
Akhir pekan ini akan diadakan acara di Kampus, sebuah acara yang bertujuan untuk lebih merekatkan hubungan diantara para Mahasiswa.
Tema acaranya yaitu Pop Art Weeks, sebuah acara pentas seni yang menampilkan bakat-bakat terpendam Mahasiswa.
Selain itu ada juga acara sosial untuk penggalangan dana, yang nantinya dana itu akan diberikan kepada masyarakat sekitar sebagai modal bagi para pemilik UKM.
Rencananya acara tersebut akan diadakan sampai malam, dan pihak Kampus membolehnya Mahasiswanya untuk kamping di Kampus.
Semua Mahasiswa diharapkan berpartisifasi dalam kegiatan tersebut.
Termasuk Wila , Lela, da Mita. Jauh-jauh hari mereka sudah mempersiapkan untuk acara tetsebut.
Rencananya mereka akan mengisi salah satu stand pameran, dengan menjual berbagai kue basah, dan barang dagangannya Bi Yeni.
Hari itu pun telah tiba. Jajaran Kepanitiaan Kampus dari pagi sudah disibukkan dengan semua persiapan untuk acara nanti malam.
Mereka mendirikan panggung, tenda-tenda, dan tentu saja mendirikan tenda-tenda. Acara tersebut di fokuskan di halaman Kampus yang terhubung langsung dengan sebuah lapangan futsal.
Berbagai baliho dan lampu berwarna -warni sudah dipasang, menambah semarak suasana.
Hari ini Hamzah sudah chat Wila kalau dia tidak bisa menjemputnya karena pasti akan sibuk dengan semua persiapan yang akan dilakukannnya di Kampus.
Wila bisa memahami karena sebagai ketua Senat, pasti Hamzah akan bertanggung jawab penuh atas suksesnya acara tersebut .
Lagi pula mereka masih bersikap biasa dihadapan mereka, tidak memperlihatkan kedekatan merek dihadapan Mahasiswa lainnya.
Wila pun tampak sibuk mempersiapkan keperluan untuk stand pamerannya. Ia dibantu Bi Yeni da dua temannya membuat berbagai kue basah home made nya.
Ada bolu kukus, risoles, roti goreng, donat, lemper dan banyak lagi.
Sehabis Maghrib, mereka sudah siap di tempat. Untung saja Andi yang datang ke rumah Bi Yeni sedikit membantu mereka saat harus membawa semua barang jualannya ke Kampus.
Abdi di utus Hamzah untuk menjemput mereka, Wila jadi baper, ternyata Hamzah masih memperdulikannya walaupun dia sibuk.
Malam itu Mita ditemani Juna, kebetulan Juna ikut mengisi salah satu acara pentas seni malam itu, karena posisi Kampus mereka berdekatan.
Semua Mahasiswa yang sudah berdatangan sudah mengisi kursi yang telah disediskan di depan panggung utama. Para pengisi stand pameran pun sudah siap menggelar barang-barang yang akan dijualnya.
__ADS_1
Sedangkan deretan tenda pun sudah terpasang di samping kiri dan kanan panggung, memanjang ke belakang.
Yang kiri untuk Mahasiswi, sedangkan yang kanan untuk Mahasiswa.
Setelah Isya, acara baru di mulai, diawali dengan berbagai sambutan-sambutan dari jajaran Panitia dan tentu saja dari Pimpinan Kampus.
Dan tibalah pada acara inti, Pentas Pop Art Weeks. Para Mahasiswa pemilik suara emas menampilkan kemampuannya.
Semakin malam acara semakin semarak , stand-stand makanan pun tampak ramai dikunjungi, mereka menikmati kuliner sambil disuguhi live musik dari para pengisi acara.
Stand milik Wila pun tampak ramai dengan pembeli, Mita yang sedang ikut membantu melayani pembeli, melirik Juna yang ada di stand juga.
Mita tampak kesal karena ternyata Juna lagi fokus memperhatikan seseorang, dan ternyata itu adalah Sarah. Ia baru saja datang bersama Susi
Mereka menjadi bahan perhatian karena penampilannya yang mencolok. Ternyata Sarah menjadi salah satu pengisi acara.
