Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Kalian yang Utama


__ADS_3

Walau baru beberapa hari saja tinggal di rumah Wila , Hamzah sudah merasa betah. Ia menyukai suasana damai dan tenang.


Walau fasilitasnya jauh berbeda dengan apa yang ada di rumahnya. Tapi ada atmosfir damai di sini.


Hamzah memasukkan kedua lengannya ke dalam saku celana, karena udara di luar terasa dingin menusuk tulangnya.


Tenda bekas acara kemarin masih terpasang , perabotan yang menjadi hantarannya kemarin juga masih ada dihalaman rumah Wila.


"Aduh, pengantin baru, sampai kesiangan bangunnya," goda Bu Asih.


Hamzah tersenyum melihatnya, "Iya Bi, di sini udaranya dingin",


"Oh, iya Bu, kalo di sini ada tukang yang bisa merenovasi rumah?",


"Ada, Den. Kalau mau nanti Ibu hubungi Pak Rt, biar Pak Rt yang mengkoordinir mereka, memangnya mau merenovasi rumah mana?",


"Ini, rumah ini mau saya pugar saja, dan dibangun yang baru", Hamzah menunjuk ke rumah Wila.


Bu Asih dan para tetangga yang ada sampai melongo.


"Besok saya harus kembali lagi ke Kota, jadi saya ingin secepatnya bertemu Pak Rt",


"Ada apa Abang ketemu Pak Rt?", tanyai Wila saat berada di samping Hamzah.


Hamzah tersenyum melihat kedatangan Wila, istrinya itu terlihat makin bercahaya saat terpapar sinar matahari pagi.


"Ini, Abang bermaksud merenovasi rumah, nggak apa-apa kan? , terutama Abang ingin membuat kamar yang ada kamar mandinya di dalam", senyum Hamzah.


"Alhamdulillah, Abang, Bapak dan Ibu pasti senang",


"Tuh, sekalian jalan-jalan, Neng Wila saja yang antar ke rumah Pak Rt", usul Bu Asih.


"Iya Bu, nanti saya mau ngobrol dulu sama Bapak dan Ibu" ,


Hamzah menggandeng Wila , "Antar Abang jalan-jalan", senyum Hamzah.


"Ini hari terakhir kita di sini, jalan-jalan dulu sebentar", lanjutnya sambil menarik tangan Wila.


"Oh, iya , di depan biasanya suka ada pasar kaget Bang",


Wila dan Hamzah berjalan menyusuri jalan desa, di depan di persimpangan sudah terlihat kerumunan orang, tampak banyak pedagang menjajakan dagangannya di salah satu sisi jalan.


Berbagai pedagang jajanan pun berjejer di sana.


"Bang, aku mau itu, itu dan itu, ", Wila menunjuk ke beberapa stand makanan",


Hamzah tersenyum mendengarnya, "Bagaimana makannya, mau beli semua?",

__ADS_1


"Kok malah Neng yang kalap",


"Maaf, tapi baru nemuin pasar kaget lagi, sudah lama sekali nggak ke sini", Wila merenggut.


Hamzah mengeratkan pegangan tangannya," Sini, Abang belikan semua apa yang Neng mau", senyum Hamzah sambil mencolek mesra hidung mancung Wila.


Memang banyak sekali penjual makanan di sana. Ada berbagai makanan khas Ciamis di sana. Ada nasi tutug oncom, galendo, kupat tahu, sale pisang, rujak dan lotek.


Wila berjalan menuju stand rujak, ia memesan satu porsi dan langsung melahapnya setelah rujak ada ditangannya.


"Pelan -pelan, tidak baik makan seperti itu", tegur Hamzah.


Wila tersenyum sambil terus saja mengunyah.


Ada kebahagian tersendiri di hati Hamzah melihat Wila yang sedang menikmati makanannya, ia ingin terus seperti ini, tenang dan tetap disamping Wila.


Namun entah bagaimana jika sudah kembali ke Kota, mungkin perhatiannya akan terbagi, antara Wila dan Sarah.


"Bang, ngobrolnya di sana", Wila menunjuk ke tempat duduk yang masih kosong di bawah pohon.


Hamzah menurut, mengikuti langkah Wila.


Sejenak Wila terdiam, ia tampak memperhatikan seseorang yang ada di atas sepeda motor di depannya. Sampai motor lewat pun ia masih memperhatikannya dengan membalikkan badan.


"Ada apa?, siapa?",


"Yang barusan lewat?, apa Neng kenal?",


"Aduh , kok bisa lupa ya", Wila menepuk keningnya .


