Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Ini adalah hukuman


__ADS_3

Malam pertama di Klinik dalam masa recoveri pasca melahirkan, Wila memandangi bayi mungilnya, ia tampak begitu polos, ia bayi yang masih suci, terlepas dari bagaimana kejadiannya, karena yang berdosa adalah kedua orangtuanya.


Airmata Wila kembali berlinang, mengingat perjalanan hidupnya bersama Hamzah, ayah dari sang bayi.


Mereka hanya bersama sekejap saja, hanya untuk menutup aib yang diperbuat mereka. Hubungan di luar pernikahan selamanya adalah dosa, walaupun sudah diikat oleh pernikahan yang sah.


Wila sangat menyesalinya, kenapa dia sampai terjerumus perbuatan dosa bersama Hamzah. Mungkin ini juga azab yang harus ia jalani, rasanya begitu sulit baginya untuk bisa bersama dengan Hamzah.


Selalu saja ada hal yang menjadi penghalang untuk bisa bersama dengan Hamzah. Sepertinya Allah SWT masih marah, sehingga selalu menunda pertemuan Wila dengan Hamzah.


Tidak ada dosa yang tidak terampuni, termasuk dosa Zina, kita dianjurkan untuk segera bertaubat, taubatan nasuha, taubat yang sebenarnya.


Bagi Wila penyesalan dari dosanya itu semakin jelas terasa, apalagi dengan lahirnya Haura, namun penyesalan mendalam yang ia rasakan mampu menghadirkan keinginan untuk lebih memperbaiki diri dengan berbuat amal baik.


Wila ingin sekali mendatangi tempat yang paling mustajab untuk berdo'a, ia ingin sekali bisa mendatangi Masjidil Haram, dan menyentuh hajar aswad.


Karena banyak orang yang berkata, setiap do'a yang dipanjatkan di sana , pasti akan dikabulkan.


"Belum tidur Nak?", Yati mengagetkan Wila yang masih menyusui bayinya.


"Belum Bu,ini De Haura masih menyusu",


"Sudah hampir subuh, cepatlah tidur", Yati menghampiri.


"Iya Bu",


"Nah beginilah jadi seorang Ibu Nak, kita harus rela mengorbankan jam istirahat kita,bahkan kita hampir mengorbankan nyawa saat melahirkannya",


"Sebelumnya kita juga merasakan kesusahan dan kelelahan saat mengandungnya, mulai dari merasakan ngidam, mual, pusing, sampai muntah, setelah fase ngidam usai, bertambah lagi kesusahan kita saat perut mulai membesar, tidur mulai tidak nyenyak, aktifitas mulai terganggu karena gerakan kita pun mulai terhambat.


Dan yang paling melelahkan lagi saat proses melahirkannya, kita bertaruh nyawa demi lahirnya anak , dan setelah lahir pun, tugas kita tambah lagi, karena merawat seorang bayi itu tidak mudah",


"Mau apapun dia hanya menangis, kita nya yang harus pahan, apa itu arti dari tangisannya. Bisa lapar, haus, sakit, atau ngantuk. Jadi, menjadi seorang ibu itu harus serba bisa, harus serba tahu",


Yati bicara panjang lebar, ia menasihati anaknya.


Dengan terkantuk-kantuk, Wila mendengarkan nasihat ibunya.

__ADS_1


Serasa mimpi memang, dulu Wila sering menerka-nerka bagaimana rasanya hamil dan melahirkan, sekarang ia sudah mengalaminya.


Benar-benar seperti mimpi, sekarang sudah ada sesosok bayi yang terlahir dari rahimnya. Ia tidak tahu bagaimana ke depannya, apa ia masih bisa bertemu lagi dengan Hamzah?, bagaimana nasib pernikahannya dengan dia?


Karena setelah melahirkan, ia berhak menentukan masa depannya, apa terus bertahan atau minta dilepaskan saja.


Semakin lama di gantung, malah tambah membuatnya bingung. Ia ingin status yang jelas, jangan sudah menikah dan memiliki anak, tetapi suami tidak ada disisinya.


Sekali kali Wila berpikir kalau ini semua adalah hukuman dari Allah SWT kepada dirinya. Ia telah berbuat dosa, semua yang ia miliki, anak dan suami, berawal dari sebuah perbuatan dosa.


Sehingga sulit baginya untuk merasa bahagia dengan keduanya. Wila ingin memohon ampun, Wila ingin menebus semua dosa-dosanya, tapi dengan cara apa?, harus bagaimana?,


Wila menatap lekat putri kecilnya, yang mulai terlelap, ia tidak ingin kesalahannya di masa lalu terus membayangi masa depannya bersama si kecil Haura.


