Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Ada apa dengan Aku?


__ADS_3

Lela bisa membaca gelagat kurang baik saat melihat mata Wila agak sembab , apalagi ia telat datang hampir satu jam dari waktu yang telah dijanjikan.


"Assalamu'alaikum Bu", Wila memberi salam kepada ibunya Lela yang sedang ngemong anak bungsunya. Tak lupa ia berikan bungkusan makanan yang tadi ia beli sebagai buah tangan.


"Wa'alaikumsalam, terima kasih Neng, padahal gak usah repot- repot, kalau mau main, datang saja", ucap Bu Lisna.


"Ayo, ke atas, pasti belum shalat ya?" ajak Lela. Ia berjalan duluan diikuti Wila. "Saya ke atas dulu, sekaliam mau mengerjakan tugas", pamit Wila sebelum beranjak ke lantai dua rumah.


Setelah selesai shalat, Wila termenung, perasaannya campur aduk, ada rasa sedih, cemas, takut, dan was-was.


Tapi yang pasti ia bersyukur, masih di beri keselamatan diri, walau hand phone dan uang hilang.


Hatinya sedih, sakit sekali, rasanya ujian tidak henti-henti menghampiri, rasanya bahagia begitu sekejap mata menghampirinya.


Kehadiran Hamzah, kesembuhan Bi Yeni, baru membuatnya bahagia, tapi kini lagi-lagi ia harus menelan pil pahit kehilangan dompet dan hand phone.


Lela datang menghampiri, karena sedari tadi ia menunggu Wila untuk di ajak makan bersama. "Ayo makan dulu, sebelum kita utak -atik laptop", ajak Lela.


Namun betapa kagetnya ia, begitu melihat Wila yang sedang menangis, ya..., menangis dalam diam. "Ada apa?", Lela langsung memeluk Wila.


Bukannya menjawab, malah air mata Wila tambah deras, ia betul-betul merasa kalut. "HP dan dompet hilang di angkot", Wila bicara sambil sesenggukan.


"Masya Allah, Innalillahiwainnaillahiroji'un", bagaimana bisa?", Lela tak kalah terkejutnya.


Wila menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya dengan sesekali menyeka air mata .


"Coba, kita cek nomernya masih aktif gak!", Lela mencoba menghubungi nomer Wila dengan hand phone nya. Ditunggu beberapa saat , ternyata masih aktif.


Lela memberikan hand phone kepada Wila, dan memberi isyarat untuk menjawab teleponnya.


Wila menurut, ia mencoba untuk bicara, "Assalamu'alaikum...., tak ada jawaban, ia ulangi lagi, masih tetap tidak ada jawaban.


Tiba-tiba Lela menyambar hand phone nya dari tangan Wila dan langsung bicara, "Halo, hai..., balikin hand phone nya!, nanti aku share alamatnnya!",


"tu.....uuu..ut, hand phone nya di tutup, tanpa jawaban sepatah kata pun.


"Haaaaa..h, ditutup, yang nyurinya oon juga ya", kok gak langsung di matiin itu hand phone", sewot Lela.

__ADS_1


"Kamu itu yah, ngomong sama maling saja masih pake assalamu'alaikum", Sambil tertawa Lela bicara.


"Ya, siapa tahu, malingnya jadi meleleh dan mau balikin hand phone nya", ucap Wila.


"Ya udah, kamu yang ikhlas ya?, ini sudah Qodarullah, semoga ada hikmahnya", Lela berusaha menyemangati Wila.


"Iya..., terima kasih, mungkin ini kelalaianku, tidak hati- hati waktu di jalan", Wila berusaha menerima dengan ikhlas.


Tiba-tiba wajah Hamzah terbayang, ia sangat merasa bersalah karena mengabaikan kebaikan Hamzah. Padahal kalau ia mau terbuka kepadanya, mungkin tak bakalan seruwet ini.


Tak mau berlarut-larut, menyesali keadaan, Wila segera mengerjakan tugas, yang menjadi tujuan utamanya ke rumah Lela.


Ia tidak ingin rugi dua kali, sudah dompet dan hand phone hilang, masa tugas juga tidak mengerjakan


Sampai larut malam, mereka baru kelar mengerjakan tugasnya.


Wila segera mengambil wudhu dan melaksanakan shalat malam. Ia adukan semuanya kepada Sang Maha Kuasa.


