Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Hamzah, bukan Andi


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu setelah semua teman-teman kampusnya mengetahui kehamilan Wila, dan opini yang tersebar di sana Andilah ayah dari anak yang sedang dikandung oleh Wila.


Alasan itu cukup ampuh menutup mulut semua teman-temannya. Wila tidak lagi menjadi target bully mereka.


Sehingga Wila bisa fokus kuliah, apalagi ia sudah sepakat dengan Bu Rida untuk mengambil program kuliah cepat, sehingga ia bisa wisuda lebih cepat sebelum hari perkiraan lahirnya tiba.


Namun ada hal yang perlu Wila luruskan bersama Lela. Dan itu akan sulit mengingat situasi yang kurang tepat. Wila ingin berterus terang tentang hubungannya dengan Andi, namun opini sudah tanggung beredar.


Dan hal ini yang membuat Andi Bimbang, ia harus berpura-pura sebagai suami Wila. Dan hal itu mengharuskan ia tinggal di rumah Yeni.


Posisi Andi yang sebagai adik Hamzah memudahkan hal itu.


****


Wila baru nyampai Kampus , Andi keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Wila.


"Terima kasih", senyum Wila


Susi menatap kedatangan mereka dengan pandangan sinis.


"Makin sulit saja untuk mendekati dia, sudah ada pengawal", gumam Susi melirik ke arah Joko.


"Kita cari cara lain yang lebih halus", seringai Joko.


"Apa?",


"Nanti kita pikirkan lagi", Joko menggandeng pundak Susi.


Seperti biasa Wila mengantar dulu kue-kue basah jualannya ke Kantin. Saat ini lebih ringan, karena sudah ada Andi yang membantunya.


Dengan adanya Andi disamping Wila, membuat teman-temannya agak segan kepada Wila. Mereka akan berfikir sepuluh kali saat akan menjahili Wila.


Pihak Kampus pun tidak mempermasalahkan posisi Andi yang berperan sebagai suami Wila, walau mereka mengetahui fakta yang sebenarnya, kalau suami Wila adalah Hamzah.


Hal ini karena mereka mengetahui Andi itu adik dari Hamzah.


Joko dan Susi kembali merangkai rencana untuk mencelakai Wila. Karena dari sanalah mereka bisa memperoleh uang.


Tiap kali aksinya berhasil, sejumlah rupiah berpindah ke rekeningnya.


Joko tampak sedang bicara serius sambil menikmati makanannya di Kantin. Terbersitlah sebuah ide , 'Bagaimana kalau lewat makanan ini', pikirnya.


Ia berbisik kepada Susi yang ada disampingnya , Susi tampak mengulum senyuman sambil manggut-manggut",

__ADS_1


"Apa itu tidak terlalu berbahaya , tidak terlalu kriminal?", tanya Susi.


"Nggak lah, terus bagaimana? , apa kamu punya ide yang lebih bagus dari ini?", Joko menatap Susi.


Dan cup, dengan gerakan kilat ia menyambar bibir Susi.


"Iihh, kamu, nggak enak dilihat orang", Susi cemberut.


"Habis , itu menggiurkan", Kerling Joko. Ia mengusap bibirnya.


"Iiih, lihat situasi dong , kita masih di Kampus", Susi membulatkan kelopak matanya.


Joko tersenyum .


"Gimana, ok kan?, kita jalankan saja rencana itu, aku siapin dulu semuanya", jelas Joko.


Ia hampir menyambar kembali bibir Susi, namun keburu ada Lela dan Mita datang .


Mereka memesan beberapa menu dan duduk di sebelah kanan meja Joko, jarak mereka cukup jauh, terhalang oleh dua meja lain yang masih kosong.


"Kita bisa manfaatin orang itu", tunjuk Joko ke arah Lela dan Mita.


"Siapa?, Lela apa Mita?", tanya Susi.


"Kenapa harus Lela?", Susi mengernyitkan dahinya.


"Sini, aku kasih tahu", Joko mendekatkan wajahnya kepada Susi.


"Si Lela itu sudah lama memendam rasa kepada Andi, singkatnya, Lela itu cinta sama Andi, nah sekarang tahu-tahu si Andi itu sudah menikah dengan Wila, makanya sekarang Lela mulai menjaga jarak dengan Wila, intinya, Lela itu merasa dilangkahi oleh Wila, dia jadi membenci Wila saat ini", jelas Joko.


Susi manggut-manggut, pertanda mengerti.


"Nah , sekarang kita manfaatkan situasi ini, jadi nanti si Lela yang akan bertanggungjawab, bukan kita", Joko kembali menyeringai.