Apalagi kalau sampai anaknya kelak sampai mengetahui perbuatan dosanya, biarlah cukup dia yang harus menderita karena dosa masa lalunya, asal jangan sampai dialami oleh anaknya juga.


"Maafkan Ibu sayang, gara-gara Ibu kamu belum bisa bertemu ayahmu", Wila membelai lembut pipi dan tangan mungilnya Haura.


Sebagai seorang ibu, Yati bisa merasakan bagaimana perasaan Wila, disaat harus melahirkan tanpa ada suami disisinya.


membaca pesan yang barusan Andi kirim.


Hatinya tidak karuan, ada rasa senang, sedih dan yang terbesar adalah rasa bersalahnya kepada Wila. Ia tidak mendampingi dia selama mengandung dan melahirkan anaknya.


Bahkan kedua orangtuanya juga tidak mengetahui pernikahannya dengan Wila, yang mereka ketahui hanya pernikahannya dengan Sarah.


Hamzah bingung, bagaimana ia menjelaskan semuanya kepada mereka. Deretan rasa bersalah memenuhi pikirannya.


"Bagaimana ayahmu?", sebuah suara mengagetkan Hamzah


Ia menoleh, dilihatnya ibunya sudah berdiri disampingnya.


"Alhandulillah, ayah sudah tenang, setelah suster memberinya obat, langsung tidur", jelaskan Hamzah.


"Bagaimana kabar Sarah?", tiba-tiba ibunya bertanya.


"Emh, baik , dia sudah melahirkan", ucap Hamzah datar.

__ADS_1


"Melahirkan?, kenapa baru ngasih kabar?", Ibu Kalila tampak kaget.


"Itu cucu Ibu loh, ayahmu pasti senang mendengarnya", senyum Kalila.


"Emm..., sudah mau tiga bulan bayinya", ucap Hamzah menunduk.


"Ya Allah, sudah tiga bulan?, kenapa baru bicara sekarang?", Kalila menatap lekat anaknya.


"Maafkan Bu, tapi.....", Hamzah menggantung ucapannya.


"Tapi apa?", Kalila terlihat penasaran.


"Nanti saja aku jelaskan, tapi jangan di sini, nanti kalau Ayah sudah benar-benar sehat", ucap Hamzah, ia memegang tangan ibunya.


Ia meyakinkan ibunya,ia harus segera memberitahu yang sebenarnya kepada orang tuanya soal Sarah dan Wila.


Entah bagaimana reaksi mereka, jika Hamzah berkata jujur mengenai pernikahannya dengan mereka, ada dua wanita yang ia nikahi, dengan latar belakang masalah yang berbeda, dan kini juga sudah ada dua bayi perempuan terlahir dari kedua wanita yangbia nikahi.


Sekilas seperti poligami, tapi Hamzah hanya menganggap Wila sebagai istrinya yang sah, walaupun pernikahannya dengan Wila tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Rumit memang, tetapi ini harus segera di ungkap, orang tuanya harus segera tahu. Apalagi telah lahir seorang anak yang merupakan darah dagingnya, penerus keturunan keluarganya.


"Sebenarnya ada apa?, kalian baik-baik saja kan?", Ibu Kalila menatap anaknya.


"Iya, kami baik-baik saja", Hamzah tersenyum walau agak dipaksakan. Ia tidak mau menambah keresahan di hati ibunya . Ayahnya saja belum benar-benar pulih.


"Nanti kalau ayahmu sehat, antar kami bertemu Sarah dan anakmu, cucu Mamah", Ibu Kalila tersenyum bahagia membayangkan cucunya.


'Iya Mah, cucu Mamah baru saja lahir', batin Hamzah bicara, ia sangat merasa bersalah terhadap Wila dan anaknya, karena dia tidak ada di sisi mereka.


'Maafkan aku, aku adalah seorang Ayah yang lemah, dan aku juga seorang suami yang tidak bertanggung jawab', batin Hamzah kembali menerawang.


"Lho, kok malah melamun, istirahatkan dulu sana!, biar Mamah yang jagain ayahmu", Ibu Kalila menepuk pundak Hamzah.


"Tapi, nanti Mamah sendiri gimana?",


"Mamah ada Perawat yang jaga ini, cepat kamu istirahat saja",desak Bu Kalila

__ADS_1


__ADS_2