaimanapun awal kejadiannya.


Hamzah segera mendekatnya mulutnya ke telinga mungilnya dan segera mengadzaninya.


Setelah selesai, ia mengamati raut wajah si bayi mungil, 'mirip siapa ya', pikirnya. Sepertinya tidak terdapat kemiripan dengan Sarah. Matanya terlihat sipit.


'Mata itu, sepertinya familiar, aku sering melihat mata sipit seperti itu', pikir Hamzah.


Memang Allah itu Maha Kuasa, tidak ada yang bisa sembunyi dari pengawasan-Nya.


Sampai saat ini Sarah tidak mengetahui siapa yang telah merenggut kesuciannya malam itu, hingga dirinya mengandung. Tapi saat bayinya lahir, ia akan memberi petunjuk siapa ayahnya, dari kemiripan fisiknya.


'Joko?, iya mata itu mirip sekali dengan mata Joko, apa ia Ayah dari bayi ini?', pikir Hzmzah.


Ini akan menjadi petunjuk awal baginya untuk mengungkap orang yang telah menghamili Sarah, dan dirinyalah yang menjadi korban, hingga harus mengorbankan Wila dan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2