*


*


*


"Non, sudah bangun? Makan dulu, Bibi sudah siapin sop bayam , kesukaan Non", Bi Marni masih berdiri, menunggu jawaban dari dalam.


Terdengar suara Sarah batuk-batuk, Bi Marni makin khawatir. Sekali lagi ia memanggil Sarah.


Setelah beberapa saat , barulah Sarah membuka pintu. Wajahnya nampak pucat. "Aduh Non, makan dulu, nanti Bibi beliin obat, atau mau sekalian ke Klinik?",


Bi Marni begitu cemas, ia takut anak majikannya kenapa-kenapa. Bisa-bisa ia nanti yang akan disalahkan oleh Nyonya Rahmi.


"Gak apa-apa Bi, mungkin cuma masuk angin saja", jawab Sarah.


"Ya udah, sekarang makan dulu, nanti minum obat demam saja, sekalian Bibi pijitin, Bi Marni begitu perhatian , ia menyayangi Sarah seperti anaknya sendiri, karena ia sudah mengasuhnya sejak usia 4 bulan.


Sarah benar-benar drop, baru semalam ia mencoba minuman beralhokol, itu pun karena bujukan Joko.

__ADS_1


'Iya, Joko, apa dia juga yang semalam mengantarku pulang', Sarah membatin.


"Bi, apa orang ini yang semalam mengantar aku pulang?", tanya Sarah sambil memperlihatkan layar Hand phone yang ada foto Joko nya.


"Bukan Non, bukan dia, rasanya Bibi juga baru melihatnya kemarin", jawab Bi Marni sambil memijit mijit kaki Sarah.


Sebenarnya Sarah merasa sakit di bagian inti tubuhnya saat buang air kecil tadi, tapi ia merasa malu dan takut untuk mengatakannya.


Ia mencoba mengingat kembali kejadian tadi malam , tapi tetap saja tak ingat. Hal terakhir yang ia ingat saat dirinya merasa kepalanya begitu pusing, dan matanya juga sangat berat, sehingga ia hanya terpejam saja.


Ia di bawa ke room karaoke yang begitu bising dengan musik, dan cahaya gemerlap yang menyilaukan.


Setelah itu ia hanya merasa seperti fly... melayang, sampai akhirnya tersadar setelah berada di dalam kanarnya.


'Sepertinya aku harus tanya Susi, hanya dia yang tahu persis kejadian semalam ', pikir Sarah.


"Bi, aku mandi dulu, bisa tolong isiin bath, sekalian pakai aroma therafi biar agak relax", pinta Sarah.


"Baik Non, sebentar, Bibi tinggal dulu!", Bi Marni segera masuk kamar mandi dan menyiapkan apa yang di pinta Sarah.


"Sudah siap Non, ayo mandi dulu, biar hilang pusingnya!" ucap Bi Marni.


Sarah segera bersiap untuk mandi, ia berjalan dengan agak di gusur, karena masih terasa sakit.


Namun ia tahan, karena merasa risih dengan Bi Marni. Ia masih gak berani untuk bercerita, biar nanti menunggu penjelasan dari Susi dulu.


Sarah memasuki kamar mandi, satu persatu ia tanggalkan pakaiannya, badannya terasa pegal-pegal.


Ia tutupi dengan handuk setelah semua pakaiannya lepas, dan segera merendamkan tubuhnya.


Seketika sensasi hangat dan harum aroma therafi semerbak membuat pikirannya sedikit demi sedikit menjadi relax.


Ia pejamkan matanya , tapi ada rasa perih diinti tubuhnya saat kakinya digerakkan, "Aaaww...., kenapa aku ini?", Sarah meringis. Ada ketakutan dalam hatinya.


Ia segera menyelesaikan mandinya, dan beranjak menuju wastafel. Ia lihat gambar dirinya di cermin, ia teliti sampai ke leher, dan betap terkejutnya saat ia melihat tanda merah d leher.


"Apa ini?", ia lebih mendekatkan dirinya ke cermin, ia teliti lagi, dan kini ke bagian dada. Ia buka sebagian handuknya, dan ada beberapa tanda yang sama di bagian buah dadanya.

__ADS_1


Sarah hampir frustasi dibuatnya, "Aaaahhh..., kenapa ini???? Ada apa...????


Sarah menjerit, namun jeritannya tersamarkan oleh suara gemericik air.


__ADS_2