"Sudah , jangan dipaksa , nanti juga ingat",


Mereka duduk di sana sambil menikmati makanan yang tadi sempat dibelinya.


Wila memandang lekat suaminya. Ia sungguh tidak ingin kehilangannya. Kalau bisa, ia tidak ingin kembali lagi ke Kota.


Hamzah menyadari Wila sedang memperhatikannya."Ada apa lagi?", Hamzah balas memandang Wila.


"Bang, aku takut, nanti kalau sudah di Kota , pasti akan sulit bertemu Abang. Semua orang di sana tahunya Abang suami Sarah, pasti akan sulit bagi kita untuk bertemu".


Hamzah diam, ia kembali meraih tangan Wila dan memegangnya erat." Abang tahu, orang-orang di sana pasti akan menolak jika mengetahui pernikahan kita, tapi Abang punya alasan yang kuat, tapi alasan itu tidak mungkin Abang utarakan kepada mereka, Neng yang sabar ya!, semoga situasi cepat memihak kepada kita.


"Pelan -pelan Abang akan beri pengertian kepada mereka, termasuk orang tua Abang".


"Bang, kandunganku ini lama-lama akan membuat mereka curiga dan bertanya, siapa suaminya?, terus aku harus bagaimana?",


"Hah....", Hamzah kembali menghempaskan nafas kasar.

__ADS_1


Belum terpikir ke sana, ia juga bingung bagaimana menjelaskannya kepada mereka. Kalau ia katakan sudah menikahi Wila, mau tidak mau ia harus membeberkan semua fakta yang menjadi aibnya.


Bagaimana tanggapan orang-orang terhadapnya.


"Sini", Hamzah meraih pundak Wila. "Jangan terlalu difikirkan, kita jalani saja dulu, kalau terpaksa, dan memang harus, Abang sudah punya alasan kuat yang bisa membungkam mulut orang yang tidak suka dengan pernikahan kita, walaupun harus mengungkap aib kita", jelas Hamzah.


Wila kembali memandang lekat suaminya. Nanti mungkin akan sulit untuk bisa memandanginya.


Hamzah membalas tatapan istrinya, pandangan mereka pun terkunci. "Jangan khawatir, Abang akan mengutamakan kalian", ucapnya sambil kembali mengecup tangan Wila.


"Kalau memungkinkan, rasanya tidak ingin kembali ke Kota", ungkap Wila.


"Lalu bagaimana dengan kuliahmu?, sayang, tinggal sebentar lagi".


"Kita harus kuat, demi kita dan anak kita",


Ucapan Hamzah membuat Wila baper, ada rasa bahagia di sela rasa khawatir yang kini menyelimuti hatinya.


"Akan Abang pastikan, setiap minggu akan Abang luangkan waktu khusus untuk kalian", senyum Hamzah. Tak sedetik pun ia melepas pegangan tangannya.


Hamzah pun merasa enggan kembali ke Kota. Tapi ia bukan tipe orang yang bisa begitu saja melepas tanggung jawab. Apalagi ia sudah berjanji akan mencari orang yang sudah merenggut mahkota Sarah.


Dan itu menjadi kunci utama bagi Hamzah untuk bisa melepaskan Sarah. Jika ia temukan laki-laki itu, maka kesempatannya untuk bersama Wila akan terbuka lebar.


"Sudah, mau apa lagi?", Hamzah melihat makanan Wila sudah habis.


Wila tersenyum, "Mau minumnya",


Hamzah mengusap lembut kepala Wila.Ia melambaikan tangan kepada penjual es kelapa muda.


Tak lama pedagangnya menghampiri, "dua duwegan ya Mang", pesankan Hamzah .


"Baik Den",


Tak lama pesanannya datang. "Minuman ini baik untuk ibu yang sedang mengandung", ungkap Hamzah.


"Alhamdulillah, perutku sudah penuh nih Bang", senyum Wila.


"Gimana nggak penuh, lihat sudah berapa porsi yang sudah di makan", senyum Hamzah.


"Maaf ya Bang, aku bawaannya lapar terus", Wila tersipu, mengakuinya.


"Nggak apa-apa, sekarang kan porsinya untuk berdua, ada yang sedang tumbuh di sini, yang juga ikut makan", Hamzah menyentuh perut Wila.


"sudah, kita pulang saja, sudah siang", ajak Hamzah.


Ia tampak memberikan sejumlah uang kepada pedagang yang membawakan pesanannya. Hamzah memesan sale pisang dan galendo untuk buah tangannya besok.

__ADS_1


__ADS_2