Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Perjanjian dengan Sarah


__ADS_3

Hamzah terlihat gontai berjalan menuju warungnya Bu Dati, ia hendak mengambil sepeda motornya yang di parkir di sana.


Bu Dati memperhatikannya dengan diam-diam, sambil ia menggoreng bakwan. Tidak seperti biasanya Hamzah begitu, ia nampak murung.


"Sudah selesai Den?, apa mau dibuatkan bakso? Biar seger?", tawari Bu Dati.


"Nggak Bu, terima kasih, masih ada urusan, tapi boleh lah dibuatkan dua bungkus, tapi nanti di kirim ke rumahnya Wila ya Bu!, sekalian sama jus mangganya", pesan Hamzah.


"Oh iya, baik Den, nanti Bibi kirim ke sana", senyum Bu Dati.


"Saya pamit ya Bu, ini , kembaliannya buat Ibu saja", Hamzah menyerahkan sejumlah uang untuk membayar pesanannya.


"Terima kasih Den",


Hamzah segera melajukan sepeda motornya. Kini ia menuju rumah Sarah. Dari tadi Bu Rahmi terus meneleponnya. Ia mengirim chat juga yang menyuruh Hamzah segera datang ke rumahnya.


Sebenarnya berat untuk datang ke sana, tapi bagaimana lagi, ini harus ia jalani.


Sepeda motornya menepi di depan gerbang rumah Sarah. Satpam mengenalinya, dan langsung membukakan gerbang.


Satpat mengangguk hormat padanya, seisi rumah sudah tahu kalau Hamzah akan menjadi menantu majikannya.


Kedatangannya di sambut gembira oleh Sarah, ia terlihat manja dengan langsung bergelayut di tangan Hamzah.


"Kok lama siih..., Mami sudah menunggu dari tadi", Sarah langsung membawa Hamzah masuk.


Benar saja, di ruang makan, Bu Rahmi sedang duduk untuk menunggunya makan.


"Langsung ke sini saja, kita ngobrol sambil sarapan!", ajaknya kepada Hamzah.


Hamzah agak canggung, tapi ia turuti juga ajakannya, karena memang ia pun belum makan apa-apa.


Makanan sudah terhidang dengan menu yang lengkap. "Silahkan dicicipi, ini semua sebagian kecil dari menu di restoran Mami", jelas Rahmi.


Hamzah melihat beberapa piring masakan berderet, sepertinya enak-enak. Tapi karena suasana hatinya sedang tidak karuan, selera makannya jadi berkurang.


Ia hanya makan beberapa suap saja.


Sarah heran, "Kok dikit amat makannya, apa sudah sarapan di tempat lain?", Sarah curiga.


"Nggak, sudah cukup, sudah kenyang", Hamzah melirik Sarah yang terlihat lahap. Sarah menghabiskan makan dalam porsi besar, sampai maminya pun sedikit heran.


Bu Rahmi mengernyitkan alisnya, "Hany, apa tidak salah?, lagi mood bank ya?", senyumnya merekah melihat tingkah Sarah. Biasanya ia akan makan sedikit saja, takut berat badannya naik.


Tapi kali ini, Sarah terlihat cuek dengan porsi makannya.

__ADS_1


"Nggak tahu nih Mih, rasanya lapar terus, mungkin karena suasana hati lagi senang, jadi menambah selera makan".


Rahmi memicingkan mata melihat Sarah, memang Sarah agak berubah, tubuhnya agak gemukan.


"Iya, nggak apa-apa, yang penting sehat",


"Kapan orang tuamu akan ke sini?, kita harus segera tetapkan harinya, sebelum Mamy kembali ke luar kota", Rahmi menatap Hamzah, menunggu jawabannya.


"Ehm, nanti malam coba saya telepon, secepatnya saya kabari".


"Baiklah kalau begitu"


Drrttttt...


Hand phone Rahmi bergetar, ia lihat di layar hand phone nya ada panggilan masuk, ia segera pamit untuk mengangkatnya.


Tinggallah Hamzah dan Sarah yang masih menikmati sisa makanannya.


"Aku baru tahu, ternyata makanmu banyak", Hamzah melirik Sarah yang rasanya tak selesai-selesai makannya.


"Kenapa?, ini enak tahu, sudah lama tidak menikmati masakan Mami", Sarah kembali memasukkan suapan terakhirnya.


"Cepat!, ada yang mau aku bicarakan", ucap Hamzah.


"Apa tidak bisa bicara di sini?!" Sarah yang hendak mengambil buah, mengurungkan niatnya.


