Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Ternyata Kamu


__ADS_3

Sambil makan, Wila mencuri curi pandang kepada Yeni. Terlihat matanya sembab. Pasti benar semalam Yeni habis menangis.


Wila ga berani bertanya, tapi dari sikapnya hari ini, Wila tahu, kalau Yeni sedang menghadapi suatu masalah. Tapi entah apa? Wila tidak berani bertanya.


Apalagi dari sikapnya hari ini, Yeni berniat untuk puasa sunat senin kamis, pasti ada sesuatu yang sedang membebani pikirannya.


Di saat kemampuan kita terbatas, kita serahkan semuanya kepada Allah Yang Maha Kuasa. " Hari ini ke Kampus?" Tanya Bi Yeni memecah suasana.


" Iya Bi". Wila tidak berani memberitahu Yeni tentang masalahnya di Kampus. Ia takut menambah beban pikiran Bibinya.


Wila cuma bisa menerka nerka di dalam hatinya saja. " mungkin ini ada hubungannya dengan Dirja, suami Yeni atau dengan keluarganya .


Selama Wila di sini, Ia belum pernah melihat Dirja pulang. Bahkan sekedar bertanya kabar pun jarang. "Bi, baik baik saja kan?" Wila memberanikan diri bertanya.


"Apa Neng?" Yeni balik bertanya. Sepertinya dari tadi Yeni melamun, jadi tidak fokus."Oh ngga Bi, ngga apa apa!" Wila tidak mengulangi pertanyaannya.


Dalam hatinya merasa kasihan kepada Yeni. Tinggal di kota, di tinggal kerja oleh suaminya. Mungkin masalah yang dihadapi Yeni lebih besar dari masalah yang sedang Ia hadapi.


" Sudah, biar Wila saja yang beresin,Bi!" Wila melarang Yeni ikut membereskan dapur setelah selasai makan sahur. Yeni akhirnya kembali memasuki kamar.


Setelah selesai dengan urusannya di dapur, Wila juga kembali ke kamarnya untuk mempersiapkan diri pergi ke Kampus. Hari ini ia berniat untuk pergi pagi - pagi biar belum terlalu banyak Mahasiswa yang datang.


"Bi, Wila pergi ke Kampus dulu". Wila bicara di depan pintu kamar Yeni yang masih tertutup. Tidak ada jawaban, sepertinya Yeni tertidur setelah shalat shubuh.


Wila melangkah menuju pintu, namun phone cell nya berdering, ada panggilan masuk. Di layar tidak tampak nomer si penelepon. "Lagi - lagi dia". Katanya.


Ia pijit tombol hijau, "Assalamu'alaikum, si penelepon duluan yang menyapa. " Tumben bicara", pikirnya. "Wa'alaikumsalam", jawabnya. Wila merasa tidak asing dengan suara di seberang sana.


"Aku tunggu di depan gang ya!, biar bareung ke Kampusnya." Katanya lagi. Wila diam saja seolah terhipnotis oleh suara si penelepon.


Di ujung gang Wila tidak melihat siapa pun. "Dasar orang aneh !" gumamnya. "Ayo, naik!"


suara itu mengejutkan Wila. Tampak sebuah sepeda motor sedang menunggunya di kiri gapura.


Wila melotot melihat sepeda motor yang selama ini ia cari. Sepeda motor yang membuat dirinya tersandung masalah di Kampus.

__ADS_1


Masih belum jelas siapa si pengendara karena tertutup helm. Wila tidak mengindahkan ajakannya. Ia terus saja berjalan. "Ayo ikut!" ajaknya lagi. Wila berhenti sambil menoleh.


Deg, seketika jantungnya seperti berhenti berdetak, saat dilihatnya Hamzah duduk di atas motor sambil melemparkan senyuman kepadanya.


"Malah bengong, ayo naik , biar tidak telat lagi ke Kampusnya!" Hamzah mengulangi ajakannya. Dengan perasaan yang tidak karuan, Wila menuruti ajakan Hamzah.


Kampus masih lengang, jadi tidak ada Mahasiswa yang mengetahui kedatangan mereka. Hamzah terus membawa motornya ke belakang. Ia tidak masuk ke Parkiran.


"Pantesan waktu itu di cari - cari tidak ada", pikir Wila. Hamzah menyimpan motornya di belakang kantin, sengaja ia parkir di sana biar lebih gampang, kalau pulang lewat gerbang belakang.


Wila turun dari motor, pikirannya masih tidak karuan, ternyata orang yang selama ini ia cari adalah Hamzah. "Kenapa ga bilang !" Katanya saat Hamzah sudah ada dihadapannya.


"Sini, ngobrolnya sambil sarapan!" Katanya sambil berjalan menuju kantin. Wila mengikuti dari belakang. "Bu , lontong sayur dua ditambah teh manis hangat dua!" pesan Hamzah. "Ngga usah, aku nggak makan, pesan satu aja Bu!" kata Wila.


Hamzah yang sudah duduk keheranan. "Kenapa ga makan?" Aku sudah makan, masih kenyang!" kata Wila. Ia duduk di samping Hamzah, sekarang ga berani duduk berhadapan, takut ga bisa menjaga pandangan. Pikirnya.