Ia akan ikut menyumbangkan suara emasnya. Sudah tidak asing lagi bagi teman-temannya, kalau Sarah memiliki suara yang bagus.
Walau jalannya masih ditopang tongkat, tapi itu tidak mengurasi penampilannya yang modis dan sedikit seksi.
"Oohh, pantesan melotot aja, ada si Nenek lampir rupanya", suara Mita mengagetkan Juna.
Apalagi gaun selututnya itu super ketat. Dan menamakkan perhiasannya dengan jelas.
Juna yang ditegur oleh Mita, langsung memalingkan pandangannya kepada Mita.
"Bukan begitu Beb, aku sepertinya mengenali dia itu yang dulu pernah mabuk berat di tempat kerjaku", jelaskan Juna.
Wila dan Lela saling melihat, memang Mita pernah bercerita soal itu, tapi setelah Juna yang bicara langsung, baru mereka mempercayainya.
"Kalau tidak salah, dia bareung anak cowo juga waktu itu, mereka sama-sama mabuk", Juna melanjutkan ceritanya sambil melihat sekitar seperti sedang mencari seseorang.
"Nah kalau itu siapa? , kayanya bener itu, cowo yang bersama Sarah waktu itu", Juna bicara sambil melihat pada kumpulan Mahasiswa di depan panggung utama.
"Yang mana?", Mita meneliti satu persatu teman Mahasiswanya.
"Itu yang memakai kaos hitam , yang bertopi eiger hitam", jelas Juna.
__ADS_1
Mita mengikuti petunjuk Juna, dan jatuhlah pandangannya pada seseorang, temannya yang sedang asik menghisap kreteknya. Ia tampak mencolok karena cuma dia yang berpakaian kaos tanpa memakai jas almater.
"Itu mah si Joko, benar dia gitu?", Mita berbalik bertanya karena merasa tidak percaya.
"Iya, mataku belum rabun kali", Juna meyakinan Mita.
Wila dan Lela yang masih melayani pembeli, masih bisa mendengar obrolan mereka, dan sama-sama merasa tidak percaya.
Semakin malam acar semakin meriah. Satu per satu pengisi acara sudah tampil, mempersembahkan suara emasnya.
Dan kini giliran Sarah, di lingkungan Kampus sudah tidak asing lagi, kalau Sarah memiliki suara yang bagus.
Dia masih agak sulit berjalan, dan untuk naik panggung pun ia harus dipapah. Dan yang memapahnya adalah Hamzah.
Wila langsung terkesiap melihat adegan itu, apalagi Sarah sepertinya memanfaatkan situasi tersebut, tangannya melingkar di pinggang Hamzah.
"Ngapain lagi Hamzah pake bantuin dia segala, emang tidak ada panitia yang lain?", sewot Mita.
"Memangnya siapa cowo itu, kok jadi sewot gitu sih", Juna menyelidik.
"Uupps, bukan siapa-siapa, dia itu ketua Senat kita", jelaskan Mita. Ia hampir saja keceplosan. Walau bagaimana, Hamzah kan pernah menjadi cowo idamannya.
Hanya Lela masih bersikap senang, ia berusaha menenangkan Wila dengan mengelus punggungnya.
Wila memalingkan pandangannya dari atas panggung, ia menyibukkan diri dengan membereskan tempat makanan yang sudah habis terjual.
Hatinya mulai gelisah, ia cemburu melihat adegan itu.
Saat Sarah sedang di atas panggung, tiba-tiba Hamzah datang menemuinya. Ia tidak ingin Wila salah faham.
Apalagi seharian ini dirinya belum bertemu Wila karena kesibukannya.
Wila yang tadi gelisah, kini terlihat sumringah, ia menawari dan membungkuskan beberapa kue yang masih ada untuknya.
"Aku sudah siapkan tenda untuk kalian istirahat, ini", ia memberikan sebuah nomer kepada Wila , nomer itu adalah nomer urut tenda putri.
"Iys terima kasih", Wila melemparkan senyum kepada Hamzah. Setelah itu Hamzah pamit karena masih ada urusan yang harus diselesaikan.
__ADS_1
Kali ini Wila melihat Andi yang membantu Sarah turun dari panggung.
Hatinya lega . Namun malam ini adalah malam dimana Sarah akan melancarkan rencananya untuk menjebak Hamzah.