Hamzah duduk di sana, menunggu Sarah. "Lama , apa masih belum selesai makannya", gerutu Hamzah.


Tak lama Sarah datang dengan membawa segelas susu hangat ditangannya. Hamzah menggelengkan kepala melihatnya. "benar-benar.....",


"Apa?!", Sarah menyolot.


Hamzah menarik nafas panjang.


Akhirnya Sarah duduk di samping Hamzah. "Ayo bicara, aku sudah siap mendengarkan", manjanya.


Samar-samar terdengar Bu Rahmi di lantai atas sedang berbicara dengan seseorang di sebrang sana.


Hamzah melihat ke atas, sepertinya Rahmi akan lama di sana, ia akan leluasa ngobrol dengan Sarah.


"Katanya mau bicara, ayo dong, ada apa?" Sarah bergelayut manja di tangan Hamzah dengan wajah mendongak ke arah Hamzah, sehingga wajah mereka berdekatan.


Hamzah sedikit menggeser duduknya, namun Sarah mengejarnya." Nggak apa, sebentar lagi juga kita nikah kan?",


Hamzah menarik nafas panjang. " Dengar ya, aku tidak pernah merasa menyentuhmu malam itu, aku tidak merasakan apapun",

__ADS_1


Sarah melepas pegangan tangannya, ia terlihat kesal."Terus siapa yang menelanjangi aku, kenapa kamu bisa berada di tenda aku?, kamu fikir aku main-main dengan harga diriku?",


"Kamu fikir aku sudah kurang waras, merendahkan diriku dihadapan semua orang?", Sarah menahan marahnya.


"Kamu yang sudah memaksa aku, kamu mabuk , jadi pasti tidak sadar dengan apa yang telah kamu lakukan", dan hiks... Sarah menangis.


"Kamu keterlaluan", Sarah makin terisak


Hamzah terkejut melihat reaksi Sarah, cepat-cepat ia pegang pundak Sarah dan meminta maaf padanya.


Perlahan Sarah kembali tenang, tapi hatinya bersorak melihat reaksi Hamzah.


"Maaf, tapi yang perlu kamu ketahui , aku tidak mencintaim, kalau pun kita menikah, kamu hanya mendapatkan tubuhku, tapi tidak dengan hatiku",


"Aku sudah mempunyai janji sama orang lain, jauh sebelum kejadian malam itu".


Sarah menahan marah dengan mengepalkan kedua tangannya. 'pasti ini gara-gara gadis kampungan itu', batin Sarah menggerutu.


'Lihatlah aku akan membuatmu melupakan wanita itu, dan hanya aku yang akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupmu' , kembali batin Sarah bicara.


"Aku tidak mau kamu banyak menuntut setelah menikah nanti, aku menikahi kamu hanya untuk nama baik Kampus, dan juga untuk menutup aibmu",


Deg....


Sarah terdiam mendengar ucapan Hamzah. "Apa maksudmu?",


"Kamu sedang isi kan?, itu sebabnya kamu menjebak aku untuk dijadikan kambing hitam olehmu",


Sarah mematung, ia tidak percaya Hamzah sudah menngetahuinya. Namun Sarah kembali bersikap tenang.


Sarah berusaha menutupi perasaan kagetnya dengan kembali menangis.


"Kamu , kamu sungguh keterlaluan, tega sekali kamu menuduh aku begitu, Mami....." Sarah kini menangis lebih keras.


Hingga Rahmi yang sedang bicara lewat hand phone di lantai atas , segera menghampiri anaknya dengan kaget.


"Ada apa ini, apa yang terjadi Hany", Rahmi menghampiri Sarah.


Hamzah tidak menyangka dengan reaksi Sarah yang sungguh berlebihan. "Tidak apa-apa , tadi Sarah kakinya terpentok kursi", Hamzah mencari alasan, dan langsung memeluk Sarah untuk meredakan tangisnya.


Benar saja, tangis Sarah langsung reda, ia kaget sekaligus senang karena tiba-tiba dipeluk oleh Hamzah.


Ia malah mengambil kesempatan , ia membalas pelukan Hamzah dengan melingkarkan erat tangannnya di pinggang Hamzah.


"Kirain ada apa", Rahmi melengos, ia kembali meninggalkan Hamzah dan Sarah.

__ADS_1


Segera setelah Rahmi pergi, Hamzah melepaskan pelukannya, "Jangan ulangi hal konyol seperti ini lagi, kalau tidak, semua orang akan mengetahui kebohonganmu", ancam Hamzah kepada Sarah.


Sarah hanya menunduk, ia geram. Dari siapa Hamzah mengetahui kebenaran tentang dirinya.


__ADS_2