Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Sarah tiada


__ADS_3

Tidak ingin membuang waktu, Hamzah di antar sama Andi untuk menemui Sarah dan ibunya. Di perjalanan, Andi mengutarakan maksudnya meminang gadis pilihan hatinya, hanya kepada Hamzah ia berani bicara.


"Alhamdulillah, Den Hamzah akhirnya pulang, sudah seminggu, Non Sarah mengurung diri di kamar, Bu Rahmi sudah mencoba membujuknya, tapi tetap tidak mau keluar, mungkin kalau sama Den Hamzah, ia mau keluar", jelas Bi Marni begitu melihat Hamzah memasuki teras rumah.


Hamzah memandang Andi dan mengajaknya masuk.Di dalam Bu Rahmi sedang menggendong Hazel yang sedikit rewel.


"Alhamdulillah, Ayah pulang tuh", Sumringah Bu Rahmi saat melihat Hamzah datang.


"Lho, ini kenapa, anak Ayah kok nangis", Hamzah menghampiri Bu Rahmi, dan mencoba menggendong Hazel, begitu berada di dalam pangkuan Hamzah, Hazel langsung diam, sepertinya ia merasa nyaman di pangkuan ayahnya.


"Tuh, kan langsung anteung, kangen sama Ayah ya Nak?", Bu Rahmi tersenyum mengelus pipi Hazel yang tampak tersenyum.


"Tolong bujuk Sarah Nak, dia sudah tiga hari tidak keluar dari kamar, Ibu Khawatir", Bu Rahmi menunduk


"Kita bawa Sarah ke Psikiater, sepertinya dia mengalami baby Bloes, apalagi kalau melihat Hazel, ia pasti teriak-teriak histeris", jelaskan Bu Rahmi, matanya mulai berkaca-kaca.


Hamzah menidurkan Hazel di baby boks, lalu menuju lantai atas ke kamar Sarah. Di depan pintu, ia berdiri mendekatkan telinganya ke daun pintu, ia sedang mendeteksi suara di dalam. Tidak terdengar apa pun.


Ia mulai menarik tuas kunci, terkunci di dalam. Lalu Hamzah mencoba mengetuk pintu dan mulai memanggil nama Sarah, namun tetap tidak ada respon apa pun dari dalam.


Hamzah mulai gelisah, 'sudah tiga hari Sarah di dalam, jangan-jangan', pikiran buruk mulai melingkupi Hamzah.


Ia tertegun di sana, berpikir bagaimana caranya bisa masuk ke dalam kamar. "Oh iya, balkon", gumamnya. Ia bergegas turun mengajak Andi ke taman belakang.


Ia ambil tangga dan mulai naik ke atas menuju kamar Sarah. Dari Balkon ia dapat melihat jelas seisi kamar, namun Sarah tidak ada di sana.


Hamzah mencoba masuk , namun pintunya terkunci. Dalam kebingungan ia melirik jendela yang agak terbuka, "Alhamdulillah", ia segera menuju jendela dan dengan sedikit usaha, ia bisa membukanya, Hamzah dan Andi bisa masuk ke dalam.


"Sarah, Sarah dimana?, ini aku, Hamzah", Hamzah mencari keberadaan Sarah. Saat melewati pintu kamar mandi, ia mendengar gemericik air dari dalam.


"Sepertinya ada di dalam", Hamzah melirik Andi.


"Sarah, ini aku pulang, kamu di dalam?", Hamzah mengetuk pintu dan terus memanggil Sarah.


Tapi setelah beberapa kali di ketuk, tetap tidak ada jawaban dari dalam. "Bagaimana ini?, kita dobrak saja?",Hamzah mulai panik.


"Ayo kita coba", Andi mulai bersiap memasang badan untuk mendobrak pintu kamar mandi, setelah beberapa kali bergantian mendobrak pintu, akhirnya pintu pun ambruk.


Hamzah segera menghambur ke dalam, dan betapa kagetnya ia , saat melihat Sarah berada di dalam bathtub dengan shower yang mengguyur kepalanya.


"Ya Allah, Sarah", Hamzah ssgera mematikan shower dan menguras air di dalam bathtub, lalu ia segera memangku tubuh Sarah dan menidurkannya di atas kasur.


"Sarah, bangun", Hamzah mencoba memanggil Sarah kembali.


"Sebaiknya, ganti dulu bajunya yang basah", saran Andi .


"Kalau begitu aku panggilkan dulu Bu Rahmi untuk menggantinya", Hamzah segera membuka pintu kamar dan mencari keberadaan ibunya Sarah.


Andi bengong melihat kelakuan Hamzah, 'Masa tidak bisa mengganti baju istrinya sendiri", pikir Andi.


