Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Aku Ingin Menghilang Saja


__ADS_3

Ada rasa marah dihati Hamzah, ia tidak menyangka bisa masuk dalam masalah ini, pirasatnya mengatakan jika ini adalah rekayasa Sarah.


Sesampainya di depan ruang Pak Suparman, Hamzah berdiri dan kembali melihat sekitar, ia ingin sekali melihat sosok Wila.


Karena jika setelah masuk ruangan didepannya, mungkin ia tidak pernah bisa bertemu dengan Wila lagi.


Tapi sosok yang dicarinya tidak ada di sana. 'Di mana kamu Wil, maafkan aku', kembali Hamzah membatin.


"Assalamu'alaikum", Andi mengetuk pintu dan membukanya saat terdengar suara Pak Suparman mempersilahkan masuk.


Mereka masuk, dan di dalam Pak Suparman sudah menunggunya. Ia tampak marah dan kecewa sekali kepada Hamzah.


Ia menatapnya dengan sorot mata elang, menatap Hamzah dan Sarah yang kini sudah duduk di depannya.


Sejenak Pak Suparman terdiam, ia menatap Hamzah dan Sarah bergantian.


"Saya benar-benar kecewa sama kalian berdua, terutama kamu Hamzah, di sini kamu adalah seorang pemimpin.


"Tapi apa yang telah kamu lakukan, perbuatan kamu ini sudah mencoreng nama baik Kampus, acara semalam adalah gagasan kamu sendiri, tapi kenapa, kamu malah merusak semuanya", Pak Suparman melengos, membuang rasa kecewanya.


"Tapi, saya tidak sadar, saya tidak tahu apa yang terjadi, saya sendiri tidak bisa msngingatnya", bela Hamzah.


"Tidak Pak, semalam dia memaksa saya untuk melakukannya, dia pasti tidak sadar dengan perbuatannya, karena ia mabuk ", ucap Sarah sambil menangis.


"Tidak Pak, dia bohong", Hamzah menatap Sarah. Ia jadi merasa kesal, dan yakin kalau ini semua rencana Sarah.


"Bagaimana saya bohong, ini menyangkut harga diri dan masa depan saya, kurang bukti apa lagi?", Sarah makin terisak.


"Atau kalau perlu di autopsi boleh, tapi itu akan membuat berita ini menyebar, dan citra Kampus ini akan rusak", tawari Sarah sambil terus menangis.


"Saya setuju Pak, lakukanlah biar semuanya akurat!", setujui Hamzah.


Sejenak Pak Suparman terdiam, ia sedang memikirkan keputusan yang paling tepat untuk masalah ini.


"Saya sudah putuskan, ini untuk kebaikan kita bersama, terutama untuk keberlangsungan Kampus ini, kalau kasus ini sampai tersebar luas, maka tidak mustahil Kampus akan mendapat sanksi dari Dinas", jelas Pak Suparman.


Hamzah menunduk, ia sudah bisa menebak apa keputusannya, dan itu pasti akan berakibat fatal pada hubungannya dengan Wila.

__ADS_1


"Saya ingin kamu mempertanggungjawabkan ini semua, biar berita ini tidak menyebar kemana-mana dan tidak berakibat buruk pada Kampus kita".


"Kamu harus nikahi Sarah!", tunjuk Pak Suparman kepada Hamzah, atau silahkan selesaikan sendiri bersama keluarga masing-masing!"


Seketika Hamzah seperti tenggelam , dadanya sesak dan dia hanya bisa menunduk. Yang ia fikirkan adalah Wila.


Bagaimana dengan Wila? Yang jelas-jelas ia pun sedang menunggu pertanggungjawaban darinya.


Berbeda dengan Sarah, hatinya bersorak, ia senang rencananya berjalan mulus. Tangisnya kini berubah menjadi tangis bahagia, namun tetap saja raut mukanya memperlihatkan kesedihan.


"Bagaiman, kamu siap?", Pak Suparman menunggu jawaban dari Hamzah.


Dengan sangat berat hati, Hamzah mengiyakan .


" Saya butuh waktu untuk membicarakan masalah ini dengan pihak keluarga, tapi saya akan bertanggung jawab Pak", jelaskan Hamzah.


"Baik kalau begitu, saya off dulu kuliah kalian setengah semester, dan jika urusan kalian sudah selesai, silahkan, kalian bisa kuliah lagi", jelaskan Pak Suparman.


Sebelum mengantar Sarah pulang, Hamzah menyempatkan diri berbicara dengan Andi.