"Biasanya di depan, lah kok sekarang di samping?" kata Hamzah. "Ngga apa - apa, lebih nyaman di sini !" katanya sambil menunduk.


"Kenapa ga bilang, kalau orang yang selama ini aku cari itu kamu", Wila berbicara lirik. Hamzah tidak menjawab, ia lagi asik menikmati sarapannya.


"Aku sampai kena masalah, dituduh pelaku pengempesan ban di Parkiran, ketinggalan SKS kuliah lagi". Wila melanjutkan bicara.


Namun diurungkan saat melihat Hamzah sedang menatapnya dalam. Wila membuang muka ke arah berlawanan dengan perasaan yang tidak karuan.


"Kenapa ga jadi? Aku sudah siap di pukul nih !" katanya menggoda Wila. "Aku jadi begini gara gara kamu!". Kata Wila cemberut.


"Karena Allah, itu sudah Qodarullah!" kata Hamzah. "Astaghfirullah". Wila bergumam. Hamzah tersenyum mendengarnya.


"Benar nih ga mau sarapan dulu? Nanti pingsan lagi".


" Ngga, nanti saja". Wila berjalan mengikuti Hamzah menuju ruang Senat. Di lorong sana ada Sarah dan Susi melihat mereka dengan pandangan sinis.


"Ngapain lagi tuh si cupu pagi - pagi sudah di Kampus? Bareung Hamzah lagi, bukannya baru hari senin dia bisa kuliah lagi?". Sarah berbicara dengan nada kesal.


" Iya, kok bisa tambah dekat aja sama Hamzah!" cari masalah lagi kayaknya". Susi menggerutu.

__ADS_1


Sesampainya di ruang Senat, Wila sedikit kurang nyaman, karena dia satu - satunya wanita di ruangan itu, selebihnya laki - laki.


Hamzah menyadari ketidaknyamanan Wila, ia segera duduk di kursi disampingnya. Di depan ada Pak Putut , Bu Rida, dan beberapa dosen senior.


Pak Putut memulai pembicaraan. " Jadi begini, setelah kita mengadakan penyelidikan CCTV , kami menemukan kejanggalan, CCTV mati lima menit setelah anda ke luar dari Parkiran".


" Jadi, ada seseorang yang sengaja mematikan CCTV biar aksinya tidak terekam. " lanjut Pak Putut.


" Untuk memperkuat bukti, kami ingin melaksanakan reka adegan". Sambung Bu Rida.


"Maksudnya bagaimana?" Hamzah bertanya. Sementara Wila hanya menunduk dan diam saja.


"Kita lakukan langsung di TKP!". Kata Pak Putut. "Sekarang?". Tanya Hamzah. " Iya, lebih cepat lebih baik!" kata Pak Putut.


"Kita lakukan secara terbuka?" tanya Hamzah lagi. "Iya! apa anda keberatan?" tanya Pak Putut melihat Wila.


"Saya setuju saja, bagaiman baiknya saja". Kata Wila. " Kalau begitu, ayo sekarang kita ke Parkiran!". Pak Putut berdiri dan berjalan menuju Parkiran diikuti semua orang yang ada di ruang Senat.


Saat keluar ruangan, semua mata menuju kepada mereka, terutama Wila. Mereka saling berbisik membicarakan Wila. "Pegangi tas aku, kata Hamzah kepada Wila saat akan berjalan menuju Parkiran.


Wila menurut saja, terus terang nyalinya benar - benar ciut saat dihadapkan dalam situasi seperti itu. Ia berjalan beriringan dengan Hamzah.


Saat sudah di Parkiran, Pak Putut menyuruh Wila melakukan reka adegan. "Coba ulangi apa yang anda lakukan saat disini!"


Wila melakukan apa yang ia lakukan lima hari lalu saat mencari motor yang pernah menolongnya. "Bukan itu!" teriak Pak Putut membuat Wila kebingungan.


"Maksud saya, coba anda kempeskan salah satu ban motor yang ada di sini!" katanya dengan nada yang sedikit tinggi.


Hamzah merasa iba melihat Wila seperti itu. Ia menuntun Wila mendekati salah satu motor. "Coba kempeskan bannya!". Wila cuma meraba raba ban motor itu. Ia tidak mengerti bagaimana caranya.


"Huuh, gitu aja ga bisa!" teriak Sarah yang sedang menyaksikan reka adegan tersebut. " Dasar orang kampung, mana bisa !" kata Susi lagi.


"Ini sudah cukup Pak, Dia tidak bersalah!" kata Hamzah kepada Pak Putut. " Kalau Dia pelakunya, Dia akan mudah melakukannya."


"Ini tidak kan, satu ban saja tidak bisa dikempeskan! Bagaimana bisa Dia mengempeskan ban - ban motor lima hari lalu di sini!". Kata Hamzah.

__ADS_1


Semua diam. Ucapan Hamzah barusan membungkam semua mulut yang dari tadi mencibir Wila.


Wila terduduk lemas di lantai Parkiran. Semua tenaganya terkuras , apalagi saat ini ia lagi puasa. Tapi hatinya sedikit lega, semoga ucapan Hamzah tadi bisa jadi bukti baru yang membebaskannya dari tuduhan.


__ADS_2