Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Hari Pertama Menjadi Istrimu


__ADS_3

Suara adzan subuh membangunkan Wila, ia merasa ada sesuatu yang menindihnya, tanpa membuka mata, ia meraba sesuatu yang menindihnya itu.


Setelah diraba, ternyata tangannya memegang sebuah kepala, ada telinga, pipi, hidung ,dan.....


"Aaahhh....", jerit Wila. Ia merasa kaget. Ada seseorang yang sedang tidur bersamanya.


Hamzah pun terbangun dengan masih bertelanjang dada. "Ada apa?", Hamzah mengucek -ngucek matanya.


Dilihatnya Wila sedang duduk di ujung tempat tidur sambil menutup wajahnya.


Hamzah tersenyum sambil mendekati Wila, ia sentuh pundaknya dengan lembut.


"Sayang, ini aku, suamimu", jelas Hamzah.


Wila terdiam, ia berusaha mengumpulkan ingatannya. "Maaf", perlahan ia buka kedua telapak tangannya, dan melihat ke arah Hamzah.


Namun Wila kembali menutupkan kedua telapak ⁿ, karena Hamzah hanya mengenakan celana pendek saja.


"Itu...., kok kamu seperti itu, pakai yang benar bajunya!",


Hamzah kembali mengulum senyum melihat tingkah istrinya . Mungkin ia masih belum terbiasa.


'Padahal semalam menikmatinya', pikir Hamzah sambil tetap mengulum senyum.


"Ya sudah, Abang duluan mandinya", Hamzah beranjak menuju kamar mandi.


"Atau mau mengulangi yang semalam? , ayo kita mandi bersama!", goda Hamzah.


"Iihh, apaan siih", Wila tersipu.


"Cepetan!, kita belum shalat subuh" , Wila beranjak menuju kamar mandi mendahului Hamzah.


Sesampai di sana, Caca dan Yati sudah duluan bangun. Betapa malunya Wila, ia bangun kesiangan.


Caca dan Yati tersenyum melihat putrinya yang baru bangun. Diikuti Hamzah .


"Bapak sudah siapkan air hangat, di sini pasti dingin", senyum Caca.


Hamzah merasa malu sama ayah mertuanya itu , ia balas senyum dan segera menuju kamar mandi.


"Tok...tok...tok..., Hamzah mengetuk pintu kamar mandi yang ada Wila di dalamnya.


"Iya, tunggu sebentar",


"Bisa buka sebentar, kita kan bisa mandi bareng, biar hemat waktu, nanti shalat subuh Abang kesiangan", bujuk Hamzah.


Wila mengalah, ia membuka pintu kamar mandi dan membiarkan suaminya masuk. Mereka mandi bersama , karena di rumah Wila hanya ada satu kamar mandi.


"Sarapan sudah siap, nanti kalau mau makan, ambil saja!" pesan Yati.


"Ya Bu, terima kasih" Wila melewati ibunya dan kembali ke kamar diikuti Hamzah. Mereka melaksanakan shalat subuh berjamaah. Shalat subuh pertama setelah resmi menikah.


Wila mencium punggung tangan kanan Hamzah, dan dibalas dengan kecupan di kening.

__ADS_1


Bahagia menyelimuti hati mereka berdua.


"Abang, kita sarapan dulu!", ajak Wila sambil melipat mukena dan sajadah.


"Sini , Abang pakaikan perhiasannya!" Hamzah melirik kotak mas kawin yang masih utuh ddi depan meja rias, ia mengambilnya dan memberikannya kepada Wila.


"Terima kasih", senyum Wila . Ia menerima kotak pemberian suaminya.


Wila tertegun melihat isi kotak itu, satu set perhiasan tampak berkilauan didalamnya.


Wila memandang Hamzah, "Ini banyak sekali, pasti merepotkan",


"Itu tidak seberapa dengan apa yang telah kamu berikan semalam", senyum Hamzah.


"Terima kasih sudah melengkapi hidupku dan sebentar lagi akan ada sesosok bayi lucu dari rahimmu", Hamzah kini mendekap Wila.


"Jangan biarkan ini cepat berlalu, tetaplah bersamaku",


Wila terharu mendengar kata-kata yang diucapkan Hanzah. Ia juga tidak ingin kebahagiaan yang baru saja dikecapnya cepat berlalu.


Hamzah berjalan ke belakang Wila, ia menadahkan tangan kanannya meminta diambilkan perhiasan yang mau dipakainya.


"Masya Allah, ini pasti mahal", Wila menatap mas kawinnya satu - satu, ia ambil kalung yang sudah menyatu dengan liontin .