Tak lama Bu Rahmi dan Bi Marni memasuki kamar, Bu Rahmi langsung menangis histeris begitu melihat Sarah tergolek di atas kasur.


"Sebaiknya ganti dulu bajunya yang basah, setelah itu kita bawa ke Rumah Sakit, saya siapkan mobilnya dulu", Hamzah kembali ke luar kamar diikuti Andi.

__ADS_1


Satu tahun lebih usia pernikahan mereka, tapi selama itu tidak pernah terjadi hubungan layaknya sepasang suami istri diantara mereka, makanya untuk sekedar mengganti pakaian Sarah pun, Hamzah tidak berani.


Bukannya menyiapkan mobil, Hamzah malah berdiri di samping boks bayi Hazel, ia menatap wajah polosnya yang terlelap. Terbayang kembali saat Sarah berjuang melahirkannya, walau harus berakhir di meja operasi.


Tapi Hamzah masih ingat ketika Sarah kesakitan saat kontraksi.


"Tuan muda, ini Non Sarah sudah siap, mau dibawa ke Rumah Sakit sekarang?", Bi Marni berteriak di tangga.


"Oh...iya Bi", Hamzah kembali menuju atas, karena Andi yang mengambil alih kemudi mobilnya.


Hamzah memangku Sarah yang masih belum sadar, diikuti Bu Rahmi yang terus berderai air mata.


"Bi, tunggu di rumah saja, jaga Hazel!", Perintah Bu Rahmi.


"Iya Nyonya, semoga Non Sarah cepat sadar", Bi Marni mengangguk, memperhatikan kepergian mereka dengan rasa cemas dihatinya.


Bagaimana pun ia yang merawat dan mengasuh Sarah sedari kecil, jadi rasa sayangnya kepada Sarah sudah seperti kepada anak sendiri.


Mobil yang Andi kemudikan melesat di jalanan yang kebetulan tidak terlalu padat, ia menuju Rumah Sakit terdekat.


Sementara Hamzah dan Bu Rahmi terus berusaha membuat Sarah sadar.


Tak lama Andi membelokkan mobilnya ke halaman sebuah Rumah Sakit. Ia lsngsung menuju ruang IGD. Andi ke luar mobil dan langsung menemui Petugas Kesehatan yang sedang berjaga.


Dengan sigap, Petugas membawa bed pasien menuju mobil dan segera membawa Sarah ke ruang pemeriksaan.


Bu Rahmi dan Hamzah menunggu dengan cemas. Tak lama seorang Dokter keluar , langsung Bu Rahmi menghampirinya.


"Dok, bagaimana dengan anak saya?",


"Iya Dok, lakukan saja tindakan yang terbaik untuk anak saya",


"Kalau begitu kita akan pindahkan anak Ibu ke ruang ICU, kita akan pantau keadaannya beberapa hari ke depan", lanjut Dokter.


"Baik Dok, lakukan yang terbaik untuk anak saya!", Bu Rahmi memegang tangan Dokter.


"Baik Bu, kami akan berusaha, tapi jangan lupa juga berdo'a", senyum Dokter.


Dokter kembali ke dalam ruangan. Bu Rahmi berjalan lemas munuju Hamzah yang masih duduk di kursi tunggu. "Bagaimana Sarah, Mih?",


"Kata Dokter Sarah masih kritis, ia akan dipindahkan ke ruang ICU", isak Bu Rahmi.


"Mami yang sabar ya!, maafkan saya , ini semua kesalahan saya", Hamzah menunduk.


"Ini kesalahan Mami, yang terlalu sibuk, sehingga membuat Sarah bebas bergaul , hingga dia mengandung, dan tidak tahu oleh siapa, hingga melibatkanmu, dan saat Hazel lahir, Sarah tambah depresi karena setiap kali melihat Hazel, ia seperti melihat bayangan laki-laki yang telah menghamilinya", Bu Rahmi menerawang.


"Mungkin Nak Hamzah bisa mencari tahu siapa laki-laki itu, dia yang harus bertanggung jawab terhadap apa yang dialami Sarah", geram Bu Rahmi, ia mengepalkan kedua tangannya.


"Iya Bu, nanti saya yang akan mencarinya, sekarang kita fokus ke Sarah dulu , semoga ia cepat sadar.


Beberapa perawat ke luar dari ruangan dengan mendorong bed pasien Sarah, Bu Rahmi dan Hamzah mengikutinya, mereka menuju ruang ICU. Dan Andi mengikuti mereka dari belakang.


Sarah kembali ditangani di dalam. Hamzah mondar-mandir di depan pintu, sementara Bu Rahmi duduk sambil terus terisak.

