
Hamzah meyakinkan Wila kalau antara dirinya dengan Sarah hanya sebatas teman kuliah, hanya Sarahnya saja yang menyukai Hamzah, namun bertepuk sebelah tangan.
"Kak, tolong untuk sementara, hal ini cukup kita saja yang tahu!", biar mereka tahu dengan sendirinya", ucap Wila.
"Iya, aku ngerti!" Hamzah tahu, selama di Kampus Sarah dan Susi selalu merundung Wila.
"Mulai saat ini , aku yang akan selalu melindungi kamu!" ucap Hamzah.
"Aku itu, orangnya cuek, kamu jangan sakit hati kalau aku diemin kamu, karena walaupun tahu kita saling sayang, bukan berarti kemana - mana aku harus bersama kamu".
"Aku juga akan bebaskan kamu untuk bisa pergi bersama teman- teman kamu, aku tidak mau rasa yang ada ini mengekang aktifitas kita", Wila melanjutkan bicaranya.
Wila juga mengatakan kalau Hamzah itu cinta pertamanya. Selama ini ia selalu tertutup kepada laki - laki, namun pesona Hamzah meruntuhkan semuanya.
"Kak, aku takut, tidak bisa menguasai rasa ini, terus terang sekarang juga aku selalu merasa ingin ada di sampingmu, hari ini aja aku kelimpungan di Kampus, gara -gara gak ada Kaka", akui Wila, ia bicara dengan menunduk.
Ucapan Wila tadi membuat Hamzah senyum - senyum, ia merasa semua ucapan Wila memang benar. Ia juga mengakui, ia juga merasakan hal yang sama.
Mereka bicara dari hati ke hati tentang komitmen setelah mereka saling mengetahui isi hati masing-masing.
*
*
Sementara di Kampus, Sarah terlihat jengah, sudah beberapa hari ia tidak bertemu dengan Hamzah. Akhir - akhir ini Hamzah begitu sulit ditemui.
Walau ia menyadari, bahwa Hamzah selalu dingin bila bertemu dengannya, tapi ia tetep gigih memperjuangkan hatinya.
Bagaimana tidak, Hamzah adalah seorang future husband. Ia adalah anak dari seorang dokter spesialis ternama, mempunyai klinik dan apotek yang menyebar di beberapa kota.
Susi juga sebagai sahabatnya, tidak menutup hati, kalau ia pun merasa tertarik dengan Hamzah,namun ia tutupi dihadapan sahabatnya itu.
"Dari tadi galau terus, kenapa sih?" Susi menghampiri Sarah yang masih duduk malas di kursinya, padahal kelas sudah berakhir 20 menit yang lalu.
"Kemana sih itu orang?" akhir -akhir ini susah banget ditemui",katanya sambil cemberut.
"Hamzah maksudnya?" Susi menyambar ucapan Sarah. "Memangnya siapa lagi, Pak Putut?!" Sarah tambah cemberut.
__ADS_1
"Kayaknya lagi asik sama si gadis kampung itu, tambah dekat saja, benar - benar sudah kena pelet dia kayaknya", Susi mengompori.
Padahal jauh di dalam hatinya, ia pun merasa kesal sama Wila, karena ia menambah daftar penghalang untuk mendapatkan Hamzah.
"Lihat saja! Akan kubuat tidak betah di Kampus ini!" sewot Sarah.
Hati Susi puas,ia menunggu kesempatan di saat Sarah dan Wila bertikai, ia akan menyelinap masuk dan mencuri hati Hamzah. Sungguh pikiran yang licik.
Di tunggu sampai sore pun, Hamzah tak menampakkan batang hidungnya. Akhirnya Sarah dan Susi memutuskan untuk pulang.
Sarah berjalan malas menuju ke luar Kampus, disampingnya Susi setia menemani.
Beberapa langkah lagi menuju gerbang, mereka berpapasan dengan sebuah motor matic. Mereka mengenali wanita yang diboncengnya, namun siapa si pengendara? Mereka tidak mengenali karena tertutup helm.
Hampir bersamaan mereka memutar pandangan mengikuti kemana motor itu melaju. "Kok nggak masuk parkiran?, siapa mereka. Sarah terlihat penasaran.
"Tapi kayaknya itu si gadis kampung itu?! Sama siapa dia?" Susi tak kalah penasaran.