"Gila kamu, kasihan dong Lela",


"Terus mau kita yang kena?, ini taktik , strategi, cantik", kembali Joko menyambar bibir Susi yang lagi manyun.


"Iiihh, sudah , kamu ya", Susi memukul pundak Joko.


"Habis, gemesin, nanti kalau transferan sudah cair, kita chek in ya", Joko melirik Susi.


"Iiihh, kamu itu, apa nggak puas kemarin sampai minta tiga kali", cibir Susi.

__ADS_1


"Nggak cukup dong sayang, tubuhmu itu candu, selalu membuatku mabuk", Joko mengelus halus pipi Susi.


"Ehh, kamu nggak lupa kan minum obat yang aku kasih waktu itu?", Joko menatap serius Susi.


"Emh, nggak", Jawab Susi singkat. Padahal ia langsung membuang semua obat itu ke kloset, saat mengetahui untuk apa obat itu. Ternyata obat yang Joko berikan kepadanya waktu adalah obat peluruh, yang berfungsi mengeluarkan darah yang ada di dalam rahim.


Sudah bisa di tebak, Joko tidak ingin perbuatannya dengan Susi meninggalkan bekas, Joko tidak ingin kalau Susi sampai hamil.


Sungguh licik memang. Ia hanya ingin menghisap madunya saja, dan ingin lepas tanggung jawab.


Susi mengetahui hal itu, tapi dia sudah tidak bisa mengelak dari Joko, karena tahu dirinya sudah rusak oleh Joko, mana ada laki-laki yang mau menerimanya dalam keadaan sudah tidak gadis lagi.


Susi malah berharap dirinya hamil, sehingga ia bisa menjerat Joko, dan meminta pertanggungjawabannya.


"Bagus", seringai Joko.


*******


Hamzah sudah berhasil membimbing Sarah untuk selalu mendirikan shalat, Sarah terlihat lebih tenang, dan menurut kepada Hamzah.


Sarah sudah jarang marah-marah, tidak cemburuan lagi, apalagi setelah mengetahui kabar kalau Wila sedang hamil anaknya Andi.


Sarah makin berharap Hamzah bisa mencintainya, apalagi hari perkiraan lahirnya sudah makin dekat, Sarah masih ingat, Hamzah akan bersamanya sampai anaknya lahir. Sarah berharap setelah anaknya lahir, Hamzah bisa mencintainya utuh, sebagai istri sahnya.


Karena untuk kembali kepada Wila sudah tidak mungkin. Wila sudah menjadi istrinya Andi. Sudah tidak ada penghalang lagi untuk Sarah bisa bersama Hamzah.


Sarah berharap ia menjadi satu-satunya wanita dalam hidup Hamzah.


"Wila.....Wila....maafkan aku, aku sangat mencintaimu, maafkan aku tidak bisa menemanimu saat kelahiran anak kita, Wila.....maafkan aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu, Wila......maafkan aku....', suara Hamzah terdengar jelas di telinga Sarah.


Sarah memperhatikan wajah Hamzah yang masih terlelap, "Apa....?a....apa.....?, apa aku tidak salah dengar?, kamu suami Wila Mas?", Sarah terpaku .


Dunianya yang sedang dirangkai indah, kini hancur seketika, setelah fakta mengejutkan ia dengar sendiri dari mulut suaminya, walaupun cuma racauan saat tidur, tapi Sarah percaya, itu pasti benar.


Orang mengigau pasti tidak bohong, ia mengigaukan hal yang selalu ia rasakan.


Sarah yang sedang merenda masa depannya dengan Hamzah, seketika lunglai . Harapannya untuk menjadi istri yang sesungguhnya dengan Hamzah, hancur.


"Apa benar semua yang kamu ucapkan itu Mas", Sarah menatap nanar Hamzah yang masih terlelap.


Wajah teduhnya yang telah berhasil membimbing dirinya ke jalan yang lebih baik, kesabarannya dengan semua sifat manjanya , mungkin tidak akan ia lihat lagi, Hamzah mungkin akan benar-benar meninggalkannya setelah ia melahirkan.


Hamzah akan kembali menemui cinta senjatinnya. Tapi apa benar, anak yang dikandung Wila itu anak Hamzah, lantas kenapa kabar yang ia dapat bersebelahan, bukannya Andi, ayah dari anak yang Wila kandung?,

__ADS_1


Sarah pusing memikirkan semua itu, tapi yang pasti, kini harapannya untuk bisa bersama Hamzah, hancur sudah.


__ADS_2