__ADS_1


Dokter kembali membuka pintu " Siapa di sini yang namanya Hamzah?", tanyai Dokter.


"Saya Dok", Hamzah menghampiri Dokter. "Pasien terus menerus menyebut nama anda, mari ikut saya!", pinta Dokter.


Bu Rahmi langsung menghampiri, "Dok, saya ibunya, boleh saya ikut masuk?", Bu Rahmi memelas.


"Oh..., silahkan Ibu!", Dokter merasa iba kepada Bu Rahmi. Mereka mengikuti Dokter menemui Sarah.


Tangis Bu Rahmi langsung pecah saat melihat anak kesayangannya tergolek di atas kasur , dengan berbagai alat menempel di tubuhnya.


"Sabar Mih, Sarah kuat, pasti bisa melewati ini", Hamzah menggandeng mertuanya limbung, oa mendudukkannya di kursi di samping bed Sarah.


"Sarah, sayang, ini Mami, sadar Nak, Hamzah juga ada di sini", Lirih Bu Rahmi, ia memegang tangan Sarah yang tampak kedinginan.


"Jadi bagaimana anak saya ini Dok?", tanyai Bu Sarah.


"Begini Bu, sepertinya anak ibu meminum obat tidur dosis tinggi, di saat lambungnya kosong, lalu ia juga terlalu lama berada di dalam air, jadi tubuhnya hampir membeku karena kedinginan, jadi ada beberapa syaraf yang terganggu, juga terdapat luka di lambungnya", jelas Dokter.


"Kami sudah melakukan tindakan yang terbaik sesuai prosedur kesehatan, hasilnya kita serahkan kepada Allah", jelas Dokter.


Hamzah mendekati Sarah, ia tampak membacakan ayat-ayat Al -Qur'an di telinga Sarah. Beberapa saat kemudian, tampak jemari tangan tangan Sarah yang di pegang Bu Rahmi bergerak.


"Ya Allah, Nak, kamu Sadar?", sumringah Bu Rahmi. Ia makin mengeratkan pegangan tangannya ke tangan Sarah.


Sarah terlihat masih terpejam, dan beberapa detik kemudian matanya terbuka, "H....h..a...m.....za...h", Sarah terbata memanggil Hamzah.


Hamzah menghentikan bacaannya, lalu mendekati Sarah. "Iya Sarah, aku ada di sini", terlihat bola mata Sarah mencari keberadaannya.


"Aku di sini Sarah, lihat ada Mami juga", Hamzah menggeser posisinya supaya bisa di jangkau oleh penglihatan Sarah.


Sarah tampak akan tersenyum, jari tangannya bergerak-gerak. "Tenang Sarah, jangan banyak bergerak dulu, kamu masih lemah, istirahat saja dulu", Hamzah memegang tangan Sarah.


"Nggak, aku harus bicara sama kamu", lirih Sarah.


"Sudahlah, masih banyak waktu, nanti saja setelah kamu sehat, kita bicarakan lagi",


Sarah menggeleng "Aku titip Hazel, jaga dia, rawat dia!, maafkan aku Mih", suara Sarah hampir tak terdengar.


"Tolong ajari dia untuk mengenal Allah, dan ajarkan dia untuk mendo'akan aku, ibunya",


"Aku....aku...aku....., ma....aaaf....", suara Sarah hilang dan tangannya pun lemas, matanya tertutup, ia tersenyum.


"Ti.....ti...tiiiiit......", bunyi detektor detak jantung berbunyi, dan di layar menampilkan garis lurus, tubuh Sarah tampak terguncang, nafasnya terpenggal-penggal, bola matanya melebar, lalu menutup bersamaan dengan desisan nafas yang keluar dari mulutnya.Setelah itu terpejam dengan tenang.


"Dok, Dokter, tolong Dok, ini kenapa dengan anak saya", Bu Rahmi terlihat panik, ia berlari ke luar memanggil Dokter.


Beberapa Dokter dan Perawat memasuki ruangan, "Ibu dan Bapak, sebaiknya tunggu di luar dulu, kami akan menangani Nyonya Sarah", kata salah seorang Dokter.


Bu Rahmi dan Hamzah kembali duduk di kursi tunggu dengan perasaan yang tidak menentu.


Selang beberapa detik, salah seorang Dokter keluar dari ruangan. "Maaf Bu, Pak, kami telah berusaha maksimal, tapi Allah juga yang menentukan, Nyonya Sarah tidak tertolong", ucap Dokter dengan wajah sedih.


Seketika tangis Bu Rahmi pecah, ia menghambur ke dalam menemui Sarah yang sudah terbujur kaku.

__ADS_1


"


__ADS_2