
'Astaghfirullah', Wila beristigfar dalam hati. Ia kembali mencari buku yang sama , namun sampai beberapa menit mencari, tak juga ditemukan.
Wila berdiri sejenak sambil berfikir, 'Haruskah ku ambil kembali buku itu?, apa Sarah sengaja mengerjainya, buku itu bukan untuk mata kuliah dia'.
Secara Sarah adalah kakak kelasnya Wila. Jadi dia sengaja merebut buku yang akan di pinjam Wila.
Sekali lagi Wila mencari buku yang sama, tapi nihil. 'Bagaimana ini?' hatinya bicara lagi.
Sementara Sarah memperhatikannya dengan sikap angkuhnya. Ia masih memegang buku yang tadi direbutnya dari Wila. Sesekali ia bolak-balik buku itu sambil tersenyum puas penuh kemenangan.
Susi yang sedari tadi bersamanya, mulai mengerti dengan aksi Sarah. "Sekarang, apa rencana loe?", Susi memperhatikan tingkah Sarah.
"Let's see..., permainan akan segera di mulai", Sarah tersenyum licik.
Wila masih terlihat sibuk mencari sambil sesekali melihat arloji di tangannya. Buku itu ia perlukan untuk panduan ujian praktek nanti siang.
"Hai, kamu?!" tiba-tiba terdengar suara orang memanggil. Hampir bersamaaan semua yang lagi ada di ruangan itu mencari sumber suara.
"Ya, Kamu yang berkerudung olive", ternyata Sarah yang memanggil Wila. "Iya....Kamu, sini!"
Sarah memperjelas ucapannya dengan menunjuk langsung ke arah Wila. Sambil melihat sekeliling, Wila melangkah dengan agak ragu mendekati Sarah.
Sarah merasa jadi pemenang, dengan angkuh ia mengacungkan buku yang diambilnya tadi, "Ini , yang kamu cari kan?!"
"Ii-iya...,Wila masih menunduk, tak berani beradu pandangan dengan Sarah. "Makanya, kalau kuliah itu modal dong , jangan pingin gratisan mulu!"
"Jangan cuma modal pintar doang, masa buku kaya gini aja gak bisa beli?!" Sarah makin leluasa saja memaki Wila.
Kekesalannya yang dari kemarin di pendam, ditumpahkannya seketika. Sarah memainkan buku yang lagi dipegangnya.
"Ni..., ambil kalau memang perlu!", Sarah memberikan buku ke Wila, dan saat akan di ambil, ia alihkan buku itu ke Susi yang ada dihadapannya.
Begitu terus untuk beberapa kali. Dan yang terakhir ia silangkan kakinya untuk menghalau langkah kaki Wila.
Seketika tubuh Wila terhuyung karena kakinya di sandung. Namun pada saat yang tepat datang Andi. Ia menuju ruang Senat , namun mendengar sedikit kegaduhan di ruang Perpustakaan.
"Ada apa ini?" , dengan tangkas ia menyambar tubuh Wila yang hampir jatuh.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa, dasar aja jalannya gak pake mata", dengan entengnya Sarah menjawab.
Susi terbeliak melihat Wila yang setengah di peluk oleh Andi. " Ini Kampus ya, bukan tempat mesum!"sinis Susi.
Wila yang menyadari posisinya segera melepaskan diri dari Andi dan menjauh dua langkah dari Andi, tak lupa ia meminta maaf dan mengucap terima kasih.
Petugas Perpustakaan yang mendengar kegaduhan segera menghampiri mereka. "Mohon maaf, di sini di larang membuat kegaduhan, jika urusannya sudah selesai, silakan meninggalkan tempat ini!" persilakan Petugas dengan sopan.
"Iya ...maaf, kami sudah selesai kok", pamit Sarah dengan wajah innosence meninggalkan Perpustakaan diikuti Susi.
"Urusan kita belum selesai", bisik Sarah saat melintas di samping Wila , tak lupa tangannya mengibaskan ujung kerudung Wila.
Sementara buku yang tadi direbutnya dari Wila, ia tinggalkan begitu saja di atas meja.
Wila menunduk merasa tidak enak oleh semua orang yang ada di Perustakaan, karena ia menjadi biang kegaduhan di sana.