"Di, kita bersama bukan sehari dua hari, kita sudah bersahabat cukup lama, kamu pasti bisa menilai , bagaimana mungkin aku melakukan ini semua?!", Hamzah mencoba meyakinkan Andi.


Sebelum melangkah, Hamzah kembali bicara kepada Andi , "Gue titip Wila", katanya sebelum berlalu.


Dengan terpaksa Hamzah mengantar Sarah pulang, bagaimanapun ia harus gentle, walau harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak ia lakukan.


Saat meninggalkan Kampus dengan membonceng Sarah, semua mata tertuju kepada mereka, pandangan yang penuh pertanyaan, pandangan kekecewaan.


Namun yang paling memilukan adalah ada sepasang mata nanar yang menatap mereka, yaitu Wila.


Dunianya seakan gelap dan tiba-tiba runtuh, ia tidak menduga jika Hamzah berani melakukan hal yang sama kepada Sarah.


Wila fikir Hamzah sudah melakukannya pada beberapa wanita juga, sungguh sakit jika harus mengingatnya.


Wila masih berada di lantai dua Masjid Kampus ditemani Lela. Karena Mita sudah pulang bersama Juna beberapa menit lalu.


Wila seakan stug, ia tidak tahu harus bagaimana. Ia ingin hilang saja dari dunia, biar tidak merasakan sakit dan pahit akibat kejadian semalam antara Hamzah dan Sarah.

__ADS_1


Ia ingin pulang tapi rasanya enggan ,bagaimana ia menjelaskan ini semua kepada keluarganya, yang sudah menaruh harapan besar kepada Hamzah.


Mau diam di Kampus juga malah makin membuat sakit, karena kejadian tadi pagi di tenda Sarah terus berseliweran dalam ingatannya.


Bagaimana ia melihat langung Hamzah tertidur dalam pelukan Sarah dalam keadaan setengah telanjang.


Sungguh, Wila ingin benar-benar menghilang saja. Tetapi Lela tak henti-hentinya menghibur dan menguatkan Wila.


Tiba-tiba datang seorang Mahasiswi mengabarkan kalau Wila sedang di tunggu Andi di bawah.


Wila melihat dirinya di cermin, matanya sembab, ia tidak mungkin menemui Andi dalam keadaan seperti ini. "Kamu saja yang temui dia, aku malu dengan penampilanku yang seperti ini", pinta Wila kepada Lela.


Lela menurut, ia menmui Andi di lanntai satu Masjid. "Mana Wila?", tanya Andi saat melihat Lela yang menemuinya.


"Ada di atas, dia sepertinya masih sock dengan kejadian tadi, dia terus menangis di atas", kabari Lela.


"Mungkin nanti saja menunggu dia tenang dulu, dan menunggu Kampus sepi, baru aku akan mengajaknya pulang", jelaskan Lela.


Andi melihat ke atas," Ya sudah, aku akan tunggu kalian, nanti kalau sudah mau pulang, kabari aku, biar aku antar!", jelas Andi.


"Iya", Lela segera meninggalkan Andi yang masih berdiri.


Andi merasa ada hal janggal dengan Wila, kenapa dia sampai begitu terguncangnya dengan kejadian ini, apa mungkin ada sesuatu antara Hamzah danWila.


Belum lagi tadi Hamzah sempat berbisik untuk menjaga Wila, ada apa sebenarnya antara Hamzah dan Wila.


Andi sengaja diam di Pos Satpam biar tidak kecolongan saat Wila pulang. Disana ia iseng mengecek CCTV Kampus.


Tidak ada hal yang mencurigakan saat acara tadi malam. Ia pun asik ngobrol dengan Pak Rudi, Satpam senior di Kampus.


Sudah hampir Isya, tapi Wila belum juga kelihatan. Andi mencoba untuk menyusulnnya kembali ke Masjid, tapi mereka bertemu di lorong, Andi berdiri menanti Wila yang sedang berjalan kearahnya.


Ia terenyuh sekali melihatnya, Wila terlihat lesu, wajahnya muram, dan matanya yang sayu tampak sembab.


"Sudah mau pulang? Ayo aku antar!", tawarkan Andi saat mereka sudah dekat.


Wila hanya menunduk saja, seperti ingin menyembunyikan raut mukanya dari Andi.

__ADS_1


Sungguh ia tidak mau Andi melihatnya dalam kondisi seperti ini.


Malam itu Andi yang mengantar Wila pulang, setelah terlebih dulu memesankan grab untuk Lela.


__ADS_2