Hamzah mengambilnya dan memasangkannya di leher Wila. Akhirnya, semua perhiasan sudah berpindah ke tubuh Wila.


"Bagus, tapi nanti orang yang melihatnya akan curiga apalagi mereka yang tidak mengetahui pernikahan kita",


"Aku ingin kamu tetap memakainya", ucap Hamzah sambil melingkarkan tangannya di leher Wila.


"Guuuukk......Guuukk...", bunyi perut Wila terdengar.


"Suara apa itu?", Hamzah menahan tawanya.


"Maaf, sepertinya aku sudah lapar",


"Kalau begitu, cepetan sarapan, ayo!", Hamzah menuntun Wila keluar kamar, dan segera menuju dapur.


Mereka tampak menikmati makanannya. Tiba-tiba hand phone Hamzah berbunyi, ia melirik layarnya, ternyata Bu Rahmi yang meneleponnya.


"Maaf, Abang terima telepon dulu", Hamzah menjauh dari meja makan dan segera melakukan percakapan dengan orang yang ada diseberang sana.


"Iya Bu, akan segera saya selesaikan dan secepatnya saya kembali ke Kota", ucap Hamzah sebelum menutup sambungan teleponnya.


Wila yang masih duduk di meja maka tampak tidak peduli, ia tidak bertanya apa pun kepada suaminya.


Wila tampak fokus pada makanannya. Bukannya ia tidak mau bertanya tapi ia tidak ingin terluka jika yang menelepon suaminya adalah Sarah.


"Aku ingin mencoba masakan buat istriku", ucap Hamzah menyentuh tangan Wila.


"Besok kita harus sudah kembali ke Kota lagi, ada urusan yang harus segera diselesaikan", ucap Hamzah.


Wila merenggut, ia masih ingin berlama-lama dirumahnya.

__ADS_1


Hamzah melihat ekspresi Wila , "Maaf, sudah mengganggu kebahagiaanmu, nanti kita rencanakan lagi liburan yang lebih panjang lagi.


"Memangnya tadi yang menelepon , Sarah ya?" tebak Wila.


"Iya , kamu tidak marah kan? Tanya Hamzah.


"Nggak, aku juga sadar posisi kok, mana mungkin marah, ia istrimu juga", Sarah menunduk.


Hamzah memegang tangan Wila, "Maaf, itu cuma sementara, aku hanya mencintaimu", Hamzah mengecup tangan Wila.


"Satu hal yang perlu kamu tahu, belum menyentuhnya",


Wila terbeliak, merasa tidak percaya. "Kenapa bisa?",


"Sayang, kamu harus percaya. Aku hanya melakukannya denganmu, aku tidak mencintai Sarah", jelas Hamzah.


"Apa pun yang terjadi, posisimu tidak akan terganti",


"Sudah, aku ingin kamu masakin aku sebelum kita kembali ke Kota",


Wila mengangguk.


Ia merasa bahagia , tetapi juga ada rasa ketakutan jika kembali keKota.


Tapi kuliahnya belum kelar . Itu yang membuatnya berat untuk mundur.


"Nanti sore biar Wila yang masak Bu", ucap Wila saat ibunya masuk dari pintu samping.


"Nggak usah, biar ibu saja, kalian nikmati saja masa liburnya", senyum Yati.


"Ibu pingin cepat-cepat gendong cucu",


Wila dan Hamzah saling pandang. 'Sebentar lagi ibu memang akan menjadi nenek', pikir Wila sambil tangan kirinya memegang perut.


"Nggak apa Bu, sekalian belajar,supaya tidak gagal", senyum Wila.


Dibantu ibunya, Wila membereskan meja makan dan mencucikan piring. Tapi tidak diperbolehkan , Wila hari itu hanya duduk dan istirahat saja,


Yati memperlakukannya bak seorang putri saja. Wila dilarang mengerjakan pekerjaan apa pun.


"Bu, besok Wila harus segera kembali ke Kota", kabari Wila.


"Besok?, kok cepat-cepat pulang?, ibu kan masih kangen", Yati tampak berkaca-kaca.


"Sama Bu, Wila juga masih kangen, tapi Abang ada urusan mendadak katanya", Wila melirik Hamzah.


"Iya, maaf Bu, lain kali kita bisa lebih lama tinggal di sini",


"Ya, gimana lagi", Yati tampak enggan berpisah dengan Wila.


"Jangan khawatir Bu, saya akan menjaga Wila", ucap Hamzah meyakinkan ibu mertuanya.


Hamzah berdiri di depan rumah Wila

__ADS_1


__ADS_2