Andi berinisiatif mengambilkan buku yang tadi ditinggalkan Sarah dan memberikannya kepada Wila.
"Terima kasih, sudah membantu", Wila masih menunduk.
"Aku duluan", pamit Andi.
Setelah urusannya selesai, ia segera menuju kelas. Di lorong menuju kelas, Lela dan Mita sudah menunggu. Mita masih kelihatan cuek, sepertinya ia masih merasa kesal setelah melihat kedekatan Wila dengan Hamzah.
Lela sumringah melihat kedatangan Wila, "Kemana dulu Non, dari tadi ditungguin baru nongol", mereka saling bersalaman , salam khas para Uhkti. Berjabat tangan sambil cipika cipiki.
Mita masih terlihat canggung saat bersama Wila, ia jadi lebih banyak diam dan hanya menyimak saja.
"Aku habis pinjam ini dulu", kabari Wila sambil memperlihatkan buku yang tadi dipinjamnya.
"Oooh, pantesan, kirain telat lagi", celoteh Lela .
Setelah itu mereka memasuki kelas .
*
*
__ADS_1
*
Setelah kelas bubar, Sarah mengajak Susi ke Kantin, tadi di kelas Hamzah terlihat begitu dingin padanya.
Rupanya Hamzah sudah mengetahui keributan antara kecil antara dirinya dan Wila di Perpustakaan tadi.
Jelas saja hal itu membuat Sarah tambah bete. 'Dasar si pengadu', Sarah bicara dalam hati dan kembali menyalahkan Wila atas situasi yang ia alami saat ini.
Sarah langsung memesan makanan setibanya di kantin. Di sana ia bertemu dengan Joko dan Hana. Melihat kedatangannya, Joko langsung melambaikan tangan mengajaknya untuk bergabung.
"Hai, sini kita ngopi bareng!" ajakan Joko.
Sebenarnya Sarah malas siih ketemu sama Joko, tapi sudah tanggung, ia tidak dapat menolak.
"Sial, pake ketemu sama dia segala", gerutu Sarah.
"Kemana aja kalian?!, Joko sumringah bisa ketemu dengan Sarah. Karena ia bisa minta ini itu kepadanya.
"Mumpung ketemu, traktir kita ya?!, Joko tanpa basa basi memesan makanan dan minuman untuknya dan Hana.
Sarah tampak kesal, namun ia pasrah saja, tidak komen , tidak juga menolak. Ia membiarkan Joko memesan makanan sesuka hatinya.
'Dasar kadal, nyari kesempatan aja', Sarah menyumpahi Joko dalam hatinya . Susi merasa aneh, kok Sarah diam saja digituin sama Joko.
Susi sampai melongo melihat banyaknya makanan yang dipesan oleh Joko. "Loe kesurupan ya?, pesan makanan sebanyak ini?, emang muat makanan sebanyak ini di perut loe?"
Joko nampak antusias menikmati pesanannya, mulutnya sampai penuh dengan makanan,"Nyantai saja, kalau mau silahkan ikut makan, mumpung gratis"
Sarah merasa tidak nyaman dengan situasi itu, ia beranjak menggusur tangan Susi, " Iihh, enek gue lihat loe, kaya yang gak nemu makanan seabad aja",
"Hai, mau kemana? masih banyak nih, main pergi-pergi saja, jangan lupa bayarin ya!" Joko bicara sambil mengunyah. Sementara Hana hanya mesam mesem saja melihat tingkah pacarnya itu.
'lumayan, banyak yang bisa di bawa pulang nih, buat adik - adik di rumah' , Hana bicara dalam hati.
Sebelum keluar dari Kantin, Sarah menyempatkan diri ke kasir untuk membayar semua makanan yang telah dipesan oleh Joko tadi.
Lagi - lagi Susi bengong, kok tiba -tiba saja Sarah jadi penurut , sama Joko lagi. 'Why, gak ngerti aku', Susi membatin.
__ADS_1
"Kita makan di cafe sebrang Kampus saja", ajak Sarah. Susi ngikut saja, ia tidak berani banyak bertanya, takut kena semprot Sarah yang lagi sewot. Hari ini dia dua kali dibuat kesal, oleh Wila dan Joko yang seperti sengaja memanfaatkan dirinya.