"Kita ikuti saja mereka!, ajak Susi. Dengan diam-diam dan mengendap ngendap, mereka mengikuti kemana sepeda motor itu melaju.
Mereka mengikuti sampai ke belakang ."Siapa sih mereka?! "Sarah makin penasaran.
Yuup, mereka adalah Wila dan Hamzah yang baru nyampai ke Kampus, mereka hendak ke Madrasah, karena sebentar lagi asar.
Wila kesulitan saat membuka helm. Dan tanpa di duga, Hamzah dengan sigap membantu melepaskannya.
Pemandangan itu membuat gerah dua orang yang sedang mengintip di balik tembok. Mereka makin penasaran dengan si pengendara.
"Sial!" bareng siapa si cupu itu, so sweet banget", Sarah menggerutu.
Hamzah melepaskan helm Wila dan menggantungkannya di sepeda motor maticnya. Setelahnya ia buka helmnya dengan posisi membelakangi si pengintip.
"Ayo!", Hamzah berbalik dan menggiring Wila ke arah kantin. Mereka hendak istirahat sejenak sambil menunggu asar.
"Duar...duar....!" bagaikan mendengar bunyi petir disiang bolong, Sarah dan Susi begitu kaget bukan kepalang melihat pemandangan di depan matanya.
"What......, apa-apaan ini?! Nggak salah?! Ngapain Hamzah bersama gadis kampung itu!", cerocos Sarah dibalik persembunyiannya.
__ADS_1
Ia hampir saja ke luar dan menghampiri mereka, seandainya Susi tidak mencegahnya.
"Stop, Jangan sekarang!" , Hamzah pasti akan membelanya, kita tunggu waktu yang tepat, ok?!", Susi menenangkan Wila.
Sarah menurut walau dengan hati dongkol dan begitu marah. Mereka berlalu melanjutkan tujuan awalnya, pulang.
Wila merasa sangat senang. Ia tidak menyangka ternyata hatinya tidak bertepuk sebelah tangan.
Seperti biasa Hamzah langsung memesankan makanan kepada Bu Dati, ia lagi berbunga - bunga, karena kini hatinya sudah bertaut dengan Wila.
"Seneng banget kelihatannya", Bu Dati menyapanya dengan ramah.
"Iya,Bu, biasa ya buatin jus mangga dua!" , Hamzah melempar senyuman kepada Wila.
Wila pun membalasnya dengan senyuman termanisnya.
Mereka menikmati pesanannya dengan diselingi canda dan sesekali terdengar tawa renyah dari mereka berdua.
Sungguh pemandangan yang berbeda di mata Bu Dati. Ia hanya mesam mesem melihatnya, seolah mengerti apa yang terjadi sama mereka.
Setelah mengajar anak mengaji selesai, Hamzah mengantar Wila ke rumah untuk membawa beberapa baju ganti, dan kembali ke Klinik untuk menani Yeni.
Kehadiran Wila di Klinik sudah tidak asing lagi bagi para Perawat di sana, apalagi saat ini ditemani Hamzah.
Wila langsung menuju kamar Yeni, dilihatnya ia sedang tidur. Yeni sudah sedikit tenang untuk saat ini.
Wila duduk di kursi yang ada di samping bed Yeni. Ia pegang tangannnya dan ditatapnya wajah Yeni.
"Cepat sembuh ", Wila berbisik takut mengganggu ketenangan Yeni. Seorang perawat datang dengan membawa sebaki makanan.
Wila putuskan untuk membersihkan diri sebelum menunaikan shalat maghrib. Sesudah itu ia kembali ke ruangan dimana Yeni di rawat.
Terlihat Yeni sedang menikmati makan dengan ditemani seorang Perawat.
Wila membuka hand phone, ada beberapa chat dari Hamzah. Wila balas satu per satu sambil tak lepas tersenyum.
Hari ini Hamzah manis sekali, ia memperlakukan Wila begitu istimewa. Ia sampai menugaskan seorang Perawat untuk merawat Yeni, biar Wila bisa lebih banyak beristirahat.
__ADS_1
"Aku sudah pesan makanan, istirahat yang cukup ya!, biar kamu tetap sehat untuk menemani hari -hariku", demikian pesan singkat yang Hamzah kirim, tidak lupa di akhiri dengan emot hati.